Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Bismillah, Insyaallah


__ADS_3

Dira masih belum percaya, ternyata apa yang Aydan sampaikan semalam memang serius. Bukan tidak yakin atau atau tidak senang, dia sangat yakin dan senang namun apa ini tidak terlalu cepat? Bahkan usianya baru akan menginjak 19 tahun bulan besok.


Tadi ketika Aydan menyampaikan niat baiknya pada mamanya, beliau terlihat terkejut namun tetap tenang. Lain halnya dengan kakaknya yang justru semakin menggodanya.


Mama Dira mengatakan dengan tenang dan terlihat tersenyum, “Ibu terima niat baiknya, Nak Aydan. Tapi sebelumnya, Ibu tanyakan dulu ke Bapaknya Dira bagaimana baiknya. Ibu sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendo’akan yang terbaik.”


......................


“Sya,” panggil Aydan memecah lamunan Dira.


“Eh iya, Dan,” jawab Dira.


“Apa kamu masih meragukanku, Sya?” tanya Aydan. Dia memang sangat menyayangi Dira, mungkin sikapnya sedikit egois namun alasannya cukup kuat untuk dia membuat keputusan ini. Di sisi lain dia pun tidak ingin memaksanya jika Dira menginginkan yang lain.


“Bukan begitu, Dan. Aku yakin, bahkan tak ada yang perlu diragukan darimu," jawab Dira.


"Apa bisa kita bicara setelah sarapan, Dan? Dari kemarin kamu belum makan lho, sarapan dulu ya,” ucap Dira mengajak Aydan sarapan, sejujurnya dia juga sedikit lapar, mungkin pengaruh pikiran juga.


“Okey kita sarapan dulu, setelah ini kita bicara ya,” jawab Aydan lembut.


“Tentu saja. Bisa makan sendiri atau mau disuapin?” tawar Dira pada Aydan.


“Tangan kananku tak sekaku tangan kiri, Sya. Aku bisa makan sendiri. Kamu makanlah dengan baik ya,” jawab Aydan sembari mengusap kepala Dira sayang.


Dira pun menyiapkan makanan Aydan dan dirinya. Tadi setelah membalas beberapa chat teman-temannya, Dira memilih untuk membeli makanan di luar sembari menenangkan pikiran.


Mereka pun makan dengan tenang tanpa banyak obrolan. Masih ingatkan? Jika mereka berdua sama-sama tidak suka mengobrol ketika makan. Selesai makan, Dira segera membereskan bekas makannya juga milik Aydan.


Sebelum melanjutkan obrolan, Aydan mengirimkan pesan pada Aris untuk membawakan baju ganti dan membeli cemilan untuk Dira.


“Ekhem, Sya. Bisa kita bicara sekarang?” suasana mendadak menjadi canggung.


“Boleh Aydan,” jawab Dira sesantai mungkin menutupi kegugupannya.

__ADS_1


“Sya, apa yang aku ucapkan semalam itu serius, aku ingin segera melamar dan menikahimu. Maaf jika tadi aku kurang sopan yang langsung bicara dengan orang tuamu tanpa memastikan dirimu terlebih dahulu. Jadi aku ingin kamu jujur, apa ada hal yang sekiranya membuatmu keberatan?” tanya Aydan pada Dira sembari menatapnya serius.


Dira menghela nafasnya mengatur kegugupannya. Apa ini aku sedang dilamar? Tapi tunggu dulu, dilamar di rumah sakit? Lain dari pada yang lain memang kisahku, gumam Dira dalam hati.


“Memang ada sedikit keraguan dihatiku, Dan. Tapi bukan soal aku meragukan dirimu, justru aku yang ragu pada diriku sendiri,” Jawab Dira.


“Maksud kamu, Sya?” tanya Aydan yang belum jelas dengan pernyataan Dira itu.


“Maksudku, aku tak pernah menolak kapan jodoh itu datang, aku juga bersyukur jika orang itu kamu. Aku hanya ragu, apa aku bisa menjalani kehidupan rumah tangga nanti? Membagi waktuku dengan baik, bisa membuatmu bahagia, bisa hidup berjauhan dengan aku yang harus kuliah di kota yang berbeda dengan tempat kerjamu. Apa aku bisa menjalankan hak dan kewajiban sebagai istri yang baik untukmu?” ungkap Dira mengeluarkan segala keraguannya.


Aydan tersenyum bangga, ternyata calon istrinya begitu dewasa dalam memikirkan kehidupan rumah tangga. Sebelum mengambil keputusan ini, dirinya tentu sudah mempertimbangkan segalanya.


