
Tepat pukul 1 pagi, rombongan Fahmi sudah sampai di hotel tempat mereka menginap, sedangkan rombongan lainnya sudah datang 2 jam yang lalu. Dira yang sebelumnya telah menghubungi Renata langsung menuju ke kamarnya, begitu juga dengan Fahmi dan Tufail.
Dira langsung membersihkan badan dan segera istirahat. Perjalanan yang jauh membuat tubuhnya sedikit kaku. Dilihatnya jam menunjukan pukul 02.43 membuat dia tidak bisa tidur. Akhirnya Dira memutuskan untuk memainkan ponselnya, tidak lupa mengirimkan pesan pada Mama dan Aydan jika dia telah sampai di Jakarta.
Belum ada balasan dari keduanya, kalau Mama mana mungkin akan bermain telepon jam segini, sedangkan Aydan mungkin masih istirahat atau justru belum pulang kerja karena shift malam. Cukup lama dia memainkan ponselnya membuka berbagai akun sosial medianya, membaca novel online untuk mengurangi kejenuhan, hingga akhirnya satu pesan masuk.
“Alhamdulillah, Sya. Aku juga baru pulang kerja ini, mungkin 15 menit yang lalu”_My Aydan.
Baru saja ingin membalas, sebuah panggilan video dari Aydan muncul dilayar ponselnya. Dengan senang hati Dira menjawabnya, beruntung dia sudah memakai jilbab instan miliknya.
“Asalamu’alaikum, Arsya,” sapa Aydan, wajahnya tampak segar, mungkin baru selesai mandi.
“Wa’alaikumsalam Aydan, baru pulang ya?” jawab Dira basa-basi padahal dia jelas sudah tahu jika Aydan baru pulang beberapa menit yang lalu.
“Iya, gimana perjalanan? Capek hem?” jawab Aydan dilanjut bertanya.
“Lumayan. Kayanya lebih capek kamu deh, Dan. Jam segini baru pulang,” jawab Dira dan obrolan pun terus berlanjut, hingga waktu subuh tiba baru mereka mengakhiri video call itu.
Dira segera membangunkan Renata dan Sekar untuk salat subuh, sedangkan dirinya justru merasa mengantuk hingga akhirnya tertidur.
Pagi harinya, seperti biasanya kaum hawa tentu akan rempong masalah bersiap. Beruntung Dira sudah mandi jadi tinggal gosok gigi dan cuci muka saja lalu menggunakan skincare dan riasan secukupnya. Berbeda dengan Renata dan Sekar yang heboh mulai dari make up, baju, tatanan rambut hingga parfume.
Dira jadi tahu bahwa dibalik tampilan stylish mereka ada kehebohan dibaliknya. Biasanya dia hanya melihat di sosial media miliknya dan beranggapan mungkin hanya sekedar kebutuhan konten, tapi nyatanya memang seperti itu. Selesai bersiap, mereka kumpul di restoran hotel untuk sarapan. Jangan tanyakan harga, karena ini semua sudah dibayarkan oleh pihak kampus. Alhamdulillah, batin Dira.
Sebelum berangkat menuju kampus Jakun, Fahmi memberikan sedikit arahan atau wejangan untuk mereka.
“Baik teman-teman. Di sini gue cuma mau bilang, semangat untuk kalian semuany! Tetap tenang, tak perlu memikirkan hasilnya cukup fokus untuk melakukan yang terbaik. Sebelum ada kata menang, kalian sudah menang terlebih dahulu karena untuk masuk menjadi 20 besar ini bukan perkara yang mudah. Jadi kalian hebat dan gue percaya kalau kalian mampu melakukan yang terbaik. Semangat! Semangat! Semangat!” Ucap Fahmi dengan penuh semangat.
“SEMANGAT!” jawab mereka kompak.
Tanpa menunggu lama, mereka pun segera meluncur ke kampus Jakun. Setibanya di sana, semua berkumpul sesuai dengan tim masing-masing di luar ruangan yang akan mereka gunakan. Fahmi dan Tufail terlihat mendatangi teman-temannya di kampus itu, maklum saja mereka adalah aktivis yang cukup populer.
Jujur, saat ini perasaan Dira tengah campur aduk antara senang, gerogi, terharu, bangga dan rasa yang entah apa itu. Gerogi mungkin wajar karena ini kali pertamanya. Senang, terharu dan bangga bisa berada diantara orang-orang keren ini, tapi untuk rasa yang satu ini sulit untuk diungkapkan seperti mengganjal di hatinya. Oh, mungkin bawaan gerogi kali ya, begitu pikir Dira.
