Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Masih Menanti?


__ADS_3

Sore ini, Dira sudah siap untuk acara Makrab dan saat ini tengah berkumpul di Sekre FOSEI dengan anggota lainnya. Dira anak yang mudah menyesuaikan dengan lingkungan, sehingga dia cukup akrab dengan teman-teman yang lainnya. Masalah Putri tempo lalu belum bisa didiskusikan, mengingat kondisi Putri yang belum stabil.


“Dir, kamu ngga lupakan bawa apa yang aku suruh kemarin?” tanya Bagas, ketua FOSEI.


“Aman Pak.” jawab Dira. Anak-anak FOSEI menyebut Bagas Bapak karena memang dia adalah ketua dan sikapnya yang tegas kebapakan.


Karena tempatnya yang tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh kurang lebih 30 menit, kebanyakan dari mereka membawa kendaraannya masing-masing. Sudah tidak heran, kebanyakan mahasiswa universitas U berasal dari anak orang kaya, sehingga banyak pula yang membawa mobil.


Dira dan Eni memilih untuk berboncengan, sedangkan motor Dira dia tinggal di kos Eni. Selama perjalanan, Dira maupun Eni sama-sama diam, walau sesekali mereka mengobrol singkat. Bukan karena marahan, namun kebiasan mereka kalau pakai helm obrolannya jadi tidak nyambung, tanya apa jawabnya apa hihi.


......................


Sampailah mereka di tempat Camping. Mereka bergegas menyipkan tenda dan kebutuhan lainnya sesuai tugasnya masing-masing. Ada 6 tenda yang masing-masing berisi 5-6 anak, tentunya antara laki-laki dan perempuan juga terpisah. Karena di kaki Gunung Slamet membuat sore hari sudah terasa sejuk dan dingin.


Setelah salat maghrib, mereka semua melakukan do’a bersama terlebih dahulu sampai waktu isya. setelah itu mereka duduk melingkari api unggun dan makan bersama. Acara dimulai satu persatu, karena tujuannya adalah keakraban, maka mereka mengadakan acara dengan santai namun penuh makna.


Di tengah acara, Fahmi dan Tufail datang secara tiba-tiba. Sebab sepengetahuan mereka, pihak BEM hanya mendelegasikan 2 anggotanya yakni Ayu dan Riska karena Fahmi maupun Tufail berhalangan hadir. Namun nampaknya ini seperti kejutan, karena mereka berdua sangat jarang untuk dapat menghadiri acara seperti ini, terutama Fahmi yang sibuk dengan berbagai seminar dan lain sebagainnya.


“Wah lihat siapa yang datang ini?” ucap Bagas pada dua orang yang datang seraya bersalaman.

__ADS_1


“Silakan Bang Fahmi, Bang Tufail. Selamat bergabung bersama kami dan mohon arahannya.” sambung Bagas.


Fahmi dan Tufail hanya menganggukan kepalanya dan duduk berdampingan dengan Bagas dan kawan-kawan FOSEI lainnya.


Mata elang Fahmi menyorot pada gadis mungil yang tengah memperhatikannya, dia adalah Dira. Sedangkan Tufail belum menyadari kehadiran Dira atau justru sudah lupa dengan wajahnya. Dira yang ditatap balik segera mengalihkan pandangannya menunduk.


Fahmi juga memberikan sedikit wejangan tentang ekonomi islam. Ekonomi islam memiliki peranan yang sangat penting dalam menyejahterakan umat dengan berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis yang berorientasi pada pencapaian ridho Allah. Setidaknya ada 5 nilai universal yang menjadi landasan dalam ekonomi islam yakni tauhid (keimanan), ‘adl (adil), nubuwwah (kenabian), khilafah (pemerintahan) dan ma’ad (hasil). Nilai-nilai itulah yang menjadi asas utama dalam ekonomi islam.


Karena kepiawaiannya, Fahmi menjalaskan secara singkat namun penuh penegasan. Karena mengikuti berbagai event bergengsi membuat Fahmi harus menguasi berbagai hal yang masih dapat dikuasainnya. Berbeda dengan Tufail yang memang belum paham dengan konsep ekonomi islam yang demikian padahal dirinya anak manajemen, mungkin tahu tapi tidak mendetail.


