
Aydan berusaha tenang untuk menjelaskan segalanya tentang dirinya, kehidupannya, orang tuanya dan alasan mengapa dia ingin segera menikahi Dira. Dirinya yang sedari kecil ditinggal ibu kandungnya selama-lamanya, kemudian ayahnya menikah lagi dengan perempuan yang memberikannya kasih sayang padanya walau hanya sebentar. Hingga ibu sambungnya itu berubah menjadi pribadi yang tak berperasaan, termasuk pada anak kandungnya sendiri, Ainun.
Mendengar itu, sebagai seorang ibu tentu membuat hati mama Dira merasa iba dan miris dengan kehidupan calon menantunya itu. Kehidupannya yang selalu diatur dan diawasi membuat diri Aydan lelah dan ingin keluar dari zona itu. Mengingat kerasnya hidup yang harus dijalani membuat Aydan tanpa sadar menitikan air mata, begitu juga dengan Mama Dira yang menangis mendengar cerita Aydan.
Bapak Dira pun merangkul Aydan memberikan kekuatan pada pemuda tangguh itu. Masa kecil yang harusnya penuh kasih sayang justru harus mengalami kesakitan. Masa muda yang harusnya penuh warna justru menjadi satu warna, hitam.
“Kamu harus kuat, Nak. Di dunia ini, semakin Allah memberikan ujian bagi hamba-Nya maka semakin tinggi pula derajat hamba itu jika bersabar dan ikhlas,” nasihat Bapak Dira sembari menepuk punggungnya. Pelukan ini sudah lama Aydan tak merasakannya lagi dari seorang Ayah.
“Lalu dimana Ayah kamu waktu itu, Dan?” tanya Bapak Dira yang masih penasaran.
Aydan menghembuskan nafasnya kasar. Lagi-lagi air matanya mengalir. Biarkanlah dia rapuh hari ini sebagai obat lelah tahun-tahun lalu dan semangat untuk bangkit lagi. Entahlah, rasanya nyaman sekali meluapkan segala keluh kesah pada mereka, batin Aydan.
“Waktu itu Ayah sama sekali tidak tahu apa yang ibu lakukan pada kami. Ibu seakan menutup mata dan telinga Ayah dengan perlakuan manisnya. Walau ibu membenci kami, tapi beliau begitu telaten merawat Ayah,” jawab Aydan.
“Beberapa tahun terakhir kondisi Ayah juga semakin drop hingga puncaknya saat ini, beliau harus mendapatkan perawatan intensif karena gagal ginjal yang dideritanya,” tutur Aydan dengan nada sendu menjelaskan kondisi Ayahnya.
Lagi-lagi membuat orang tua Dira mersa iba dengan apa yang dirasakan oleh anak muda itu.
“Jadi apa alasan kamu ingin menikahi putri kami?” kali ini Mama Dira yang bertanya dengan nada lirih.
Aydan kembali menghembuskan nafas kasar untuk mengembalikan ketenangannya, Aydan pun menjawab, “Saya ingin melindunginya.” jawab Aydan tegas.
Orang tua Dira langsung tertegun. Melindunginnya? Melindungi dari apa? Apa anaknya dalam bahaya? Tapi kenapa?, begitu kira-kira isi pikiran mereka.
Melihat raut bingung bercampur cemas dari wajah mereka, Aydan pun menjelaskan lebih lanjut.
“Maafkan saya, karena saya Dira harus dalam posisi ini,” ucap Aydan dengan rasa yang bercampur aduk. Bukan menyesal bertemu dan menyayangi Dira bahkan berniat menikahinya, tetapi menyesal mengapa ibunya bisa bertekad seperti itu.
“Maksud kamu, Nak Aydan?” Mama Dira mewakili rasa penasarannya.
__ADS_1
“Ibu saya ingin menjodohkan saya dengan seseorang yang begitu ambisius menginginkan saya. Sejujurnya saya belum tahu pasti siapa dia, namun dengan tegas saya menolaknya,” jawab jujur Adan.
“Pak, Bu, maafkan saya jika saya egois. Saya hanya ingin menikah dengan Arsya, kami sudah saling menjaga perasaan sejak lama bahkan hampir 3 tahun. Saya sangat menyayangi Arsya, saya hanya ingin melindungi Arsya sebagai perempuan terhormat dan melindungi Arsa dari bahaya yang mengancam keselamatannya.” Sambung Aydan yang apa adanya.
Mendengar itu, Bapak Dira menjadi sedikit kecewa dengan putrinya yang selama ini telah melanggar aturannya. Membiarkan Dira bersama Aydan juga memiliki resiko besar.
Cukup lama mereka terdiam, hingga suara Pak Khadir memecahkan suasana, “Kalau begitu, lepaskan Dira,” ucap Bapak Dira tak terduga.
Apakah ini artinya Aydan tidak diterima dikeluarga ini? Raut kecewa tergambar jelas diwajah Aydan saat ini. Saat ini dirinya bisa apa? Tanpa restu orang tua, pernikahan tidaklah berkah.
“Apa yang kamu katakan, Mas!” ucap Mama Dira dengan sedikit kesal pada suaminya itu. Bagi mama Dira tentunya keputusan itu bukan keputusan yang bijak.