Kompetisi pun dimulai tahap demi tahap. Rasa gerogi yang tadi dirasakannya berangsur menghilang menjadi rasa penuh keyakinan. Perdebatan cukup alot dari berbagai kubu yang saling berargumen. Hingga menyisakan babak terakhir yang terdiri dari 6 tim, 2 tim dari kampus Jakun, 1 dari kampus Ganapati, 1 dari Kampus Biru, dan 2 dari kampus U.
Dira dan tim cukup lega karena usahanya membuahkan hasil. Babak selanjutnya akan dimulai setelah waktu dzuhur. Dira menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada Aydan dan menanyakan keberadaannya. Pesan langsung centang dua namun tak kunjung dibalasnya. Mungkin masih dalam perjalanan, pikir Dira walau sejujurnya dia merasakan firasat yang kurang baik. Sebisa mungkin dia tepiskan dan memilih fokus pada babak selanjutnya.
Dari arah samping, seseorang menyodorkan minuman dingin padanya seraya berkata, “Minum dulu, Sya,” ucap Fahmi.
__ADS_1
“Thanks, Kak,” Jawab Dira menerima minuman dingin dari Fahmi.
“Untuk pemula, kamu udah luar biasa tadi, Sya. Semangat terus ya,” ucap Fahmi menyemangati.
“Siap, Bos!” seru Dira sambil meragakan hormat ala tentara yang membuat Fahmi tersenyum gemas dan mereka pun tertawa bersama.
Interaksi keduanya tidak luput dari pandangan seseorang yang tidak jauh dari mereka.
“Fix, Fahmi suka sama Dira,” lirih seseorang yang tidak lain adalah Tufail.
“Lama banget gue nggak lihat Fahmi ketawa gitu,” sambung seseorang yan muncul tiba-tiba.
Tufail terperenjat kaget, “Sialan lo, Ri. Kaget nih gue,” omel Tufail pada Fahri, Presma kampus Jakun.
“Hehe sorry, Bro. Lagian lo ngapain di sini liatin orang yang lagi asik bercanda gitu?” tanya Fahmi kepo.
“Nggak usah kepo, Ri. Tetangga gue kepo besoknya kupingnya jadi budeg plus mulutnya bisu, mau lo kaya gitu?” sewot Tufail lagi.
“Elah, sejak kapan seorang Tufail yang dingin jadi cerewet gini, mana sewot mulu lagi, PMS lo?” ucap Fahri yang didengar oleh beberapa mahasiswa yang ada di dekat mereka hingga saling terkekeh geli. Fahri yang dasarnya sosok periang merasa biasa saja.
“Sue lo, Ri. Bikin malu aja,” jawab Tufail sembari pergi meninggalkan Fahri.
Kompetisi dimulai kembali, semua peserta dipersilakan untuk masuk ke ruangan. Bagi yang tidak lolos, ada yang sudah pulang dan tidak sedikit yang ikut menyaksikan.
Bismillah, dengan langkah pasti Dira maju ke depan memosisikan diri bersama timnya. Tanpa basa-basi, mereka mulai memaparkan argumennya sesuai dengan peraturan kompetisi yang dibuat. Semaksimal mungkin Dira berusaha, hasilnya serahkan pada Allah SWT.
Lagi-lagi adu argument sama-sama kuatnya, bahkan juri pun sampai dibuat bingung oleh mereka. Namun yang namanya perlombaan tentu ada menang dan kalah. Hingga babak ini pula dinyatakan selesai. Lega? Tentu saja karena persiapan berminggu-minggu lamanya telah dipecahkan hari ini dengan sangat baik.
Sambil menunggu pengumuman, Dira kembali mengecek ponselnya. Syukurlah, ada pesan masuk dari Aydan dan Dira segera membukanya.
“Sya, aku sedikit terlambat, tolong kamu jangan kemana-mana dulu, ya,”_My Aydan.
Dira yang tidak merasa aneh pun membalas dengan santai, mungkin Aydan takut tak bertemu dengannya lagi, pikirnya.
“Iya, Dan. Aku tunggu kamu di sini ya, kamu hati-hati. Ini tinggal nunggu pengumuman aja.”_Nadira.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba, dengan senyum ceria, MC mengumumkan hasilnya.
“Okey, ini dia moment yang kita tunggu-tunggu. Duh, ini wajah-wajah lelah kayanya udah nggak sabar pengin pulang ya? Tapi tunggu dulu, kalau pulang nggak bawa hasil, nanti dimarahi Mamakan? Hehe. Okey, sudah siap semuanya?” tanya MC yang serempak dijawab, “Siap!”
