
Aydan dengan tubuh lelahnya bangun terduduk setelah tadi sempat mengistirahatkan tubuhnya. Saat ini dia masih di dalam masjid karena setelah shalat Ashar, dia malah tertidur. Segera dia membersihkan wajahnya dan pulang ke kosnya. Jarak kos dan tempatnya bekerja cukup dekat sehingga membuat Aydan memilih jalan kaki dibandingkan mengendarai motor. Itung-itung menghemat biaya transportasi pikirnya.
Sebelumnya, dia mampir di warteg terlebih dahulu untuk mengisi perut yang sudah keroncongan sejak tadi. Sesampainya di kos, dia lalu membersihkan kosnya karena tadi pagi belum sempat dia membersihkannya. Hingga tiba waktu maghrib, Aydan bergegas pergi ke masjid terdekat. Walaupun terlihat dingin, Aydan adalah sosok yang mudah dalam membawa diri dan paham agama, hal itu membuat masyarakat sekitar menerima dengan senang hati kehadiran Aydan.
Seperti saat ini, setelah salat maghrib Aydan mengisi kegiatannya dengan mengajar ngaji anak-anak sekitar. Dengan kegiatan ini, dia merasa lelahnya karena bekerja terasa hilang berganti dengan senyum ceria anak-anak kecil. Jujur saja, dia begitu merindukan suasana seperti ini di desanya. Ayah Aydan adalah seorang guru ngaji, sehingga tiap sore selalu ramai anak ngaji datang ke mushola depan rumahnya.
Caranya mengajar tidak hanya membuat anak-anak nyaman belajar dengannya, tetapi juga menarik ibu-ibu muda anak itu serta perempuan muda yang juga kagum dengan Aydan. Bahkan banyak para ibu yang terang-terangan mencoba menjodohkan Aydan dengan putri-putri mereka. Namun dengan sopan dan tegas Aydan berusaha menolak niat mereka.
Kegiatan mengaji dilakukan sampai waktu isya', sehingga sekalian salat isya' berjama'ah di masjid. Jika Aydan kebagian shift malam, maka hanya Pak Yazid dan istri yang akan mengajar ngaji. Setelah isya’, Aydan langsung pulang, entah kenapa dirinya sangat lelah hari ini. Keadaan kos masih sepi, karena Aris masuk shift malam.
“Sstt, kenapa lelah sekali hari ini. Lebih baik aku segera istirahat” monolognya sembari melepas sarung dan baju kokonya hingga tersisa celana pendek dan kaos oblong biasa.
Ketika baru memejamkan mata, bunyi suara ponsel miliknya membuat dia langsung membuka matanya kembali. Dilihatnya layar ponsel yang masih berbunyi dengan nama Ibu, memanggilnya. Dia menghela nafasnya dan langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Assalamu’alaikum. Hallo Bu” salam Aydan.
“Wa’alaikumsalam Dan, kamu udah pulang?” tanya Ibu Rani, Ibunya Aydan.
“Alhamdulillah sudah Bu. Oya bu, ada apa telfon?” Aydan langsung pada intinya.
“Kamu ini Dan, selalu saja tanpa basa-basi. Kamu seperti ngga suka kalau Ibu telfon.” Ibu Aydan langsung kesal dengan jawaban putra pertamanya itu. Aydan hanya memutar bola matanya jengah karena selalu saja Ibunya bersikap demikian.
“Oya Dan, besok ulang tahunmu. Apa kamu sudah memikirkan apa yang Ibu minta?” Aydan hanya diam saja.
__ADS_1
“Huh Dan. Walaupun Ibu bukan Ibu kandungmu, tapi Ibu sangat menyayangimu sayang. Jadi menurutlah sama Ibu, karena kamu tahu sendiri bagaimana Ibu jika sudah bertindak” tegas Ibu sembari tersenyum smirk. Aydan mengepalkan tangannya, lagi-lagi Ibunya itu selalu mengancamnya. Namun kali ini dia harus tegas demi masa depannya.
“Lakukan apa yang ingin Ibu lakukan. Ini adalah masa depanku jadi Aku berhak menentukan. Namun jangan pernah Ibu melukai Ainun seperti dulu lagi apalagi melukai Ayahku. Satu lagi, jangan sekalipun menyentuh Nadiraku” tegas Aydan yang benar-benar sudah sangat geram dengan perilaku ibu sambungnya itu.
“Lihat saja apa yang akan Ibu lakukan, sayangku. Haha” Jawab Ibu Rani yang langsung memutuskan sambungan begitu saja.
Aydan terus mengepalkan tangannya dengan mata yang diliputi emosi. Segera dia beristighfar lalu mengambil wudhu dan membaca Al-Qur’an agar emosinya mereda. Aydan sungguh tak habis fikir dengan Ibu sambungnya yang selalu memaksakan kehendak sesuai keinginnannya dengan menghalalkan berbagai cara.