“Apalagi yang harus dipertahankan, Yas? Apa kamu mau melihat anak kita dalam masalah besar? Nyawanya bahkan terncam!” jawab Bapak Dira dengan nada yang sedikit meninggi membuat suasana semakin menjadi tegang.
Aydan tertunduk lesu, begitu juga dengan Mama Dira yang langsung terdiam sejenak. Berkali-kali terdengar helaan nafas panjang disertai kalimat istighfar dari mulut Bapak Dira. Nampaknya beliau cukup galau, di sisi lain beliau merasa Aydan adalah laki-laki yang baik dan bertanggungjawab, namun di sisi lain beliau juga tidak ingin anaknya menjadi korban.
Tak berselang lama, mama Dira kembali berucap dengan tenang dan bijaksana, “Pak, kita sebagai orang tua juga tidak boleh egois dalam mengambil keputusan sepihak. Biar bagaimana pun, rumah tangga mereka ya mereka sendiri yang akan menjalankan. Bagaimana kalau kita tanya langsung sama Dira, dia berhak menentukan sendiri jalan hidupnya.
Dengan berani, Aydan pun kembali memperjuangkan Dira, “Benar apa kata Ibu, Pak. Saya mohon, izinkan Arsya sendiri yang memilih. Jika dia memilih tidak, maka dengan ikhlas saya akan menjauhinya walau pun sulit. Karena dengan atau tanpa saya, Nadira akan tetap dalam bahaya,”
Apakah Aydan barusan mengancam? Jawabannya tidak, karena Aydan tahu betul bagaimana sikap ibu sambungnya itu. Sekali berurusan maka selamanya begitu. Menurut informasi yang Aydan dapatkan juga Amira adalah sosok pendendam yang akan melakukan berbagai cara pada orang yang sudah membuatnya gagal.
Pak Khadir semakin frustasi dibuatnya, menurut cerita Aydan yang tadi didengarnya, kemungkinan besar memang Dira tetap dalam bahaya dengan atau tanpa Aydan. Ini keputusan yang tidak mudah, tapi beliau sebagai seorang ayah juga harus pandai memahami itu.
......................
Sedangkan di kampus, Dira sedang membuat laporan yang harus segera dikumpulkan. Dia duduk sendiri di gazebo depan fakultasnya. Tiba-tiba ada seseorang yang datang sembari memberikan satu botol air mineral langsung di depannya. Refleks Dira langsung melihat kesamping dimana orang itu berdiri.
“Kak Fahmi,” cicit Dira memanggil.
__ADS_1
“Kakak udah sembuh? Kok udah ke kampus?” tanyanya beruntun yang membuat Fahmi tersenyum dan duduk di depan Dira.
“Hem, nggak suka bau rumah sakit,” jawab Fahmi enteng, padahal wajahnya masih sedikit pucat kala Dira memperhatikannya.
“Kalau masih sakit mendingan istirahat di rumah deh Kak, masih pucet gitu,” ujar Dira dengan raut khawatir pada Fahmi.
Mendengar perhatian yang tulus dari Dira membuat Fahmi merasa senang, senyumnya semakin lebar. Jika gadis lain yang melihat tentu akan langsung terpana dengan senyumannya itu. Namun tidak berlaku bagi Dira, gadis itu hanya menatap biasa saja.
Hanya beberapa saat Fahmi merasa senang, kini dirinya kembali menatap serius pada Dira. Dira yang ditatap begitu merasa sedikit was-was dengan Fahmi.
“Kak, jangan natap aku kaya gitu,” tegur Dira yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Fahmi itu. Seketika Fahmi merubah ekspresinya lebih bersahabat.
“Ekhem, Sya. Boleh aku ngomong sesuatu?” tanya Fahmi pada Dira.
Dira mengangguk dan berkata, “Boleh Kak, silakan,”
Sebelum berucap, Fahmi mengembuskan nafasnya pelan untuk mengontrol perasaannya. “Sya, apa benar kamu ingin menikah dengan cowok kemarin?” tanya Fahmi yang langsung ditangkap maksudnya oleh Dira.
“Namanya Aydan, Kak,” koreksi Dira mempertegas nama Aydan.
“Ya, insyaallah Kak, do’ain yang terbaik ya,” jawab Dira lagi dengan tegas.
“Apa kamu yakin, Sya?” tanya Fahmi mempertegas.
Dalam hatinya tentu belum ikhlas, kemarin ketika Dira dan teman-temannya berkunjung, dengan berbisik Adam memberitahu tentang Aydan yang mengumumkan Dira sebagai calon istrinya. Itulah mengapa Fahmi menjadi lebih diam dan memutuskan untuk rawat jalan saja.
“Iya Kak, aku yakin Aydan yang terbaik untukku” jawab Dira tegas.
Mendengar itu, pupus sudah harapan Fahmi. Gadis yang akhir-akhir ini mengusik pikirannya kini memilih orang lain dibanding dirinya. Terhitung ini adalah patah hati kedua kalinya yang Fahmi pernah rasakan. Sadboy.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...