Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Patah Hati Masal


__ADS_3

Dua hari berlalu dengan cepat, selama itu pula Dira selalu menemani Aydan. Sesekali teman-temannya juga datang berkunjung, mereka benar-benar menikmati waktunya di Jakarta.


Siang ini Aydan sudah diperbolehkan pulang. Sewaktu dokter visit tadi, beliau mengatakan jika lukanya sudah mulai mengering dan keadaan fisiknya sudah stabil. Dira dan teman-temannya juga sudah check out dari hotel, rencananya setelah mengantar Aydan ke kontrakan, dia dan teman-temannya akan langsung pulang.


Bersyukur Dira memiliki teman-teman yang baik dan bisa diandalkan seperti mereka. Seperti saat ini, mereka dengan senang hati mau mengantarkan Aydan sampai ke kontrakannya.


“Sudah siap semuanya, Sya?” tanya Aydan memastikan, lagi-lagi dia bersyukur karena dengan cekatan Dira membantunya untuk mengemas barang-barangnya.


“Sudah, Dan. Barang-barangku juga sudah semua. Ayo kita pulang, teman-teman sudah menunggu di parkiran,” dengan senang hati Aydan pun menyetujuinnya.


Sambil berjalan, Aydan pun mengingat masalah biaya administrasi yang sebagian sudah dibayar oleh Dira.


“Sya nanti jangan lupa kirim nomer rekening kamu ya,” ucap Aydan.


“Buat apa, Dan?” tanya Dira sedikit bingung.


“Untuk ganti biaya administrasi rumah sakit. Aku tahu itu uang tabungan beasiswa kamu, jadi pergunakan untuk urusan pribadi kamu ya,” jawab Aydan.


“Nggak usah diganti, Dan. Lagian kamu juga terluka karena aku, aku..” Aydan segera memotong ucapan gadisnya tu.


“Stop buat nyalahin diri sendiri, Sya. Udah tinggal kirim nomer rekeningnya aja ya. Cari uang itu susah, Sya, aku yakin kamu juga tahu itu. Apalagi nominalnya ini juga tidak sedikit, kebutuhan kuliah kamu juga pasti banyak. Udah nurut apa kata calon suami.” Tegas Aydan.


Ah iya, alon suami. Ya ampun gini aja aku langsung gugup, Ya Allah astaghfirullah, batin Dira.


Dira yang terlihat pasrahpun membuat Aydan tersenyum gemas. Tak ingin membuang waktu, mereka berdua segera menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu.


Zaid dan Renata ada dalam satu mobil seperti biasanya, sedangkan yang lainnya masuk di mobil Adam. Walaupun begitu, Zaid dan Renata tetap ikut mengantar Aydan sampai kontrakannya.


......................


Setibanya di kontrakan, mereka dikejutkan dengan banyaknya ibu-ibu komplek yang sepertinya sengaja menyambut Aydan.


“Dan, ini nggak salah kontrakan lo? Kok banyak ibu-ibu disana?” tanya Adam mewakili rasa penasaran yang lainnya.


“Benar itu kontrakanku, itu juga ada Aris di depan. Kalau ibu-ibu itu memang ibu-ibu komplek sini. Lebih baik kita turun, ayo!” ucap Aydan yang mengajak mereka untuk turun.


Begitu Aydan turun dari mobil, suasana mendadak jadi makin ramai. Berbagai pertanyaan terlontar dari rombongan ibu-ibu itu.


“Ya Allah, lu kagak nape-nape, tong?” celetuk salah satu ibu-ibu di sana.


“Iya, gimana keadaan lu?”


“Mana tuh preman, tega bener bikin lu celaka,”


“Lain kali bilang ama kite-kite, biar kite gibeng rame-rame,”


“Betul itu,” sorak lainnya.

__ADS_1


“Gedeg banget. Bisa orang setega ntuh idih,”


Aydan jadi pusing sendiri, diliriknya Aris yang hanya meringis melihatnya. Teman-teman yang lain termasuk Dira juga tertegun dibuatnya. Benar-benar the power of emak-emak, batin mereka.


“Fix ini Aydan artis kompleks,” lirih Renata.


“Iya, sepertinya begitu. Dia digandrungi emak-emak, lihat tuh ada gadis muda juga, wajar si soalnya ganteng,” sambung Sekar.


