
Kamar Dira
Aydan lantas berdiri dan mendekat ke arah dimana Dira tengah berdiri. Dira yang melihat itu langsung gugup dibuatnya, pikirannya melayang entah kemana.
“Bolehkah?” tanya Aydan dengan srot mata yang begitu lembut.
Dira bukan anak polos yang tidak tahu dengan tatapan itu. Tapi jujur saja, ini pertama kalinya baginya dan tentu membuatnya sangat gugup.
Tangan Aydan memegang kedua pipi Dira hingga Dira mendongak dan tatapan mereka bertemu. Sangat dekat, semakin dekat dan..
Cup
Aydan mengecup puncak kepala Dira untuk kedua kalinya. Dira hanya diam meresapi, sungguh dirinya dibuat terpaku dengan keadaan ini.
“Kenapa diam saja, Sya?” tanya Aydan setelah mengecup mesra kening istrinya.
“Ah, tidak. A-aku hanya bngung saja, hehe iya bingung saja.” Jawab Dira yang masih canggung namun tak dapat menutupi rasa malunya.
Aydan jadi gemas sendiri, dia bukannya tak tahu kalau Dira sangat gugup dan malu, namun itu menjadi kesenangan sendiri bagi Aydan.
Aydan membawa Dira duduk ditepi ranjang yang cukup untuk mereka berdua. Karena tidak menyangka malam ini akan menjadi istri, maka tidak ada yang berubah dari kamar sederhana ini.
“Sya”, panggil Aydan.
“Iya, Mas” jawab Dira malu-malu karena ini kali pertamanya Dira memanggil Aydan dengan sebutan “Mas”.
Hati Aydan juga sama berbunganya, akhirnya panggilan itu keluar juga dari bibir mungil wanita yang selama ini selalu mengisi relung hatinya.
Tanpa berkata apapun, Aydan langsung memeluk tubuh mungil Dira hingga Dira tersentak kaget.
“Terimakasih sayang, terimakasih telah hadir dalam hidup Mas. Terimakasih sudah mau menerimaku yang Aku sendiri tahu kesalahan di masa lalu telah banyak membuatmu menangis. Izinkan Mas menebus semua kesalahan Mas, Sya. Mas tidak akan menjanjikan apapun, karena kehidupan juga pasti akan ada kesedihan. Tapi Mas akan berusaha membuatmu bahagia dan selalu memberikan yang terbaik untukmu.” Ucapan panjang Aydan yang baru pertama kali Dira dengar dan membuatnya begitu terharu. Dira tak mampu mengatakan apapun, dia hanya membalas pelukan Aydan yang begitu nyaman sambil tersenyum.
Cukup lama mereka saling berpelukan merasakan kenyamanan masing-masing. Hingga Aydan perlahan melepaskan pelukannya.
“Sya, ada satu hal yang ingin Mas sampaikan?” ucap Aydan dengan wajah begitu serius.
“Ada apa, Mas?” tanya Dira.
“Ini tentang Ibu, Sya. Aku yakin Ibu sudah tahu tentang pernikahan kita. Dan kamu tahu sendirikan, kalau Ibu…” belum sempat Aydan menyelesaikan ucapannya, Dira lebih dulu menyelanya.
“Mas, kita hadapi sama-sama ya. Mas tak perlu khawatir, Insyaallah aku akan baik-baik saja. Dan rumah tangga kita juga akan baik-baik saja,” ucap Dira menenangkan. Dira tentu tahu kekhawatiran suaminya. Semenjak kata sah terucap, maka Dira sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
__ADS_1
Aydan tersenyum sedikit lega karena tanpa Aydan menjalaskan, Dira sudah tahu apa maksudnya. Dalam hati, Aydan berjanji akan selalu menjaga wanitanya.
Tangan Aydan turun ke lengan Dira membuat luka di lengannya sedikit ngilu, hingga tanpa sadar Dira mendesis lara.
“Kamu kenapa, Sya? Apa ada yang sakit?” tanya Aydan khawatir, namun Dira hanya tersenyum dan menggeleng.
Aydan tidak tinggal diam, dia seolah tahu ada yang terluka di lengan Dira. Tanpa meminta izin, Aydan langsung menggulung lengan baju Dira hingga menampakan lebam di lengannya. Tatapannya langsung berubah tajam, membuat Dira sedikit takut.
“Ini luka apa?” tanyanya.
Huh, dira mengjembuskan nafasnya kasar, lalu berucap “Waktu sebelum pulang, aku jatuh dari motor, Mas” Dira sedikit menunduk mengalihkan tatapan Aydan padanya.
“Kenapa ngga langsung cerita? Ini pasti bukan jatuh biasa, coba mana lagi yang sakit?” tampak jelas raut khawatir di wajah tampan suaminya, membuat Dira merasa semakin bersalah.
Dira menunjukan bagian mana saja yang sakit, termasuk pada lututnya. Aydan berjongkok lalu mengecup luka Dira. refleks Dira sedikit menjauh karena tidak menyangka Aydan akan berbuat demikian.
“Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu, Sya,” ucap Aydan dengan menggenggam tangan Dira penuh sesal.
Dira tersenyum sembari berkata, “Ini bukan salahmu, Mas. Aku yang kurang hati-hati,”
Dira tidak akan menceritakan kejanggalan pada saat dirinya mengalami kecelakaan. Dia tidak mau membuat Aydan semakin merasa bersalah dengan kejadian ini.
Tapi tunggu dulu, Aydan ingat pada saat ayahnya cerita jika Ayah dan istrinya didiagnosa tidak dapat memiliki keturunan, lantas bagimana dengan Ainun?
