
Rumah Sakit
Sayup-sayup terdengar adzan subuh, Aydan yang terbiasa bangun pagi pun, bangun lebih dulu dari Dira. Pertama kali yang dia lihat adalah wajah damai Dira yang masih tertidur.
“Cantik,” gumamnya lirih sembari tersenyum.
Aydan bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa bersama gadis ini. Tekadnya sudah bulat, apapun yang terjadi dia akan tetap bertahan dengan Dira. Namun bertahan tanpa ikatan yang jelas tentu akan membuatnya semakin khawatir. Khawatir tidak dapat menahan nafs*nya hingga melewati batas dan khawatir tidak bisa melindunginya. Terlebih mengingat apa yang disampaikan oleh seseorang yang kemarin Aydan temui dan ancaman ibunya.
Dengan punggung yang terasa ngilu dan badan yang kaku, Aydan berusaha turun dari ranjang ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil dan mengambil wudhu. Dengan hati-hati takut mengganggu tidur Dira, dia membuka pintu dan segera pergi ke kamar mandi yang ada di sebelah ruangannya.
Sekembalinya di kamar, ternyata Dira masih nyenyak dengan tidurnya. Aydan segera memakai sarung dan menggelar sajadah yang dia pinjam dari seorang perawat laki-laki di depan. Aydan juga ingat jika kemarin dia tidak melaksanakan salat ashar, maghrib dan isya’, maka dia akan mengqadhanya.
Dira bangun dan mengerjapkan mata, dipandangnya ranjang Aydan yang kosong membuat Dira tersentak dan panik. Tentunya tak berlaku lama karena beberapa detik kemudian dia menemukan Aydan yang tengah salat. Dira pun segera bangkit mengambil peralatan mandi dan baju gantinya menuju kamar mandi.
Ceklek
Suara pintu terbuka bertepatan dengan Aydan yang baru selesai salat. Dira masuk dengan wajah yang tampak lebih segar. Melihat Aydan yang kesusahan melipat sajadah dan sarungnya, Dira pun membantunya.
“Sudah cantik dan wangi ternyata,” ucap Aydan yang membuat Dira tersipu. Dengan cepat Dira memalingkan wajahnya serta melipat sarung dan sajadah itu lalu membantu Aydan untuk kembali ke tempat tidur.
“Perih ya, Dan?” tanya Dira yang melihat Aydan sedikit meringis.
“Lumayan, Sya. Mungkin karena efek obat biusnya sudah habis jadi terasa panas dan perih,” jawab Aydan.
“Maaf, Dan,” ucap Dira merasa bersalah, matanya bahkan sudah berkaca-kaca.
“Hey, ini bukan salah kamu, Sya. Ini juga udah jadi tanggungjawab aku buat lindungin kamu,” ucap Aydan menenangkan.
“Lagian aku juga udah lebih baik, apalagi dirawat sama perawat cantik ini,” ucapnya lagi dengan sedikit gombalan, namun Dira justru menangis.
“Jangan nangis, kemana Arsya yang tangguh hem? Kemarin aja bisa melawan serangan dua orang. Ternyata makin bagus ya ilmu beladirinya,” kata Aydan memuji sembari menghapus air mata Dira.
__ADS_1
“Itu juga berkat kamu sama bapak yang udah ngajarin aku bela diri,” jawab Dira merasa lebih baik.
Asik mengobrol, dokter dan dua perawat masuk untuk visit memeriksa keadaan Aydan. Syukurlah kondisi Aydan sudah lebih membaik, tinggal fokus pada lukanya. Perawat juga sudah mengganti perban dan juga infusnya.
Setelah dokter dan perawat keluar, Dira baru ingat jika sejak kejadian kemarin dia belum sempat membuka ponselnya, begitu juga dengan Aydan. Baru saja membuka ponselnya, berbagai notifikasi muncul tanpa berhenti.
Heboh pasti ini, batin Dira
Benar saja, ada banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari mamanya, kakaknya, sahabatnya dan teman-teman lainnya. Ditambah lagi dari group dan berbagai sosial media miliknya. Hal itu tentu membuat Dira dan Aydan yang mendengar bunyi notifikasi menjadi pusing sendiri. Setelah sedikit mereda, baru Dira membukanya satu persatu. Yang paling utama adalah pesan dari mama dan kakaknya.
Dira langsung saja menelfon orang tuanya, tak lama panggilan pun terjawab.
“Assalamu’alaikum Ra, Ya Allah koe kue maring ndi bae? Gawe wong tua khawatir, mbengi Yayumu (Kakak Dira) meng ngene jere weruh awakmu neng pesbuk lagi gelut. Kepriwe keadaanmu? Jere ana sing ketu*uk? Sapa? Lah siki kepriwe keadaane? Bapak karo Mama langsung lemes ndeleng videomu. Bapak karo Ibu meng ngono ya, Nduk?” ucap Mama Dira khawatir dengan suara yang serak, sepertinya sambil memangis.
