
Malam ini adalah malam jum’at dan kegiatan pondok rutinan saat ini adalah membaca Maulid Barzanji. Dimana Maulid Barzanji sendiri merupakan kitab yang berisi riwayat perjalanan Nabi, do’a-do’a maupun pujian-pujian atau shalawat atas Nabi Muhammad SAW, yang memiliki banyak keutamaan. Dengan membaca shalawat, berharap dapat syafa’at Nabi SAW di Yaumul Akhir kelak. Aamiin.
Tepat jam setengah sepuluh malam, acara pun selesai yang diakhiri dengan shalawat Ya Habibal Qolbi. Semua santri melantunkannya dengan penuh semangat, terlebih shalawat ini menggambarkan tentang kekasih hati. Begitu romantisnya jika suatu saat ada yang melantunkan ini hanya untuknya, begitulah pikir Dira yang ikut larut dalam shalawat tersebut.
Sebelum kembali ke kamar masing-masing, akan ada pengumuman seperti biasanya yang disampaikan oleh para pengurus, terutama oleh lurah pondok.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu.” salam sang lurah pondok putri yang diketahui bernama Lutfia. Kompak para santriwati membalas ucapan salamnya.
“Pada malam jum’at ini, setelah membaca Maulid Barzanji. Kita semua berharap semoga kita termasuk dalam golongan umat yang mendapat syafa’at Beliau Nabi Agung Muhammad SAW. Aamiin,” ucapnya.
“Seperti biasa, pada kesempatan malam ini, akan saya bacakan beberapa peraturan baru dan juga daftar santriwati yang ketahuan telah melanggar peraturan. Hayuh, kira-kira siapa ini yang ketahuan melanggar peraturan? Siap-siap untuk melaksanakan takziran ya mba-mba. Takziran ini bukan hanya sekedar hukuman karena melanggar peraturan, akan tetapi juga sebagai bentuk evaluasi agar kita bisa belajar untuk lebih baik lagi, belajar bertanggungjawab pada diri sendiri dan masih banyak lainnya. Untuk nama-nama yang melanggar peraturan dan poin perubahan peraturan akan kami pajang nanti di madding seperti biasanya, nggeh. Sekian dari saya dan kalian boleh kembali ke kamar masing-masing. Jangan lupa untuk setorannya, nggeh. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu.” Itulah pengumuman singkat yang disampaikan oleh Lutfia sebagai lurah pondok putri.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatu.” jawab semua santriwati.
Perasaan Dira yang awalnya berbunga karena lantunan shalawat berubah seketika. Dira tentu merasa was-was saat ini, karena kemungkinan besar namanya juga ada di daftar tersebut. Kecuali jika Amel tidak melaporkannya pada pihak keamanan. Nina yang didekat Dira juga merasa aneh pada sikap Dira yang cukup terlihat gelisah.
“Kamu kenapa Dir, koh kaya gelisah gitu?” Tanya Nina sembari berjalan berdampingan dengan Dira menuju madding.
“Ngga apa-apa koh Kak Nina, mungkin sedikit capek aja,” jawab Dira sembari tersenyum.
“Oh ya udah, kalau gitu ayuh kita ke madding, siapa tahu ada nama kamu di madding. Hehe.” ajak Nina disertai canda. Mereka berdua pun berjalan mendekati madding. Belum sampai melihat, Zahra mendekati Nina dan Dira dengan raut wajah yang tak terbaca.
__ADS_1
“Kenapa Zah?” tanya Nina setelah Zahra sampai di depan mereka. Tadi Zahra tidak ikut berzanji karena merupakan gilirannya untuk menjaga pondok.
Bukannya menjawab pertanyaan Nina, Zahra justru langsung menatap Dira dan bertanya padanya. “Kapan, Ra? Dengan siapa?”
Dira hanya diam saja, bingung bagaimana menjelaskan kepada kedua Kakaknya itu. Sementara Nina, masih bingung dengan maksud pertanyaan Zahra tadi.
“Maksud kamu apa si Zah, bukannya menjawab pertanyaanku malah tanya balik sama Dira?” protes Nina pada Zahra.
“Huh, okey akau akan cerita, tapi tidak di sini. Lebih baik kita ke kamar aja Kak. Ayo.” ajak Dira. Nina dan Zahra pun hanya mengangguk dan mereka berjalan ke kamar. Di depan pintu kamar, Dira berpapasan dengan Amel. Dengan senyum yang mengejek, Amel menatap Dira sinis sambil berkata, “Mampus.” Dan diapun berlalu begitu saja.
