Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Hasil Seleksi


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama untuk Dira bersiap, karena dirinya memang tidak bermake up, hanya menggunakan sunscreen dan lipstick wara nude kesukaannya. Dengan berbalut pashmina warna putih dengan baju blouse warna biru serta rok panjang warna putih, membuat tampilan Dira terlihat makin menggemaskan.


Dia segera melajukan motornya menuju kampus. Namun sayang, dia harus terjebak macet karena di depan ada kecelakaan. Sementara jam menunjukan pukul 10 kurang 10 menit lagi, jika keadaan seperti ini tentu akan membuatnya terlambat.


Hingga benar dugaannya, jam 10 lebih 15 menit, Dira baru sampai di parkiran gedung UKM. Dia lantas berlari ke ruang BEM, mengingat dirinya sudah telat 15 menit. Sesampainya di sana, tentu Dira menjadi pusat perhatian, karena tinggal dia sendiri yang belum datang.


“Assalamu’alaikum, maaf terlambat” ucap Dira yang langsung masuk dan duduk. Dia belum menyadari tentang siapa orang yang ada di depannya.


“Wa’alaikumslam” kompak semua yang ada di ruangan tersebut menjawab salam.


Ruangan hening seketika, membuat Dira yang tengah mengambil buku catatan di dalam tasnya merasa aneh. “Kenapa sepi banget si, perasaan ngga salah masuk deh” ucap Dira dalam hati sambil melihat sekitar yang ternyata tengah memperhatikan dirinya.


Pandangannya berhenti ke arah depan, dimana seseorang dengan tangan yang dilipat di dadanya serta duduk di pinggir meja, tengah memperhatikannya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dia adalah Tufail.


Dira lantas mengalihkan pandangannya ke arah kanan. Lagi-lagi dia tertegun, seseorang ini justru melihatnya dengan tatapan yang lebih tajam. Tenggorokannya tercekat, kala seseorang tersebut berjalan mendekatinya. Dia adalah Fahmi, ketua BEM yang terkenal ketegasan dan kedisiplinannya.


“Waduh, Mama Bapak Tolong Dira, Dira kaya mau dimakan macan deh, serem banget tapi ganteng, eh Astaghfirullah” batin Dira menjerit ketika Fahmi telah sampai dihadapannya.


“Fail, lanjutkan tugasmu. Dan kamu, ikut saya keluar!” perintah Fahmi pada Tufail dan segera menarik tangan Dira ke luar ruangan.


“Eh..” Dira yang kaget hanya mengikuti langkah Fahmi tanpa berani membantah. Setelah keluar ruangan, Dira berusaha melepas tangan Fahmi, dia tidak ingin ada yang salah faham dengannya.


“Lepas Kak! Hih kenapa selalu begini si” sungut Dira kesal karena Fahmi yang selalu menarik tangannya tanpa seizinnya. Bukan sok suci, tapi dia tidak ingin ada kesalahfahaman, terlebih oleh fans fanatiknya Fahmi. Bukan takut tapi malas berurusan, lagian ngga ada urusan juga.

__ADS_1


Fahmi langsung melepas tangan Dira, dia lalu melipat tangannya di dada sambil menatap Dira, namun tidak setajam tadi. Dia justru begitu menikmati wajah kesal Dira saat ini. “Astaghfirullah” gumam Fahmi beristighfar.


“Kenapa sampai telat? Kamu tahu kalau saya tidak suka ketidakdisiplinan” tegas Fahmi.


“Sejak kapan aku tahu kalau dia ngga suka ketidakdisiplinan, perasaan baru kedua kalinya seruangan sama dia deh” lirih Dira yang masih didengar oleh Fahmi.


“Harusnya kamu tahu, saya paling tidak suka orang yang mengabaikan waktu. Mulai sekarang kamu harus tahu segala hal tentang saya” ucap Fahmi yang membuat Dira mengerutkan dahinya. Fahmi yang merasa salah bicarapun segera mengalihkan pembicaraan.


“Ehem, ayo jawab, kenapa tadi telat?” Fahmi mengulangi pertanyaannya.


“Huh. Maaf sebelumnya Kak, jujur saja saya baru tahu tadi pagi dari teman, kalau saya lolos seleksi. Terus tadi sewaktu ke sini, jalanan macet karena ada kecelakaan di jalan Ahmad Yani depan situ.” Jelas Dira pada Fahmi.


