
Aydan
Entah kesialan apa hari ini hingga ban motornya bocor disaat genting seperti ini. Jarak menuju kampus Jakun masih lumayan jauh, namun karena kekhawatiran yang besar membuat Aydan mau tidak mau harus mendorong motornya itu sampai menemukan bengkel. Dilihatnya pesan masuk dari Dira yang membuat perasaannya makin tidak tenang.
Tinggal pengumuman? Berarti sebentar lagi, aku harus cepat. Ya Allah, mohon perlindungan untuknya. Aamiin. Ucap Aydan dalam hati.
Dia berusaha berlari sambil mendorong motornya dan Alhamdulillah menemukan bengkel. Aydan segera memesan ojek online dan motornya dia titipkan di bengkel itu. Tak butuh waktu lama, ojol datang dan mereka langsung menuju tujuan.
“Semoga belum terlambat,” harapnya lagi.
Sesampainya di lokasi yang Dira share lock, Aydan langsung berlari mencarinya. Bukan ke arah gedung, melainkan langsung ke seberang jalan fakultas yang entah kenapa feeling-nya mengatakan jika Dira ada di sana.
Benar saja, netranya langsung menangkap seorang gadis berjilbab yang dia yakini Dira sedang berusaha menangkis serangan dua orang lelaki bertubuh kekar.
Tanpa basa-basi, dengan nafas yang terengah Aydan membantu Dira.
“Aydan,” lirih Dira hingga fokusnya teralihkan.
Aydan menatapnya dan memberikan kode untuk Dira mundur. Namun terlambat, salah seorang dari mereka mengeluarkan pisau tajam yang siap menghunus punggungnya.
“Sya, awass!” teriak Aydan.
“Aaakkhhh” jerit mereka yang menyaksikan. Tentu saja, kejadian ini mengundang kerumuman termasuk Renata dan Sekar yang sudah kembali dan menyaksikan itu dengan syok.
“Aydan!” seru Dira yang berada dalam rengkuhan Aydan. Aydan hanya diam saja menahan perih di punggungnya.
Tadi, ketika pisau hendak menancap di punggung Dira, Aydan dengan cepat menarik Dira dalam rengkuhannya hingga pisau itu menancap pada punggung sebelah kiri Aydan.
Masih dalam pelukannya, Dira meraba punggung Aydan dengan tangan bergetar dan seketika air matanya luruh tak terbantahkan melihat darah segar ditangannya.
“Dan,” lirih Dira dengan bibir bergetar.
“Ssttt, aku ingin tidur sebentar dipelukanmu ini boleh, Sya?” tanya Aydan dengan suara yang amat lirih.
“Tidak! Aydan! Tolong! Tolong siapa pun panggilkan ambulan!” teriak Dira histeris pada orang-orang yang ada di sana.
Renata dan Sekar dengan beberapa orang yang di sana segera mendekat ke arah Dira dan membantunya. Tangis Renata dan Sekar pun pecah, apalagi melihat Dira yang tengah memangku kepala Aydan dengan posisi Aydan yang dimiringkan karena Pisau masih manancap di puggungnya.
"Aydan, aku mohon bertahanlah. Kamu udah janji sama aku kan, kamu ingat apa yang aku katakan pas di tamankan. Ya Allah, aku mohon bertahanlah, aku mohon Aydan," ucap Dira semakin lirih.
__ADS_1
Agam dan Adam datang disusul dengan Tufail dan Fahmi. Mereka langsung saja mendekat ke kerumuman itu dengan wajah yang penasaran dan panik.
Mata Fahmi langsung melebar ketika melihat Dira tengah terisak dengan seseorang dalam pangkuannya. Dia pun langsung berlari menghampiri mereka.
“Ada apa ini? Sekar, Rena, Sya ada apa ini dan siapa dia?” tanya Fahmi pada mereka, sedangkan yang menonton justru sibuk merekamnya. Inilah fenomena yang sangat miris, seakan rasa kepedulian terganti demi konten.
“Nanti kami jelaskan Kak, tolong bantu dia dulu,” jawab Sekar.
Dengan cepat, Fahmi dan yang lainnya membantu mengangkat Aydan ke mobil Tufail.
Deg
Ada perasaan yang entah apa yang dirasakan oleh Fahmi setelah melihat wajah Aydan. Bukan saatnya untuk bertanya siapa, nalurinya berkata untuk segera menyelamatkannya.
Fahmi, Tufail, Dira dan Aydan dalam satu mobil. Dira memangku kepala Aydan dengan air mata yang terus mengalir. Bibirnya tak mampu berucap, dadanya terasa sesak, dalam hatinya hanya merapelkan dzikir dan permohonan keselamatan Aydan.
