
Aydan
Tak ingin larut dengan rasa penasarnnya, Aydan pun langsung bertanya dengan Ayahnya, “Kebenaran apa maksud Ayah?”
Ayah hanya diam seperti meguatkan diri untuk apa yang akan beliau sampaikan. Dengan lirih, beliaupun berucap, “Aydan, ayah minta maaf sudah menutupinya darimu. Namun percayalah, apapun yang akan Ayah sampaikan, Ayah sangat menyayangimu, Nak. Tolong maafkan, Ayah”
Bukan jawaban itu yang Aydan inginkan. Aydan merasa kesal sekaligus penasaran yang teramat besar. Nah, sebenarnya ada apa ini?
Dengan suara yang tercekat, Ayah Aydan pun melanjutkan ucapannya, “Sebenarnya Ayah bukan Ayah kandungmu, Dan”
Tes
Deg
Air mata tak lagi dapat ditahan oleh Ayahnya. Sedangkan Aydan diam membisu dengan keterkejutannya. Hatinya mencelos seperti keluar dari ruangnya, bagaimana mungkin Aydan tidak terkejut. Pikirannya seketika kosong, hingga suara Ayah kembali mengembalikan kesadarannya.
“Maafkan Ayah Dan, maafkan Ayah,” ucap Ayah sambil menangis pilu penuh sesal.
Lagi-lagi Aydan hanya diam, dia ingin berucap namun seolah tercekat dan lidahnya kelu untuk mengeluarkan sekata pun. Batinya terus bergejolak. Aku bukan anaknya? Lantas siapa orang tuaku? Terus kenapa Ayah ingin minta maaf? Aargghhh kenapa jadi begini? Kenyataan seperti apa lagi ini, Ya Allah.
Dengan segala rasa yang Aydan pikirkan saat ini, Aydan memilih untuk keluar dari kamar Ayahnya menuju ke kamarnya. Dirinya diam membeku hingga suara adzan mengisi ruang hatinya kembali.
“Astaghfirullahal’adzim,” Aydan mengucap istighfar berkali-kali. Sedikit tenang, dia pun memilih mengambil wudhu dan salat. Dia memilih mencurahkan segala rasa pada Pemberi Rasa yang sesungguhnya.
......................
Kampung Halaman Nadira
Pagi harinya seperti kesepakatan sore kemarin, Dira pun diperbolehkan rawat jalan dan akan diantar pulang oleh Fahmi dan keluarganya. Sebelumnya Dira juga sudah menghubungi orang tuanya bahwa dia akan pulang pagi diantar oleh temannya. Dia tidak menceritakan tentang kecelakannya itu, biarlah nanti dia sampaikan jika sudah ada di rumah.
Dira duduk di belakang bersama Umi dan Reyhan, sedangkan Fahmi duduk di balik kemudi bersama Abi di sampingnya. Layaknya potret perjalanan liburan keluarga yang menyenangkan. Kehadiran Reyhan yang ceria membuat suasana semakin hangat. Dira jadi tahu sifat Fahmi yang sebenarnya jika bersama keluarganya.
__ADS_1
“Aw,” rintih Dira refleks ketika lengannya tidak sengaja tersenggol oleh Reyhan yang berdiri di sampingnya.
“Apa Kakak cantik takit? Maapin lehan ya, Kak” ucap Reyhan sembari mengusap tangan Dira lembut.
Melihat itu, semua orang yang ada di dalam mobil langsung tersenyum ke arah Dira dan Reyhan. Abi dan Umi jelas bangga dengan putranya yang masih kecil tapi sudah memiliki sikap tanggungjawab. Dira pun dengan lembut menggelengkan kepalanya sembari mencubit gemas pipi gembul Reyhan.
Bukannya marah atau menangis seperti pada saat Fahmi yang melakukan itu, Reyhan justru tertawa dengan gembira.
“Giliran sama cewek aja ketawa, sa ae lu bocil,” celetuk Fahmi yang langsung mendapat teguran dari Umi.
Sementara Reyhan justru meledeknya dengan menjulurkan lidahnya merasa menang. Kelakukan kakak beradik yang terpaut usia yang cukup jauh itu membuat yang lainnya hanya menggelengkan kepala.
3 jam berlalu hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah sederhana dengan halaman yang luas. Suasana rumah yang sedang dipasang tarub membuat mereka menjadi bertanya-tanya kecuali Dira. Mungkin ini alasan Dira pulang karena saudaranya akan mengadakan acara.
Dira memang tidak memberitahukan alasannya untuk pulang, mereka juga tidak bertanya pada Dira jadi Dira memilih diam saja. Sama halnya dengan keluarga Fahmi yang bertanya-tanya, orang-orang yang sedang membantu di rumah Dira juga penasaran, bahkan beberapa yang di sana menganggap mungkin mereka adalah tamu yang akan hadir di acara ini.
Salah satu tetangga yag melihat itu langsung bergegas ke dapur untuk mengabari kedatangan Dira dan keluarga Fahmi.
“Loh Yu Yasi kerpiwe? Jerene ba’da maghrib acarane koh tamune wisan teka kae (loh Mba Yasi gimana? Katanya setelah maghrib acaranya, kok tamunya sudah datang itu),” heboh tetangga itu yang membuat Mama Dira juga merasa panik.
