
Fahmi
Fahmi masih setia menunggu Dira yang tengah dilakukan tindakan oleh dokter. Dia menjadi bingung sendiri harus menghubungi siapa, hingga akhirnya dia memilih untuk menghubungi uminya. Karena pada saat itu, hanya uminyalah yang terlintas difikiran cemasnya.
Setengah jam berlalu, tapi dokter tak kunjung keluar membuat dirinya semakin cemas. Dari arah lorong sebelah kanan, Umi dan Abinya datang menghampiri Fahmi yang duduk di kursi tunggu.
“Mi, apa yang terjadi?” tanya Umi dengan raut wajah ikut cemas, sedangkan Abi hanya diam saja.
“Seperti yang Fahmi katakan di telfon tadi Um, kejadiannya begitu cepat. Waktu Fahmi sampai, Dira sudah tergeletak di jalan. Sampai saat ini, dokter juga belum kel...” belum juga selesai bicara, dokter keluar dengan beberapa perawat yang membantunya.
“Dokter, bagaimana keadaan anak kami?” tanya Umi yang sudah menganggap Dira sebagai anaknya, walaupun mereka baru bertemu sekali.
“Keadannya alhamdulillah stabil Bu. Tidak ada luka yang serius, hanya bagian lutut sebelah kiri yang perlu dijahit. Selebihnya hanya luka-luka ringan dan sedikit memar dilengannya. Beruntung adek itu pakai helm jadi tidak ada benturan di kepalanya,” jawab sang dokter dengan senyum ramahnya.
Keluarga Fahmi pun mengucap syukur dengan keadaan Dira yang hanya tinggal pemulihan. Dokter juga menambahkan kalau saat ini Dira masih dalam konsisi belum sadarkan diri karena obat bius dan efek shock kejadian tersebut.
Setelah dokter pamit, mereka bertiga pun melihat keadaan Dira yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
“Kamu udah coba hubungin keluarganya, Mi?” kali ini Abinya yang bertanya.
“Belum Bi, Fahmi belum tahu keluarganya. Nanti coba Fahmi cek di ponselnya Nadira,” jawab Fahmi pada Abinya.
“Kasian ya Bi, dia anak rantau dan saat ini mondok di pesantren Nurul Huda, Bi. Selain cantik, anak ini juga keliatan baik loh Bi, soalnya pas ngobrol sama Umi keliatan tulus banget. Tapi sayang gagal jadi calon mantu kita,” kata Umi yang diakhiri dengan kekehan di akhirnya.
Abinya pun seketika langsung ikut terkekeh, sedangkan Fahmi diam saja dengan tatapan datar seolah tidak perduli. Dia sudah yakin dalam hati, bahwa akan menjadi bahan bercandaan orang tuanya itu.
“Owh ini yang Umi ceritakan kemarin. Ternyata anak Abi dan Umi ini seorang sadboy, hehe” ucap Abi. Kan kan bener, gini aja terus Umbi (Umi Abi), gerutu Fahmi dalam hati.
Abi mendekati Fahmi dan berbisik, “Tenang aja, orang ganteng kaya kita banyak yang ngantri, hehe”
“Kenapa Abi malah jadi bisik-bisik?” sewot Umi pada Abi. Seketika terlintas ide untuk balas menjahili Abinya.
“Hanya urusan laki-laki, Umi tidak perlu khawatir,” jawab Abi santai.
“Kata Abi mau nikah lagi, Um” celetuk Fahmi sambi tersenyum jahil yang langsung mendapat tatap horror dari Ayahnya. Uminya tak kalah galaknya langsung menatap lebih horror lagi ke arah sang Abi.
“Bohong Umi, Abi ngga bilang kaya gitu, beneren deh humaira,” bujuk Abi pada umi yang hanya diam saja pertanda merajuk.
__ADS_1
“Dasar bucin. Asik juga bikin kagaduhan sama orang bucin”, ledek Fahmi pada Abi yang masih terus membujuk instrinya itu.
Belum selesai urusan perbucinan, suara lirih Dira terdengar menghentian perdebatan mereka. Fahmi langsung mendekat ke arah Dira yang masih kebingungan.
“Sya, kamu udah bangun? Mana yang sakit, hemh?” tanya Fahmi penuh perhatian.
“Eh Kak Fahmi, aku tidak apa-apa Kak, Cuma sedikit perih di lutut sama lenganku aja,” jawab Dira sedikit merengis menahan perih di lututnya. Dira belum sadar akan kehadiran orang tua Fahmi.
“Bagaimana keadaan kamu, Nak?" Tanya Umi Fahmi yang sudah mendekat ke ranjang Dira diikuti Abi.
“Ibu sama Om, Dira Alhamdulillah masih dirahayu dan ini udah nggak apa-apa, insyaallah,” jawab Dira sembari mentap bingung ke arah mereka, bagaimana bisa ada kedua orang tua Fahmi di sini, batinnya.
“Jangan panggil Ibu dan Om, panggil saja Umi dan Abi seperti Fahmi,” ucap Umi Fahmi
“Iya Umi, Abi” kata Dira dengan nada lirih.
Pada saat Dira menengok ke arah jam dinding, jam menunjukan pukul setengah 5 sore. Dira ingat bahwa sore ini dia ingin pamit pulang untuk urusan pribadi di rumahnya.
“Maaf Umi, Abi dan Kak Fahmi sepertinya saya harus segera pulang ke pondok, soalnya sore ini saya harus pulang ke rumah. Terimakasih untuk bantuan kalian semuanya,” ucap Dira dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.
