
Dira masuk ke mobil Fahmi dan merekapun kembali ke kampus karena Dira harus mengambil motornya. Sesampainnya di kampus, Dira segera turun. Namun Fahmi dengan cepat mencegahnya.
“Sebentar Sya” ucap Fahmi, dia mengambil salah satu paper bag yang dia letakan di bangku belakang. Melihat itu, Dira menggeser sedikit duduknya lebih dekat jendela agar tak terlalu dekat dengan Fahmi.
“Ini buat kamu”, ucapnya lagi sembari memberikan paper bag itu ke hadapan Dira.
“Apa ini Kak? Bukannya ini buat Uminya Kak Fahmi?” tanyanya Heran, bagaimana bisa dia malah memberikan kado Uminya untukku, pikir Dira.
Dira tidak tahu kalau selepas salat, Fahmi kembali ke galery itu untuk membeli jilbab yang Dira pegang tadi.
“Ini untukmu dan yang satu untuk Umiku. Terimakasih sudah membantuku. Dan ini, terimalah!” Dira ragu untuk mengambilnya, sungkan lebih tepatnya.
“Ini sungguh berlebihan Kak, Aku ikhlas membantumu. Serius” Dira tidak enak karena baginya ini sangat berlebihan.
“Tidak ada penolakan Sya” tegas Fahmi dengan tatapan tajam.
“Dasar pemaksa” ucap Dira dalam hati.
Dengan berat hati, Dira pun menerimanya. Dia tidak ingin mengecewakan niat baik seseorang.
“Huh, baiklah Kak, terimakasih. Lain kali tidak usah repot-repot Kak. Kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya, Kak. Oya, selamat ulang tahun untuk Uminya Kak Fahmi.” Jawab Dira tulus dengan senyum rekahnya sembari membuka pintu. Fahmi pun ikut tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Ketika Fahmi akan melajukan mobilnya kembali, Dira justru mengetuk kaca jendela mobil sembil menyebut namanya. Segera Fahmi membuka kaca jendelanya.
“Kenapa?” tanya Fahmi.
“Hehe, maaf Kak. boleh minta tolong starterin motornya Dira?” Dira lupa kalau motornya sulit untuk distarter, dengan cepat dia kembali lagi pada Fahmi untuk meminta bantuan.
Tanpa menjawab, Fahmi langsung membuka pintu mobil menuju motor milik Dira. Melihat itu, Dira segera mengekornya. Tanpa basa-basi karena kunci sudah menggantung di tempatnya, Fahmi langsung saja menstandar tengah dan menstarter lewat kick starter. Motor berhasil nyala dan Dira sangat berterimakasih pada Fahmi.
“Terimakasih Kak, maaf merepotkan” ucap Dira sedikit malu.
“Hem, besok weekend service motormu. Nanti biar temanku yang mengambilnya” ujar Fahmi.
“Eh, tidak usah Kak. Biar aku saja nanti” jawab Dira lagi-lagi tidak ingin merepotkan Fahmi, toh ini motor miliknya.
__ADS_1
“Hem terserah. Hati-hati bawa motornya” Fahmi seakan tahu Dira yang keras kepala pun tidak ingin ambil pusing dengan jawaban Dira tadi.
“Oke, siap Bos!” jawab Dira sembari hormat. Hal itu berhasil membuat Fahmi gemas hingga dia pun refleks menurunkan kaca helm Dira.
Dira pun pamit pulang setelah mengucapkan salam. Fahmi memandanginnya hingga Dira sudah tak terlihat lagi, baru dia kembali ke mobilnya. Tentu saja, interaksi tadi menambah dugaan kuat tentang adanya hubungan diantara mereka berdua.
...----------------...
Hari ini, Aydan berniat untuk mengajukan cuti selama seminggu. Seperti yang telah direncanakan, dia akan menyambagi adiknya di Kediri dan yang terpenting adalah menemui gadisnya. Beruntung izin pun diterima, karena Aydan yang baru pertama kali mengajukan cuti selama kerja di Arka Group. Aydan tentu senang dan selepas kerja nanti dia akan ersiap.
"Alhamdulillah", syukurnya.
Benar saja, sore hari sepulangnya dari bekerja, Aydan tanpa lelah lantas bersiap. Tidak banyak yang Aydan bawa, hanya beberapa helai baju ganti, ponsel, dompet dan surat-surat kendaraan.
