Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Crush?


__ADS_3

Selesai pembahasan, Dira mulai sibuk dengan berbagai materi yang harus dipelajarinya. Fahmi dan Tufail pamit terlebih dahulu. Hal itu membuat Dira merasa lebih lega, sebab dibalik sikap bodo amatnya, Dira yang peka akan keadaan merasa dirinya diawasi sejak tadi, terutama oleh Fahmi.


Zaid, Dira dan Renata muai mencari berbagai referensi. Walaupun terlihat diam, namun Zaid justru yang lebih cekatan dibanding Rena dan Dira. Renata yang cerewet dan mudah bergaul membuat Dira merasa sefrekuensi dengannya. Jika dilihat-lihat, Zaid seperti tengah mengasuh dua bocah yang sama-sama cerewetnya.


Ketika adzan Dzuhur berkumandang, mereka segera mengakhiri pembahasan kali ini. Zaid dan Rena memilih untuk pulang karena sudah tidak ada kegiatan di kampus. Sedangkan Dira memilih untuk shalat dzuhur terlebih dahulu di masjid kampus walau sudah tidak ada kegiatan lagi.


Tidak ada henti-hentinya dia mengucap syukur atas apa yang Allah berikan padanya. Tidak lupa, dia juga berdoa untuk orang tuannya, dirinya dan orang-orang yang dia sayangi dan menyayanginya. Setelah selesai, dia tidak lantas pulang, melainkan memilih untuk beristirahat terlebih dahulu di serambi masjid. Dira mengeluarkan ponsel jadulnya untuk menelfon orang tuannya di rumah.


Satu kali panggilan belum terjawab dan Dira melakukan panggilan kembali. Hingga pada panggilan yang ketiga, baru suara salam Mama Yasi terdengar.


“Assalamu’alaikum Ra” salam Mama Yasi.


“Wa’alaikumsalam Ma. Mama, Bapak kalih Syifa pripun kabare?” (Mama, Bapak dan Syifa, bagaimana kabarnya?) tanya Dira pada Mamanya.


“Alhamdulillah sehat kabeh Dir. Dira sehat Nduk?” (Alhamdulillah sehat semua Dir. Dira sehat, Nak?) jawab Ibu Dira dan balik bertanya pada putrinya itu.


“Alhamdulillah Dira juga sehat Ma. Oya, ada kabar baik yang akan Dira sampaikan Ma.” Ucap Dira antusias.


“Kabar apa tah Ra?” tanya Mama yang penasaran.


“Alhamdulillah, Dira lolos seleksi DeNas yang waktu itu Dira ceritain ke Mama sama Bapak. Lombanya dua minggu lagi Ma” jawab Dira.

__ADS_1


“Masyaallah Alhamdulillah, selamat Nak. Mama sama Bapak Bangga sama kamu, Nak” ucap Mama Dira terharu dan bangga. Dia tidak menyangka anaknya dapat lolos seleksi, pasalnya Dira mengatakan jika saingannya adalah anak-anak pintar dari berbagai fakultas di kampus itu.


“Iya Mama, Alhamdulillah. Ini juga berkat do’a Mama dan Bapak. Tanpa do’a kalian, mungkin Dira tidak dapat lolos. Mama do’ain Dira tetap sehat ya. Do’ain Dira mampu bertanggungjawab dan tidak mengecewakan orang-orang yang telah mempercayai tugas ini pada Dira. Semoga Dira bisa memberikan yang terbaik dan buat bangga Mama dan Bapak” ucap dira dengan Nada yang parau menahan tangisnya.


“Aamiin. Dira, Nak. Mama sama Bapak pasti selalu mendo’akan yang terbaik untuk Dira. Dira harus menjaga kesehatan, sertakan Allah dalam setiap niatmu, jangan lupa salatnya, semangat belajar, ikhtiyar terus ya Nduk. Jangan takut, dengan kamu bisa kuliah dengan jalur prestasi saja sudah membuat kami bangga.” Mama Dira juga tidak bisa membendung lagi air matanya. Beliau begitu bangga dengan putri kecilnya itu.


“Nggeh Ma, Dira pasti akan selalu ingat pesan Mama. Dira sayang Mama, Bapak, Yayu dan Syifa” jawab Dira penuh haru. Terjadilah mereka beruda saling terisak. Segera Dira mulai menyeka air matanya, dia tidak mau banyak orang melihat keadannya saat ini.