“Asslamu’alaikum Ra, Ya Allah, kamu kemana saja? Bikin orang tua khawatir, tadi malam Kakakmu ke sini katanya lihat kamu di pesbuk sedang berkelahi. Bagaimana keadaanmu? Katanya ada yang ketu*uk? Siapa? Sekarang bagaimana keadaannya? Bapak sama Ibu langsung lemes melihat videomu. Bapak sama Ibu ke situ ya, Nak?” (arti kalimat Mama Dira atau Mama Yasi)
Aydan yang juga mendengar itu karena di loundspeaker langsung menggenggam tangan Dira memberikan kekuatan. Dira paham akan kekhawatiran mereka dan menyesal karena tidak langsung menghubungi mereka.
“Dira baik-baik saja Alhamdulillah masih dirahayu sama Gusti Allah. Kejadiannya sangat cepat, Dira juga belum tahu apa motifnya. Yang tertu*uk itu Aydan, Ma. Alhamdulillah dia sudah lebih baik sekarang. Dira juga masih menemaninya di rumah sakit. Mama sama Bapak tidak perlu ke sini, Insyaallah semuanya akan baik-baik saja,” jelas Dira singkat dan menenangkan, dia tidak ingin orang tuanya khawatir dan repot-repot harus ke sini.
"Alhamdulillah nek kaya ngono (Alhamdulillah kalau kaya gitu), Mama lega rasanya," ucap Mama terdengar lebih santai.
“Ra, video call meng Yayu bae. Ke Mama pengin weruh koe," (Ra, video call ke Kakak saja. Itu Mama pengin lihat kamu) terdengar suara Kakaknya yang menyaut. Dira pun mengiyakan dan beralih panggilan video ke ponsel Kakaknya.
“Assalamu’alaikum, Yayu. Wah ternyata lagi kumpul ya? Apa daging kambingnya masih? Hehe,” ucap Dira berusaha mencairkan suasana.
“Wa’alaikumsalam, Dek. Malah cengengesan, ini ngobrol dulu sama Mama, dari semalam nangis terus,” jawab Kakak Dira membuat Dira semakin tidak enak hati.
“Ra, tenan koe ora kenapa-napa?” (Ra, beneran kamu tidak kenapa-kenapa?) tanya Mama Yasi memastikan.
“Beneran, Ma. Dira nggak apa-apa. Nih, Aydan juga udah lebih baik,” jawab Dira dan mengarahkan layar ponselnya ke arah Aydan.
__ADS_1
Aydan kikuk dan sedikit gugup, pasalnya ini adalah kali pertama dia melihat dan berbicara langsung dengan orang tua Yasi, apalagi mereka sedang kumpul walaupun tidak terlihat ada Bapak Dira.
“Idih, ganteng Ra,” celetuk Yayu yang membuat Aydan tersipu, sedang Dira memutar bola matanya jengah.
“Kamu yang namanya, Aydan?” tanya Mama menggunakan Bahasa Indonesia, khawatir jika Aydan mungkin tidak bisa Bahasa Jawa karena dari wajahnya terlihat seperti anak kota.
“Assalamu'alaikum, Nggeh, Bu. Kula Aydan, Bu,” (Iya, Bu. Saya Aydan, Bu) jawab Aydan menggunakan Bahasa Jawa sembari tersenyum manis, hitung-hitung biar kesan pertamanya bagus, hihi.
“Wa'alaikumsalam, loh tenyata bisa bahasa Jawa, tak kira anak kota,” ucap Mama Yasi sembari terkekeh.
Alhamdulillah, Mama udah bisa tersenyum, batin Dira senang.
“Bisa, Bu. Saya juga orang desa, di sini cuma merantau. Ibu bagaimana kabarnya?” jelas Aydan sembari basa-basi.
“Alhamdulillah baik. Oh iya, bagaimana keadaanmu, Nak? Maturnuwun (terimakasih) sudah membantu Dira dan maaf kamu jadi terluka seperti itu” ucap tulus Mama Dira.
Aydan terharu mendengarnya, dia yang kurang kasih sayang dari seorang Ibu merasa perkataan Mama Dira itu begitu tulus dan nyaman. Bolehkah saat ini dia menangis? Tapi tidak, dia tidak ingin terlihat lemah sekarang.
“Syukur Alhamdulillah keadaan saya jauh lebih baik Bu, Ibu tidak perlu khawatir. Lagian Dira di sini juga merawat saya dengan sangat baik,” jawab Aydan sambil tersenyum ke arah Dira yang membuat Dira jadi salah tingkah.
“Alhmadulillah, semoga cepat sembuh. Jangan lupa nanti sarapan, belum sarapankan? Kalau ada apa-apa nanti bilang saja jangan sungkan, bilang sama Dira untuk telfon kami ya” ucap Mama Yasi dan Aydan dengan senang hati mengiyakan.
Mereka terus mengobrol dengan akrab, bahkan Dira hanya sesekali menimbrung obrolan. Pada saat panggilan akan diselesaikan, Aydan dengan cepat mencegahnya.
“Mohon maaf Bu, ada yang ingin saya sampaikan. Maaf jika saya kurang sopan atau lancang,” Aydan menjeda ucapannya untuk menarik nafas membuat orang yang menunggu menjadi penasaran.
“Apa boleh minggu depan saya bersilaturahmi ke rumah dan mengutarakan niat baik saya untuk melamar Nadira Arsyakayla, Bu?” sambungnya lagi dengan ekspresi yang serius.
Deg
Dia serius? Batin Dira berkecamuk.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...