Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Kawan vs Musuh


__ADS_3

Sepulangnya Dira dan teman-teman, Fahmi terlihat lebih diam, padahal menurut dokter kondisinya sudah sedikit membaik. Hal itu membuat Umi Fahmi merasa cemas dengan putranya itu.


“Sebenarnya apa yang kamu fikirkan, Mi? Umi lihat sepertinya kamu sedang ada banyak masalah,” ungkap Umi pada Fahmi sembari mengelus kepalanya penuh kasih sayang.


Mau usia berapa pun seorang anak, bagi orang tua, mereka tetaplah anak kecil yang selalu disayangnya.


“Fahmi nggak apa-apa Umi, hanya ada sedikit ada kendala pada proyek saja, Umi tidak perlu khawatir.” ucap Fahmi yang apa adanya walaupun tidak hanya itu saja yang memberatkan fikiran Fahmi saat ini.


Umi berusaha untuk memakluminya walaupun beliau tahu jika Fahmi sedang menutupi masalahnya dari dirinya. Mungkin Fahmi masih enggan untuk bercerita dengannya.


......................


Sementara itu, Dira pulang pondok tepat 10 menit sebelum gerbang ditutup. Dia merasa lega, akhirnya tidak terkena takziran. Suasana kamar yang biasanya sepi kini tampak ramai, dimana Amel dan teman-temannya sedang berada di sana. Putri yang jarang terlihat karena sering tinggal di aula kini juga ada di kamar.


Kenapa justru aneh kalau kamar ramai kaya gini? Batin Dira yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


“Assalamu’alaikum,” salam Dira pada semuannya, mereka pun kompak menjawabnya.


“Eh udah pulang, Ra? Sini-sini kumpul sama kita,” ajak Amel dengan ramah yang membuat Dira merasa semakin asing dengan situasi ini.


Putri yang duduk di pojokan kamar dengan Al-qur’an di tangannya juga menatap Dira. Namun sorot matanya sedikit berbeda kali ini, seperti menunjukan kalau Dira jangan mendekat ke arah mereka.


Kali ini Dira pun mengkuti kode tatapan Putri, karena sejatinya Dira pun merasa tak nyaman untuk bergabung. Dengan alasan ingin mandi dan sekalian mengambil wudhu, Dira pun pergi meninggalkan kamar itu.


Malam harinya, setelah selesai mengaji maddin, Dira baru ingat tentang oleh-oleh dari Amel. Dira pun bergegas mengambilnya dan mencari Putri ke aula. Benar saja, Putri ada di situ bersama teman dekatnya, Mila.


“Mba Putri,” panggil Dira sedikit ragu.


Putri hanya menengok sambil menganggukan kepala. Entah apa yang dibisikkan Putri pada Mila hingga membuat Mila pergi dari tempat itu. Ya Allah, semisterius inikah Mba Putri? gumam Dira dalam hati.


“Mba Putri maaf kalau Dira mengganggu,” ucap Dira lagi yang sudah duduk didepan Putri. Lag-lagi Putri hanya mengangguk. Ya Gusti, iki wong apa robot si, gerutu Dira dalam hati yang semakin gemas.


“Ini Mba, tadi pagi Mba Amel bawa oleh-oleh, ini untuk Mba Putri setengah terus aku setengah ya,” ucap Dira penuh kehati-hatian.

__ADS_1


Putri pun menanggapinya, “Bukankan itu hanya untukmu? Maka untukmu saja,” tolaknya.


“Eh, buat kita bersama kok Mba bukan buat aku aja,” balas Dira yang merasa semakin tidak enak.


“Huh ya sudah, taruh di situ aja,” ucap Putri sembari menunjukan meja kecil yang tidak jauh dari mereka, Dira pun meletakan bingkisannya di sana.


Dira pamit kembali ke kamar. Namun sebelum pergi, Putri mengatakan sesuatu yang membuat Dira sedikit terkejut. “Jangan pernah terkecoh dengan keadaan, cukup ambil jalan yang menurut kamu benar. Lebih berhati-hatilah sekarang, Nadira,” ucap Putri yang merupakan kalimat terpanjang yang pernah Dira dengar darinya.


Dira mengurungkan niatnya kembali ke kamar, dia menatap putri penuh tanda tanya.


“Maksud, Mba Putri?” tanyanya.


“Tidak ada, aku hanya bilang kamu lebih berhati-hati saja,” jawab Putri tegas yang justru semakin membuat Dira penasaran.


“Apa Mba Putri tahu sesuatu?” Dira ingin menanyakan perihal orang yang Aydan temui pada Putri, namun sebelumnya dia ingin memastikan dulu, antara musuh dan kawan masih samar dimatanya.


“Maksudmu?” Putri justru balik bertanya pada Dira.


Setelah mengucapkan salam, Dira pun bergegas kembali ke kamar dengan menyimpan segala rasa penasaran dan kewaspadaan. Sesampainya di kamar hanya ada Amel sendirian yang entah sedang apa.