Deg
Aydan diam melamun dengan pikiran berbagai macam. ”Apa jangan-jangan Ainun bukan anak kandung ayah? Lantas anak siapa?" batin Aydan.
“Mas” panggil Dira yang membuat Aydan tersadar kembali.
“Apa yang kamu pikirkan? Kenapa sampai melamun?” tanya Dira kembali.
“Tidak ada, Sya. Aku hanya memikirkan Ainun. Tadi aku belum sempat memberitahuinya. Dia pasti senang karena akhirnya kamu jadi kakak iparnya,” jawab Aydan sembari tersenyum, dia akan memikirkan Ainun nanti setelah bertemu dengan ayahnya.
“Ya sudah, nanti kita telfon Ainun. Oh ya, Mas. Nanti aku pinjamkan baju sama sarung Bapak tidak apa kan? Soalnya di rumah ini laki-lakinya hanya bapak. Hehe, lagian kamukan belum bawa baju ganti kemari,” Ucap Dira.
“Waduh, Mas nanti kaya bapak-bapak dong?” canda Aydan pada Dira.
“Ngga apa-apa, kan memang calon bapak dari anak-anakku” ucap Dira yang entah dari mana kata-kata itu muncul. Dia yang malu sendiri langsung berlari keluar sebelum Aydan menggodanya.
“Wah istriku padai menggombal juga ternyata, hahaha Aamiin,” timpal Aydan yang merasa semakin gemas dengan istrinya itu.
__ADS_1
Dia lantas bangkit keluar kamar menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, karena dia belum melaksanakan salat isya. Dia sengaja tidak mengajak Dira karena dia tahu kalau istrinya sedang palang merah. Dari mana dia tahu? Karena Dira yang memberitahukannya sebelumnya. Selain tidak dapat mengajaknya menjalankan kewajiban salat bersama juga otomatis tidak dapat mengajaknya melakukan kewajiban yang kata orang ternikmat.
Sekembalinya Dira dikamar, dia melihat Aydan yang tengah salat. Diletakkannya baju ganti untuk suaminya dan Dira mengambil pakaian ganti miliknya lalu membawanya untuk ganti di kamar mandi saja. Dirinya merasa malu kalau harus ganti dikamar.
......................
Alunan ayat suci mengalun dengan sangat indah, membuat sang pujaan hati terpaku di depan kamarnya. Suara itu tentu tidak lain dan tidak bukan adalah milik suaminya, Aydan.
“Masyaallah, Alhamdulillah Ya Allah,” lirih Dira penuh syukur.
Dira sangat bersyukur dan hatinya mengatakan bahwa dia tidak salah dalam memilih imam. Dengan pelan Dira membuka pintu kamarnya hingga Aydan menoleh ke arahnya.
Sembari tersenyum, Aydan memberikan isyarat untuk Dira berbaring dipangkuannya. Dengan malu-malu, Dira perlahan mengikuti kemauan suaminya itu. Dira begitu menghayati setiap kalimat yang keluar dari bibir suaminya. Matanya terpejam saking menghayatinya. Terlebih, tangan Aydan yang satunya mulai mengelus kepalanya.
Nyaman? Bahkan sangat nyaman. Inilah salah satu impian Dira setelah menjadi istri. Hatinya selalu bersyukur dan berharap selamanya akan dalam keadaan baik-baik saja.
Matanya kembali terbuka bertepatan dengan kalimat penutup yang Aydan ucapkan. Aydan sedikit membungkukkan badannya menatap mata istri mungilnya.
Cup
Satu kecupan meluncur manis tepat di bibir tipis Dira, membuat yang punya kembali merona “Ya ampun, ciuman pertamaku” jeritnya dalam hati.
“Manis,” ucap Aydan sembari terkekeh.
Dira langsung terduduk dan mencoba menetralisir rasa keterkejutannya itu. Belum sempat menghindar, Aydan kembali menariknya mendekat dan perlahan mulai memajukan wajahnya menggapai titik kesukaannya.
Dengan lembut, Aydan mulai mendalami rasa manis yang membuatnya candu. Walaupun baru pertama kalinya juga bagi Aydan, namun instingnya sebagai lelaki mampu memberikan yang terbaik bagi Dira.
Walaupun dengan kaku dan perasaan yang campur aduk, Dira menerimanya dengan ikhlas dan perlahan mulai mengikuti alur permainan suaminya. Rasa cinta mereka salurkan dengan penuh kehangatan. Saling meraup dan bertukar cinta yang saat ini mereka lakukan.
Cukup lama mereka menyesap manis, walaupun tetap didominasi oleh Aydan. Hingga sebelum tangannya mulai menjelajah untuk keinginan lebih, Aydan baru ingat bahwa istrinya belum bisa untuk diajak yang iya-iya. Terpaksa dia harus menahan dan menyudahi itu semua.
“Terimakasih, Sya.” Ucap Aydan dan diakhiri dengan kecupan di dahi istrinya. Dira yang tersipu malu hanya tersenyum dan mengangguk.
“Aku akan ganti baju dulu ya, setelahnya kita istirahat karena besok pagi, kita harus segera ke kota dimana kamu harus menimba ilmu,” ucap Aydan.
Tanpa rasa malu, Aydan mulai membuka bajunya, sedangkan Dira mengalihkan pandangannya. Sepertinya lama-lama dengan Aydan akan membuat jantungnya bekerja dua kali lipat.
“Jantung oh jantung..”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1