
Fahmi
Selepas dari urusan kantornya, masih dengan pakaian formal, Fahmi langsung tancap gas ke kampusnya. Sebelumnya, dia yang baru selesai rapat langsung menuju ruangannya. Sembari bersantai, dia membuka beberapa pesan masuk yang sudah menumpuk.
Dia cukup tertegun karena ada banyak notice yang menyebut namanya dalam berita harian kampus U. Dilihatnya berita tersebut yang ternyata tentang kedekatannya dengan seorang gadis adik tingkatnya yang tak lain adalah Dira. Dia jadi tersenyum sendiri mengingat kebersamaannya kemarin.
"Oh ya ampun, apa-apaan aku ini. Ck" gerutunya dalam hati dengan senyum yang melekat dari bibirnya.
Namun pandangannya menajam kala membuka sebuah berita terhangat hari ini. Dilihatnya sebuah gambar yang menampilkan seorang wanita yang tengah menarik jilbab Nadira yang disusul dengan gambar Nadira berdiri di dekat seorang pria, lengkap dengan penjelasannya.
Rahangnya mengeras karena emosi bercampur khawatir. “Damn it! Apa-apan Tasya, berani sekali dia menyentuh Nadira arrrghhhh” makinya.
Segera dia mengambil kunci motornya dan berlari ke luar ruang menuju parkiran. Alvian yang melihat hanya menggelengkan kepalanya sedikit heran. “Kesambet apa tuh bocah” begitu kira-kira batinnya.
Beruntung jalanan yang lenggang membuat dia dapat sampai di kampus dengan cepat. Langsung saja dia memarkirkan motornya di parkiran gedung FEB, dia berharap dapat segera menemukan Dira. Sesampainya di lobi, di arahkannya pandangan ke berbagai sudut namun nihil, tak ada Dira disitu. Dia lantas bertanya dengan beberapa orang yang duduk di lobi.
“Lo liat Dira ngga?” tanyanya pada beberapa orang itu. Namun mereka menggelengkan kepala pertanda tak melihatnya. Kebanyakan belum paham betul tentang siapa orang yang dimaksud Fahmi.
“Bodoh, kenapa ngga telfon aja si” runtuknya dalam hati.
Dia lantas menghubungi Dira beberapa kali, hingga barulah terdengar suara seseorang mengangkatnya. Bukan suara Dira, namun seorang pria yang membuat dia makin emosi. Alasannya? Entahlah.
“Brengs*k, Siapa Lo!”, bukannya menjawab salam, Dia malah langsung memakinnya.
“Lo yang siapa?” orang tersebut justru bertanya balik.
“Lo!” segera dia mengakhiri panggilannya. Sial! Siapa dia? Begitu batinnya.
Dia yang melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukan pukul 11 kurang 5 menit, segera pergi ke sekre BEM karena akan ada pertemuan. Dia berharap jika nanti dapat melihat Dira dalam keadaan baik-baik saja. Batinya begitu berkecamuk penuh kekhawatiran.
Sesampainya di ruangan, mereka sudah berkumpul sesuai timnya masing-masing. Pandangnnya mengarah pada gadis berjilbab yang membuat dia sedikit menarik nafas lega.
“Syukurlah, sepertinya dia baik-baik saja” lirihnya dalam hati.
__ADS_1
“Kenapa lo Mi, kaya abis dikejar induk ayam aja” seloroh Tufail mencoba meledeknya.
Dia pun segera menormalkan ekspresi dan emosinya mengabaikan ledekan Tufail. Dirinya lebih memilih duduk acuh tak acuh. Baginya cukup melihat Dira yang baik-baik saja lainnya seolah tak terlihat, bahkan tadi sempat tersenyum ke arahnya.
Mereka berdiskusi dengan tenang, sesekali saling mengungkapkan pendapatnya masing-masing, itung-itung latihan berargumen. Persiapan sudah 80 persen dari sisi materi. Mereka benar-benar all out agar hasilnya tidak mengecewakan. Walaupun belum berpengalaman, tapi Dira sangat yakin dapat memberikan yang terbaik, pasalnya dia juga pernah memenangkan lomba debat berbahasa Indonesia di tingkat SMA/MA se-Kabupaten, jadi sudah ada gambarannya, walau kemungkinan besar jauh berbeda. Untung setim dengan Zaid dan Renata yang lebih dulu melesat prestasinya dibanding dirinya yang pemula, mereka juga tetap humble kepadanya.
Selesai diskusi, Dira segera membereskan buku-bukunya dan ingin segera pergi. Namun lagi-lagi langkahnya tertahan oleh Fahmi.
“Kenapa, Kak?” tanyanya cepat.
“Lo ngga papa?” tanpa basa-basi, Fahmi langsung bertanya demikian.
“Seperti yang Kakak lihat, aku ngga papa” ucapnya seraya tersenyum.
Fahmi menghembuskan nafasnya lega. Ketika hendak mengajaknya pergi, Dira segera memotong dan berkata, “Maaf Kak, aku duluan. Udah ditunggu teman”.
Ingin dia mencegah lagi, namun urung karena tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk dari Bang Alvian. Tidak ingin membuang-buang waktu, Nadira segera melesat pergi sebelum Fahmi mencegahnya kembali. Dari tukang tarik, sepertinya Dira akan menggantinya menjadi tukang cegat, begitu batinnya.
