Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Nembung Dulu, hasilnya?


__ADS_3

Pagi menyambut dengan syahdunya, sisa hujan semalam masih mengundang gerimis untuk mengantarkan aktivitasnya. Kuliah pagi mengharuskan gadis mungil itu harus bersiap. “Hah, males sekali rasanya,” keluh gadis itu yang tidak lain adalah Dira.


Dari sebelum subuh, Dira menyempatkan diri untuk mengisi waktu luang dengan belajar karena pagi ini akan ada kuis. Dia belum sempat membuka ponselnya sejak semalam. Suara hujan membuat tidurnya sedikit tenang dari pikiran-pikiran yang semalam dirasakannya.


“Kamu kuliah hari ini, Ra?” tanya Amel sambil tersenyum padanya.


“Iya Mba,” jawab Dira singkat.


“Oh ya ini buat sarapan, kamu belum sempat sarapankan?” tanya Amel sambil memberikan sebungkus roti isi pada Dira.


Dengan senang hati Dira pun menerimanya, tidak lupa Dira mengucapkan terimakasih. Mungkin memang benar Mba Amel sudah berubah, pikirnya. Dira tidak ingin menambah beban pikirannya saat ini, karena baginya ada hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan.


Dira langsung bergegas pergi ke kampus karena jam pertama tidak lama lagi akan dimulai. Sesampainya di kampus, benar saja tidak lama Dira sampai di kelasnya, dosen datang dan langsung memulai kuis.


......................


Di tempat lain, dua pemuda sedang dalam perjalanan menuju ke sebuh desa untuk sebuah tujuan tertentu. Dengan niat mantap dan penuh percaya diri, mereka menghentikan motornya di sebuah rumah sederhana dengan halaman yang luas dan ada kebun di sampingnya.


“Lo udah yakin, Dan? Termasuk resiko kedepannya nanti?” ucap salah satu pemuda pada rekannya.


“Gue siap, apapun jawabannya juga gue siap,” jawab pemuda tersebut mantap.


Mereka adalah Aydan dan Aris. Seperti apa yang Aydan kirimkan pada Dira semalam bahwa dirinya akan langsung ke rumah Dira untuk mengutarakan niatnya. Di sinilah mereka berada saat ini, di depan rumah Dira.


Semalam setelah menelfon seseorang yang hanya Aydan yang tahu, dia dibantu dengan Aris membulatkan tekad untuk langsung menemui Ayah dan Ibu Dira untuk mendapatkan restu, kata orang jawa “nembung” dulu. Demi sahabatnya, Aris pun menyetujui untuk izin kerja dan menemani Aydan. Aydan langsung mengirim pesan pada Dira dan bergegas bersiap ke kampung halaman Dira malam ini juga.


“Besok aku langsung ke rumahmu, Sya.” send Mine.


Dengan langkah pasti, mereka mengetuk rumah yang menurut warga setempat yang mereka tanyai tadi adalah rumah Dira. Sejujurnya Aydan sedikit gerogi, karena biar bagaimana pun ini adalah keputusan besar dan berkunjung ke rumah Dira merupakan kali pertamanya.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


“Assalmu’alaikum,” ucap mereka bedua.


“Wa’alaikumsalam, mangke sekedap (nanti sebentar),” jawab seseorang dari dalam rumah itu. Dari suaranya adalah suara seorang laki-laki, mungkin bapaknya Dira.


Tanpa menunggu lama sang pemilik pun keluar dengan raut wajah yang bingung menatap mereka bedua, “Punten, sinten nggeh? (Ma’af, siapa ya?),” tanya seorang bapak yang membuka pintu rumahnya itu masih dengan kebingungannya.


Dengan cepat Aydan pun menjawab, ”Ngampunten Pak, kula Aydan lajeng niki rencang kula, Aris, (Maaf Pak, saya Aydan dan ini teman saya Aris)” jawab Aydan memperkenalkan diri sekaligus mengenalkan Aris.


“Nopo leres niki daleme, Nadira Arsyakayla, Pak? (Apa benar ini rumahnya, Nadira Arsyakayla, Pak?)” sambung Aydan memastikan.


“Nggeh leres, kula Pak Khadir. Bapak ipun Nadira (Iya benar, saya Pak Khadir. Bapaknya Nadira) ,” jawabnya sambil tersenyum ramah.


“Monggo-monggo sami mlebet riyin, Mas, (Silakan-silakan masuk dulu, Mas)” ujar Pak Khadir mengajak tamunya untuk masuk dan duduk terlebih dahulu.


“Nggeh, Pak maturnuwun,” ucap Aydan. Mereka pun masuk dan duduk dengan tenang.


Sementara itu, Pak Khadir masuk ke dalam untuk berganti pakaian. Rupanya, beliau baru saja pulang dari sawah. Hanya sebentar, Pak Khadir pun kembali menemui tamunya. Namun sebelum memulai obrolan, Pak Khadir memanggil anak kecil untuk memanggil mama Dira yang ada di tempat kakaknya Dira.


“Sekedap nggeh, niku Mamane Dira seg teng nggene Mbakyune Dira (sebentar ya, itu mamanya Dira lagi ditempat kakaknya Dira),” ucap Bapak Dira.


“Oh ndak apa-apa, Mas. Kebetulan malah, jadi Bapak bisa menemui. Kalau datangnya tadi terlalu pagi atau sore malah nggak ketemu Bapak,” jawab Bapak Dira dengan ramah.


Mereka terus mengobrol saling mengenalkan diri satu sama lain. Pembawaan Bapak Dira yang santai membuat suasana menjadi sedikit lebih tenang. Sesekali juga Aris menimpali dengan candaan ringan namun sopan. Dari obrolan ini bapak Dira jadi teringat cerita istrinya tentang Aydan.


