
Ponpes Nurul Huda
Suara puji-pujian dari masjid dan mushola saling bertautan menyambut datangnya waktu subuh. Dira yang merasa tidurnya sangat singkat tetap harus bangun menjalankan kewajibannya. Adzan subuh dari masjid pondoknya terdengar menggema dan merdu dari balik suara ustadz tampan, siapa lagi kalau bukan Gus Tama. Para santriwati dengan semangatnya mengambil wudhu dan siap berjam’ah. Lain halnya jika yang adzan seorang kakek-kakek, pengurus harus bersusah payah membangunkan mereka.
Seperti biasa, selepas salat subuh akan dilanjut ngaji pagi. Jika biasanya Abuya yang akan mengisi, kini digantikan oleh Gus Tama. Mata yang biasa terkantuk-kantuk kini justru melebar sempurna. Namun tidak dengan Dira. Gadis itu justru semakin mengantuk mendengar penjelasan Gus Tama. Baru beberapa menit Gus Tama menerangkan, dirinya sudah mulai tertidur nyenyak.
Setelah selesai mengaji, teman sebelahnya pun membangunkan Dira. Kali ini, dia langsung terbangun dan segera mengambil wudhu untuk shalat duha berjama’ah. Sebenarnya Dira sangat menyayangkan jika harus tertidur, itu artinya dia tidak dapat menyerap ilmu yang diterangkan gurunya. Namun bagaimana lagi, kantuknya sudah tidak bisa di tahan. Yang terpenting, ngalap barakah guru, bisiknya.
Hari ini jadwal kuliah Dira cukup padat, ditambah nanti akan ada pertemuan pembahasan persiapan debat. Dira yang sejak kemarin mati-matian belajar juga sudah mempersiapkan segalanya. Mengingat waktunya yang kurang 10 hari lagi, maka dia harus bisa mengimbangi dengan yang lainnya. Target dia dan tim adalah masuk paling tidak 5 besar.
Dira meminta tolong pada Khalwa untuk menstarter motornya, dengan senang hati Khalwa pun membantunya. Segera Dira melesat ke kampus tercintanya, suasana kampus sudah cukup ramai. Setelah memarkirkan motornya, Dira langsung menuju ke kelasnya.
Ada yang aneh kali ini, sedari tadi banyak pasang mata yang memperhatikan Dira dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Apa ada yang aneh sama penampilanku ya?” tanyanya dalam hati. Dia lalu melihat dirinya sendiri mencari apa ada kesalahan dalam penampilannya atau tidak.
“Sepertinya tidak ada yang salah, penampilanku masih sama. Ah mungkin perasaanku aja kali ya” monolonya dalam hati. Dia memilih untuk segera ke kelas dibandingkan memikirkan tatapan mereka.
Sesampainya di kelas, teman-temannya pun tidak kalah hebohnya. Mereka langsung membrondong berbagai pertanyaan padanya.
“Lo beneran sama dia Ra?” tanya salah satu temannya.
“Iya Ra. Wah hebat lo Ra” ucap yang lainnya.
“Ra. Ini ponsel kamu” ucap Salwa yang biasa dititipi ponsel oleh Dira. Dira pun mengambilnya dan tak lupa mengucapkan terimakasih.
“Ra, jawab dong. Lo beneran ada hubungan sama Presma kita?" tanya temannya tidak sabar, karena Dira tak kunjung menjawabnya.
Kini Dira paham dengan maksud pertanyaan teman-temannya itu. “Oh jadi mereka melihatku dengan Kak Fahmi kemarin dan mengira aku ada hubungan dengannya. Bagaimana mereka berfikir demikian, Hu menjengkelkan. Ada-ada saja mereka”, batin Dira. Dia lantas mengembuskan nafasnya kasar.
“Huh. Okey. Aku sama Kak Fahmi tuh sebenarnya…”, belum sempat Dira selesai menjawab, Dosen masuk dan teman-temannya kembali ke kursi masing-masing.
Banyak dari mereka yang menggerutu kesal karena jawaban Dira yang terpotong. Dira pun tidak kalah kesalnya, karena khawatir mereka makin salah faham.
“Ah sudahlah, biar nanti aku jelaskan. Sekarang mari fokus belajar dulu Ra” ucap Dira menyemangati dirinya. Dia kemudian memilih fokus pada materi yang disampaikan dosennya.
......................
__ADS_1
Semetara itu, Aydan juga tidak kalah semangatnya. Dirinya bahkan jauh lebih semangat dari kemarin. Setelah sarapan, dia segera membereskan kos adit dan bergegas bersiap. Sedangkan Adit sudah pergi untuk membuka bengkel tempatnya bekerja.
Aydan cukup gugup, bagaimana nanti ketika bertemu dengan gadisnya dan bagaimana nanti responnya.
Apa dia akan marah besar? Ah tentu saja.
Apa dia akan memaki atau memukulnya? Ah biar saja.
