Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Perhatian Kecil yang Manis


__ADS_3

Masih dengan Aydan dan Dira


Dira langsung saja memesan bakso untuk dirinya dan Aydan. Lagi-lagi Dira dibuat terkesan dengan perhatian kecil dari Aydan, seperti mengambilkan sendok dan garpu tidak lupa mengelapnya dulu dengan tisu dan memotong bakso Dira menjadi bagian kecil-kecil.


“Terimaksih Dan” ucap Dira dan Aydan hanya tersenyum dan mengangguk.


Mereka makan dengan tenang, hanya sedikit obrolan agar tak terasa sepi. Mereka memang sama-sama tidak suka berbicara ketika sedang makan, karena akan mengganggu kenikmatan makanannya. Aydan selesai lebih dulu, sedangkan Dira terlihat kekenyangan namun berusaha untuk menghabiskannya. Aydan tersenyum gemas melihatnya.


“Kalau udah kenyangkan? Cukup makannya, nanti perut kamu sakit, Sya” ucap Aydan gemas sembari mengelus kepala Dira sayang.


“Tapi nanti mubazir kalau ngga abis Dan” jawab Dira. Dirinya memang kekenyangan, terlebih hari ini banyak jajanan maupun cemilan yang dia makan, lambungnya seakan menjerit minta stop makannya.


“Udah ngga apa-apa, sini biar aku aja yang menghabiskan, jadi ngga mubazir kan” ucap Aydan sembari menarik mangkuk bakso milik Dira ke depannya.


“Eh tapi, apa ngga masalah Dan?” Dira merasa engga enak, bagaimana mungkin Aydan memakan sisa makanannya.


“Ngga apa-apa, dulu kita sering kaya gini jugakan?” Dira teringat dan tersenyum, Aydan pun segera menghabiskan bakso milik Dira tanpa rasa canggung.


Tidak lama, Aydan sudah selesai menghabiskan baksonya. Sebelum beranjak, Aydan mengeluarkan uang dalam dompetnya dan memberikannya pada Dira untuk membayar.


“Kali ini aku aja yang bayar ya Dan, dari tadi kan kamu terus yang bayar segalanya” ucap Dira sungkan karena sejak awal mereka jalan, mulai dari bayar karcis, minum, jajan, cemilan dan sebagainnya, Aydan yang selalu membayarnya padahal Dira tahu persis kalau Aydan juga sama dengannya yakni anak rantau. Bedanya, Aydan sudah punya penghasilan sendiri bahkan bisa membiayai sekolah adiknya.


“Ngga apa-apa Sya, lagian ngga tiap hari kita kaya gini. Bahkan udah setahun lebih baru kita jalan lagi kaya gini” kata Aydan santai menghilangkan ketidak nyamanan hati Dira.


“Huh ya sudah. Aku bayar dulu ya, kamu tunggu diparkiran aja. Ayo” mereka bangkit dari duduknya, Dira mengantri di kasir sedangkan Aydan keluar menuju parkiran.


......................

__ADS_1


Di sisi lain, Fahmi harus disibukkan dengan agenda keluar kota kali ini untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan manufaktur lain. Beruntung dia sudah tidak ada tanggungan mata kuliah karena sudah di ambil kredit pada semester sebelumnya, dirinya hanya tinggal fokus KKN, skripsi dan urusan perusahaan.


Kali ini dia berangkat dengan Bang Alvian, jadi tidak perlu menggunakan kereta, cukup dengan mobil saja. Ketika melewati jalan yang ke arah mall, tiba-tiba Fahmi ingin mampir di warung bakso yang waktu itu dia dan Dira makan bersama. Membayangkannya saja membuat senyum tipis kembali terbit di wajah tegasnya.


“Kenapa lo Mi?” tanya Alvian heran melihat Fahmi yang tersenyum sendiri.


“Ah, engga Bang. Nanti mampir dulu ke warung bakso yang tidak jauh dari mall itu ya Bang” jawab Fahmi.


Alvian sedikit heran, namun karena dia juga lapar maka mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Fahmi. Sampailah mereka di dekat warung bakso yang Fahmi sebutkan. Segera mereka turun menuju warung bakso tersebut. Tiba-tiba Fahmi menghentikan langkahnya membuat Alvian juga berhenti.


“Tunggu dulu, perempuan tadi kaya Nadira, tapi siapa laki-laki yang bersamanya itu?” batin Fahmi penuh tanya. Pasalnya dia tidak sengaja melihat ke arah parkiran dimana ada dua sejoli muda mudi tengah bersiap untuk pergi. Fahmi merasa jika peremuan itu adalah Nadira walaupun tidak terlalu jelas karena hanya melihat sekilas dari arah samping.