Mendengar itu, hati Dira mendadak panas. Secepatnya dia menghampiri Aydan dan mengajak yang lainnya juga.


“Assalamu’alaikum semuanya,” ucap Dira yang berhasil membuat mereka mengalihkan pandangannya ke arah dia dan juga teman-temannya. Serempak mereka pun menawab salam Dira.


“Wah, inikan Neng yang melawan preman itukan?” celetuk salah satu dari ibu itu.


“Iya benar,” ucap mereka


“Mbanya ternyata lebih imut dari yang di video”


“Iya tapi keren bisa melawan ntuh preman cap rempeyek,”


Ucap mereka lagi yang membuat suasana makin ramai . Aydan justru terkekeh geli melihat raut wajah bingung Dira.


“Sepertinya kamu bakal jadi artisnya mereka, Sya,” bisik Aydan yang membuat Dira tersadar.


“Ekhem-ekhem, Ibu-ibu sebelumnya terimakasih banyak untuk kekhawatiran kalian semuanya kepada saya. Insyaallah saya sudah baik-baik saja dan kejadian kemarin juga sudah kami serahkan ke pihak yang berwajib,” jelas Aydan.


Terdengar ungkapan syukur dari para ibu itu, Aydan lalu melanjutkan ucapannya, “Saya bersyukur tinggal di lingkungan ini, walupun belum lama tapi saya merasa nyaman, aman dan penuh kekeluargaan. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih semuanya, semoga kita semua senantiasa diberikan perlindungan oleh Allah SWT,”


“Tidak perlu merasa sungkan, Nak Aydan. Kami juga senang Nak Aydan hadir di lingkungan ini, karena berkat Nak Aydan juga masjid jadi tidak sepi, anak-anak jadi bisa belajar mengaji dan kegiatan pemuda di kompleks ini bisa berjalan lagi. Kami juga mengucapkan terimakasih buat Nak Aydan,” jawab salah satu dari mereka mewakili menjadikan suasana mendadak haru.


Dira tanpa sadar malah meneteskan air matanya. Dia begitu bangga dan semakin mantap akan keputusannya menikah dengan Aydan. Ditatapnya Aydan dengan tatapan dalam dan teduh.


Melihat air mata yang mengalir membuat Aydan secara refleks menyekanya. Tindakan itu tentu tidak luput dari pandangan setiap orang yang menatap mereka. Mungkin ini saat yang tepat untuk aku mengenalkan Arsya sebagai calon istriku, batin Aydan.


“Oh iya perkenalkan Bu, ini Nadira dan juga teman-temannya ada Adam, Agam, Zaid, Sekar juga Renata,” ucap Aydan mengenalkan mereka satu persatu.


“Gue nggak lo kenalin, Dan!” teriak Aris dari depan pintu kontrakan yang justru langsung diteriaki oleh rombongan ibu-ibu itu. Dira dan yang lainnya justru tertawa tertahan.


Tanpa merespon Aris, Aydan melanjutkan ucapannya, “Ekhem, maaf sebelumnya ada yang ingin saya katakana juga,” seketika suasana menjadi hening kembali. Kompak bener ini ibu-ibu.


“Insyaallah saya akan menikah dalam waktu dekat dan Nadira Arsyakayla ini dalah calon istri saya,”


Deg


"Menikah?" kompak mereka, ck.


Mereka yang disana jelas terkejut, begitu juga dengan teman-teman Dira, kecuali Aris. Dira juga sama terkejutnya, dia tidak percaya kenapa Aydan melakukan ini.

__ADS_1


Sebenarnya tidak perlu melakukan ini, namun mengingat jika nanti sewaktu-waktu Dira ke sini dan statusnya sudah menjadi istri Aydan, takut timbul fitnah bagi mereka yang belum mengetahui. Disamping itu juga sebagai bentuk penegasan terutama bagi ibu-ibu yang sering menjodoh-jodohkan putrinya dengan Aydan, atau para gadis yang sengaja menarik perhatiannya.


Ada yang senang ada juga yang sedikit kecewa bahkan patah hati, patah hati masal mungkin. Terdengar lebay, tapi tidak dipungkiri jika Aydan merupakan idola mereka di kompleks ini.


......................


