Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
First Date


__ADS_3

Belum sampai meja kasir, dia tidak menemukan Dira sedang mengantri. Ujung matanya melirik ke arah yang berbeda dan mendapati Dira tengah melihat jilbab. Namun, gadis itu tidak membelinya hanya melihatnya saja sepengamatan Fahmi. Ada satu jilbab yang sedang dipegangnya, matanya terlihat berbira ingin membelinya. Namun lagi-lagi gadis itu hanya menatapnya dan pergi menuju kasir.


Melihat itu, Fahmi langsung mendekatinya. Dia mengambil salah satu kartu dari dompetnya dan menyerahkannya pada Dira. Interaksi mereka membuat para wanita yang hanya berbelanja sendiri merasa iri dengan pasangan Fahmi dan Dira. Mereka berfikiran jika muda-mudi itu merupakan pasangan kekasih atau mungkin suami istri. Namun jika dilihat dari wajahnya, mereka sepertinya hanya pasangan kekasih, begitu pikir mereka.


Dira bingung, bagaimana bisa Fahmi menyerahkan kartu ATMnya, mengapa tidak dia saja yang membayarkannya. Fahmi yang peka langsung mengambil ponselnya dan mengetikan sesuatu. Ternyata dia menuliskan nomer pin dan juga alasan kenapa harus Dira yang membayarkannya dengan kartu miliknya.


“Oh, ternyata dia malu toh hehe, baiklah” gumam Dira dalam hati.


Diar yang sudah memabacanya hanya mengangkat tangannya membentuk huruf O sebagai jawaban. Fahmi lantas berjalan ke luar dan duduk di kursi tunggu yang ada di depan galery. Tidak lama, Dira datang dengan paper bag di tangan kanannya.


“Sudah Kak” ucap Dira. Fahmi pun bangkit dari duduknya.


“Ayo kita salat dzuhur dulu, baru nanti makan” Fahmi mengambil alih paper bag yang dibawa Dira dan berjalan menuju mushola diikuti oleh Dira. Mereka berjalan berdampingan menuju mushola yang lokasinya tak jauh dari galery itu.


Selepas salat, Dira tidak langsung beranjak. Dia berdo’a cukup lama seperti biasanya. Setelah itu, dia mengistirahatkan badannya sejenak sembari merapikan jilbabnya. Dia mereplay sunscreen dan lipstick mattenya agar tidak terlihat pucat.


Dira keluar dan memakai sepatu miliknya. Dari arah depan, Fahmi datang dengan dua paper bag ditangannya. Dira heran, bagaimana bisa jadi dua, padahal jelas-jelas tadi hanya satu. Namun dia tidak ingin ambil pusing, mungkin belanjaannya yang lain.


Fahmi kemudian mengajak Dira untuk makan siang bersama di salah satu café yang ada di mall tersebut. Dira yang tidak pernah makan di café mall bermaksud untuk mengajak Fahmi untuk makan di luar saja. Dia khawatir, uangnya tidak cukup.


“Kamu mau makan apa, Sya?" tanya Fahmi.


“Em, Kak, kalau kita makan di luar bagaimana? Aku ingin bakso kesukaanku, lokasinya juga tidak jauh dari sini. Apa Kak Fahmi tidak masalah?” Dira mengutarakan maksudnya, dia memang ingin makan bakso. Namun tidak di sini, dia lebih memilih makan bakso di warung bakso solo Bu Roro langganannya dan Eni.


“Okey kalau gitu, kita ke sana.” Dira tersenyum senang sekaligus lega. Dengan semangat, Dira berjalan berdampingan dengan Fahmi.


...----------------...

__ADS_1


Seseorang agak jauh dari tempat Dira dan Fahmi berjalan, tengah memperhatikan mereka.


“Bi, itu kaya Fahmi deh” ucap wanita paruh baya yang tidak lain adalah Uminya Fahmi.


“Mana Mi?” tanya Abi Fahmi. Mereka berdua tengah quality time sekaligus belanja bulanan, lebih tepatnya Umi yang belanja dan Abi hanya menemaninya.


“Itu Bi tadi di sana, tadi beneran Fahmi deh Bi sama seorang gadis, siapa ya Bi? Eh kemana mereka?” jawab Umi Fahmi sembari menunjuk ke tempat dimana dia melihat putranya itu.


