Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Rasa yang Berbeda


__ADS_3

Fahmi dan Dira


Fahmi ingin pertemanan antara dirinya dan Dira tetap baik-baik saja, walaupun Fahmi sadar betul bahwa pertemanan antara pria dan wanita pasti ada rasa lain diantara mereka. Sama halnya yang dirasakan Fahmi, biarkan rasa itu hanya miliknya. Dialah yang membuka maka dia juga yang akan menutup.


Fahmi akan menganggap Dira sebagai adiknya yang entah kenapa dirinya seolah ingin terus melindungi dan memberikan kenyaman pada gadis itu. Anggap saja kasih sayang seorang kakak pada adik perempuannya.


“Masih banyak tugasnya, Sya?” tanya Fahmi yang masih setia menemani Dira mengerjakan tugas. Sesekali Fahmi juga memberikan arahan pada tugas yang sedang Dira kerjakan. Walaupun beda fakultas maupun jurusan, bagi Fahmi itu hal yang mudah.


“Sudah, Kak. Tinggal dikumpulkan aja. Terimaksih ya, Kak,” jawab Dira berterimakasih dan dengan senyum yang mengembang sempurna memperlihatkan gigi gingsulnya.


Fahmi pun ikut tersenyum melihatnya. Senyum yang selalu menjadi bayang-bayangnya akhir-akhir ini harus Fahmi relakan untuk orang lain. Dirinya sepakat akan menyimpan ini sebagai kenangan.


“Ya sudah, sekarang kamu kumpulkan dulu tugasnya. Kita pulang bareng, Kakak tunggu di parkiran ya,” ucap Fahmi lagi-lagi dengan sneyum manisnya.


Perubahan yang Fahmi tunjukan pada Dira membuat Dira merasa tidak enak, namun dia harus tegas agar tidak memberikan harapan palsu pada Fahmi. Fahmi yang awal dikenalnya sangat dingin dan sedikit bicara, sekarang jauh lebih hangat dan banyak bicara, meskipun sifat keras kepalanya masih seperti biasanya.


Dira pun menyetujui ucapan Fahmi dan segera mengumpulkan tugasnya. Dira menuju ruang dosen sedangkan Fahmi menuju parkiran Fakultas Ekonomi dan Bisnis khusus mahasiswa.


Gosip mereka berdua pun semakin hari semakin ramai diperbincangkan. Seakan tuli, baik Dira maupun Fahmi tidak pernah menghiraukan gosip tersebut. lama-lama juga terungkap faktanya dengan sendirinya, pikir mereka.


Setelah mengumpulkan tugas, Dira langsung menuju parkiran. Namun sebelum sampai, ponsel yang sejak pagi didiamkannya pun tiba-tiba berdering tanda ada panggilan masuk. Dilihatnya layar ponsel miliknya yang tertera nama “Mama” memanggilnya.


“Assalamu’alaikum, hallo Ma,” ucap Dira setelah menggeser tombol hijaunya.


Sambungan pun langsung terhubung antara mamanya dan Dira. Awalnya Dira merasa biasa saja, namun setelah mama dan bapaknya mengucapkan sesuatu membuat Dira diam membeku. Pikirannya melayang jauh dengan perasaan yang bercampur aduk hingga Dira sulit untuk mendeskripsikannya.


“Nggeh, Ma. Mangke sonten Dira izin wangsul (Iya, Ma. Nanti sore Dira izin pulang). Wa’alaikumsalam,” selesai sudah telfon dari Mamanya itu.


Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di atas kepalanya, mendadak pening melanda dengan berbagai gejolak yang Dira rasakan. Langkahnya seakan melambat, tapi beberapa menit kemudian dia langsung mempercepat langkahnya.


“Lebih baik aku izin langsung saja nanti,” lirih Dira.


Sesampainya di parkiran, Fahmi sudah menunggu di atas motor sport miliknya. Dira yang datang dengan raut wajah yang berbeda dengan terakhir dilihatnya membuat fahmi bertanya-tanya, kenapa bocah itu? Batinnya.

__ADS_1


“Kak, aku langsung pulang ya,” ucap Dira sembari memasang helm miliknya.


Sebenarnya Fahmi ingin melayangkan protes karena dia berniat untuk mengajak Dira makan terlebih dahulu. Sudah lama mereka tidak makan bersama. Namun mengingat raut wajah Dira yang berbeda, Fahmi pun menyetujuinnya. Dirinya juga akan pulang ke kos untuk beristirahat.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan kampus. Tanpa sepengetahuan Dira, Fahmi pun membuntuti Dira dari belakang. Hatinya seakan menarik untuk mengikuti Dira sampai di tujuannya.


Dira yang fikirannya bercabang menjadi tidak fokus saat mengendarai motor, hingga seekor kucing yang menyebrang membuat dirinya kaget dan refleks menghindar. Baru saja merasa lega dapat menghindari kucing itu, Dira merasa ada yang tidak beres dengan motornya. Benar saja, ketika di turunan motor meticnya mengalami rem blong hingga sulit dikendalikan.


