Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Takziran


__ADS_3

Keesokan harinya, sebelum kembali ke kotanya, Fahmi akan melakukan pertemuan terlebih dahulu dengan salah satu pimpinan perusahaan otomotif yang cukup terkenal. Karena tanpa sepengetahuan banyak orang, Fahmi merupakan founder perusahaan manufaktur yang saat ini mulai berkembang walaupun belum begitu familiar.


Di sinilah Fahmi berada, di depan gedung perusahan otomotif Arka Group yang nantinya akan menjalin kerja sama dengan perusahaan miliknya, FM Group. Dia lantas masuk ke dalam untuk segera menemui pimpinan perusahaan tersebut. Sesuai arahan dari resepsionis, karena memang sudah membuat janji, dia langsung menuju ruang pimpinan.


Kesepakatan pun terjalin setelah Fahmi berhasil meyakinkan pimpinan Arka Group. Bahkan saat ini, dengan didampingi oleh asisten pimpinan yang bernama Pak Heri, dia dibolehkan untuk melihat secara langsung proses perakitan sepeda motor. Dia terus bertanya pada Pak Heri tentang apa yang menurutnya penting.


Karena terlalu fokus dengan pembicaraannya, tanpa sengaja Fahmi menyenggol seorang pekerja yang tengah membawa beberapa komponen, hingga komponen yang dibawanya terjatuh.


“Maaf,” ucap Fahmi sembari membantu mengambil beberapa komponen yang terjatuh tadi.


“Tidak masalah, saya yang kurang hati-hati. Maaf,” ucap karyawan tersebut.


“Lain kali, kamu lebih hati-hati lagi dalam bekerja. Sekarang lanjutkan pekerjaanmu.” ucap Pak Heri pada karyawan tersebut.


“Baik Pak. Terimakasih, permisi Pak.”, jawab karyawan tersebut yang hanya dijawab anggukan oleh Pak Heri dan Fahmi.


Fahmi dan asisten itu kembali keliling pabrik. Ada banyak hal yang menarik bagi Fahmi. Karena dasarnya dia yang cerdas, membuat ada peluang baru yang sudah mulai tersusun di otak cerdasnya itu.


Sementara itu, karyawan tadi kembali bekerja dengan santai. Kejadian tadi tidak berpengaruh pada pekerjaannya karena memang itu bukan sebuah kesalahan atau kesengajaan. Dia adalah salah satu karyawan yang gesit dan pandai, membuat timnya selalu mendapat pujian dari hasil kerjanya. Karyawan yang dimaksud itu adalah Aydan.


Tidak terasa, waktu istirahat telah tiba, membuat semua karyawan yang sebagian besar adalah laki-laki itu menghentikan aktivitasnya untuk berisitirahat. Kebetulan hari ini adalah hari jum’at, sehingga Aydan harus bergegas membersihkan diri dan ke masjid untuk shalat jum’at. Dia selalu membawa pakaian bersih dan sarung yang dia gunakan untuk salat.


Setelah selesai dan ketika sedang memakai sepatunya, lagi-lagi Aydan bertemu dengan Fahmi. Mereka hanya saling diam beberapa saat. Dan entah kenapa, Fahmi yang biasanya tidak suka berinteraksi dengan orang lain justru melontarkan pertanyaan pada Aydan.

__ADS_1


“Sudah lama kerja di perusahaan itu, Mas?” tanya Fahmi.


“Baru setengah tahun, Mas.” jawab Aydan dengan sapaan yang sama, mengingat jika diliat dari wajahnya, Fahmi masih seumuran dengan dirinya mungkin lebih tua 2 tahun di atasnya.


“Oo begitu." respon Fahmi singkat.


“Ya. Kalau begitu saya permisi, Mas. Assalamu’alaikum.” Aydan pamit kembali bekerja.


Fahmi hanya merespon salam dari Aydan. Dan entah kenapa dirinya seperti mengenali Aydan. Tapi dimana? Batinya bertanya. Tidak berapa lama, Fahri datang menjemputnya. Sahabat baiknya itu bermaksud mengantarkan Fahmi ke penginapan dan langsung ke stasiun. Padahal, dia ingin Fahmi lebih lama di Jakarta. Namun mengingat kesibukan Fahmi membuat Fahri tidak dapat mencegahnya.


Sesampainnya di bandara, Fahmi langsung pamit pada Fahri karena keberangkatan kreta menuju ke kotanya sebentar lagi. Tidak lupa dia juga mengucapkan terimakasih pada Fahri.


“Thanks Bro, lain kali kalau ke Purwokerto jangan lupa kabar-kabar ya,” ucap Fahmi sembari menepuk pundak Fahri.


