
Kampus U
Setelah kelas selesai, Nadira segera pergi karena ingin belajar bersama di Perpustakaan Daerah bersama Eni. Sudah lama dia tidak bertemu sahabat baiknya itu, selain beda kelas juga karena jadwal mereka yang berselisih. Di samping itu, dia juga ingin menghindari Fahmi yang menyuruhnya ke ruang BEM.
“Sepertinya aman” Dira celingukan melihat sekitar, khawatir ada Fahmi. Langsung saja dia memakai helmnya dan mencoba menstarter motornya menggunakan tombol starter. Namun sayangnya masih seperti tadi pagi, harus dengan kick starter.
“Ya Allah, sepertinya memang harus di servis. Baiklah, akan ku kerahkan semoga tenagaku. Hiyaaaa hah” ucapnya sendiri sembari mengangkat motor dengan kaki di standar tengah.
Percobaan pertama masih belum bisa, dia mencoba lagi namun tetap belum bisa.
“Nelangsanya punya badan mungil, padahal makannya banyak. Ck Dira, Dira. Okey coba lagi, kalau minta tolong terus kapan bisanya. Huh hiyaa hah, hiyaaa huh. Aaa masih belum bisa,” Diraa frustasi, tangannya sampai sakit tapi motor masih dalam posisi sama.
“Bhahaha”, dari arah belakang Dira, terdengar suara tawa renyah.
Dira menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah Fahmi. Masih dengan tawanya, Fahmi mendekati Dira. Tawa yang tak pernah terlihat dari Fahmi membuat yang melihatnya terpaku sejenak seakan mengatakan "benarkah itu seorang Fahmi?".
“Kalau ngga bisa, minimal minta tolong,” ucap Fahmi lembut setelah berhasil meredakan tawanya. Tangannya reflek mengelus kepala Dira yang terbalut hijab. Gadis itu tentu saja terkejut dan reflex melangkah mundur menjauh dari Fahmi.
Fahmi yang juga menyadari kerefleksannya, segera mengubah ekspresi wajahnya untuk menutupi kegugupannya.
“Ehem, mau kabur?” tebak Fahmi.
“Emm, engga. Cuma mau nyoba starter motor. Iya nyoba sterter hehe” kilah Dira yang tak ingin ribut dengan Fahmi.
“Jangan berkilah. Sebelum kamu berniat kabur pun, aku sudah tahu. Sekarang ayo ikut aku, biar motormu di sini aja dulu.” Dia berbalik dan hendak mengambil motornya.
Melihat itu, Dira langsung mencegahnya dengan menarik ujung tas ransel Fahmi.
“Eh eh, tunggu Kak” ucap Dira.
__ADS_1
“Kita mau kemana? Maaf Kak aku udah ada janji sama teman” sambung Dira jujur karena dia sudah ada janji dengan Eni.
“Ikut aja, nanti kamu juga tahu. Tunggu sebentar” Fahmi langsung pergi mengambil motornya. Dira kesal bukan main, lagi-lagi Fahmi bersikap semaunnya. Memangnya dia siapa?, batin Dira.
Beberapa saat kemudian, Fahmi datang dengan motor kesayanganya. Kali ini dia tidak menggunakan motor pespa miliknya, melainkan motor sport yang kini membuat dirinya semakin terlihat tampan dan gagah.
“Ayo naik” ucap Fahmi dari balik helm full facenya.
Dira hanya diam saja. Bagaimana mungkin dia mau berboncengan, bisa-bisa kena takziran lagi. Sebenarnya bukan masalah takzirannya, tapi dia tidak terbiasa berboncengan dengan cowok. Dengan Aydan pun, Dira hanya beberapa kali, itu pun Aydan memaksanya. Jika sekarang dia mau, maka ini kedua kalinya Dira berboncengan dengan Fahmi.
“Kenapa diam saja? Ayo naik!” serunya lagi yang melihat Dira masih saja diam. Fahmi gemas sendiri, sehingga dia turun dari motornya.
“Kenapa?” Fahmi berusaha sabar, jujur saja ini kali pertamanya Fahmi bersikap demikian. Melihat mata Fahmi yang begitu tulus, membuat Dira tidaj tega dan akhirnya menyetujui ajakan Fahmi.
“Huh baiklah aku ikut Kak Fahmi” ucap Dira yang membuat Fahmi tersenyum.