Apa dia akan... Ah yang penting tujuanku tersamapaikan. Begitulah berbagai praduga yang mungkin menjadi respon dari Nadira.
Dia memakai outfit simple dengan kaos putih polos dibalut jaket biru gelap, celana jeans hitam, serta sepatu kets warna hitam. Tidak lupa dirinya menyisir rambut sedikit gondrongnya dengan rapi, memakai jam tangan dan parfume menyejukan yang membuat dirinya makin memesona.
Setelah mengunci pintu kos, dirinya segera menyalakan motor dan melajukannya ke kampus Dira. Dalam hati dia terus berdo’a agar tujuannya berjalan dengan baik. Sekitar 20 menit, dia sampai di parkiran Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Dia menatap sekitar sedikit tertegun. Dalam hatinya, dia merasa sedikit iri dengan mereka yang dapat melanjutkan pendidikan di universitas ini. Namun dia juga tidak menyesal mengabil jalan hidupnya saat ini, karena biar bagaimana pun dirinya harus bekerja agar kelak dapat hidup lebih mapan dan mampu menyekolahkan adik perempuannya ke jenjang pendidikan tinggi.
Dirinya juga makin bangga kalau orang terkasihnya berhasil masuk di sini terlebih jalur beasiswa. Luar biasa.
Dengan langkah pasti, dirinya memasuki gedung fakultas itu. Dia berharap jika hari ini, Nadira ada jadwal kelas hingga penantiannya nanti tidak sia-sia.
Di sepanjang jalan, banyak tatapan memuja para gadis yang melihatnya. Aydan hanya cuek saja, angannya hanya tertuju pada Nadira. Beruntung ini adalah kampus, jadi tidak terlalu kentara jika orang asing atau bukan mahasiswa masuk kampus ini.
“Ya Allah, kamu dimana Sya? Semoga aku bisa menemuimu hari ini” ucap Aydan dalam hati.
30 menit telah berlalu, namun Dira tak kunjung kelihatan. Dirinya masih setia duduk sembari terus memperhatikan sekitar. Hingga suara yang asing mengalihkan pandangannya.
“Diraaa” teriak seseorang.
Deg
“Apakah dia Arsya?”, hatinya tersentak melihat punggung gadis yang dipanggil Dira. Aydan lantas bangkit dari duduknya dan menajamkan penglihatannya.
“Ya” jawab seseorang yang dipanggil Dira tadi.
Detak jantung Aydan makin bergemuruh cepat kala seseorang tadi membalikan badan mungilnya.
“Aku menemukanmu. Nadira Arsyakaylaku” lirih Aydan.
__ADS_1
Ya, gadis itu adalah Dira yang Aydan rindukan. Dirinya masih terpaku mengamati gadisnya, sedangkan Nadira belum melihat kehadiran Aydan.
“Lo Nadirakan?” ucap seorang gadis cantik yang mendekati Dira.
“Iya betul. Ada apa ya Mba?” tanya Dira.
“Ada hubungan apa kamu sama Fahmi?” Gadis itu tampak menahan emosi ketika berbicara dengan Dira.
“Tidak ada hubungan apapun”, balas Dira santai dia yakin ini adalah salah satu fans fanatik Fahmi.
“Bohong! Terus berita ini apa maksudnya?” cercah gadis itu sembari memperlihatkan berita tentang Dira dan Fahmi yang sedang trending topic.
“Terserah Mbanya aja deh. Kenyataannya memang ngga ada apa-apa”, jelas Dira dengan tetap nada santai.
Dirinya yang terlalu capek dan malas ribut, apalagi saat ini tengah menjadi pusat perhatian bermaksud pergi menghindarinya.
Ck kekanakan ini Mbanya.
Labrak nih ceritanya.
Udah lama ngga kaya gini, huh buang-buang waktu aja.
Desis Dira dalam hati. Jengah? Jelas saja, toh dia dan Fahmi memang tidak ada apa-apa.
Dira membalikan badannya 180°dan segera melangkah maju. Namun tanpa diduga, gadis itu yang diketahui namanya Tasya menarik jilbab Dira hingga Dira megaduh.
"Aduh, wah main tari-tarik aja nih Mbanya. Ck benar-benar ngajak ribut" Gerutunya dalam hati. Buku ditangannya jatuh dan dirinya memegang jilbab agar tidak terlepas.
Hal itu membuat seseorang yag sedari tadi melihatnya geram dan marah. Dia langsung mendekati mereka.
“Lepaskan!” ucapnya dengan keras membuat gadis itu refleks melepaskan tarikan jilbab Dira karena kaget.
Dira terbatuk menunduk sembari memegang lehernya. Lelaki itu lantas menarik tangan Dira merapat ke tubuhnya.
"Eh..", Dira yang tidak siap pun membalikan tubuhnya dan terbawa mendekat ke tubuh lelaki itu. Dira mendongakan wajahnya hendak melayangkan protes. Namun seketika tubuhnya menegang, jantungnya bergemuruh tidak beraturan.
“…”
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...