“Baru tahu? Bukannya pengumumannya sejak kemarin? Memangnya apa yang kamu lakukan sampai tidak sempat memegang ponsel. Sekarang mana ponselmu?” Fahmi meminta Dira untuk memberikan ponsel miliknya.


“Jangan membuat alasan, tadi kamu bilang temanmu menelfon, itu artinya kamu pegang ponselkan? Udah sekarang mana ponselmu” Fahmi masih belum memahami apa yang disampaikan oleh Dira dan dia terus memaksa Dira untuk menyerahkan ponselnya. Perlu diketahui karena ini kali pertamanya Fahmi begitu penasaran dengan perempuan. Bukan tak pernah pacaran, bahkan mantannya ada beberapa namun tak semenarik Dira.


Dira yang kesal akhirnya memberikan ponsel genggam jadul miliknya. Fahmi yang menerima antara terkejut dan menahan tawanya, bagaimana bisa jaman sekarang masih menggunakan ponsel jadul ini? Hahaha, tawa Fahmi tertahan.


Dira yang melihat Fahmi menahan tawannya pun segera menimpali. “Kalau mau ketawa, ketawa aja Kak”


“Ehem” Fahmi berdehem untuk menormalkan ekspresinya kembali.


“Itu ponsel yang saya bawa ketika di area pesantren Kak, karena memang peraturan pondok yang tidak memperbolehkan membawa smartphone. Sekarang sudah pahamkan alasan saya, Kak? Kalau udah, boleh saya masuk?” ucap Dira memperjelas.

__ADS_1


“Boleh” jawab Fahmi singkat.


Dira tersenyum dengan jawaban Fahmi yang membuat Fahmi sedikit terpesona. Kemudian, Dira bermaksud mengambil ponselnya yang masih dipegang oleh Fahmi. Namun Fahmi justru menggenggamnya sangat erat, hingga Dira pun pasrah.


Fahmi mengetikan sesuatu di ponsel Dira, lalu mengembalikannya pada pemiliknya.


“Ini ponselmu” ucap Fahmi sembari memberikan ponsel milik Dira.


“Itu nomorku dan sekarang ayuh masuk” sambung Fahmi dan mengajak Dira untuk masuk. Dira yang tidak ingin berdebat hanya mengikuti Fahmi di belakangnya.


Bagi orang lain, memiliki nomor ponsel pribadi Fahmi adalah sesuatu yang luar biasa, namun bagi Dira biasa saja bahkan terkesan bodo amat.


Suasana kembali hening ketika Dira dan Fahmi masuk. Cukup lama mereka di luar hingga menimbulkan berbagai pertanyaan dibenak orang yang menyaksikannya. Ada pula tatapan iri dari para penggemar Fahmi yang bahkan tidak pernah bersikap demikian dengan mahasiswi lain.


Dira duduk di amping Zaid yang hanya diam saja sedari tadi. Dira mengenal Zaid karena pernah beberapa waktu terlibat dalam kegiatan yang sama. Dia juga tahu bahwa Zaid adalah salah satu anggota BEM Universitas, teman Fahmi CS.


Tufail kembali menjelaskan poin-poin penting yang harus diingat termasuk materi yang harus dipersiapkan pula. Kini mereka dalam mode serius terutama, Adam, Agam, Sekar, Zaid, Renata dan Nadira. Bagi Dira, ini adalah moment pertamanya. Jadi dia harus bisa membawa diri untuk berusaha semaksimal mungkin agar tidak mengecewakan. Sampai Tufail selesai menjelaskan, dia juga akan membagi tugas masing-masing peserta sehingga waktu yang tersisa ini akan sangat maksimal. Tufail sebagai mentor tentu akan bersikap professional, terlebih menyangkut hal seperti ini.


Nama baiknya juga dipertaruhkan di sini. Dia tidak mau mengecewakan orang-orang yang menaruh harap padanya. Maka dari itu, jika biasanya dia terlibat pertengkaran kecil atau hanya sekedar menjahili Dira, namun tidak kali ini. Dia juga memupuk kekompakan setiap tim agar tidak canggung satu sama lain. Tufail dalam mode fokus menjadi sosok yang begitu tegas dan professional di mata Dira.


Fahmi juga terus mengawasinya, sesekali dia melirik ke arah Dira yang tengah fokus memperhatikan penjelasan Tufail. “Dia memang beda dari yang lain” gumam Fahmi sembari tersenyum tipis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2