“Okey Bro. kalau gitu gue pamit. Assalamu’alaikum.” Fahmi pun pamit dan langsung menuju loket kereta yang dituju. Setelah Fahmi pergi, Fahri juga langsung pergi dari stasiun tersebut.


...----------------...


Hari ini, Dira mulai menjalankan Takzirannya. Walaupun dia sudah berusaha menjelaskan pada pengurus, tetap saja Dira dianggap melanggar peraturan. Dira harus menjalani takziran selama seminggu di depan kantor pengurus dengan mengucap istighfar sebanyak 500 kali perhari, memakai krudung merah kuning, berkalung papan “Aku Melanggar Aturan” serta harus setoran Alfiyah minimal 15 bait perhari.


Dira akan menjalankan takziran diwaktu yang senggang, seperti siang hari ini. Selama menjalankan takziran, mulai mengucap istighfar sampai setoran tidak diperbolehkan makan atau minum. Namun bagi Dira, hukuman tersebut tidaklah berat, dia justru menikmatinya. Ya begitulah Dira, mengingat Alfiyah saja dia sudah mengatamkannya. Justru hukuman itu membantu untuk terus mengingatnya itung-itung lalaran.


“Rasain Lo, haha pasti malu nih ye. Muka aja sok polos.” cibir Amel yang tiba-tiba lewat di depan Dira bersama gengnya.

__ADS_1


Dia dan teman-temannya seakan terus menambah rasa malu Dira dengan terus mencibirnya. Ingin sekali Dira merobek mulut cabenya itu. Baginya, Amel dan teman-temannya itu kekanakan sehingga dia lebih memilih diam, lebih tepatnya menganggap angin lalu saja.


Dira terus menjalankan takzirannya dengan tenang. Amel yang merasa Dira tidak memperdulikannya justru merasa kesal. Dia dan teman-temannya lantas pergi meninggalkan Dira dan salah satu pengurus yang bertugas mengawasi Dira yang tidak lain adalah Lutfia, sang lurah pondok. Lutfia sudah menahan tawanya sejak Amel terus mengejek Dira namun tak ditanggapi oleh Dira.


“Lucu ya, Dek. Dia yang mengejek malah dia yang kesal sendiri hehe,” Lutfia tertawa karena sudah tidak dapat menahannya lagi.


“Begitulah Mba, unikkan? Hehe.” jawab Dira yang telah selesai menjalankan takzirannya untuk hari ini. Dia lantas pamit pada lutfia karena sebentar lagi dia harus ke kampus untuk mengikuti rapat FOSEI.


Selesai bersiap, Dira lantas pergi dengan sepeda motor kesayangannya itu. Semenjak mengikuti FOSEI, Dira berubah menjadi mahasiswa yang aktif dan cukup terkenal oleh aktifis lainnya. Dira juga merasa hidupnya penuh dengan warna dan dapat menambah wawasan serta teman baru, pola pikirnya tentu saja berubah.


Seperti saat ini, ketika Dira baru sampai parkiran gedung UKM, banyak temannya yang menyapa. Berbeda dengan awal masuk gedung UKM, jangankan meyapa melihat wajahnya saja baru pertama kali. Sesampainnya di ruang rapat, baru beberapa anggota yang datang, termasuk Eni. Dia lantas mendudukan dirinya disebelah Eni.


“Kenapa 3L gitu Ra?” tanya Eni. Dira mengeryitkan dahinya bingung dengan maksud pertanyaan Eni.


“Eh, maksudnya En?” tanya Dira. Padahal dirinya juga sering mengatakan hal itu, tapi entahlah mendadak lupa karena kebanyakan hafalan dan setoran kali.


“Haha, 3L itu lemah, lesu, lunglai. Lagian kamu kaya ngga bersemangat gitu. Kenapa emangnya?” kata Eni memperjelas pertanyaan sebelumnya.


“Oo gitu toh. Ngomong dong dari tadi En. Emm aku ngga apa-apa koh En, mungkin kurang enak badan aja.” Jawab Dira sekedarnya, dia belum menceritakan kejadian tempo lalu pada sahabatnya itu. Baginya, dia belum perlu menjelaskan apapun pada sahabatnya itu. Dia akan berusaha untuk menyembunyikan masalahnya, seperti janjinya pada Fahmi.


Lama mereka mengobrol hingga ruang rapat penuh dengan para anggota. Bagas juga telah hadir dan mulai membuka rapat. Mereka membahas berbagai kegiatan kedepan dan juga evaluasi kegiatan yang sudah berlalu.


Pada sesi terakhir, Bagas mengumumkan bahwa FOSEI menjadi salah satu UKM pilihan yang akan mendelegasikan anggotanya untuk mengikuti event debat nasional. Agar adil, maka akan diadakan tes bagi setiap kandidat yang berhak mengikuti.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2