“Nak Aydan ini yang kemarin sempat ngobrol sama Mamanya Dira,?” Tanya bapak Dira memastikan.


Dengan tegas dan sopan Aydan pun menjawab, “Nggeh Pak, itu saya,”


“Iya iya iya, kemarin Mamanya Dira sempat cerita dengan Bapak, soal niat baiknya Nak Aydan,” ucap Pak Khadir mengerti, mungkin tujuan kesini ada kaitannya tentang itu, pikir beliau.


Suara salam mengalihkan perhatian mereka, hingga seorang ibu dan anak balita dalam gendongannya masuk. Mereka adalah Ibu Dira dan ponakannya yang paling kecil, Qiya.


“Loh ada tamu jauh ini, maaf ya belum ada unjukan (minumannya), Bapak bagaimana si,” ucap ibu Dira. Aydan dan Aris pun berdiri sambil menyalami Mama Dira itu.


“Ini, Nak Aydan ya? Masyaallah tampan sekali, Nak,” puji ibu Dira yang membuat Aydan sedikit terharu, pasalnya dia disambut dengan ramah oleh keluarga Dira, semoga hasilnya juga sama.

__ADS_1


“Nggeh Ibu, saya Aydan dan ini teman saya, Aris,” jawab Aydan. Aris hanya tersenyum, sepertinya sifat cerewetnya sedikit berkurang kali ini.


“Oh iya, itu Nak Aris. Sebentar ya, saya bikin minum dulu, masa tamu jauh nggak diopeni gini,” ibu Dira pun masuk ke dapur dan menitipkan Qiya pada Bapak Dira.


Sembari menunggu, mereka pun melanjutkan obrolan. Qiya langsung mau digendong oleh Aydan dan Aris. Aris yang senang bermain dengan anak kecil pun meminta izin untuk bermain dengan Qiya di teras depan. Sebenarnya Aris juga ingin memberikan ruang pada mereka yang akan membicarakan hal penting dan privasi nantinya.


Ibu Dira telah kembali dari dapur dengan teh dan beberapa cemilan di nampannya, “Monggo silakan,” ucap Mama Dira menyuguhkan.


“Loh, Nak Aris mana ini?” tanya ibu Dira yang tidak melihat Aris di sana.


“Nak Aris lagi ngajak Qiya dolanan nang njaba (Nak Aris sedang mengajak Qiya main di depan)” jawab papak Dira yang langsung dipahami oleh istrinya itu.


Mereka terdiam sesaat, setelah meminum teh buatan ibu Dira, baru Aydan mengutarakan niat dan tujuannya kepada mereka.


“Bismillahirrahmanirrahim, Bapak dan Ibu, sebelumnya saya mohon maaf mengganggu waktunya. Maaf jika saya lancang bertamu di sini tanpa memberitahukan terlebih dahulu. Bahkan Arysa, maksud saya Dira sendiri baru saya beritahu semalam dan sampai saat ini belum membalasnya,” ucap Aydan memulai obrlan.


“Oh iya, tidak apa-apa Nak, jangan sungkan, santai saja,” jawab Bapak Dira menenangkan, sepertinya beliau menangkap kegugupan dari seorang Aydan Putra Nugraha.


“Keluarga ini begitu ramah dan tenang, pantas saja Arsya begitu baik dan berprinsip. Ya Allah mudahkanlah urusan hamba ini. Aamiin.” Do’a Aydan dalam hati.


“Nggeh Pak. Jadi selain silaturahmi, seperti yang kemarin saya obrolkan dengan ibu, bahwa saya berniat untuk melamar Nadira Arsyakayla untuk menjadi istri saya,” Aydan menjeda kalimatnya, dia sedikit gugup disini. Apakah dia sedang melamar? Tentu saja.


“Maaf jika saya datang kesini dengan tangan kosong, terlebih tanpa kedua orang tua saya. Saya hanya ingin meminta restu Bapak dan Ibu dengan hubungan kami. Jika berkenan, insyaallah, besok saya beserta Ayah saya akan datang lagi kemari untuk melamar secara resmi,” jelas Aydan menyampaikan niat dan tujuannya.


Bapak dan Ibu Dira cukup salut dengan keberanian Aydan yang meminta restu secara langsung tanpa didampingi oleh kedua orang tuannya. Walaupun terbesit tanda tanya besar mengapa Aydan datang tanpa orang tua, atau kerabat dekat lainnya. Mereka juga penasaran mengapa Aydan ingin menikah muda mengingat usia mereka yang masih tergolong muda.


“Baik Nak Aydan, insyaallah niat baiknya saya terima. Sebenarnya ini juga sudah kami rundingkan dengan keluarga inti. Namun sebelumnya, boleh Bapak tahu alasan mengapa Nak Aydan ingin menikah muda? Dan bagaimana dengan keluarga Nak Aydan?” tanya Bapak Dira beruntut mengeluarkan rasa penasarannya.


Walaupun Aydan terlihat anak yang baik, namun sebagai orang tua tentu ingin yang terbaik untuk putrinya. Mengingat pernikahan bukanlah hal yang sepele, bahkan tidak hanya menyatukan dua anak manusia yang saling mencintai tetapi juga dua keluarga.


Aydan tentunya sudah menyiapkan semua kemungkinan yang akan ditanyakan padanya. Dia juga berniat untuk jujur tentang alasan dan keluarganya. Dia tidak mau ada yang disembunyikan, karena dia paham benar jika sebuah hubungan yang diawali dengan kebohongan maka tidak akan berjalan dengan lancar.


Lalu bagimana nasibnya? Serahkan pada Yang Maha Penyayang, Allah SWT.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2