__ADS_1
“Jadi tanpa berlama-lama lagi, inilah dia pemenang Kompetisi Debat Nasional Periode 1, 5 oktober 201x bertempat di Kampus Jakun, Jakarta. Urutan ke 6 dari tim kampus Jakun 1, urutan ke 5 dari tim kampus U 2 (Dira dan tim), urutan ke 4 dari kampus Biru, urutan 3 dari kampus U 1 (Sekar dan tim), urutan ke 2 dari kampus Jakun 2 dan urutan pertama dari kampus Ganapati. Selamat untuk para pemenang dan kepada yang bertugas silakan untuk memberikan trofi dan uang tunai kepada para pemenang.”
“Kepada para pemenang, saya ucapkan selamat dan sukses terus untuk kalian. Dan bagi yang belum beruntung hari ini, tetap semangat. Dari saya sekian, terimakasih dan sampai jumpa di periode berikutnya. Salam mahasiswa!” ucap MC mengakhiri acara hari ini.
Walaupun di posisi ke 5, Dira merasa cukup puas karena setidaknya dia sudah semaksimal mungkin. Lawannya juga sangat kuat, maka Dira mengakui jika mereka layak untuk menang.
Dira tersenyum ke arah Zaid dan Renata, seolah berkata okey tidak masalah, kita tetap hebat. Zaid dan Renata juga tersenyum sambil mengangguk pertanda mengiyakan. Mereka saling berpegangan tangan dan menguatkan satu sama lain.
“Kak Sekar, Kak Adam dan Kak Agam, selamat ya! Kalian kerennn,” ucap Dira sembari mengacungkan dua jari jempolnya.
“Terimakasih Dira, kalian juga hebat!” ucap Sekar mewakili yang lain dan langsung memeluk Dira juga Renata. Mereka tertawa bersama penuh kebahagiaan.
Tufail dan Fahmi mendekat ke arah mereka seraya mengucapkan selamat atas prestasi yang mereka dapatkan.
“Okey, untuk merayakan kemenangan kalian, mari kita rayakan dengan makan sepuasnya yang akan disponsori oleh bos kita, Muhammad Fahmi Aditama,” ucap Tufail dengan penuh semangat. Sebenarnya ini tidak ada dalam rencana, namun untuk mengapresiasi mereka tentu Fahmi tidak masalah.
Mereka pun bersorak senang dan langsung sibuk mencari restoran yang terkenal dengan sajian makanan lezatnya di sekitar kampus Jakun. Lebih tepatnya Sekar dan Renata yang sibuk memilih, sedangkan Dira justru tengah merasa cemas.
“Kamu kenapa, Ra?” tanya Agam yang sejak tadi memperhatikan Dira.
“Iya, kamu kenapa cemas gitu, Sya?” sambung Fahmi yang juga memperhatikannya.
“Ah, enggak Kak. Emm apa boleh nanti aku nyusul saja?” ucap Dira yang berhasil menaik perhatian mereka.
“Tidak boleh! Kita harus sama-sama. Nanti kalau kamu hilang bagaimana? Memangnya kamu mau apa di sini?” tanya Fahmi penuh selidik, sedangkan yang lain sedikit cengo dengan Fahmi yang tumben bersikap demikian.
“Bukan begitu, Kak. Aku hanya sedang menunggu seseorang,” jawab Dira tidak enak.
“Menunggu siapa?” Tanya Fahmi lagi yang tiba-tiba merasa kesal. Cemburu? Mungkin saja.
“Ada, seseorang Kak. Sebentar,” jawab Dira sambil mengecek keberadaan Aydan. Rupanya belum ada tanda-tanda Aydan sampai di kampus Jakun, kemana dia? Batin Dira.
“Udah gini aja, Sya. Kamu ikut kita, nanti suruh dia ketemu di resto yang kita tuju aja,” ujar Tufail menengahi.
Setelah dipikir-pikir, akhirnya Dira pun menyetujui. Para cowok menuju parkiran untuk mengambil mobil sedangkan para cewek memilih untuk menunggu di seberang jalan fakultas. Sekar meminta tolong untuk ditemani ke toilet, namun Dira menolaknya dengan alasan nanti mereka para cowok tidak mengetahui keberadaan mereka.
Akhirnya tinggalah Dira sendiri di pinggir jalan tersebut yang cukup sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang berlalu lalang. Entah disengaja atau tidak, tiba-tiba ada seseorang yang berusaha mencelakai dirinya. Dengan gerakan gesit, Dira menepis serangan orang tersebut.
Hingga pada akhirnya, “Sya, awassss…”
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...