
Keesokan harinya, Dira yang sudah kembali ke pondok pesantren harus mengejar waktu karena ada perpindahan jam kuliah.
“Waduh, bisa kena tegur Pak Arya ini kalau sampai telat. Lagian kenapa harus pindah jadwal si, tahu gini tadi langsung aja ke kampus dari kos Eni. Mana tadi udah ngerendam baju lagi, bisa bau nanti. Hah, menyebalkan.” omel Dira sendiru sembari menuju parkiran.
15 menit Dira sampai di parkiran fakultasnya. 5 menit lagi pembelajaran akan di mulai, oleh karenanya dia harus berlari menaiki tangga sampai di lantai 3. Beruntung Pak Arya belum masuk, jadi aman dari si dosen kiler itu.
...----------------...
Sementara ditempat lain, Fahmi tengah mempersiapkan diri untuk mengisi seminar di kota Jakarta. Setelah acara pertunangan sepupunya kemarin, Fahmi langsung izin pada Abah dan Uminya untuk acara tersebut. Tentu saja, Abah dan Umi mengizinkan karena bukan pertama kalinya Fahmi meminta izin untuk urusan semacam itu.
Sebagai orang tua, Abi dan Umi Fahmi tentu bangga dan bersyukur dengan pencapaian putranya itu. Mereka sempat khawatir karena Fahmi yang dulu merupakan anak yang bandel dan sering terlibat masalah. Namun karena kesalahan yang besar, akhirnya Fahmi menyadarinya dan berjanji pada Abah dan Umi untuk berubah lebih baik. Jadilah Fahmi yang sekarang, anak yang cerdas dan membanggakan.
Setelah pamit, Fahmi langsung menuju kosnya terlebih dahulu. Dia harus mengambil beberapa berkas penting yang akan di bawanya. Tidak ada hal yang aneh semenjak keluar dari rumahnya. Namun, ketika melewati jalan yang sepi, Fahmi merasa ada yang mengikutinya dari belakang.
Fahmi menambah kecepatan laju motornya, namun sayang sepertinya hal ini sudah direncanakan hingga ban motor Fahmi bocor tertusuk paku yang sengaja disebar di jalan itu.
“Ya Allah, apa lagi ini.” geram Fahmi sambil terus berdo’a memohon perlindungan pada Sang Pencipta.
Kini Fahmi telah dikepung oleh 5 orang preman dengan badan yang cukup besar. Fahmi hanya menatap datar pada 5 orang yang semakin dekat dengannya. Hatinya terus berdo’a dan bertanya-tanya, mau apa mereka?.
“Cih, ternyata anak kemarin sore. Seberapa hebatnya anak ini, hingga bos cukup kewalahan.” ucap preman yang Fahmi yakini adalah ketua geng itu.
Kini Fahmi yakin bahwa mereka bukan preman biasa atau begal, melainkan orang suruhan seperti yang tempo lalu ingin membunuhnya.
“Mau apa kalian?” tanya Fahmi dengan tatapan tajam tanpa rasa takut sedikit pun. Urusan bela diri, Fahmi sudah tidak diragukan lagi dan jangan lupa dia juga mantan brandal yang hobi berkelahi, namun ada alasan yang mendasarinya.
“Ngga usah banyak bac*t! serang dia!" Perintahnya pada anak buahnya.
__ADS_1
Mereka berlima mulai menyerang Fahmi. Walaupun Fahmi pandai bela diri, namun tetap saja merasa kewalahan menghadapi mereka, 5 banding 1 dengan kekuatan yang besar pula.
...----------------...
Jam kuliah Dira telah usai, karena rasa lelah dan kefikiran dengan cuciannya, Dira pun memutuskan untuk segera pulang. Tidak seperti biasanya, entah kenapa rasanya Dira ingin melewati jalan yang lain. Jalan yang dilewati Dira saat ini merupakan jalan trobosan agar cepat sampai di pondok pesantren. Namun karena sepi, Dira merasa lebih aman untuk lewat jalan biasanya.
Dengan kecepatan sedang, Dira melajukan kendaraannya. Hingga dari kejauhan Dira melihat ada sekelompok preman yang tengah mengeroyok satu orang. Dira yang terkejut langsung menepikan motornya.
“Wah gimana ini? Kalau aku lewat bisa-bisa aku dalam bahaya,” Dira bergidik ngeri dengan kemungkinan yang akan terjadi.