Suasan Dapur makin ramai hingga terdengar ke halam depan. Ibu-ibu sibuk dengan berbagai olahan masakan dan Mama Dira bergegas ganti baju untuk menyambut tamu.
“Ya Allah Gusti, wirang aku nek kaya kie. Bapak juga maring ndi maning, jand (Ya Allah Gusti, malu aku kalau kaya gini. Bapak juga kemana ini, duh),” gerutu Mama sambil menuju kamarnya.
Selesai bersiap ala kadarnya, Mama berniat untuk menemui tamu. Tiba-tiba Siti, Kakak Dira datang dan langsung menegurnya.
“Mama kenapa? Kok ketoe grasa grusu kaya kue? (Mama kenapa? Kok kelihatanya tergesa-gesa seperti itu?)” tanya Siti heran melihat Mamanya demikian.
“Koe juga durung ngerti? Heh, kue loh tamune wisan teka, koe wis nemui mbok? (kamu juga belum tahu? Heh, itu loh tamunya sudah datang, kamu sudah menemuinya?” jawab Mama Dira yang jelas terlihat panik.
Mba Siti justru bingung dibuatnya, pasalnya tidak ada tamu keluarga Aydan melainkan Dira dan teman serta keluarga temannya itu. Buru-buru Mba Siti menjelaskan, takut Mamanya semakin salahpaham nantinya.
__ADS_1
“Ma, Aydan dan keluarganya belum datang. Itu Dira sama temannya sekaligus keluarga temannya, itu,” jelas Mba Siti pada mamanya.
“Owalah ngomong dong Ti, kit mau. Ya wis sekarang kamu ke dapur dan kasih tahu yang lain biar nggak grasa grusu, Mama mau menemui mereka dulu. Ana tamu ora open ya pada wirange (ada tamu nggak diperhatian ya sama malunya), ucap Mama.
Beliau langsung menuju ke depan untuk bertemu dengan tamunya itu. Beliau juga merasa sedikit lega akhirnya Dira sudah kembali dan tidak malu karena segala persiapan belum siap.
Melihat ada beberapa tamu yang sepertinya dua orang lainnya seusia dengan dirinya membuat Mama Dira bertanya-tanya. Namun beliau memilih untuk diam, toh nanti juga Dira akan menjelaskannya.
“Eh ada tamu, Assalamu’alaikum Bapak, Ibu dan Cah Bagus,” sambut Mama Dira yang langsung dijawab oleh mereka sembari bersalaman.
Tanpa ditanya, Dira langung mengenalkan mamanya ke keluarga Fahmi dan mengenalkan keluarga Fahmi juga pada mamanya. Mereka saling menyambut baik dan mulai mengobrol ringan.
“Mohon maaf Mba, sepertinya akan ada hajatan ya ini? Duh saya jadi nggak enak malah bawa pasukan begini. Niatnya hanya akan mengantarkan nak Dira sambil jalan-jalan, eh malah lagi ramai begini. Sekali lagi, kami mohon maaf ya, Mba” ucap Umi merasa tidak enak bertamu di momen yang tidak tepat.
“Eh saya jutru senang kedatangan tamu jauh eperti kalian. Justru saya yang mohon maaf sudah merepotkan kalian dan mungkin kalian jadi merasa tidak nyaman,” jawab jujur Ibu Dira.
“Sebenarnya ini acara Dira yang insyaallah akan menerima khitbah nanti malam. Ibu, Bapak sama cah bagus ini juga nanti ikut nggeh, biar makin ramai,” lanjut Ibu.
Mereka yang mendengar itu langung terdiam, apalagi Fahmi. Dia yang awalnya berfikir jika mungkin saudara Dira yang akan ada acara langsung terpatahkan seketika. Apakah aku benar-benar harus menyaksikannya sendiri? gumamnya dalam hati.
“Oiya, Mba? selamat Nak Nadira, semoga acaranya berjalan dengan lancar, ya” ucap Umi mewakili.
“Aamiin. Terimakasih Umi,” kali ini Dira yang bersuara sambil tersenyum. Ada aura bersemi dari wajah Dira membuat Fahmi benar-benar harus melepaskannya, asal Dira bahagia.
Mereka pun lanjut mengobrol hingga Bapak Dira datang dan langung bergabung dengan mereka. Umi dan Abi juga sepakat untuk ikut menyaksikan khitbah Dira nanti. Mereka sengaja melakukan itu agar putranya menyaksikan sendiri dan segera melupakan Dira sebagai bayang-bayang kekasih hati. Syukur-syukur berubah menjadi kasih sayang kakak ke adiknya.
......................
Aydan
Aydan dengan perasaan yang masih bercampur aduk tetap melanjutkan niatnya untuk mengkhitbah Dira. Semalam, setelah salat tahajud dan salat hajat, Aydan merasa sedikit tenang dan berusaha ikhlas. Walaupun sampai saat ini, dia belum tegur sapa dengan ayahnya.
__ADS_1
Dengan dibantu Paman Didi dan beberapa tetangga yang mengenalnya, Aydan mulai menyiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk seserahan khitbah. Untuk cincin, Dira pernah bilang jika dia ingin dikhitbah dengan gelang saja, jadi Aydan pun akan memilih gelang sebagai tanda khitbah. Selebihnya, Aydan percayakan pada Paman Didi untuk membantu mengurusnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...