“Kenapa berhenti Mi?” tanya Alvian memecahkan lamunan Fahmi dan ikut serta mengarahkan pandangannya seperti yang Fahmi liat.


“Temen lo? Kalau penasaran samperin aja kali” sambung Alvian.


......................


Hari sudah sore, pasangan Aydan dan Dira memutuskan untuk salat ashar terlebih dahulu sebelum pulang. Setelah makan tadi mereka mampir ke Expo yang kebetulan tengah diadakan di taman kota. Layaknya pasangan muda pada umumnya, Dira membeli beberapa pernak-pernik lucu untuk dirinya, adiknya dan sebagai oleh-oleh untuk Ainun. Begitu juga Aydan yang membeli beberapa pernak-pernik lucu untuk Dira dan Ainun.


Setelah selesai salat, Aydan mengantarkan Dira ke kosan Eni untuk mengambil motornya. Sesampainya di kosan Eni, parkiran sudah mulai penuh mungkin sebagian penghuninya sudah pulang dari kampus. Dira segera mengambil motornya dan Aydan menunggu di depan gerbang kos.


“Langsung pulang?” tanya Aydan.


“Iya Dan, terimakasih untuk hari ini ya. Oh iya, ini untuk Ainun” jawab Dira sembari memberikan bingkisan yang tadi sempat dibelinya untuk Ainun.


“Titip salam untuk Ainun ya, Hati-hati di jalan” ucapnya lagi dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Aydan yang melihat ingin sekali menarik tubuh mungil itu dalam dekapannya. Namun hanya senyum dan anggukan kepala serta usapan di kepala Dira yang dapat dia lakukan.


Tidak ingin larut dalam kesedihan karena sebelumnya mereka telah membicarakan banyak hal, maka Dira maupun Aydan memutuskan untuk segera pulang. Awalnya Aydan meminta untuk mengantarkan Dira sampai dekat pondok, namun Dira dengan halus menolaknya karena emang arah pondok dan kos Adit berlawanan. Dira juga ingin Aydan beristirahat sebelum nanti malam perjalanan ke Kediri.


Kini Dira telah sampai di pondok pesantren, walaupun cukup lelah namun Dira senang karena dapat menghabiskan waktu seharian ini dengan Aydan. Sayangnya rasa senangnya itu tidak berlarut lama karena dia ingat belum menyelesaikan tugas kuliah, madin dan juga pendalaman materi kompetisi debat. Diliriknya tumpukan tugas di atas meja lipat miliknya.


“Ah baru saja fresh ini otak, kenapa harus melirik ke arah sini si. Huh, jadi keingat tugas yang seabrek ini kan. Tapi Alhamdulillah untung melirik, jadi engga lupa. Oh ayolah, semangat Dira!” monolog Dira sendiri dan dirinya bergegas untuk membersihkan diri dilanjut dengan mengerjakan tugas madin terlebih dahulu karena untuk nanti malam.


Sedang asyik mengerjakan tugas, tiba-tiba Putri datang dengan raut wajah yang jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Dira hanya melirik saja, toh biasanya juga begitu.


“Lagi apa Ra?” Tanya Putri yang entah sejak kapan sudah ada di depannya.


“Eh, ini Mba lagi nembel kitab. Kenapa Mba?” Dira kaget, sungguh hari ini Putri entah kenapa bersikap demikian padanya. Bagus si, tapi ini terlalu mendadak malah jadi gimana gitu rasanya.


“Kamu habis dari mana tadi?” tanya Putri.


“Eh, kenapa si ini orang? Tumben kepo banget, bikin curiga aja. Astaghfirullah” ucap Dira dalam hati.


“Jalan-jalan bareng teman, Mba tadi. Em oh iya, maaf yang tadi pagi engga ngebolehin Mba Putri ikut. Besok deh kita jalan bareng ya” jawab Dira santai agar tak timbul praduga yang berlebihan terhadap sikap Putri padanya.


“Ya tidak apa-apa, lain kali aja. Selamat bersenang-senang mupung masih bisa” ucap Putri yang langsung keluar kamar tanpa menghiraukan Dira yang masih bingung dengan perkataannya barusan.


“Aneh banget tuh orang. Tapi tunggu dulu, ucapannya memang tidak ada yang salah namun seperti ada maksud tertentu. Oke kita lihat nanti apa maksudnya” gumam Dira sendiri.


Belum selesai keterkejutan dan kebingungan dengan sikap Putri, Dira dikejutkan dengan hal lain.


“Kenapa?”

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2