Sambil menepuk punggung tangan Dira, Aydan menjawab, “Sya, ternyata kamu sudah jauh lebih dewasa ya,”


“Kamu harus tahu, sebelum memutuskan untuk langkah penting ini, aku juga sudah mempertimbangkan banyak hal. Aku tidak ingin mengganggu kuliahmu, aku juga berencana mencari kerja di kota yang sama denganmu. Kalaupun nanti terpaksa kita tinggal berjauhan, insyallah kita tetap bisa menjalankan kehidupan rumah tangga dengan baik,” sambung Aydan dengan nada tegas.


“Jadi, will you marry me, Nadira Arsyakayla?” ungkap Aydan lagi tanpa ragu.


Fix, ini nggak romantis banget, seketika jiwa haluku meronta-ronta. Tapi kenapa tetap bikin baper juga, batin Dira. Bisa-bisanya masih memikirkan hal begitu, dasar Dira. Gugup? Tentu saja namanya juga dilamar.


Mendengar itu, Aydan langsung bersorak penuh syukur dan kegembiraan, “Alhamdulillah, terimakasih habibati,”


“Aamiin, sama-sama,” jawab Dira yang sama bahagiannya.


Rasanya seperti mimpi, baru minggu lalu mereka berbaikan setelah banyak luka yang sama-sama mereka pendam. Apa ini yang dimaksud dengan kalimat saling bertemu, saling memahami, kemudian berpisah, saling mendewasakan diri kemudian bersatu? Apakah ini kisah yang berujung? Entahlah hanya Allah Yang Maha Mengetahui.


“Ekhem-ekhem! Nggak romantis banget si lo, Dan. Mana di rumah sakit lagi, laki modal dong!” seru seseorang di ambang pintu sambil bersandar dan satu tangan dia masukan di saku depan celananya.


Dua sejoli yang sedang berbahagia langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Ternyata orang itu adalah Aris yang sejak tadi sudah berdiri disitu dan mendengarkan obrolan mereka.


Aydan memutar bola matanya jengah. Merusak suasana, cibirnya dalam hati.


“Eh, udah lama Bang?” tanya Dira sedikit malu.

__ADS_1


“Sya, nggak usah panggil abang-abang ah,” ucap Aydan sedikit cemburu, bukan pada orangnya tapi panggilannya.


“Sirik aja lo, Dan. Kitakan adek-abangan ya, Sya,” jawab Aris santai.


“Adek-abangan muka lo,” kesal Aydan.


“Lo tadi sempet baca chat gue kan, Ris?” tanya Aydan.


“Giliran butuh aja lo nyariin gue. Bilangin tuh Ra calon laki lo, harus banyak-banyak bersyukur punya sobat kaya gue” keluh Aris yang hanya candaan semata.


“Nggak usah sok anak jakardah lo, Ris,” ucap Aydan sementara Dira hanya ketawa kecil saja.


“Ish, nih pesenan lo. Sebenarnya gue tadi udah di parkiran depan, tapi demi lo gue belok ke kantin buat beli ini,” sambil meletakan cemilan dalam plastik ke atas meja.


“Kalau buat baju lo, gue emang udah niat buat bawain. Nah, kurang baik apa gue sama lo, Dan,” sambung Aris dengan penuh bangga.


“Thanks Ris, lo emang sahabat gue,” ucap Aydan penuh bangga.


“Semoga kalian tetap seperti ini”, lirih Dira yang ikut larut dalam persahabatan mereka.


......................


Di sisi lain, Fahmi tengah mencoba untuk menyelesaikan masalahnya, terkait konsep produk yang akan ditawarkan ke Agro Company justru diambil oleh perusahaan lain. Tentunya hal ini bukan masalah kecil, karena selain hilang kesempatan juga hilang kepercayaan dari berbagai relasi bisnisnya. Dia juga akan merasakan kerugian yang cukup besar.


Sepertinya ada penghianat di kantornya, terlebih perusahaan yang berhasil meniru konsep produk itu adalah perusahan milik Martin Govano. Entah dendam apa yang terjadi antara Fahmi dan Martin Govano itu.


"Apa sebenarnya yang diinginkan Martin itu, bukannya dulu sudah jelas," keluh Fahmi.


Sejujurnya Fahmi sudah sangat lelah berurusan dengan Martin, apalagi dua kali nyawanya terancam karenanya. Bukan cuma dia, tetapi juga nyawa Dira yang secara tidak langsung ikut terseretnya.


Berbicara tentang Dira, hari ini Fahmi belum sempat untuk menghubunginya. Dia harus segera membuat konsep baru dengan waktu yang cukup singkat. Urusan kasus yang menimpa Dira dan Aydan, dia percayakan semuanya kepada Fahri.


Untuk mengantisipasi terjadinya kecurangan lagi, maka Fahmi akan membuat konsep ini sendiri dibantu dengan orang-orang kepercayaannya. Dia juga akan menindak tegas untuk para penghianat setelah bukti-bukti terkumpul.

__ADS_1


Ternyata memang benar, jika musuh dalam selimut jauh lebih berbahaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2