Dira yang hendak turun dari ranjangnya langsung dicegah oleh Fahmi. “Tunggu dulu, Sya”
Ketika Dira ingin menolaknya, Umi langsung bersuara, “Benar kata Fahmi, Nak Nadira. Nanti biar Abi sama Fahmi yang ke pondokmu. Besok insyallah Abi sama Umi juga akan ikut mengantar kamu, sekalin jalan-jalan ya, Bi?”
Mendengar pernyataan sang ratu, mu tak mau raja dan pangerannya hanya mengangguk pasrah. Sementara Dira merasa semakin tidak enak sudah merepotkan mereka.
Umi yang peka dengan apa yang dirasakan Dira kembali berbicara, “Nggak usah sungkan Nak Nadira. Umi malah seneng kok jadi kaya punya putri, soalnya anak Umi putra semua, hehe. Lagian sudah lama Umi dan keluarga tidak liburan, jadi nggak apa-apa kan kalau kita ikut, Nak?
Dira yang awalnya merasa sungkan jika harus diantar pulang, kini dia justru sungkan untuk menolaknya. Akhirnya Dira pun menyetujui usulan keluarga Fahmi. Dira merasa sangat beruntung begitu mengenalkan mereka. “Semoga Engkau senantiasa memberikan kehidupan yang bahagia dan keselamatan kepada mereka, Ya Rabb”, do’a Dira dalam hati.
Setelah salat ashar yang hampir terlewat, Fahmi dan Abi langsung menuju pondok pesantren untuk izin dengan pengurus pesantren sekaligus mengabarkan keadaan Dira. Sementara Umi menemani Dira sampai Fahmi kembali, karena umi juga tidak mungkin menginap, mengingat Reyhan yang di rumah bersama Sus.
Setelah mendengar kabar kecelakan Dira, Abah dan Ummah merasa cemas dengan santrinya itu. Namun berkat penjelasan Fahmi dan Abinya, mereka merasa lega dan mengizinkan Dira untuk pulang ke rumahnya.
Para santri yang mendengar info kecelakan Dira juga merasa iba dengannya. Tadi setelah salat maghrib berjama’ah, Abah sendiri yang memimpin do’a untuk kesembuhan Dira
“Apa ini juga ulahmu?” tanya seseorang dengan nada yang begitu dingin tanpa melihat lawan bicaranya.
__ADS_1
“Yes! Gue happy, gue berhasil dan lo, gue peringatin buat nggak usah ikut campur! Kalau lo ingin rahasia lo tetap aman!” jawab orang satunya lagi dan langsung pergi begitu saja.
“Maafin aku, Ra. Semoga kamu baik-baik saja,” lirih orang itu.
......................
Aydan
Di tempat lain, Aydan masih belum percaya dengan apa yang Ayahnya sampaikan. Dirinya dibuat terkejut, marah, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu. Ada apa lagi ini, Ya Allah, batin Aydan lara.
Flashback on
Setelah melepas pelukan hangat ayahnya, Aydan langsung menyampaikan apa tujuannya pulang dan berniat menceritakan semuanya kepada Ayahnya.
“Yah, ada yang ingin Aydan sampaikan,” ucap Aydan sopan dan penuh percaya diri.
“Iya. Apa itu, Nak?” tanay Ayah Aydan.
“Yah, besok malam Aydan akan melamar gadis yang Aydan cintai,” ucap Aydan pasti.
Mendengar itu, Ayah Aydan diam dan cukup terkejut, pasalnya usia Aydan juga belum matang untuk membangun sebuah keluarga.
“Apa? Melamar? Jangan bercanda Aydan. Insyaallah Ayah jika masih diberi sehat, Ayah masih sanggup untuk menimang cucu beberapa tahun lagi,” jawab Ayah yang masih belum percaya dengan pernyataan putranya itu, beliau malah mengisyaratkan untuk Aydan tidak terburu-buru untuk menikah.
“Keputusan Aydan sudah bulat Ayah. Aydan akan segera melamar Arsya, jadi Aydan mohon restui Aydan, Yah.” Kata Aydan mantap dan penuh harap untuk memperoleh restu dari Ayahnya, biar bagaimana pun restu orang tua itu penting.
Ayah Aydan menatap serius pada wajah Aydan. Tidak ada keraguan di mata putra sulunya itu. Dengan menghembuskan nafas teratur, Ayah Aydan pun kembali menajwab.
“Aydan, menikah itu bukan perkara kamu sayang dan cinta dia, tapi kamu juga harus siap dengan lika-liku biduk rumah tangga. Tidak hanya kesiapan materi tapi kesiapan emosional lahir batin. Menyatukan dua insan yang berbeda itu bukan hal yang mudah, Nak”, nasihat Ayah.
Beliau kembali mengambil nafas dan menghembuskannya kasar, huh. Aydan hanya menunduk membenarkan apa yang Ayah ucapkan, namun dirinya tetap berdoa semoga Ayah merestuinya.
“Baiklah Nak, jika itu sudah menjadi keputusanmu, Ayah sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendo’akan yang terbaik untuk kalian,” sambung Ayah.
Betapa bahagianya Aydan mendengar ucapan Ayahnya barusan. Dengan snyum yang merekah, Aydan kembali memeluk Ayahnya seraya mengucapkan terimakasih.
“Ada satu kebenaran yang ingin Ayah sampaikan sebelum kamu menikah, Dan,” ucap Ayah lagi.
__ADS_1
Aydan menatap Ayahnya serius sekaligus penasaran. Wajah ayahnya juga sedikit pias bahkan seperti menahan air mata yang siap keluar dari pelupuk matanya. Kebenaran apa maksud Ayah? Tanyanya dalam hati.