Karena terlalu asyik, membuat mereka tidak sadar bahwa malam telah larut. Bagas sang ketua mengintruksikan untuk kembali ke tenda masing-masing. Walaupun demikian, mereka asyik dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang bersendau gurau di dalam tenda, masih asik dengan gitar di dekat api unggun dan ada pula yang sudah tertidur seperti Eni.


Jarinya tergerak pada tanda pencarian di aplikasi Instagram. Tanpa disuruh, jarinya mengetikan sebuah nama yang selalu ditunggunya. Aydan Putra Nugraha, pria yang memberikan status tak jelas, menghilang tanpa pamit.


Masih sama, terakhir postingannya setengah tahun yang lalu. Hanya ada foto Aydan dan adiknya, karena baik Dira maupun Aydan tak pernah mengunggah foto berdua di akun masing-masing.


Dibukannya pesan yang Dira kirimkan 4 bulan yang lalu, namun hasilnya pun sama, nihil tak ada jawaban. Hanya Dira yang selalu mengirimkan pesan. Bukan bodoh, hanya saja rasanya Dira enggan melupakan sosok yang selalu ada untuknya. Dira juga bukan menutup hatinya untuk orang lain, melainkan dia enggan untuk memiliki hubungan dengan pria saat ini.


Mungkin banyak orang yang berkomentar, masa santri pacaran, cinta-cintaan. Terus harus bagaimana, yang namanya perasaan cinta itu tumbuh dengan sendirinya tanpa alasan, ingat cinta adalah fitrah. Dira sadar bahkan sangat sadar, harusnya tidak boleh terlalu terlena dengan satu rasa yang bernama cinta sesama manusia, dia hanya perlu mahabah cinta pada Allah Ta’ala.

__ADS_1


Lama Dira meng-kepo akun sosial Aydan dan pacar halunya, terutama Min Yoongi atau Suga BTS. Tidak ada yang berbeda, Yoongi tetap ganteng dan menggemaskan. Eh hehe.


Merasa bosan dan kantung kemihnya yang terasa penuh. Dira akhirnya berdiri dari duduknya dan masuk tenda untuk membangunkan Eni agar menemaninya ke toilet. Melihat Eni yang tertidur pulas membuat Dira urung untuk membangunkannya.


“Aduh gimana ini? Apa aku tahan saja ya. Tapi nanti malah jadi penyakit atau bahkan ngompol,” gumam Dira gelisah.


Dira yang penakut harus menguatkan diri untuk ke kamar kecil sendiri. Suasana yang sudah semakin sepi ditambah tengah malam membuatnya begitu mencekam, bulu kuduk Dira juga semakin berdiri.


Dira semakin memertegas langkahnya, konon katanya jika langkahnya tegas maka tidak akan diganggu setan karena telapak kakinya yang hangat, begitu sebaliknya. Namun tetap saja Dira merasa semakin takut hingga memercepat langkahnya dan akhirnya menemukan toilet. Segera Dira membuang hajatnya yang sudah tidak dapat ditahannya lagi.


Ketika dia hendak keluar dari bilik, terdengar derap langkah yang semakin mendekat ke arah bilik toilet ini. Sontak Dira ketakutan dan bayangan aneh-aneh terlintas di kepala Dira. Bayangkan saja tengah malam, sepi, di hutan, sendirian pula. Siapa yang tahan dengan keadaan yang seperti ini. Dira berjongkok dan menutup mata dan telinganya serta mengunci rapat mulutnya agar tidak bersuara.


Dalam hati, Dira terus menyebut nama Allah memohon perlindungan, dia tidak sadar masih di dalam bilik. Hatinya semakin was-was ketika langkah itu berhenti di depan bilik toilet. Anehnya, jika itu orang kenapa bayangannya tidak terlihat di celah pintu bawah bilik dan jika hendak masuk kenapa tidak mengetuk pintu.


Cukup lama Dira di dalam hingga suasana yang dirasa sudah cukup aman dan sudah tidak ada suara selain serangga. Dira memantapkan Dira untuk keluar dan kembali ke tenda. Setelah berhasil keluar dan menutup pintu, tiba-tiba Dira berteriak.


“Aaakhhhh, jangan ganggu aku, dagingku sedikit, pahit pula,” oceh Dira sendirian sembari memejamkan matanya dan berjongkok.


“Aaakhhhh…”

__ADS_1


__ADS_2