“Ngga ada tuh Mi, mungkin Umi salah liat kali. Ya udah yuh Mi, lanjut belanja saja” Abi Fahmi membawa Umi untuk melanjutkan belanjanya. Umi Fahmi lantas mengikuti dan sesekali celingukan barangkali melihatnya lagi. Ah, lebih baik nanti Umi tanya Fahmi saja, batin Umi Fahmi. Merekapun melanjutkan untuk berbelanja.


...----------------...


Fahmi menghentikan mobilnya di pinggir jalan sesuai dengan arahan Dira. Tidak ada lahan parkir, sehingga Fahmi harus menepikan mobilnya di pinggir jalan. Dilihatnya warung bakso yang Dira masuki saat ini, dia lantas mengikutinya.Tidak masalah baginya, yang penting bersih dan nyaman.


“Kak Fahmi mau bakso apa? Terus minumnya apa?” tanya Dira pada Fahmi.


“Samakan kaya kamu aja Sya” jawabnya. Dira mengangguk mengiyakan.


“Nggeh neng, silakan duduk dulu” jawab Ibu itu.


Biasanya Bu Roro yang langsung melayani pembeli, namun tidak kali ini. Mungkin beliau sedang sibuk, pikir Dira.


Dira lantas mengajak Fahmi untuk duduk lesehan dekat dengan kipas angin. Dia mengeluarkan botol minum miliknya. Bismillahirahmanirrahim, Dira meminum air bening miliknya. Fahmi yang melihat itu membuat dirinya juga haus. Setelah Dira minum, Fahmi mengambil botol milik Dira dan meminumnya juga.


“Eh Kak, itu bekas Dira” sulut Dira.


Dengan santainya, Fahmi tetap meminumnya. Bahkan dia meminum tepat dibekas bibir Dira. Manis, gumamnya lirih. Dira membiarkannya, toh sudah terjadi, mau bagaimana lagi. Tak berselang lama, pesanan mereka pun datang.

__ADS_1


“Terimakasih, Bu” ucap Dira sembari tersenyum hangat.


Mereka berdua duduk berhadapan. Dira meletakan bakso milik Fahmi di depan Fahmi dan miliknya di depannya. Dia lantas menuangkan sedikit kecap dan 3 sendok sambal. Sementara Fahmi mengambilkan sendok dan garpu untuk dirinya dan Dira. Sebelumnya, dia membersihkan dahulu sendok dan garpu itu dengan tisu. Perhatian kecil yang membuat siapapun akan merasa senang.


Dira pun menerima sendok dan garpu dari Fahmi sembari tersenyum. Hari ini dia benar-benar melihat sosok lain dari seorang Muhammad Fahmi Aditama. Dengan tenang, mereka menikmati baksonya masing-masing.


“Enak Juga”, lirih Fahmi yang masih didengar oleh Dira. Dia pun menambahkan kecap dan sambal tanpa saos seperti Dira, sebab dia juga tidak suka dengan saos. Mereka makan dengan diam hingga habis tanpa sisa.


“Alhamdulillah” ucap mereka bersamaan. Mereka pun terkekeh bersama merasa konyol.


Dira bangkit dari duduknya untuk membayar bakso miliknya dan Fahmi. Dengan cepat Fahmi membuka dompet dan mengambil uang 2 lembar ratusan ribu dan memberikannya pada Dira.


“Pakai ini Sya” perintahnya.


“Ngga usah Kak, biar pakai uang Dira aja ya,” tolak Dira merasa tidak enak.


“Pakai ini Sya, jangan jatuhkan harga diriku sebagai laki-laki” ucap Fahmi tegas, biar bagaimana pun Fahmi merasa malu jika cewek harus membayarkan makanannya. Pantang baginya, untuk dibayarkan makanan oleh cewek.


“Huh, baiklah Kak” Dira menurut, karena tidak ingin Fahmi merasa direndahkan olehnya.


Padahal niatnya bukan begitu. Dia mengambil satu lembar uanga itu dan segera membayarnya. Lain kali dia akan mentraktir Fahmi, begitu niatnya.


Fahmi menghela nafas dan mengambil 1 lembar uang lainnya dan dimasukan ke dalam tas Dira.


“Gadis itu memang beda", batinnya.


Fahmi membawa tas Dira dan menyusul Dira yang tengah mengantri di kasir. Dia membisikan sesuatu pada Dira bahwa dia akan ke mobilnya dahulu dan nanti Dira menyusulnya. Hanya anggukan kepala sebagai jawaban.

__ADS_1


"Apakah ini first date", batin Fahmi senang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2