Aris yang kebetulan di kos juga ikut membantu mengecek motor Aydan. Dia bersyukur bahwa temannya itu akan memperjuangkan cintanya. Aydan akan langsung ke Purwokerto malam ini.
“Hati-hati di jalan Bro” ucap Aris ketika Aydan sudah siap.
“Sipa Bro. Thanks udah nyadarin gue” jawab Aydan.
“Sip Bro. Lo harus yakin, kalau Dira bisa menerima alasan lo dan kalian bisa bersama kembali” Aris memberikan semangat pada sahabatnya itu sembari menepuk pundaknya.
“Assalamu’alaikum”, salamnya langsung tancap gas meninggalkan Aris.
“Wa’alaikumsalam” jawab Aris. Semoga berhasil Dan, lo pantas bahagia, batin Aris.
Dia tahu betul bagaimana perjalanan hidup sahabatnya itu. Tentu saja, dia sangat iba dengan Aydan yang sedari kecil selalu diperlakukan kasar oleh ibunya.
...----------------...
Sementara itu, Dira yang baru sampai di kamarnya segera meletakan paper bag pemberian Fahmi ke dalam lemari tanpa membuka isinya. Sebenarnya dia merasa penasaran, namun mengingat harganya yang lumayan membuat dia urung untuk membukannya.
Malam harinya selepas ngaji madin, Dira segera mengambil ponselnya. Dilihatnya ada beberapa pesan masuk, namun Dira mengabaikannya. Tujuannya saat ini adalah menelfon Aydan, untuk sekedar mengucap selamat ulang tahun, barangkali dia mengangkatnya.
Tut
__ADS_1
Tut
Tut
Nomor Aydan aktif namun tak kunjung diangkatnya. Beberapa puluh kali Dira mencobanya, namun hasilnya sama.
Air mata sudah tidak dapat ditahannya lagi. Kecewa? Tentu saja. Namun apa daya, dia hanya mampu mengekspresikannya dengan tangisnya.
Berbagai pikiran muncul dibenak Dira. Akankah dia memang harus melupakannya? Tapi mana mungkin. Aydan adalah pemilik hatinya, bahkan rasa kecewa itu pun lebih kecil dibanding rasa sayangnya.
Bodoh? Ya tentu saja. Tapi lagi-lagi Dira menguatkan diri, sebelum Aydan sendiri yang menyuruh pergi, dia tidak akan menyerah begitu saja. Bucin. Ya begitulah seorang Dira.
Dia memikirkan salah satu cara, langsung saja Dira menemui Lutfia, karena dia satu-satunya teman selain Nina dan Zahra yang akrab dengannya. Kebetulan Lutfia sedang di depan kamarnya sembari menghafal Al-Qur’an. Ya selain lurah pondok, lutfia adalah salah satu santri tahfidz.
“Assalamu’alaikum Mba Fia” panggil Dira dengan sisa bekas air mata yang masih terlihat jelas. Dia mendudukan diri di hadapan Lutfia.
“Wa’alaikumsalam Dek. Ada apa? Kenapa sembab gitu?” tanya Lutfia khawatir dengan keadaan Dira saat ini.
“Mba, maaf. Apa boleh Dira minta tolong?” pinta Dira dengan suara paraunya.
“Apa itu Dek? Kalau Mba bisa, pasti Mba bantu, Dek” jawab Lutfia lembut.
“Boleh Dira minjam ponsel Mba Fia buat telfon seseorang?” pinta Dira lagi. Dira berniat untuk mencoba menghubungi Aydan dengan nomor ponsel milik Lutfia yang Aydan tidak tahu.
“Boleh, Dek. Tunggu sebentar, Mba ambilkan dulu.” Lutfia berdiri dan masuk ke kamarnya untuk mengambil ponsel miliknya.
Setelahnya, Lutfia memberikannya pada Dira dan dengan cepat Dira mengambilnya sembari mengucapkan terimakasih.
Dira lantas mengetikan nomor ponsel Aydan dan langsung memanggilnya. Satu panggilan belum terjawab, yang justru membuat Dira lega. Karena jika sampai Aydan menjawab itu artinya dia memang ingin menghindari Dira. Begitu pikirnya.
Dia lalu mencoba kembali, hingga akhirnya panggilan terjawab. Hatinya berkecamuk, air matanya luruh seketika. Antara rindu dan benci melebur menjadi satu.
“Hallo” ucap seseorang pertama kali ketika panggilan terjawab.
Deg
__ADS_1
...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...