
Pondok Pesantren, Kamar Dira CS
"Astaghfirullah" lirih Dira.
Dira terkejut bukan main dengan keadaan Amel yang tiba-tiba datang dibantu dengan dua temannya. Penampilannya acak-acakan dengan luka lebam disekitar wajahnya dan sudut bibir sebelah kanan mengeluaran darah. Segera Dira bangkit dari duduknya dan menghampiri Amel yang telah didudukan oleh temannya.
“Kenapa Mba Amel ini, Mba?” tanya Dira panik. Biar bagaimanapun sikap Amel padanya, namun tetap saja dia adalah temannya.
Kedua teman Amel hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan Amel diam dengan tatapan mata yang kosong. Mba Lutfia datang dengan beberapa pengurus dan teman lainnya yang langsung masuk ke dalam kamar Dira sama paniknya. Melihat Mba Amel yang seperti tidak nyaman membuat Dira inisiatif untuk teman-teman lainnya keluar dulu.
“Maaf ya Mba-mba, ini kan kamarnya sempit, jadi boleh gantian saja masuknya? Lagian kasian Mba Amel kalau kita kerubungin kaya gini” ucap Dira sopan namun tegas.
Mereka yang mengerti pun keluar hingga tersisa Dira, Lutfia, Amel, kedua teman Amel dan Mba Khalwa pengurus keamanan.
Dira pamit ke dapur dulu untuk mengambil baskom dan air serta Es Balok di kantin. Hingga beberapa menit, Dira kembali ke kamar. Diambilnya handuk kecil miliknya untuk mengompres luka lebam di wajah Amel. Dengan telaten Dira mengompres luka Mba Amel sembari mendengarkan introgasi Mba Lutfia dan Mba Khalwa ke kedua teman Amel yang bernama Sita dan Indah.
“Jadi apa yang terjadi, Ndah?” tanya Khalwa pada Indah.
“Kami juga tidak tahu Mba, tadi Sita menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal yang intinya Sita harus menjemput Amel di alamat yang pengirim kirimkan. Awalnya Sita merasa mungkin itu hanya orang iseng atau mungkin modus penipuan, namun pengirim itu terus spam dengan kalimat yang sama membuat Sita ketakutan. Iya kan Sit?” Indah melemparkan pertanyaan ke arah Sita.
Sita mengangguk mengiyakan lantas melanjutkan ceritanya. “Benar Mba Khalwa, Mba Fia. Awalnya saya ketakutan hingga akhirnya saya menemui Indah untuk menanyakan keberadaan Amel. Tapi Indah juga tidak tahu kemana Amel dan kami terus menghubunginya. Karena merasa khawatir, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke alamat itu dan…”
“Aww” lirih Amel.
“Eh Maaf Mba Amel, pedih ya?” Amel hanya mengangguk.
“Teruskan Sit” perintah Khalwah pada Sita.
“Iya Mba. Dan kami menemukan Amel sedang duduk dengan kondisi yang seperti ini dan tatapannya kosong. Kami yang panik langsung memesan mobil online dan membawanya pulang ke sini. Sempat ingin langsung ke puskesmas atau rumah sakit namun urung karena keadaan Amel yang seperti ini, kami pikir alangkah lebih aman jika di bawa ke pondok saja. Begitu Mba ceritanya” jelas Sita menyelesaikan ceritanya.
Dira, Khalwah dan Lutfia prihatin dengan apa yang di alami oleh Amel. "Sebenarnya Mba Amel ini kenapa?" tanyanya dalam hati. Diam-diam Dira juga mengagumi persahabatan mereka walaupun kadang mengesalkan.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu nanti aku sowankan ke Ummah, berhubung beliau dan Abuya sedang tindakan maka kita tunggu keadaan Amel lebih medingan” ucap Lutfia pedih.
Dira membereskan P3K miliknya sedangkan baskom dan handuk kecilnya dibiarkan dulu. Sedangkan Lutfia dan Khalwa memilih untuk kembali ke kamar, kedua teman Amel juga demikian. Tinggalah Dira dan Amel yang tengah tidur. Dira kembali mengerjakan tugasnya yang sempat terjeda karena musibah ini. Tanpa disadari Dira, air mata Amel mengalir menandakan betapa rapuhnya dia saat ini.
Waktu berputar dengan cepatnya hingga seperti saat ini, Dira tengah bersiap untuk mengaji madin. Sebenarnya Dira tidak tega meninggalkan Amel sendiri di kamar, namun dia harus mengejar setoran malam ini. Lagian dia tidak terlalu akrab, khawatir Mba Amel canggung dengannya.
Dira mendekat ke arah Amel yang tengah duduk dengan pandangan menunduk, kalau dipikir ini teman-teman kamarnya horor banget ya, pada diam semua. “Duh jadi kangen Kak Zahra dan Kak Nina, cerita ngga ya sama mereka?" Batin Dira.
“Mba Amel, aku berangkat mengaji dulu ya. Mba Amel tidak apa-apa ditinggal sendiri? Atau mau aku temenin aja?” tanya Dira.
Tanpa mengalihan pandangan, Amel hanya menggelengkan kepalanya. Melihat itu, Dira pun segera berangat mengaji dan sebelumnya sudah mengirimkan pesan terlebih dahulu ke Aydan.
