Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Masih Disini Masih Denganmu


__ADS_3

Nadira


Dira tertegun dengan ucapan Aydan. Apa tadi? Bahaya kataya. Siapa orang yang akan membahayakanku? Astaghfirullah. Batinya begitu berkecamuk.


Dia mencoba mencari kebohongan yang terpancar dari manik mata tegas Aydan. Namun dia tidak menemukannya, dia hanya menemukan rasa sesal yang teramat dalam.


“Maksud kamu?” Tanyanya yang belum maksud dengan ucapan Aydan.


“Iya, Sya. Kamu akan berbahaya jika terus bersamaku.” Jawab Aydan dengan nada sendu.


Dia lantas menceritakan semua alasan bahaya yang akan menimpanya jika terus bersama Aydan. Tentang sikap ibu Aydan, perjodohannya dengan wanita pilihan Ibu Aydan dan ancaman jika terus bersama Aydan. Aydan ungkap semua tanpa terkecuali. Karena memang inilah alasan mengapa Aydan menjauhinya dan kini bertekad menemuinya.


Jelas saja, dia sangat terkejut sekaligus iba dengan kehidupan yang selama ini Aydan jalani.


Bagaimana mungkin? Apa itu benar atau hanya alasannya saja? Bagaimana seorang ibu mampu menyakiti anaknya?


Kini dia tahu, kenapa Aydan harus menghindarinya. Namun dia juga kecewa, kenapa harus menghindari? Kenapa tidak bercerita sejak awal? Sebenarnya Aydan menganggapnya apa selama dua tahun bersamanya? Dan berbagai pertanyaan lain yang memenuhi pikirannya saat ini.


“Jadi itu Sya, alasanku mengapa menghilang selama ini. Aku hanya tak ingin kamu terluka jika sewaktu-waktu Ibuku berbuat nekat dan melukaimu.” Terang Aydan menyelesaikan alasannya.


“Kenapa kamu menyembunyikannya dariku, Dan? Kamu anggap aku apa selama ini?” dengan cemberut pertanyaan ini lolos begitu saja. Aydan justru tersenyum, karena dia sudah menyebut namanya. Menjengkelkan.


“Aku tak ingin kamu terbebani, biar aku saja. Kamu cukup fokus tujuanmu dan pendidikanmu saat ini”, ucap lembut Aydan.


Walau masih sedikit jengkel, Dia pun berusaha memahaminya. Bukan hal mudah untuk hidup seperti Aydan, pikirnya. Tapi tunggu dulu, terbebani katanya. Dengan dia menghilang tanpa alasan juga sudah membuatnya terbebani. Huh.


Dia berniat melayangkan protes, “Tapikan…”


“Sssuuuuttt, udah aku ngga apa-apa Sya. Jadi apa kamu mau memaafkan aku? Apa kamu mau melewati ini bersama-sama?" ucap Aydan penuh harap.


Sejujurnya, Dira sedikit ragu bukan karena maafnya. Kalau maaf jelas dia sudah memaafkannya, namun untuk kembali, apa dia mampu? Bukan karena takut ancaman ibunya, tapi karena suatu hal yang entahlah rasanya sulit untuk dijelaskan.


Hembusan nafas panjang yang dia lakukan seraya berkata, “Aku sudah memaafkanmu, Dan”.

__ADS_1


Tentu, Aydan mersa lega karena dia mau memaafkannya. Namun, sedektik kemudian, dia terkesiap dengan kalimat yang akan di lontarkan Dira lagi.


“Tapi untuk kembali seperti semula, apa benar kamu akan memegang ucapanmu untuk kita terus bersama?” ucapnya seraya bertanya.


Dengan pasti, Aydan menjawab, “Itu pasti Sya. Aku akan memperjuangkanmu yang layak untuk ku perjuangkan. Aku akan melindungimu semampuku." Dia memahami alasan mengaap Dira sedikit ragu dengannya.


“Apa kamu menerima semua keadaanku dan sanggup untuk bertahan denganku, Sya? setelah kamu lulus nanti, aku akan datang ke rumahmu untuk melamarmu” Giliran Aydan yang bertanya ditambah dengan niatnya bersama Dira.


Jujur saja Aydan sedikit takut membawa Dira dalam lingkar yang membahayakan. Namun dia bertekad, apapun yang terjadi dia akan memperjuangkan cintanya begitu Dira setuju.


Melihat sorot mata yang penuh harapan dan ketulusan, Dia pun mengangguk pasti sembari senyum terkembang diwajah ayunya. Yess, sorak gembira Aydan dalam hati. Sontak Aydan bangkit dan ingin merengkuh tubuhnya, namun dirinya segera menjauh hingga Aydan hanya memeluk angin.


“Haha maaf Dan” ucapnya seraya tertawa. Tawa yang Aydan rindukan kini terdengar jelas bersamaan dengan hembusan nafas leganya. Aydan juga tersenyum kikuk karena rengkuhannya tak tergapai.


Namun Aydan juga begitu bersyukur karena dia mau memaafkan dan sekaligus menerimanya kembali.