Fahmi yang cerdas langsung memutar otak. Dan beberapa detik kemudian ada ide cemerlang yang terlintas di otak cerdanya. Senyum tipis menghiasi wajah tampannya.
“Baiklah, kalau begitu. Tunggu sebentar” Fahmi membuka helmnya lalu mengambil ponsel dan mengetikan sesuatu yang Dira tak tahu apa itu. Begitu juga dengan Dira yang segera menghubungi Eni dan meminta maaf karena tidak bisa menemaninya ke Perpustakaan Daerah. Beruntung Eni adalah sahabat yang baik, sehingga dia pun mengerti.
Hanya hening yang menyelimuti mereka berdua. Keduanya sama-sama canggung tanpa ada yang mendahului untuk berbicara terlebih dahu. Beruntung lagi seseorang dengan mobil sportnya segera menyelamatkan Fahmi dari kecanggungan. Orang tersebut tidak lain adalah Tufail. Tufail turun dan mendekati mereka berdua.
Tufail melihat Dira sekilas, dia merasa aneh dengan mereka berdua. Segera dia menepiskan pikirannya dan mendekati Fahmi untuk menyerahkan kunci mobilnya.
“Nih, Mi” Fahmi segera mengambil kunci mobil itu.
“Thanks Fai” balas Fahmi singkat.
Fahmi mengalihkan pandangnnya ke arah Dira yang sedang duduk di atas motornya dengan helm yang masih melekat di kepalanya.
__ADS_1
“Udah ayo pergi, Sya” ajak Fahmi pada Dira. Dira mengernyitkan dahinya, heran.
“Kita pakai mobil Kak?” cicitnya bertanya. Bukan tidak tahu maksud Fahmi, tapi dia tidak habis pikir kenapa harus repot-repot pakai mobil segala, kan bisa pakai motor masing-masing.
“Menurutmu? Udah ayo lepas helmnya.” Dira akhirnya pasrah dan segera melepas helmnya.
“Aduh apa lagi ini” batin Dira karena kuncian helm susah untuk dilepaskan.
Fahmi maju dan membantu melepaskannya. Dira diam membeku dengan pandangan keduanya saling bersitubruk persis seperti dalam film romantice.
Tufail yang melihat itu merasa gerah sendiri, dia pun segera memakai helm Fahmi. Dengan sengaja dia menggeberkan motor Fahmi membuat kedua insan itu tersentak kaget, lalu mengarahkan pandangnnya kearah Tufail. Tufail tersenyum mengejek karena berhasil menjahili mereka. Dia lantas melajukan motor Fahmi meninggalkan mereka berdua.
“Klik”
Kunci helm terbuka, Dira segara menjauh dan melepaskan helmnya. Fahmi memilih cuek dan berjalan menuju ke mobil milik Tufail. Dengan pandangan yang menunduk, Dira mengikuti langkah Fahmi. Fahmi langsung membuka pintu depan, karena dia tahu jika Dira pasti akan lebih memilih duduk di belakang. Tanpa protes, Dira segera masuk. Setelah menutup pintunya, Fahmi kemudian berlari kecil dan duduk di balik kemudi, segera melajukan mobilnya.
Parkiran yang ramai membuat mereka menjadi pusat perhatian. Berbagai praduga muncul dibenak mereka. Dira bukannya tidak tahu, pasti mereka akan berfikiran jika Fahmi ada hubungan dengannya. Berita ini dengan cepat menyebar, terlebih Fahmi adalah presiden BEM yang pasti menjadi trending topic saat ini.
...----------------...
Eni yang duduk di taman juga cukup syok dengan berita yang beredar saat ini. Pasalnya, media kampus memberitakan jika presiden mahasiswa kampusnya memiliki hubungan dengan sahabat baiknya itu.
“Jadi ini alasan Dira ngga bisa ke PerpusDa bareng, toh,” dia terus mengamati berita tersebut sembari memakan es krim cokelat ditangan kananya.
Dia melirik jam diponselnya yang menampilkan waktu dzuhur akan segera tiba. Dia pun bergegas menuju parkiran taman dan memilih untuk pulang ke kosannya.
Belum sampai di motornya, seseorang lebih dulu menarik tangannya membuat dia terhuyung mengikuti langkahnya. Dengan helm full facenya, orang itu terus menarik tangan Eni. Eni meronta takut dan berusaha melepas cengkaraman pada tangannya. Dia takut seseorang itu akan menculiknya, batinnya terus merapelkan do’a-do’a berharap ada yang menolongnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1