
Pagi hari menyapa dengan hangatnya, beruntung hari ini Dira tidak ada kelas, jadi sia akan memanfaatkan waktunya bersama Aydan. Zahra dan Nina sudah kembali ke posko pagi tadi, sedangkan Dira tengah bersiap. Outfit simpel rok motif bunga-bunga kecil dan baju blouse putih yang dilapisi manset warna putih, dipadukan dengan hijab phasmina warna kuning senada dengan motif bunga pada roknya, membuat tampilannya makin fresh. Tidak lupa tas slempang dan sepatu warna putih miliknya.
Langkahnya pasti dan ceria dengan senyum yang selalu merekah di bibirnya. Ketika sedang mendorong motornya dari parkiran keluar melewati Ndalem, terdengar namanya dipanggil seseorang dari arah belakang.
“Dira” begitu panggilnya. Sontak Dira menghentikan langkahnya dan menengok ke ara belakang. Dilihatnya Putri yang sama-sama sedang mendorong motornya mengikuti Dira dari belakang.
“Mba Putri manggil aku?” tanya Dira, pasalnya baru kali ini Mba Putri memanggil namanya.
“Ya. Kam mau kemana?” tanyanya dengan ekspresi yang masih datar.
Tertegun kembali Dira dibuatnya. Ada angin apa ini, tumben sekali dia kepo dengan urusanku? Ah mungkin mau berubah kali ya, batin Dira.
“Ah ini Mba, Dira mau jalan sama teman kebetulan ngga ada kelas hari ini. Ada apa ya Mba?” ucap Dira to the point, dari gelagatnya kaya ada yang disembunyikan, ah tapikan emang orangnya misterius.
“Em, ngga ada. Boleh aku ikut?” Dira makin bingung dibuatnya. Duh gimana ya, kalau nolak ngga enak tapikan waktu sama Aydan ngga banyak. Monolog hatunya.
“Maaf Mba, bukannya tidak boleh tapi ini cukup privasi. Kalau mau, lain kali kita bisa jalan berdua” tegas Dira namun terkesan sopan.
“Oh” Jawab Putri singkat langsung pergi begitu saja dengan wajah kembali datar.
“Eh, kok ngambek. Ah biarin aja dulu, lagain kita ngga sedekat itu. Setelah ini aku akan membicarakannya, sikapnya juga sedikit aneh. Lebih baik aku pergi saja, kasian Aydan harus nunggu lama.” lirih Dira dan bergegas pergi menemui Aydan.
Benar saja, Aydan sudah menunggunya di tempat mereka janjian. Dengan kaos hitam dilapisi kemeja kotak dan celana jeans panjang warna hitam tidak lupa sepatu hitamnnya membuat tampilan Aydan semakin kece.
“Assalamu’alaikum, maaf harus nungu lama ya?” Tanya Dira begitu sampai di dekat Aydan.
Aydan mendongakkan wajahnya melihat ke arah Dira yang baru datang. Sejenak dia terpaku dengan tampian Dira yang lebih fresh dibandingkan kemarin, walaupun tanpa make up berlebih namun tetap enak dipandang mata. “cantik” begitu cicitnya lirih tanpa mengalihkan pandangannya dari arah Dira.
__ADS_1
Sama halnya dengan Aydan, Dira pun terpaku dengan tampilan Aydan yang makin keren di matanya. “Ku kira halu, ternyata memang milikku” ucap Dira dalam hati. Aduh kenapa jadi centil gini si aku. Segera Dira menyetabilkan eksresi dan perasaannya jangan sampai malu dihadapan Aydan.
“Dan?” panggilnya lembut.
“Eh iya Sya ngga papa, aku juga belum lama. Jadi kita ke tempat yang semalam kamu bilang?” begitu tanya Aydan pada Dira.
“Jadi dong. Ya udah yuh jalan sekarang” jawab Dira sembari menyalakan lagi mesin motornya.
“Tunggu Sya, apa tidak sebaiknya kita berboncengan saja. Bukan apa, inikan daerahnya banyak tikungan tajam dan menanjak, aku khawatir dengan kamu. Kemarin saja kamu bilang pas ada kegiatan di daerah dekat situ kamu harus membonceng temanmukan karena takut?” Aydan ingat dengan cerita Dira waktu makrab.
Sebenarnya Dira juga kurang yakin harus mengendarai sendiri. Dengan segala pertimbangan akhirnya Dira memutuskan untuk membonceng Aydan saja. Urusan takziran pikir nanti, mudah-mudahan ngga ada anak pondok yang liat.
“Okeylah aku ikut kamu aja Dan. Bentar aku hubungi teman dulu buat nitip motor di kosannya” Aydan hanya mengangguk sebagai jawaban.