Ibu kandung Aydan sudah meninggal sejak Aydan berumur 2 tahun. Karena pekerjaan ayahnya yang sebagai kuli bangunan dan guru ngaji waktu itu, tidak mungkin membawa Aydan terus menerus ikut bekerja. Kedua orang tuanya adalah anak tunggal yang yatim piatu, sehingga tidak memiliki saudara lainnya. Terkadang Aydan harus dititipkan ke tetangga, namun lama kelamaan Ayah Aydan merasa tidak enak juga.
Suatu ketika, Ayah Aydan bertemu dengan seorang wanita cantik yang merupakan salah satu karyawan di kantor yang saat itu tengah direhab oleh Ayah Aydan dan tim. Mereka sering bertemu dan timbul rasa nyaman satu sama lain. Dari sikapnya pada Aydan yang juga lembut membuat Ayah Aydan memberanikan diri untuk melamar wanita itu, yang tidak lain adalah Rani.
Dengan berbagai bujuk rayu Rani pada orang tuannya, akhirnya mereka pun menyetujui Rani dan Ayah Aydan menikah. Awal pernikahan berjalan dengan romantis layaknya keluarga bahagia, hingga Rani hamil anak pertamanya yang diketahui berjenis kelamin perempuan. Setelah melahirkan, sikap Rani justru semakin berubah dan sering marah, bahkan Aydan dan Ainun anak Rani yang sering menjadi pelampiasan kemarahannya. Tentunya tanpa diketahui oleh Ayah Aydan, karena Rani akan bersikap biasa jika dihadapan Ayah Aydan.
Saat itu pula, Aydan berjanji akan selalu melindungi adiknya dan orang-orang tercintanya. Hingga ketika dia lulus STM dan memiih bekerja, dia yang khawatir akan keadaan Ainun segera mengurus perpindahan Ainun ke pondok pesantren di Kediri. Dia beralasan pada Ayahnya bahwa Ainun meminta untuk mondok dan dia juga menyanggupi semua biaya pendidikan Ainun.
...----------------...
Setelah membaca Al-Qu’an, meski sedikit tenang namun Aydun tidak bisa tidur. Bayang-bayang kekejaman Ibunya selalu membuat dirinya was-was. Dia tidak khawatir dengan dirinya sendiri, namun Aydan sangat khawatir dengan orang-orang yang disayangnya.
“Mau sampai kapan Ibu seperti itu” keluh Aydan frustasi sembari mengusap wajahnya kasar. Dia yakin ibunya tidak akan main-main dengan ucapannya. Dia teringat tentang permintaan Ibunya itu, setangah tahun yang lalu.
Flashback On
__ADS_1
“Dan, apa kamu masih bersama dia?”tanya Rani ketika Aydan menyempatkan diri pulang menengok Ayahnya.
Deg
“Bagaimana Ibu tahu?” Aydan memang tidak menceritakan apapun pada orang tuanya terkait Nadira, bukan karena tak serius namun menunggu waktu yang tepat.
Aydan berusaha menyembunyikan keterkejutanya tersebut. “Dia siapa maksud Ibu?” tanya Aydan pura-pura tidak tahu.
“Jangan pikir Ibu bodoh Dan. Ibu tahu siapa itu Nadira Arsyakayla, kekasihmu kan?” ucap Ibu Rani disertai dengan senyum penuh arti.
“Bukan urusan Ibu, jadi jangan ikut campur, Bu” tegas Aydan sembari mengepalkan tangannya.
“Haha. Jangan khawatir sayangku, tenanglah. Ibumu ini bukan ular berbisa. Tapi ibu yang baik ini telah menyiapkan calon terbaik untukmu. Pikirkan baik-baik ucapanku, aku akan menunggu jawabanmu sampai umurmu 20 tahun nanti. Kalau kau mau aman, maka bersedialah jika aku jodohkan dengan Amira keponakanku. Tapi jika kamu menolak, maka kamu tahu sendiri apa balasanku.” ucap Ibu Rani lagi lalu pergi dengan senyum yang semakin mengerikan.
Emosi Aydan memuncak hingga dia memilih kembali ke kota hari itu juga sebelum emosinya semakin bertambah. Karena alasan itu pula, Aydan harus melindungi Nadira dengan cara menjauhinya sementara hingga dia menemukan solusi yang tepat untuk melawan Ibu sambungnya itu.
Bagi sebagian orang tentu beranggapan bahwa Aydan adalah pengecut, namun semua itu dia lakukan untuk melindungi Nadira. Tanpa memberitahu Ibu Rani pun, dia yakin jika Ibunya itu tahu bila dirinya tengah menjauhi Nadira.
Flashback Off
“Tunggulah aku sebentar lagi Nadira” gumam Aydan dalam hati. Lama bergelut dengan pikirannya, membuat dia lelah hingga akhirnya tertidur
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1