......................
Nadira yang mendapatkan pesan jika Aydan menunggu di serambi masjid kampus, segera ke sana. Namun sebelumnya, dia akan menunaikan ibadah salat dzuhur terlebih dahulu baru menemuinya. Setelah selesai, Dira menemui Aydan yang sedang duduk bersandar di serambi masjid sebelah kanan.
“Sudah?” tanya Aydan sembari tersenyum.
“Udah, yuh kita keluar” balas Dira dan Aydan segera berdiri lalu mereka keluar dari area masjid.
Mereka pergi berdua dengan mengendari motor masing-masing. Awalnya Aydan sedikit keberatan, namun segera paham akan posisi Dira yang selain mahasiswa juga santri. Lagi-lagi dia dibuat bangga dengan gadis itu, karena walaupun nantinya mereka tetap berjauhan jarak, tapi dia tidak terlalu khawatir karena Dira berada di lingkungan yang tepat.
Dia pun bertekad, jika akan segera melamar Nadira karena khawatir dengan statment masyarakat akan menilai buruk hubungan mereka. Bukan karena melakukan di luar batas, namun karena status Nadira saat ini. “Katanya santri, kok pacaran”, itulah kira-kira statement yang sering didengarnya. Dia pun memiliki adik perempuan yang sama halnya dengan Nadira, hingga harus menjaganya dari gunjingan yang menyakitkan.
Aydan terus mengikuti laju motor Nadira di belakangnya, tentunya dengan senyum yang makin terkembang. Dia ingat betul jika dulu Nadira sering menolaknya jika diantar pulang. Walaupun beda sekolah dan arah pulang yang berlawanan, Aydan selalu berusaha untuk mengantar Nadira.
“Ngga usah Dan, aku pulang bareng teman aja. Kamu langsung pulang ke rumah aja ya.” Itulah cara Nadira menolak Aydan. Nadira lebih sering pulang jalan kaki bersama teman-temannya atau memilih naik angkot jika masih ada angkot yang lewat.
__ADS_1
Sampailah mereka di salah satu tempat makan yang cukup terkenal yakni Sambal Ayah. Dira yang lebih dulu masuk, disusul dengan Aydan di belakangnya. Mereka duduk lesehan tepat di pojok ruang, sehingga tidak terlalu banyak orang berseliweran.
Nadira memilih memesan ayam bakar dengan minumnya es teh manis, begitu juga dengan Aydan. Sembari menunggu pesanan datang, rasa canggung masih menyelimuti mereka berdua. Ah, seperti baru kenalan aja.
Aydan memecah kesunyian dengan bertanya, “Bagaimana kegiatan pondok, Sya?”
Dengan cepat Dira menjawab, “Alhamdulillah lancar, Dan.” Aydan pun tersenyum hangat.
‘Laki-laki ini selalu tersenyum begitu, buat makin salting aja si. Kalau kaya ginikan entah kemana rasa kecewa dan marahnya selama setengah tahun ditambah kejadian kemarin. Dasar kamu Dira’. Gerutu Dira pada dirinya sendiri.
“Semangat belajar ngajinya ya, Sya. Biar makin banyak ilmu agamanya, kelak kamu yang akan menjadi madrasah pertama anak-anak kita”, tuturnya.
Dira tertegun sekaligus tersipu di akhir kalimat Aydan. ‘anak-anak kita’, apa itu mungkin? Atau hanya harapan semata? Biarlah nanti Allah yang menentukan. Namun untuk saat ini dia begitu menikmati hingga membuat hatinya berbunga. Secepat kilat dia menyembunyikan perasaan senangnya itu. Dalam hati dia mengaamiinkan ucapan Aydan yang juga sama dinantinya.
“Pasti Dan. Do’ain ya” ucap Dira.
“Oya, bagaimana dengan kerjaanmu? Bukankah ini bukan hari libur?”. Dira baru ingat jika Aydan sudah bekerja dan seingatnya, untuk libur hanya diberikan sehari dalam seminggu dengan waktu yang random.
“Aku izin cuti, Sya. Karena tujuanku ke sini adalah kamu”. Ucapan Aydan lagi-lagi menjadi selimut hangat yang mampu menghangatkan hatinya yang dingin waktu lalu.
“Terimakasi Dan” kata Dira penuh haru.
“No, harusnya aku yang ngucapin terimakasih. Terimakasih Arsyaku” ucap tulus Aydan yang membuat setitik hangat kembali menetes dari pelupuknya.
“Hey, jangan nangis lagi, okey. Kemana ini Arsyaku yang selalu tegar, hemh?” tambah Aydan yang membuat Dira tersenyum.
Segera dia menghapus tetesan air di pipinya itu bertepatan dengan pesanan mereka yang datang. Setelah mencuci tangan, mereka langsung menyantap makanan sembari sedikit bercerita. Nadira kembali ceria dengan berbagai cerita yang dengan senantiasa Aydan dengarkan.
Untuk masalah telfon yang tadi Aydan angkat dan malah memakinya, akan dia tanyakan nanti. Untuk saat ini, dia hanya ingin melihat senyum, tawa dan segala hal manis tentang Dira. Buat bekal LDR, katanya.
“Tetaplah seperti ini Sya” lirihnya dalam hati dengan pandangan yang selalu mengarah pada Dira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1