Satu mobil yang menanjak entah sengaja atau bagaimana seakan mendekat ke arah motor Dira. Belum sempat mengindar, motornya pun diserempet oleh mobil tersebut hingga jatuh dan Dira terseret beberapa meter dari lokasi.


Fahmi yang melihat itu langsung berteriak dan mempercepat laju motornya, pasalnya tadi dia sempat terjebak di lampu merah terlebih dahulu. Fahmi turun dari motor dan berlari mendekati Dira yang terkapar di jalan. Beberapa kendaraan juga berhenti ,entah sekedar melihat atau menolong.


“Sya” panggil Fahmi dengan deru nafas yang tidak teratur bercampur cemas.


“Kak, sakit,” ucap Dira lirih menahan sakit.


Langsung saja Fahmi mengangkat tubuh mungil Dira. Beruntung ada salah satu bapak-bapak pemilik mobil yang dengan suka rela menolongnya. Dibawanya Dira ke rumah sakit terdekat.


“Sya, Kakak mohon kamu harus kuat ya,” ucap Fahmi menyemangati Dira yang mulai memejamkan mata. Raut khawatir jelas tergambar di wajah tampan Fahmi. Tidak butuh waktu lama, mereka pun sampai di rumah sakit dan Fahmi langsung menggendong tubuh Dira ke dalam.


......................


“Mamp*s”, umpat wanita itu.


“Siap suruh bermain-main dengan Amira, jadi begitukan. Lagian untuk apa bersikap baik dengannya, buang-buang waktu,” ucapnya lagi.


Dia adalah Amira yang dengan ambiusnya ingin memusnahkan Dira bagaimana pun caranya. Rencana kecelakan Dira juga Amira yang melakukannya.


“Amira, apa kamu sudah puas, Nak?” tanya wanita paruh baya yang tidak lain adalah Rani.


“Tentu saja Tante, jangan lupa rencana kita selanjutnya. Cepat bawa anak manja Tante itu ke sini! Aydan hanyalah milikku. Hahaha,” entah rencana apalagi yang akan mereka lakukan.


......................

__ADS_1


Aydan


Sepulang dari rumah Dira, Aydan pun pamit pulang ke rumahnya. Dia dan Aris berencana akan kembali ke kota setelah lamaran dirinya dan Dira yang tadi telah disepakati yakni besok malam.


Aydan mengantar Aris pulang dulu ke rumah, baru dirinya pulang ke rumahnya. Jarak yang tidak terlalu jauh dan masih searah menjadi tidak memakan banyak waktu. Jujur saja, perjalanan yang cukup jauh dan mereka belum istirahat sama sekali membuat tubuhnya merasa pegal-pegal.


Aydan berharap Ayahnya sudah lebih baik dan ibunya tidak ada di rumah hingga dia bisa leluasa mengutarakan niatnya pada sang ayah. Rumah yang cukup besar untuk ukuran rumah dikampung itu terlihat sepi.


“Assalamu’alaikum,” ucap Aydan sembari mengetuk pintu rumahnya.


Dari dalam terdengar suara seseorang menjawabnya. Ketika pintu dibuka, seorang pria paruh baya namun masih bugar menyambutnya.


“Eh, Aydan. Kepriwe kabare? Monggo-monggo masuk dulu,” sambut Pak Didi yang selama ini merawat Ayah Aydan. Pak Didi ini sudah seperti keluarganya sendiri.


“Kabar Aydan baik Paman. Paman apa kabar?” tanya Aydan baik.


“Seperti yang kamu lihat, Paman baik-baik saja. Oh ya, Bapak lagi di kamarnya Dan. Kamarmu juga selalu Paman bersihkan, jadi kalau mau langsung istirahat juga bisa. Tenang saja, Ibumu sedang tidak ada di rumah, sudah seminggu lebih,” ucap Paman pada Aydan.


Tanpa diberitahu juga Paman seakan mengerti apa yang Aydan pikirkan. Satu-satunya orang yang tahu tentang perlakuan ibu padanya dan adiknya hanya Paman Didi, sebelum Dira dan keluarganya tahu.


Aydan memilih untuk langsung menemui Ayahnya di kamar. Dengan pelan, Aydan pun membuka pintu kamar ayahnya. Dilihatnya tubuh ayahnya yang semakin kurus membuat dirinya merasa sakit.


“Ayah,” panggil Aydan pada Ayahnya.


“Aydan, Nak. Kenapa tidak pernah menjenguk ayah? Apa kamu lupa dengan tubuh kurus ayah ini, hem?”


tanya sang Ayah sembari memeluk tubuh Aydan erat.


“Maafin Ayah yang gagal menjadi Ayah untuk anak-anak Ayah, Dan,” bisiknya pada Aydan dengan suara serak menahan tangis.


Tanpa berkata apapun, Aydan hanya membalas pelukan sang Ayah yang sudah lama dirindukannya. Ayah yang menjadi perisai dalam hidupnya kini telah kembali. hanya rasa syukur yang Aydan ucapkan dan semoga rencananya berjalan dengan lancar.


“Yah, besok malam Aydan akan melamar gadis yang Aydan cintai,” ucap Aydan pasti. Sedangkan Ayahnya hanya diam saja, entah setuju atau tidak.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2