“Nggeh sampun Ma. Dira mau pulang ke podok dulu nggeh, nanti kalau sempat Dira telfon Mama lagi” sambung Dira.


“Tidak usah nanti Ra, Mama mau ikut lamarannya Novi, anak Budhe Is. Kamu hati-hati pulangnya ya Ra” jawab Ibu Dira.


“Nggeh Ma. Owalah Mba Novi mau lamaran tah Ma. Semoga lancar dan Dira segera menyusul nggeh Ma. Hehe” Dira menimpalinya dengan sedikit candaan.


Sebelum pulang, Dira menyempatkan diri untuk membasuh wajahnya terlebih dahulu agar tidak begitu sembab, untung di tidak memakai make up jadi tak berantakan. Tanpa disadari Dira, ada seseorang yang tadi mendengarkan dan memperhatikannya. Dia adalah Fahmi yang memang belum keluar kampus dan menjalankan kewajibannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan aktivitas.


Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan oleh Fahmi. Setelah Dira pergi, dia pun ikut pergi menuju parkiran. Dia lantas pergi ke FM Group untuk melanjutkan pekerjaannya.


...----------------...


Sesampainnya di pondok, Dira lagsung mencuci tangan dan kakinya sebelum masuk kamar. Di tangan kanannya ada sebungkus nasi sebagai makan siangnya. Suasana kamar sangat sepi mengingat kedua Kakak kamarnya sudah berangkat ke lokasi KKN siang tadi.

__ADS_1


Dira mulai menyendokan makannya, rasanya dia sangat lapar mengingat tadi pagi tidak sempat sarapan. Dia teringat sesuatu tentang Eni temannya yang tak sempat dia temui hari ini. Segera dia menghabiskan makanannya, karena Dira tak suka makan sambil berbicara atau melakukan aktivitas lainnya.


Setelah selesai, dia langsung mengambil ponsel miliknya yang sejak perdebatan dengan Fahmi belum sempat dia pegang kembali karena tadi dia menggunakan smartphonennya untuk telfon dengan mama. Ada beberapa pesan masuk, 1 dari nomer tak dikenal, 1 dari kontak yang tertulis "Crush" entah siapa yang menamainnya dan terakhir dari Eni. Dira memilih membuka pesar dari Eni terlebih dahulu. Sudah dapat ditebak kalau Eni pasti akan ngomel karena Dira yang tidak menemuinya.


“Maaf ya Eni sayang, tadi aku belum sempat menemuimu. Jangan ngambek ya, nanti aku beliin eskrim 2 ribuan deh ya. Ngga ada yang beliin eskrim kan? Tenang aku yang beliin ya. Hehe” jawab Dira pada Eni, walaupun pesan teks, namun tetap saja mulutnya ikut berbicara.


Tanpa menunggu balasan SMS Eni, Dira langsung membuka dua chat lainnya.


Fahmi. Itulah pesan singkat, padat, jelas dan irit dari seorang Fahmi yang kontaknya dinamakan "Crush". Dira tak bermaksud membalasnya, dia justru mengganti nama kontak itu menjadi “Tukang Tarik”. Nama yang pas, karena dia sering ditarik tiba-tiba oleh Fahmi.


Sementara, pesan berikutnya dari nomor misterius yang sering mengirim pesan pada Dira. Kali ini hanya berisi 5 kata bertuliskan “Akan ada waktu yang tepat”.


Dira bingung dengan maksudnya. Jika biasanya dia hanya membiarkan saja, namun kali ini Dira akan mencoba membalasnya. Lama kelamaan Dira risih dan sedikit takut juga, walaupun pesannya tidak ada unsur mengancam jiwa tetap saja tidak nyaman.


“Maaf ini siapa ya?” tanya Dira.


Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berbunyi karena ada pesan masuk.


“Tak perlu mengerti siapa aku, karena aku ada dalam dirimu” begitulah jawabnya yang justru membuat Dira geram. Namun dia tahan dan tak membalas pesan itu lagi. Dia letakan kembali ponselnya, lalu merebahkan diri untuk beristirahat sejenak.


Lagi-lagi dia teringat hari ulang tahun Aydan. Seharusnya, berita baik tentangnya saat ini dapat menjadi kado terindah baginya. Namun sepertinya tidak mungkin karena sampai saat ini, Aydan juga tidak pernah membalasnya. Lama dia termenung hingga akhirnya tertidur.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...-Alhamdulillah-...


__ADS_2