Aydan


“Terimakasih, Sya. Kamu yang terbaik” ucapnya tulus yang disambut anggukan dan senyuman tulus serta sedikit semburat sipu dari Nadira.


“Alhamdulillah lancar, Dan. Oya, minggu besok aku akan ikut event debat di kampus Jakun Dan. Do’ain ya.” Jawab Dira seraya memberitahukan kalau dia akan mengikuti ajang perlombaan tersebut.


“Wah, benarkah? Makin bangga aku sama Arsyaku ini. Semangat ya Sya” Jawabnya dengan penuh antusias. Dirinya benar-benar bangga dengan gadis sederhana ini.


Apa tadi, Arsyayaku. Batin Dira berbunga.


“Pasti Dan” balas Dira.


“Oya Sya. Aku juga minta maaf, kemarin kamu telfon tapi takku angkat. Karena kemarin aku sedang dalam perjalanan ke sini.” Dira yang ingat pun lantas kembali cemberut.


Dia masih ingat bagaimana tangis dan kecewanya belum juga usai sampai tadi sebelum bertemu Aydan.


“Tega banget si kamu. Aku sampai nangis dan kecewa banget sama kamu. Abis itu, aku telfon pakai nomor temenku eh kamu angkat, gimana ngga kecewa coba” ungkapnya menggebu.

__ADS_1


“Maaf ya Sya, aku beneran ngga dengar ada telfon, dan pas aku menepi isi bensin ada telfon masuk, baru kedengaran. Aku langsung mengangkatnya dan kaget itu suara kamu. Bodohnya, aku justru memutuskannya saking gerogi. Abis itu, aku telfon dan kirim pesan di nomor kamu sampai tadi belum aktif.” Jelasnya lagi merasa bersalah.


Nomor tidak aktif?, ah ya dari kemarin aku tidak mengaktifkan ponselku. Dira pun lantas mengambil ponsel jadul di dalam tasnya. Benar saja, masih dalam keadaan mati. Begitu diaktifkan, ada puluhan pesan masuk yang rata-rata dari Aydan.


Dira lantas memandang Aydan merasa bersalah. Dia merutuki kebodohannya yang malah bersikap seperti anak kecil. Ck memalukan. Tapi ada hikmahnya juga, dia jadi menyelesaikan tugas dengan tenang, belajar dengan baik dan masih banyak lainnya.


“Maaf ya Dan, aku sengaja mematikan ponselku” ucap Dira tak enak hati.


Aydan jadi gemas sendiri, ingin sekali dia mencubit pipinya namun urung. Dia memilih untuk menganggukan kepala dan mengelus sayang puncak kepala Dira yang tertutup hijab sembari berkata, “Iya sayang”.


Malu? Jelas Dira malu dipanggil dan diperlakukan demikian. Ingin menjauh namun hati berkata lain, munafik jika dia tidak merasa senang. Namun hal itu tidak berlaku lama karena Dira ingat harus ada pertemuan hari ini.


Dilihatnya jam yang menunjukan jam setengah 11. Masih ada waktu setengah jam untuk dirinya mengobrol berbagai hal bersama Aydan. Dira cukup gelisah karena tidak enak meninggalkan Aydan, lebih tepatnya dia masih kangen, hehe.


Aydan yang melihat sikap Dira yang cukup gelisah akhirnya bertanya.“Masih ada kelas, Sya?”.


Dira mengangguk lantas berkata dengan sedikit ragu, “Ada kelas sore, cuma nanti ada pertemuan dengan tim jam 11”.


Lagi-lagi Aydan tersenyum membuat Dira semakin tidak enak hati dibuatnya.


“Tidak apa-apa, aku akan menunggumu di luar” jawabnya menenangkan.


“Masih ada setengah jam. Apa mau es krim?”, tawarnya pada Dira. Mendengar itu, Dira langsung setuju.


“Kalau gitu, Ayo kita ke café depan. Sepertinya tadi aku sempat melihat di depan ada café” ajak Aydan yang justru mengundang tawa Dira.


“Loh kenapa tertawa, Sya?” tanyanya.


“Haha sekarang mainnya café ya Dan. Aku malah ngga pernah ke café depan, mahal soalnya haha. Beli di kantin aja yuk” jawab jujur Dira.


Aydan jadi kikuk sendiri, ternyata Nadiranya masih sama. Gadis sederhana yang tak pernah neko-neko. Inilah yang membuat Aydan sulit untuk melepasnya, bahkan tak pernah terbesit pikiran untuk melepasnya. Biarkan kesalahannya cukup sekali dan jangan diulangi lagi sampai takdir Allah menyatukan.


“Ya udah yuk, kamu yang tahu tempatnya. Aku ngikut kamu ya” jawab Ayan dengan senyum yang terus mengembang.

__ADS_1


Mereka pun pergi ke kantin FISIP kampus U yang paling dekat. Mereka bercanda dan tertawa bersama seakan luka yang setengah tahun sama-sama mereka rasakan tak pernah ada. Apakah ini akan berakhir atau hanya awal dari sepenggal kisah? Entahlah, takdir apa yang akan mereka temui.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2