Diambilnya ponsel jadul miliknya dan mulai mengetikan SMS pada Eni sahabatnya. Sayangnya Eni sedang pulang kampung, namun masih bisa menitipkan motor di sana.
“Udah, yuh jalan sekarang. Kosannya searah kok dengan tempat yang akan kita datangi nanti” Aydan hanya mengangguk dan tersenyum di balik helmnya.
Mereka pun lantas pergi dengan Dira yang di depan. Sesampainya di kos Eni, Dira langsung meletakan motornya di parkiran kos dan tidak lupa untuk mengunci ganda agar lebih aman dari curanmor.
“Ayo” ajak Dira pada Aydan.
Namun sebelum Dira naik, Aydan lebih dulu membenarkan sweeter milik Dira yang dipakai asal. Perhatian kecil yang membuat Dira makin nyaman didekatnya.
“Biar ngga dingin ya. Ayo naik” ajak Ayan dengan senyum dibalik helm full facenya. Agar tidak terihat malu, Dira segera naik dan memosisikan diri dengan nyaman. Setelah dirasa Dira sudah nyaman, Ayan lalu menyalakan motornya mengikti google maps yang ada pada ponselnya.
Dalam hati Dira bersorak gembira, moment berboncengan ini sudah lama Dira tidak merasakannya. Dia hanya berharap obrolan di atas motornya bersama Aydan ini nyambung jangan sampai seperti kebiasaannya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Aydan begitu pengertian padanya, hanya sedikit obrolan yang mereka lakukan terutama ketika di lampu merah. Dengan begitu, Aydan masih mengingat kebiasaan Dira sejak dulu hehe.
Sampailah mereka di tempat yang dituju. Wisata alam ini cukup sepi karena weekday, jadi cukup leluasa bagi mereka untuk mengekspresikan kebahagiannya. Sebelum sampai, tadi mereka mampir ke minimarket untuk membeli minuman dan cemilan sebagai teman ngobrol.
“Hah, sejuknya ngga kaya di kota” ucap Dira dengan raut wajah gembira sembari duduk di atas rerumputan. Aydan ikut duduk di sebelah Dira membukakan botol mineral yang dibelinya tadi.
“Ini minum dulu, Sya” Dira langsung menerimanya dan meminumnya. Begitu Dira selesai minum, Aydan baru meminumnya di bekas bibir yang sama. Dira cukup tertegun, namun lag-lagi ya sudahlah toh tidak secara langsung.
Obrolan mengalir begitu saja layaknya air terjun yang saat ini menadi background indah mereka. Canda tawa mereka lontarkan satu sama lain, tidak ada lagi kecanggungan di antara keduannya.
“Oya Sya, besok aku harus kembali” ucap Aydan. Raut wajah Dira seketika berubah sedikit sendu, bayangan kekhawatiran seperti dulu mulai menghampiri kembali, Aydan pun menyadari itu. Di raihnya kedua pundak Dirabuntuk menghadapnya.
Dengan lembut Aydan berkata, “Aku harus kembali bekerja, Sya. Namun sebelumnya aku harus menjenguk Ainun dulu di Kediri, perjalanannya cukup jauh dan berlawanan. Apa kamu mengkhawatirkan hubungan kita kembali, hemh?” Dira mengangguk lemah persis kaya anak kucing, duh gemasnya, batin Aydan.
“A-aku takut kamu menghiang lagi Dan” ucap Dira lirih bahkan matanya juga berkaca-kaca.
“Sssttt, dengerin ya Sya. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan karena belum tentu akan ada kesempatan lagi. Lagi pula, aku tidak akan meninggalkanmu kembali, aku akan selalu menjadi Aydanmu. Boleh kamu percaya sama aku?” kata Aydan dengan nada sehalus mungkin.
“Ya aku percaya Dan” dengan air mata yang luruh begitu saja. Dengan cepat Aydan menghapusnya, ingin rasanya Aydan memeluk tubuh Dira memberikan kekuatan namun urung karena takut nantinya malah melewai batas.
“Udah ya, jangan nangis” Dira mengangguk dan tersenyum.
“Mau foto?” dengan antusias Dira menganggukan kepalanya. Banyak foto dengan berbagai pose yang mereka abadikan. Tentunya dengan ponsel milik Aydan karena Dira tidak sempat mengambil ponsel miliknya di Salwa.
Tak terasa, watu dzuhur telah tiba. Mereka memutuskan untuk salat dzuhur terlebih dahulu sebelum kembai ke pusat kota untuk mencari makan siang. Setibanya di kota, mereka langsung mencari tempat makan dan pilihannya jatuh pada warung bakso solo Bu Roro langganan Dira, hehe.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1