
Lobi FEB
Apakah ini mimpi? Benarkah dia ada didekatku sekarang? batin Dira berkecamuk. Dia dapat melihat dengan jelas seseorang yang kini tengah memandangnya. Dia yang menghilang tanpa pamit, dia yang berkali-kali menorehkan luka dihatinya. Namun bodohnya, dia pula yang tetap menjadi tujuan dalam do’anya, penantiannya dan juga cintanya.
“Ay-dan”, lirih Dira yang masih didengar jelas oleh Aydan.
“Iya. Ini aku Sya”, jawabnya.
Sekuat hati Dira menahan air matanya. Entah apa yang dirasakannya saat ini. Bukan karena sakit diperlakukan seperti tadi oleh Tasya, tapi karena sosok yang kini ada di depannya. Tenggorokannya terasa kering, bibirnya kelu tak mampu berkata apapun.
Aydan menatap tajam gadis yang tadi menarik jilbab Dira, membuat gadis itu gelagapan sendiri.
“Gue ngga tahu apa masalah lo sama dia. Tapi sekali lagi lo nyakitin Arsyaku, lo berurusan sama gue!” ucap Aydan tegas.
Tasya berdecak kesal dan sedikit ketakutan. Dia pun lantas pergi meninggalkan Aydan dan Nadira yang masih menjadi pusat perhatian. Aydan membantu memunguti buku Dira yang terjatuh dan membawa Dira untuk duduk dibangku yang kosong, tak peduli dengan orang-orang yang memandangnya atau mungkin sedang memanfaatkannya sebagai konten.
Dira hanya diam saja, semakin menunduk hingga air mata meleleh begitu saja. Dia tidak tahu harus bagaimana. Tunggu dulu, apa tadi? Arsyaku katanya. Ingin sekali dirinya menjerit meluapkan segala sesak di dadanya, namun urung. Yang benar saja berteriak di kampus pula.
“Sya”, panggil Aydan lembut, namun Dira masih saja menunduk.
Tanpa permisi, Aydan berjongkok di depan Dira dan memegang kedua pundak Dira. Dira yang kaget mendongakan wajahnya. Astaghfirullah. Ingin menghindar karena posisi ini salah, namun lagi-lagi pilihannya tak selaras dengan hatinya.
Melihat air mata yang meleleh di pipi Dira membuat Aydan makin merasa bersalah. Sekuat tenaga dia juga menahan ari matanya. Sakit sekali rasanya.
“Maaf”, hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Aydan sembari menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Dira.
Bukannya berhenti, Dira justru makin terisak tertahan, dengan kedua telapak tangan dia gunakan untuk menutupi wajahnya.
Aydan dengan setia berlutut di depan Dira sembari mengelus pundak Dira sayang. Dirinya juga bingung harus berbuat apa. Entah takdir apa yang saat ini tengah bergelombang dalam dirinya.
Interaksi keduannya juga mengundang tatapan baper bagi siapa pun yang melihatnya. Ada pula yang langsung menduga bahwa lelaki yang bersama Dira saat ini merupakan kekasihnya yang sessungguhnya, mengikis gosip yang tengah beredar hanya mengada-ada.
Setelah Dira cukup lega, dia kemudian menghapus kasar air matanya. Aydan yang menyadari itu, lantas berdiri dan memegang buku Dira. Aydan menarik lembut tangan Dira untuk berdiri dan keluar dari lobi. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Dira. Dia hanya pasrah, pikirannya sangat kacau kali ini, antara marah, kecewa, rindu dan berbagai rasa lain bertumpuk jadi satu.
Sungguh lengkap.
...----------------...
__ADS_1
Rumah Fahmi
Sementara itu, Fahmi yang masih bersiap di kamarnya baru saja menerima telfon dari Bang Adam jika agenda rapat hari ini akan dimajukan. Mau tak mau dia harus segera bersiap dan menyiapkan segala hal yang sudah dikirim sebelumnya oleh Adam. Selesai bersiap, dengan sedikit tergesa dia melangkah keluar dari kamar.
“Loh katanya ngga ada kuliah hari ini, Bang?” tanya Umi begitu melihatnya keluar dari kamar.
“Memang Mi, tapi barusan Bang Alvian telfon kalau ada rapat yang dimajukan dari jadwal hari ini. Jadi Fahmi mau ke kantor. Sekalian nanti ada pengecekan posko KKN, Mi” Jelasnya.
“O gitu. Udah sarapan belum?" tanya Umi menimpali.
"Udah, Mi" jawabnya singkat.
" Ya udah, hati-hati ya Nak, Jangan terlalu diforsir. Nikmatilah masa mudamu” ucap Umi Fahmi yang begitu bangga dengan putranya itu. Tetapi juga terbesit sedikit kekhawatiran.
“Siap Umi. Kalau gitu, Fahmi pamit ya Mi.” Dia meraih tangan Uminya untuk menyalaminya dan menciumnya takdzim. Tak lupa dia juga mencubit gemas pipi adiknya yang ada digandengan Umi. Anak kecil itu sedari tadi hanya memperhatikan interaksi Kakak dan Ibunya.