Dira yang geram hanya mengepalkan tangannya dan segera masuk ke kamar. Zahra dan Nina yang juga tidak terima dengan ucapan Amel ikut geram dengan bocah satu itu. Zahra langsung merangkulnya berusaha meredakan emosi Dira dan membawanya duduk.
“Istigfar, Ra, ngga usah didengar ucapan Amel itu” ucap Zahra menenangkan.
“Nyebelin banget si itu nini towok, pengen aku lakban tuh mulut nyinyirnya. Hih. Lagian ada masalah apa si Dir?” tanya Nina yang masih terbawa emosi.
“Sudah Nin, lebih baik kamu juga istigfar. Tenangkan diri dan kita diskusikan masalah Dira ini. Dan kamu Dir, coba ceritakan sama kami. Kenapa bisa kamu kena takziran boncengan dengan seorang Akhi?” Ucap Zahra disertai tanya. Nina yang terkejut hanya diam.
Dira menghela nafas kasar dan setelahnya menceritakan apa yang terjadi. Namun dia tidak menceritakan tentang masalah Fahmi dan preman tersebut, bisa-bisa pingsan nanti teman-temannya itu. Dia hanya bercerita jika menolong Fahmi yang motornya kempes karena bannya bocor dan terjadilah dia berboncengan dengan Fahmi. Dia tidak menceritakan siapa Fahmi sebenarnya dan hanya mengatakan jika Fahmi adalah teman kampusnya. Dira juga mengatakan kejadian saat diparkiran dengan Amel.
“Jadi seperti itu Kak ceritanya dan mungkin Mba Amel yang melaporkan Dira pada pengurus,” ucap Dira setelah menyelesaikan ceritanya.
__ADS_1
“Ya sudah, nanti kamu jelaskan ke pengurus dan semoga mereka paham dengan posisi kamu. Paling tidak, mereka mengubah bentuk takzirannya” ucap Zahra sembari memberikan semangat pada Dira.
“Iya Dir, bener apa kata Zahra. Btw kamu kohkeren banget si bisa sat set lawan tuh preman,” Nina menambahi sembari kagum dengan apa yang dilakukan Dira.
Dira yang mendengar itu tersenyum bahagia. Dia beruntung memiliki teman kamar yang baik dan pengertian seperti mereka. Sebenarnya Dira tidak khawatir dengan bentuk takzirannya, melainkan tidak suka jika nanti dirinya dicap sebagai santri mbeling yang suka pacaran oadahal bukan sama sekali, kalau sedikit bandel mungkin.
...----------------...
Di Jakarta, Fahmi telah sampai di tempat penginapan yang disediakan oleh pihak penyelenggara. Setelah membersihkan diri dan salat isya', dia merebahkan badannya di kasur. Matanya terpejam, namun pikirannya tertuju pada kejadian siang tadi. Bagaimana bisa, dia yang menghawatirkan Dira namun justru gadis itu dengan santainya melawan preman tadi.
Refleks bibirnya tersenyum, namun beberapa saat kemudian senyum itu memudar mengubah ekpresi datarnya kembali. Dirinya mulai gelisah, bagaimana jika nanti tidak hanya nyawa dirinya yang menjadi incaran orang itu. Dia mulai mengkhawatirkan keluarga dan orang-orang terdekatnya, termasuk Dira yang secara tidak langsung terlibat dengan masalahnya.
Fahmi membuka matanya dan bangkit berdiri seraya berkata, “Aku harus segera menyelesaikan ini semua.” Dia lantas mengambil wudhu dan membaca AlQur’an untuk menenangkan dirinya.
...----------------...
Keesokan paginya, Fahmi sudah bersiap dengan kemeja dan jas almamater kampusnya. Dia terlihat sangat rapih dan tampan seperti biasanya. Dengan tas ransel di punggungnya, Fahmi keluar dari penginapan dan menuju parkiran, karena Fahri temannya dari universitas Jakarta yang sama-sama akan mengisi seminar sudah menunggunya.
“Lama banget si Mi, udah tampan lo ngga usah makin tampan,” canda Fahri.
“Apaan si Bang. Ya udah yuh berangkat.” Ajak Fahmi dan mereka pun berangkat menuju lokasi seminar di universitas ternama di Jakarta atau yang sering disebut Universitas Jakun. Setibanya di lokasi, semua peserta telah berkumpul di gedung Graha Jakun dengan antusias peserta yang melebihi target. Luar biasa!
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...