“Tapi tunggu dulu, jaket itu sepertinya aku mengenalnya. Ah iya, itu jaket BEM Univ, siapa dia? Kasian sekali. Aku harus menghubungi siapa, sedangkan smartphoneku sudah aku titipkan ke Salwa. HP jadulku juga tidak ada pulsa untuk menelpon. Aduh bagaimana ini?” monolog Dira yang frustasi dan iba melihat sesama mahasiswa kampus U yang dikroyok itu.
Dira terus mengamati keadaan. Mulut dan hatinya tidak henti-hentinya berharap ada yang membantu mahasiswa itu. Dia juga berdo’a untuk keselamatannya. Netranya seketika melebar ketika salah satu dari mereka yang tadi sempat terpental, mengeluarkan sebuah pisau tajam dari balik jaketnya.
“Tidak. Apa dia akan dibunuh?” pikir Dira semakin kacau. Dilihatnya kayu yang ada tidak jauh dari tempat Dira. Reflex Dira berlari mengambil kayu dan mengarahkannya pada pria pembawa pisau itu.
“Bugh”
“Sya,” ucap mahasiswa itu terkejut. Dira yang juga terkejut mengarahkan pandangannya pada orang yang memanggil namanya.
“Kak Fahmi,” ucap Dira lirih.
“Kurang ajar, berani-beraninya bocah kecil!” teman preman itu marah karena Dira yang membuat bos mereka tersungkur dan pingsan.
“Habisi mereka berdua” titahnya kembali.
“Sya, pergi! Lari Sya, cepat!” teriak Fahmi khawatir dan amarahnya kian memuncak.
__ADS_1
“Jangan ganggu dia! Kalian hanya berurusan denganku, bukan dengannya. Biarkan dia pergi!" Ucap Fahmi lagi.
Dira bukannya pergi malah tetap diam di tempatnya. Fahmi yang melihat justru semakin frustasi dan emosinya semakin naik.
“Kenapa tidak lari, gadis kecil hem?” ucap preman tadi yang semakin dekat dengan Dira.
Dira tetap bersikap tenang walaupun hatinya juga cemas. Wah belum tahu dia siapa gadis kecil ini. Bapak, saatnya Dira menunjukan ajaran Bapak, ridhoi Dira Pak. Ya Allah mohon lindungi kami. Batin Dira.
“Hemm, daripada kau terluka, bagaimana kalau kita bersenang-senang saja gadis kecil, hem? hahahaha.” Fahmi yang mendengar semakin dibuat marah dengan ucapannya, namun Dira tetap santai seakan tidak terpengaruh dengan ucapan preman tersebut.
“Huh, menyebalkan. Hi Pak tua, harusnya diumurmu yang saat ini perbanyak ibadah pada Allah, bukan nambah dosa begini. Bagaimana anak dan istrimu jika tahu ternyata orang yang mereka anggap pahlwan keluarga adalah seorang preman. Mereka yang mengira sesuap nasi yang masuk di perutnya adalah halal ternyata malah haram. Bagaimana jika anak perempuanmu ada di posisiku saat ini, digoda lelaki tua seperti Anda?” ucap Dira yang membuat lelaki itu semakin kesal dan mengepalkan tangannya.
Dira berusaha untuk mengecohnya, biasanya kalau dikaitkan dengan keluarga pasti akan luluh. Biasanya. Ya apa salahnya dicobakan?
Preman itu terdiam sesaat dan menatap Dira dengan sorot mata yang berbeda. "Huh semoga luluh." batin Dira.
“Aku duda tanpa anak. Cukup basa-basinya. Jeno bereskan anak ini.” perintanya pada temannya itu.
Dira kaget ternyata usaha yang pertama gagal. "Waduh tenyata dia duda, oh ya ampun cara ini tidak berhasil. Terpaksa deh pakai tenaga, padahal udah 3L ini, lemes lemah lunglai mana laper lagi. Hih baiklah. Bain Dira berkata. Dira segera memasang kuda-kuda dan siap melawan preman itu. Dira dengan gesitnya melawan preeman tersebut.
Fahmi yang sudah membuat dua preman terkapar, kini dia cukup terkesima dengan Dira yang ternyata bisa bela diri. Pandangannya beralih pada preman yang satunya dan langsung saja menyerangnya. Tidak butuh waktu lama untuk Fahmi dan Dira membuat para preman terkapar.
“Siapa yang sudah menyuruh kalian hah?” bentak Fahmi pada salah satu preman yang masih sadar.
“Aa ku tidak tahu,” jawabnya sedikit terbata.
“Aku tanya sekali lagi. Siapa bos kalian, atau aku patahkan tangan ini?” Fahmi menginjak lebih kuat tangan preman itu hingga merintih kesakitan.
__ADS_1
"Aaarkkkhhhh..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...