“Abanggggggg” marahnya yang justru membuat Fahmi tergelak.
“Abang, jangan jahil deh.” Nasihat Umi Fahmi.
Umi hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Fahmi memang seperti itu selalu saja menjahili adiknya. Namun di balik itu, Fahmi sangat menyayangi Reyhan. Jarak usia mereka terpaut jauh. Fahmi yang sejak dulu menginginkan adik membuatnya sangat menyayanginya.
“Oh ya ampun, kenapa bisa lupa. Ck, nanti saja deh aku tanya anaknya” ucap Umi Fahmi yang teringat pada suatu hal tentang gadis yang dilihatnya di mall bersama Fahmi.
......................
Aydan
Di sinilah mereka sekarang, di taman belakang kampus yang lumayan sepi. Sunyi, hanya semilir angin yang melambai tak bersuara. Dua insan yang duduk berjarak sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Setelah hampir seperempat jam, barulah terdengar satu kata yang terucap dari bibirnya.
“Maaf” begitu katanya.
Dira mendongak dan melihat ke arahnya sekilas, tidak lantas menjawab membuat dirinya semakin diliputi rasa bersalah. Dilihatnya gadis mungil itu berulangkali menghembuskan nafas mencoba menenangkan diri, air mata sudah mengering tak tersisa.
“Kemana?” satu kata berhasil lolos dari bibir Dira yang terdengar bergetar.
__ADS_1
Dengan perlahan, dia mulai menuturkan kata yang menjadi alasan mengapa dirinya menjadi seorang pengecut.
“Aku minta maaf Sya. Maaf atas segala luka dan kecewa yang aku torehkan sama kamu” dia menjeda ucapannya untuk menghela nafas panjang.
“Aku tak bermaksud untuk menghilang begitu saja. Keadaan yang harus membuat kita menjalani ini semua. Aku pun tak ingin semua ini terjadi Sya, aku hanya tak ingin kamu semakin terluka” sambungnya.
Buru-bu Dira memotong ucapannya. “Terluka?”, dengan senyum pedih Dira bertanya demikian.
“Dengan menghilangnya kamu justru yang membuat aku semakin terluka” ucap Dira lagi, saking banyaknya rasa kecewa membuat dia bingung sendiri dengan apa yang harus dilontarkan.
“Maaf” lagi-lagi kata itu yang mampu dia ucapkan.
“Kamu tahu? Setengah tahun aku selalu menunggu janji seorang pria yang dengan gamblang, meyakinkan kalau dia bakalan jadi ruang untuk segala ruang dalam hidupku. Kapan pun, dimana pun dan segalanya. Tapi apa? Pria itu tiba-tiba menghilang tanpa pamit. PHP! Tapi bodohnya aku selalu menunggu, aku selalu meyakinkan diri bahwa dia bakal kembali. Aku tak pernah perduli dengan banyak orang yang mungkin akan mencibir dengan kata yang menyakitkan dari alasan kebodohanku,” Dira menjeda kalimatnya sembari menghapus air mata yang kembali mengalir. ck, cengeng. Pandangnnya lurus ke depan.
“Kamu tahu?...” Dira menghentikan ucapannya karena langsung dicegah oleh Aydan.
“Cukup Sya. Jangan diteruskan”, ucapnya lembut namun tegas.
Dira justru menggelengkan kepalanya dan meneruskan kalimatnya.
“Aku dengan tak tahu diri bahkan meminta sama Allah untuk selalu menyebut satu hambanya, aku meminta pada-Nya untuk pria itu kembali.” sambungnya.
“Sya”, katanya sembari mengikis jarak dengan Dira.
“Kenapa Aydan? Kamu kemana saja?” tanya Dira dengan mengalihkan pandangnnya menatap Aydan.
Miris rasanya melihat seseorang yang disayangnya begitu terluka karenannya. Kekecewaan mendalam jelas terlihat dimata indah milik seorang Nadira.
Dia lantas menjawab pertanyaan Nadira dengan berhati-hati. Huh.
“Sebelumnya aku minta maaf karena begitu dalam menyakitimu, Sya. Aku minta maaf atas segala kecewa yang aku torehkan. Aku tak bisa menggambarkan seberapa besar rasa kecewamu padaku, karena saking besarnya. Namun percayalah Sya, aku melakukan demikian karena tak ingin kamu terluka. Benar, dengan aku menjauh darimu juga luka itu semakin melebar. Namun jika aku tak menjauhimu, ada luka lain yang semakin melebar.” Kalimat panjang yang terlontar yang masih membuat Dira bingung, namun Dia hanya mendengarkan saja.
“Sya, aku datang ke sini untuk menjelaskan segalanya. Jujur saja, aku sama terlukannya, Sya. Aku memang pengecut yang justru menghilang bukan menyelesaikan. Aku terlalu takut kamu dalam bahaya, aku tak ingin orang itu melukaimu barang sehelai rambut pun. Kamu dalam bahaya jika selalu bersamaku, Sya”, sambungnya menuntaskan penjelasannya.
Deg
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1