
Aydan
Tepat setelah salat maghrib, Aydan sudah bersiap untuk melamar Nadira. Dengan Bismillah, Aydan melangkah pasti dan menemui para rombongan. Tidak banyak yang ikut, hanya ustadz, ketua RT setempat, Paman Didi dan beberapa tetangga kanan kirinya.
Netranya tidak menemukan sang Ayah di sana. Aydan pun izin sebentar dengan yang lain dan berjalan menuju kamar Ayahnya. Dengan pelan, Aydan membuka puntu kamar Ayahnya hingga terlihat sang Ayah yang tengah memegang selimut bayi kecil dan sebuah gelang ukuran bayi.
“Assalamu’alaikum, Ayah,” sapa Aydan pada Ayahnya.
“Wa’alaikumsalam, duduklah sebentar, Nak. Apa semuanya sudah siap?” tanya sang Ayah memastikan.
“Sudah, Yah, tinggal menunggu Ayah. Namun sebelumnya ada yang ingin Aydan sampaikan,” Aydan mengatur nafasnya sebentar, begitu juga dengan Ayah yang diam saja menunggu apa yang akan Aydan sampaikan.
“Ayah, sebelumnya Aydan meminta maaf atas sikap Aydan semalam,” Aydan menjeda ucapannya sebentar.
“Terlepas dari kebenaran yang Ayah sampaikan, biar bagaimana pun, Ayah tetaplah Ayah bagi Aydan. Aydan memohon restu Ayah untuk jalan yang ingin Aydan tempuh bersama dengan Nadira Arsyakayla, calon istri Aydan. Restu Ayah akan sangat berarti bagi kami,” ucap Aydan begitu yakin dan tulus hingga membuat Ayah Aydan menitikan air matanya.
Putra yang sedari bayi menemaninya kini telah tumbuh menjadi pemuda yang berkarakter. Bahkan disaat beliau merasa ketakutan dari kebenaran yang diungkapnya, Aydan sendirilah yang menepiskan ketakutan itu. Ayah Aydan takut jika kebenaran itu akan membuatnya jauh dari Aydan bahkan membuat Aydan benci dengan dirinya.
Rasa haru sudah tidak terbendung lagi dari jiwa seorang Ayah. Dengan penuh kasih sayang, Ayah Aydan pun menjawab, “Nak, terimakasih sudah tumbuh menjadi pemuda yang tangguh, pemuda yang berkarakter dan penuh tanggungjawab. Insyaallah Ayah merestui kalian dan selalu mendo’akan yang terbaik untuk kalian.
“Terimakasih sudah mau menerima Ayah menjadi bagian dalam hidupmu, Nak,” Ayah Aydan memeluk tubuh putranya itu dengan sangat erat. Dalam pelukan itu, Aydan hanya mengangguk dan tersenyum lega karena bisa menyampaikan apa yang menjadi tujuannya.
“Aydan, simpanlah barang ini. Karena kedua barang inilah yang semoga bisa mempertemukanmu dengan kedua orang tuamu nanti,” ucap Ayah sambil memberikan selimut kecil dan gelang kecil pada Aydan.
Tidak ingin berlarut-larut, Aydan pun menerimanya. Dalam hati, dia berdoa’a, “jika memang kedua benda ini dapat mepertemukan hamba dengan kedua orang tua hamba, maka hamba mohon izinkanlah. Namun jika memang tidak, maka izinkanlah hamba menyimpannya sebagi bagian dari kenangan hamba dengan kedua orag tua hamba.”
Mereka berdua pun segera keluar dari kamar dan bergabung bersama rombongan. Sebelum pergi, ustadz memberikan nasihat dan do’a agar semua berjalan dengan lancar tanpa ada halangan suatu apa.
__ADS_1
......................
Rumah Dira
Dira dan Fahmi
Di rumah Dira, semua persiapan telah selesai dilakukan, tinggal menunggu tamu datang. Dira dengan dibantu Umi Fahmi merias dirinya sebaik mungkin. Gamis sederhana yang dipakainya pun menjuntai anggun di tubuh mungilnya.
Tadi sore, Mama Dira bersikeras agar Dira menggunakan kebaya saja. Namun karena kurang hati-hati, rok batik yang terlalu sempit membuat Dira jatuh terslimpet rok. Parahya, lutut kiri yang terluka kembali mengeluarkan darah.
Mama dan Mba Siti yang melihat itu tentu saja panik. Dari situlah Dira baru menceritakan segalanya tentang kecelakaan yang menimpa dirinya termasuk pertolongan dari Fahmi dan keluarganya. Mereka yang mendengar itu pun makin panik bahkan Mama sampai menangis.
Dipeluknya Dira sembari memeriksa satu persatu luka yang ada di tubuhnya. Beliau tidak ada henti-hentinya mengucap syukur atas keselamatan Dira dan ucapan terimakasih berkali-kali kepada Fahmi dan kedua orang tuannya.
Dira mendekati Fahmi yang tengah duduk sendiri di ruang tamu. Fahmi sibuk sendiri dengan ponselnya yang entah apa urusannya hanya Fahmi yang tahu.
“Udah, Sya” jawab Fahmi yang masih fokus dengan layar ponselnya.