Tepat jam 10 malam kurang, lebih awal dari biasanya pembelajaran selesai. Dira langsung menuju kamarnya. Sesampainnya di kamar, dilihatnya Amel yang sedang tiduran dan Putri yang entah kenapa tersenyum aneh mengarah padanya. “Ampun deh, ini kamar rasanya seram banget si” batin Dira bergidik ngeri.
Diambilnya ponsel dari loker lemarinya. Ada beberapa pesan masuk baik dari Ibunya, Aydan, Eni, Salwa dan Fahmi. Pertama-tama dia membuka pesan dari Ibunya terlebih dahulu, karena baginya keluarga adalah nomer satu.
“Assalamu’alaikum Ra, dina minggu ngesuk bisa bali disit apa ora? Kie Qiya (keponakan Dira anak dari kakaknya) meh aqiqahan. Masa Mama karo sing lain maem daging, Dira ora kebagian (Ra, hari minggu besok bisa pulang dulu atau tidak? Ini Qiya mau aqiqah. Masa Mama sama yang lain makan daging, kamu engga kebagian) ”_Mama.
Dira terkekeh, Mama memang seperti itu kalau ada hajatan atau makanan enak selalu kepikiran dengan anak-anaknya, inginnya kumpul dan makan bersama.
Kemudian Dira membuka pesan dari Eni yang hanya berisi “Iya”. Lanjut ke pesan berikutnya dari tukang tarik, siapa lagi kalau bukan Fahmi.
“Materi yang kemarin kamu cari ada di buku yang aku titipkan ke Tufail, besok dia yang akan memberikan padamu langsung. Soalnya aku ada urusan ke luar kota.”_Tukang Tarik.
Dira langsung saja membalasnya, “Baik Kak, terimakasih banyak sebelumnya”.
Terakhir, dibukanya pesan dari Aydan. Ada beberapa pesan yang Aydan kirimkan.
“Iya, semangat ngajinya ya, Sya. Aku tidur dulu, biar nanti engga ngantuk waktu perjalanan”_My Aydan.
“Arsya, aku jadinya berangkat jam 11 malam, biar sampai sana pagi dan bisa istirahat dulu sebelum ketemu Ainun”_My Aydan.
__ADS_1
Dilihatnya jam di ponselnya yang menunjukan pukul 22.05, masih ada waktu satu jam kurang sebelum Aydan berangkat. Dira akan menelfon Aydan sebentar, namun sebelumnya Dira memilih untuk bersih-bersih wajah terlebih dahulu sebagai rutinitas malam sebelum tidur.
Tanpa membalas pesan Aydan karena dia berniat untuk langsung menelfonnya saja, Dira langsung mengambil peralatannya dan pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai dan berganti pakaian santai, Dira langsung menelfon Aydan. Tanpa menunggu lama, panggilan langsung tersambung.
“Assalamu’alaikum Dan” salam Dira yang langsung dijawab oleh Aydan di sebrang sana.
“Bagaimana, jadi berangkat jam 11? semuanya sudah dipersiapkan belum? Dompet jangan sampai ketinggalan. Jas hujan juga jangan lupa di bawa ya Dan. Pakai jaket, pakai sarung tangan, sepatu juga biar ngga dingin nanti” Dira mode cerewet on.
Sambil terkekeh, Aydan pun menjawab, ”Iya sayang, insyaallah tidak ada yang ketinggalan. Semua aman”
“Dan, nih kolor sama CD lo mau dibawa engga?” ucap seseorang dan yang jelas bukan Aydan.
“Sstt, ngga usah keras-keras, iya nanti gua bawa” terdengar suara Aydan menimpali, Dira hanya terkikik geli sedikit malu.
“Siapa Dan?” tanya Dira masih dengan tawanya.
“Biasa itu si Adit hehe” jawab Aydan santai.
Obrolan pun terus berlanjut hingga tak terasa sudah pukul 22.50. Memang gitu, kalau udah nyaman mengobrol suka tidak ingat waktu.
“Oya, Sya bentar lagi aku berangkat ya. Jaga diri baik-baik, jaga hati dan jaga kesehatan. Jangan lupain salat dan semangat belajarnya. Apapun yang terjadi, aku mohon bertahanlah. Insyaallah jika Allah menghendaki, tahun ini aku ingin melamarmu Sya, biar nanti tidak timbul fitnah dan kita bisa halal secepatnya.” Ucap Aydan dengan nada halus dan tulus.
“Iya Dan, kamu juga hati-hati di jalan ya. Jaga diri, jaga hati, jaga kesehatan juga serta jangan lupain kewaiban ya. Insyaallah aku akan bertahan dan siap menunggumu Dan, semoga Allah meridhoi kita. Aamiin. Oh ya, titip salam buat Ainun juga ya, anak itu pasti sudah besar dan cantik” jawab Dira dengan menahan air matanya agar tak membebani pikiran Aydan. Ah, kenapa aku jadi cengeng begini si, batinnya.
“Aamiin. Pasti nanti aku sampaikan, aku tutup ya Sya Assalamu’alaikum” ucap Aydan.
“Wa’alaikumslam Dan, hati-hati ya” jawab Dira dan panggilan pun berakhir.
“Semoga kamu tetap dalam lindungan-Nya Dan. Ya Allah mohon ampuni kami jika kami terlalu berlebihan dalam mencintai” gumam Dira dalam hati.
__ADS_1
Namun tanpa disadari, ada sepasang telinga yang sejak tadi terus mendengarkan obrolan mereka. Senyum misterius terbit dari wajahnya dan entah apa yang sedang dipikirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...