Tidak berselang lama, para ibu itu pun bubar kembali dengan urusannya masing-masing. Aydan mengajak Dira dan teman-temannya untuk masuk dulu ke kontrakannya. Beruntungnya lagi, ada banyak makanan yang tadi dibawakan oleh rombongan ibu-ibu itu.


“Gila lo Dan, kesayangan emak-emak sini ternyata haha mantap mantap,” ucap Agam sembari menggelengkan kepalanya melihat banyak makanan yang tersaji.


“Iya ini Dan, banyak banget makanannya loh,” sambung Adam yang langsung menyomot makanan di depannya.


Plak


Sekar menepuk punggung tangan Adam, “Sabar dong Dam, yang punya juga belum nyicipin,”


“Santai aja neng cantik, si Aydan pasti ngebolehin, iya nggak Dan?” tanya Aris dengan gaya modusnya. Aydan pun mengiyakan dan mengajak mereka untuk makan bersama.


Dengan senang hati mereka pun makan sambil saling melemparkan candaan. Rencana mereka yang akan langsung pulang pun harus ditunda sampai malam nanti.


“Ngomong-ngomong Ra, benar kalau kamu calon istrinya Aydan?” tanya Sekar yang sejatinya masih penasaran mengingat kedekatan Dira dengan Fahmi.


Dengan malu-malu Dira pun mengiyakan, “Benar Kak, insyallah jika tidak ada halangan minggu depan Aydan akan ke rumah mengutarakan niat baiknya. Do’ain yang terbaik ya, Kak,”


“Emangnya kalian sudah lama kenal? Terus bagaimana dengan Kak Fahmi?” sambung Renata yang membuat Aydan menatap penuh tanya ke arah Dira.


“Kak Fahmi? Kalian mungkin salah paham, aku dan Kak Fahmi tidak ada hubungan apapun, hanya sebatas teman seperti kalian ini,” jelas Dira agar tidak timbul kesalahpahaman antara dirinya dan Aydan. Dira juga belum mengatakan perihal donor darah Fahmi ke Aydan.


“Sebenarnya aku dan Aydan sudah lama menjalin hubungan bahkan dua tahun lebih. Karena itulah kami memutuskan untuk menikah secepatnya agar tidak timbul fitnah,” tegasnya lagi.


Kali ini Aydan sedikit lebih lega karena Dira tidak menutupi hubungannya dari teman-temannya. Walaupun demikian, Aydan merasa harus berbicara dengan Dira terkait Fahmi dan hal penting lainnya.


Mereka yang mendengar penjelasan Dira pun mengangguk paham. Sekar yang akhir-akhir ini dekat dengan Dira pun berusaha mengerti Dira, meskipun dalam hatinya juga merasa kasian dengan Fahmi yang ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi Sekar tidak ingin berandai-andai dengan perasaan orang lain toh itu hak mereka, lebih baik memikirkan dirinya sendiri.


“Wih lo diem-diem bisaan ya Ra, aku kira orang kaya lo nggak ada namanya pacaran. Secara lo kan anak pesantren,” ucap Renata sedikit nyablak.


Sebenarnya Dira sedikit tersentil dengan ucapannya. Tapi inilah Dira si santri badung (nakal), maka dari itu agar tidak menambah dosa dia harus segera menikah.


Melihat Dira yang diam saja, membuat Zaid merasa tidak enak dengan ucapan kekasihnya itu.


“Renata,” panggilnya tegas disertai kodean mata yang mengarah ke Dira. untung saja Rena cukup peka dengan keadaan saat ini.


“Eh maaf Ra, bukan maksud aku menyinggung kamu” ucap Renata merasa tidak enak.


“Tidak apa-apa Kak, emang harusnya seperti itu. Cuma ya gini aku tuh santri badung hehe,” ungkap Dira disertai kekehan diakhirnya membuat yang lainnya merasa lega.


Mereka lantas melanjutkan mengobrol, apalagi Aris yang dengan gencarnya menebar modus pada Sekar. Pembawaan Aris yang lucu membuat suasana kian ramai, sama sekali tidak ada kecanggungan diantara mereka walaupun baru kenal beberapa hari ini.

__ADS_1


Aydan mengajak Dira untuk berbicara empat mata di halaman belakang dekat jemuran, lagi-lagi bukan tempat romantis. Tapi kira-kira apa yang akan Aydan bicarakan, apa soal Fahmi?, batin Dira penuh tanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2