Dira langsung menyibukan diri dengan berbagai tugas yang sedang dihadapinya menjelang ujian tengah semester, belum lagi ujian madrasah dinniyah. Saat-saat inilah yang membuat Dira harus ekstra belajar dan membagi waktu dengan sebaik mungkin.


Masalah lamaran Aydan juga belum Dira bicarakan pada orang tuannya, walaupun Aydan sendiri yang sudah menyampaikan pada ibunya tetapi belum ada keputusan yang jelas dari bapaknya. Dira juga menjelaskan pada Aydan kalau minggu-minggu ini akan disibukan dengan ujian. Jadi kemungkinan ini juga akan menjadi pertimbangan apakah akan tetap minggu depan atau diundur.


Setelah menyelesaikan sebagian tugas-tugasnya, Dira sempat mengecek ponsel jadul miliknya untuk melihat apakah ada pesan masuk atau tidak. Aydan hanya mengabari jika dia akan lembur untuk menggantikan beberapa hari yang lalu ketika dia sakit dan ada satu pesan yang sudah lama tidak mengirimkan pesan padanya.


“Nadira, pahamilah mana kawan mana musuh agar kamu tidak terjebak,”_Mr. Misterius.


Deg


Pesan dari Mr Misterius lagi, sudah lama sepertinya dia tidak mengirimkan pesan lagi, aku kira dia adalah Aydan. Tap sepertinya bukan, jadi siapa? Batin Dira berkecamuk. Ingin menanyakan siapa tapi Dira rasa percuma karena seperti biasa orang itu akan menjawab tidak perlu tahu siapa dia.


Belum lega dari keterkejutannya, Amel tiba-tiba datang menghampirinya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Dia duduk berhadapan dengan Dira yang hanya diam memerhatikan.

__ADS_1


“Ra, aku ingin ngomong sesuatu sama kamu,” ucap Amel.


“Iya Mba, ada apa ya?” tanya Dira yang masih santai.


“Tadi kamu abis nemuin Putri kan? Dia ngomong apa aja sama kamu?” tanya Amel pada Dira. Kenapa kepo gitu? Pikir Dira.


“Oh, nggak ngomong apa-apa tadi, Mba. Ya udah ya Mba aku mau istirahat dulu.” Jawab Dira yang tidak ingin membahas lebih banyak lagi. Mungkin kurang sopan tapi Dira merasa ada gelagat aneh dari Amel.


Tidak ingin membuang waktu, maka Dira segera mengistirahatkan tubuhnya. Malam ini dia tidur dengan berbagai prasangka mulai dari kecemasan dirinya sendiri, lamaran Aydan, rasa penasaran dengan Putri, Amel dan pesan misterius. Belum lagi lelah karena tugas kuliah dan madin yang menumpuk. Semoga hari esok jauh lebih baik, do’a Dira dalam hati.


......................


Di Jakarta, Aydan yang baru sampai di kontrakannya bersama dengan Aris juga tidak kalah lelahnya. Dia harus lembur untuk mengganti beberapa hari lalu saat sakit dan untuk mengajukan cuti kembali. Niatnya setelah ada jawaban dari pihak Dira dan kesanggupan Dira sendiri, Aydan akan pulang menemui Ayahnya untuk menengok dan meminta restu.


Baru saja ingin membuka pintu, netranya melihat ada sebuah kertas terselip di celah pintu yang entah apa isinya. Kalau tagihan, sepertinya dia maupun Aris tidak punya. Dipandangnya Aris yang hanya dijawab dengan gidikan bahu tanda tak tahu.


Aris masuk terlebih dahulu, sedangkan Aydan duduk di teras sembari membuka kertas itu. Dengan cermat dia membaca setiap baris tulisan itu. Tanpa terasa, tangannya mengepal kuat menahan emosi setelah membaca surat itu.


“Ibu!” ucapnya penuh emosi.


Aydan pun bangkit dengan amarah yang masih meliputi dirinya. Bagaimana tidak marah jika pesan dalam surat itu merupakan ancaman untuk hubungannya dan Dira. Dirinya lagi-lagi diberikan pilihan antara Dira atau Ayah dan Adiknya.


“Arrghhh, aku harus susun rencana,” Aydan meraih ponselnya dan menghubungi seseorang disebrang sana.


“Kenapa lo, Bro?” tanya Aris. Tanpa menjawab, Aydan langsung saja memberikan kertas itu pada Aris. Aris pun membaca sambil memahaminya.


“Jadi bagaimana? Apa masih ingin lanjut? Gue harap lo bisa ambil keputusan yang tepat,” saran Aris pada Aydan.


Aydan menghembuskan nafas kasar dan menjawab, “Gue pasti memperjuangin apa yang harus gue perjuangin. Dan gue butuh bantuan lo, Ris,” Aris pun dengan mantap menganggukan kepalanya.


“Besok aku langsung ke rumahmu, Sya.” send Mine.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2