
Pagi menyapa dengan hangatnya, namun tak sehangat hati Dira. Gadis itu masih memikirkan kejadian semalam. Beruntung Dira gadis yang pintar menyembunyikan perasaannya, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan teman-teman lainnya. Dirinya sudah siap untuk kegiatan hari ini, walaupun sedikit lemas karena mungkin kurang tidur, namun tidak membuat Dira lemah.
Dira keluar dari tendanya dan duduk di depan dengan sekotak susu dan roti di tangannya. Dira terbiasa sarapan sebelum memulai aktifitas, namun karena sarapan kali ini sedikit terlambat membuat Dira harus mengganjal perut dengan roti dan susu.
Dira mengarahkan pandangannya ke arah tenda kecil yang dia yakin adalah tenda milik Fahmi dan Tufail. Seseorang keluar dari tenda tersebut, yang tidak lain adalah Tufail. Dira mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak ketahuan oleh Tufail, karena sudah mengamati tendanya.
“Kenapa gadis itu mengamati tendaku? Hem sepertinya aku mengenal gadis itu, tapi dimana?” Tufail berkata sendiri dan terus mengingat siapa gadis yang tidak asing baginya itu.
Beberapa saat kemudian, Tufail mengingat tentang Dira yang dulu pernah menabrak dan mempermalukan dirinya. Dengan senyum smirknya, Tufail berjalan mendekati Dira.
“Hay bocil, lo ikut acara ini juga ternyata,” ucap Tufail ketika sampai di depan Dira yang masih menunduk memakan rotinya. Mendengar itu, Dira langsung mendongak dan melihat kanan dan kiri.
“Kenapa lo malah tengok kanan kiri?" Tanya Tufail bingung dengan tingkah Dira.
“Oh, Kakak ngomong sama saya?” tanya Dira menunjuk dirinya sendiri dengan polosnya.
“Ck. Memangnya siapa lagi yang ada di sini selain lo?” ucap Tufail jengkel dengan jawaban Dira.
“Oh kirain ngomong sama setan, soalnya ngga pakai salam.” jawab Dira yang membuat Tufail semakin jengkel.
“Kenapa lo selalu buat gue naik pitam si!” bentak Tufail yang mengundang orang-orang mengalihkan pandangannya ke arah Dira dan Tufail.
Lama mereka berdebat dengan Dira yang selalu menjawabnya santai dan Tufail yang menjawab dengan nada suara yang semakin mengeras dan semakin kesal dengan Dira. Musuh lama datang kembali, mungkin judul itu cocok untuk mereka bedua.Bagas yang mendengar keributan itu segera melerainya.
“Sudah Dira, Bang Tufail. Tolong jangan ribut. Lagian apa yang harus diributkan. Maaf Bang, kalau ribut jangan di sini. Kalau masalah pribadi silakan selesaikan setelah acara ini selesai.” Tegas bagas pada Dira dan Tufail.
Dengan menahan amarah dan merasa sudah dipermalukan lagi, Tufail berdehem untuk menyetabilkan emosinya.
__ADS_1
“Nadira Arsyakayla, mahasiswi jurusan Ekonomi semester 3. Gue tandai lo, awas aja.” ucap Tufail yang langsung pergi begitu saja setelah mengatakan demikian.Dira hanya diam saja, tanpa takut dengan ancamannya itu.
"Kenapa harys takut, wong aku ngga salah koh. Pakai acara ngancam segala elah kaya yang iye banget," ucap Dira dalam hati, pagi-pagi udah dibikin jengkel aja, merusak mood banget asli.
“Dir, Bang Tufail ngga suka disenggol. Jadi kalau bisa lebih baik menghindarinya daripada harus berdebat dengannya,” nasihat Bagas pada Dira.
“Baik Kak. Maaf dan terimakasih untuk yang tadi,” jawab Dira tulus.
“Hem.” jawab Bagas singkat.
Kemudian Bagas kembali ke tempatnya untuk mengurus persiapan hari ini sekaligus pelantikan pergantian kepengurusan baru. Teman-teman lain juga mulai sibuk dengan urusannya masing-masing walau ada beberapa yang menatap tak suka dengan Dira. Entah apa alasan mereka tidak menyukainnya.
Namun gadis itu hanya merespon biasa saja malah justru melanjutkan meminum susunya yang belum habis. Dengan tergesa Eni datang dan langsung memberondong pertanyaan ke sahabatnya itu. Karena dia baru pulang dari kegiatan mandinya.