“Alhamdulillah. Oh ya Kak, terimakasih sudah membantu Dira sampai sejauh ini dan maaf jika Dira ada salah sama Kakak ya,” ucap Dira yang membuat Fahmi mengalihkan pandangannya ke arah Dira yang duduk tepat di depannya.
Fahmi cukup terpesona dengan tampilan Dira saat ini. Dirinya sendiri baru pertama kali melihat Dira dengan riasan natural seperti saat ini. Dengan senyum, Fahmi pun menjawab, ”Tidak perlu berterimakasih, Sya, itu sudah kewajiban Kakak untuk menolong sesama,” jawab Fahmi.
“Dan tidak perlu kata maaf karena kamu tidak ada salah dengan Kakak. Rasa yang Kakak miliki padamu, izinkan Kakak untuk tetap menyimpannya ya. Izinkan Kakak untuk melindungi kamu layaknya sebagai adik perempuan Kakak. Apa boleh?” lanjut Fahmi mengungkapkan isi hatinya.
Hati wanita mana yang tidak tersentuh dengan kalimat itu. Tanpa banyak bertanya, Dira pun menganggukan kepalanya dan senyum manis sebagai jawaban. Fahmi pun merasa lega dan ikut tersenyum juga.
......................
__ADS_1
Tidak lama kemudian, rombongan Aydan pun datang dengan diiringi irama hadroh. Terlihat Aydan datang dengan kemeja batik lengan panjang dan buket bunga marigold ditangannya. Dengan senyum manis, Aydan menyambut satu persatu orang yang menyalaminya. Hingga pada saat bertatapan langsung dan bersalaman dengan Abi Fahmi, ada perasaan yang aneh menerobos ruang hatinya.
Segera Aydan tepis perasaan itu hingga dirinya memilih duduk di samping calon mertua dan ayahnya. Acara pun segera di mulai dengan sambutan dari pihak Nadira yang disampaikan oleh Pak Khadir sendiri selaku orang tua dari Nadira. Kemudian dilanjut dengan pihak Aydan yang diwakili oleh Pak Ustadz Arifin.
Hingga tiba saatnya prosesi khitbah. Jantung Aydan yang awalnya biasa saja kini berdetak lebih cepat membuatnya semakin gugup. Dipanggilnya Dira untuk duduk di samping Mama dan Umi Fahmi guna memberikan jawaban khitbah dari Aydan nantinya.
Dengan senyum manis, Dira menatap Aydan yang juga menatapnya dengan pandangan yang saling terpesona.
Fahmi yang melihatnya pun sekitaka menguatkan diri bahwa dia harus benar-benar ikhlas. Fahmi juga mengakui jika Aydan pantas untuk Dira.
Dengan penuh keyakinan, Aydan pun menyampaikan maksudnya, “Bismillahirrahmanirrahim, Asslamu’alaiakum warahmatullahi wabarakatu. Nadira Arsyakayla binti Bapak Khadir Nur Rohman, saya Aydan Putra Nugraha, seorang lelaki biasa yang penuh tekad dan keyakinan pada diri saya. Berniat untuk mengkhitbah Dek Arsya menjadi calon istri saya. Menerima segala kelebihan dan kekurangan saya untuk menuju ikatan yang halal. Insyaallah saya berjanji di depan orang tuamu dan semua yang hadir disini, bahawa saya akan menjaga lahir dan batin Dek Arsya dan akan berusaha menjadi imam yang baik.”
“Saya hanyalah manusia biasa, namun saya akan berusaha membuat Dek Arsya bahagia. Dengan restu orang tua kita, bersediakah engkau menerima khitbah saya, menjadi istri dan ibu dari anak-anak saya kelak?” tanya Aydan di akhir kalimatnya.
Dira menjadi gugup sendiri, namun dengan kepandaiannya dia mampu menutupi rasa gerogi itu dengan terus mengucap dzikir dalam hatinya dan terus meyakinkan Dira bahwa Aydan adalah laki-laki yang tepat.
Setelah mengatur nafasnya, Dira pun menjawab, “Bismillahirrahmanirrahim, Mas Aydan Putra Nugraha, saya juga sebagai wanita biasa yang memiliki banyak kekurangan. Dengan izin dan restu orang tua kita, insyaallah saya terima khitbah dari Mas Aydan.”
Sontak semuanya mengucapkan syukur atas diterimanya khitbah. Rasa lega dan senang mendominasi relung hati Aydan saat ini. Dia pun tak ada henti-hentinya mengucap syukur atas apa yang dilaluinya. Sang Ayah pun memberikan dukungan dengan menepuk pundaknya.
Aydan dengan dibantu Umi Fahmi memasangkan gelang khitbah di pergelangan tangan Nadira. Gelang yang simpel namun cantik dipandang mata. Cantik, kata Dira dalam hati.
Setelah itu, para tamu dipersilakan untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan. Setelah selesai, hanya tinggal keluarga besar saja mereka kembali diskusi dengan santai untuk membahas tanggal pernikahan sekalian, karena tidak ada acara lamaran balik ke rumah Aydan.
Hingga tiba-tiba, secara mengejutkan Bapak Dira memberikan usul yang tidak terduga. Beliau mengatakan, “Nak Aydan, apa bersedia jika malam ini kamu dan Dira menikah secara agama terlebih dahulu?”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1