Fahmi yang melihat dari kaca spion depan juga merasa sedih. Entah sedih karena melihat Dira yang menangis atau ikut sedih dengan kondisi seseorang itu. Kalau cemburu? Entahlah, mungkin sedikit karena Dira yang terus mengelus kepala orang itu.
“Sebenarnya siapa dia? Dan apa hubungannya dengan Dira? Bukankah dia juga yang belum lama aku melihatnya ketika bersama anak ABG di Kediri?” ucap Fahmi penasaran dalam hati.
......................
Sekar dan Renata berusaha memberikan dukungan pada Dira untuk lebih tegar. Walaupun belum mengetahui siapa itu Aydan, tapi mereka yakin jika Aydan merupakan orang yang Dira kenal, bahkan mungkin lebih dari kenal.
Cukup lama mereka menunggu, para perawat keluar masuk dengan berbagai peralatan yang dibutuhkan. Hingga dokter keluar dan mendekati mereka.
“Bagaiman keadaannya, Dok?” tanya Dira dengan suara bergetar. Ini adalah suara pertama yang mereka dengar sejak kejadian tadi.
“Pasien kehilangan banyak darah sehingga membutuhkan transfusi darah segera,” Dokter menjeda kalimatnya.
“Tapi, sayangnya golongan darah pasien sangat langka dan labolatorium rumah sakit kami tidak ada stok darah tersebut,” sambung sang Dokter.
“Ya Allah, bagaimana ini?” ucap Dira penuh dengan kecemasan.
“Kalau boleh tahu, golongan darah pasien apa ya, Dok? Kami akan segera mencari bantuan, mungkin saja teman-teman kami ada yang memilikinya juga,” ucap Fahmi yang entah kenapa merasa dia perlu melakukannya.
“Golongan darah dengan rhesus negatif. Golongan darah ini sangat langka bahkan hanya 1-2% orang Asia yang punya golongan darah ini. Rhesus negative hanya dapat menerima dari darah yang sama,” jelas Dokter.
Deg
__ADS_1
Fahmi lagi-lagi merasa aneh, karena golongan darahnya sama dengan golongan darah Aydan. Abinya juga memiliki golongan darah yang sama. Sedangkan Dira yang mendengar itu, lemas seketika hingga ingin pingsan rasanya.
“Saya rhesus negative,” ucap tegas Fahmi yang membuat mereka mengalihkan pandangan ke arahnya, termasuk Dira.
Tenaga Dira seakan kembali dan dengan cepat Dira mendekati Fahmi.
“Kak, apa Kakak bisa mendonorkan darah Kakak untuk Aydan? Aku mohon bantu dia, Kak. Aku mohon selamatkan dia, Kak,” ucap Dira penuh harap. Fahmi yang melihatnya merasa iba sekaligus cemburu.
“Begitu berartinyakah dia untukmu, Sya?” batin Fahmi seraya menatap mata sembab milik Fahmi.
Tanpa berlama-lama, Fahmi pun menyanggupi dan itu berhasil membuat senyum tipis terbit dari bibir Dira. Mereka yang disana juga ikut merasa lega.
Fahmi mengikuti perawat untuk cek darah sekaligus donor terlebih dahulu. Namun sebelum donor, Fahmi disuruh beristirahat agar tekanan darahnya stabil.
Karena kejadian ini terjadi di kampus, tentu saja pihak kampus Jakun juga terkena imbasnya. Beberapa video mulai menyebar di media sosial membuat kasus ini semakin didalami oleh pihak kepolisian, terlebih para tersangka yang berhasil kabur.
......................
Sementara itu, seseorang tengah mengamuk karena rencananya gagal.
Plak Plak Plak
“Bodoh! Bodoh! Bodoh! Begini saja kalian tidak becus!” maki seseorang itu sembari menampar anak buah suruhannya yang tadi menyerang Dira da Aydan.
“Lihat! Kalian justru mencelaki orang yang aku inginkan!” teriaknya lagi penuh emosi dan mereka yang kena getahnya hanya diam saja.
“Jika kekerasan tidak membuatmu mundur, maka cara manis mungkin akan membuatmu terhempas, wuss jauh.” ucap perempuan itu dengan senyum smirk layaknya psikopat.
Dia adalah Amira yang menginginkan Aydan sejak dulu. Dia akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keinginannya. Setelah memberikan pelajaran kepada anak buahnya, dia pun pergi begitu saja.
......................
Aris yang saat itu tengah bersantai sembari membuka media sosialnya juga dibuat terkejut dengan berita trending saat ini. Terlebih dia mengenali siapa yang ada di video tersebut.
“Aydan! Nadira! Ya ampun, bagaimana bisa?” monolognya dalam hati.
Dia pun langsung bergegas mencari info dimana Aydan dilarikan. Setelah dapat, dia langsung berganti pakaian, mengambil dompet, tas kecil dan kontak motor menyusul Aydan.
“Nadira!”
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...