“Benar, Dir kamu ribut sama Kak Tufail lagi? Ada masalah apalagi, kenapa bisa kamu berurusan dengan dia lagi? Kamu ngga papa kan? Dia ngga nyakiti kamu kan Dir? Aduh aku khawatir tahu.” Cerocos Eni pada Dira yang hanya ditanggapi senyuman oleh Dira menampilkan gigi gingsul dan lesung pipinya.
“Huh, Eni sayang, seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja dan tadi hanya kesalahfahaman saja. Lebih baik sekarang kita siap-siap.” jawab Dira santai dan mengajak Eni kembali ke tenda.
Semua kejadian tadi tidak luput dari pandangan seseorang yang ikut tersenyum tipis dari balik tendanya. Dia adalah Fahmi yang saat ini tengah bersiap untuk kembali ke rumahnya karena ada acara mendadak. Ketika semua sudah berkumpul untuk acara selanjutnya, Fahmi langsung keluar tenda dan kembali ke rumahnya. Sebelumnya dia telah berpamitan dengan Bagas dan juga Tufail untuk pulang duluan.
......................
Sepanjang acara, Tufail hanya mengamati dan sesekali memberikan arahan. Pandangannya mengarah tajam pada Dira yang hanya dibalas dengan ekpresi datar, acuh tak acuh. Dira tidak perduli dengan keberadaan Tufail itu. Sampai acara pelantikan selesai, semua beristirahat kembali.
Dari balik saku celana kulotnya, Handphone jadul milik Dira berbunyi pertanda ada pesan masuk. Lagi-lagi nomor misterius yang pernah mengirm pesan bulan lalu.
...“Dira, tetap semangat ya. Tetaplah berbaik sangka, meski hatimu telah berkali-kali patah. Meski dunia telah mengecewakanmu bahkan sudah membolak-balikan kehidupanmu. Tetaplah menjadi pribadi yang ceria, lemah lembut dan pantang menyerah. Percayalah, jika hari ini pengorbananmu belum terbalaskan, Allah telah menyiapkan hadiah manis atas kesabaranmu, entah besok atau nanti"....
__ADS_1
Itulah pesan yang dikirim oleh nomor misterius itu.
“Sebenarnya siapa dia? Kenapa seolah-olah dia tahu segalanya tentang aku. Apa benar dia Aydan? Tapi kenapa dia tidak pernah membalas pesanku? Padahal nomornya masih aktif.” lirih Dira yang menatap bingung pesan tersebut. Namun isi pesan yang begitu mendalam membuat Dira merasa memilik semangat kembali. "Terimakasih mister misterius" ucapnya.
...----------------...
“Dorrr, hayuh ngelamunin apa kamu Dir?”tanya Eni yang tiba-tiba datang dan mengagetkan Dira.
“Hih kamu ini, ngagetin aja tahu. Ngga lagi ngelamunin apa-apa. Ya udah yuh siap-siap sebentar lagi kita pulang.” jawab Dira dan langsung menajak Eni untuk bersiap.
Hingga akhirnya acarapun di tutup dan mereka kembali ke rumah masing-masing. Karena hari sudah semakin sore bahkan hampir maghrib, Dira memutuskan untuk menginap di kos Eni karena tidak mungkin Dira kembali ke pondok malam hari. Namun sebelumnya, Dira dan Eni memilih untuk salat maghrib dan makan malam terlebih dahulu.
“En maaf ya, ngrepotin kamu lagi,” ucap Dira merasa tidak enak dengan Eni.
“Dir, kaya sama siapa aja kamu. Lagian kan kita sahabat, sesama anak rantau, jangan merasa sungkan begitu. Aku justru senang, jadi ada teman ngobrol dan ngga kesepian lagi,” jawab Eni dengan senyum tulus menghaisi wajah ayunya.
Dira yang diperlakukan demikian langsung tersenyum bahagia dan menghambur memeluk Eni.
“Ih apaan si Dir, lepas ngga? Aku masih normal ya Dir,” Eni meronta ketika dipeluk Dira.
“Heh. Pikiranmu En, aku juga masih waras kali. Amit-amit jabang bayi,” kesal Dira sembari mengetok kepalanya dengan tangannya.
Eni tertawa dengan tingkah laku Dira yang demikian. Dirinya memang sama dari kampung, namun tidak seperti Dira yang masih memegang tradisi ketok kepala sambil merapel “Amit-amit jabang bayi.”
Selesai salat Isya, kedua sahabat baik itu langsung merebahkan tubuhnya dan tidur dengan nyaman, walau mukena masih melekat di tubuh Eni.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1