
Adek!” Teriak Rozak kala gunting itu siap menancap di leher istrinya.
Berbagai ancaman Hanin lontarkan untuk mempertahankan bayi itu. Hingga akhirnya mau tak mau Rozak pun mengikuti kemauan istrinya. Astaghfirullah, ampuni hamba dan istri hamba ya Allh, lirih Rozak dalam hati. Dia berjanji akan terus menyayangi dan merawat bayi itu seperti anaknya sendiri.
“Terimakasih Abang. Maafin Adek, Bang. Tapi kali ini, Adek mohon bantu keinginan Adek buat rawat bayi ini, Bang.” Mohon Hanin pada Rozak yang sudah luluh dengan keinginnnya itu.
Pada hari itu juga, Rozak dan Hanin memutuskan untuk kembali ke kampungnya bersama dengan bayi laki-laki mungil yang mereka kasih nama, Aydan Putra Nugraha. Mereka hidup bahagia dengan Rozak memutuskan menjadi guru ngaji bersama istrinya, walaupun begitu hatinya tak pernah tenang dan terus dihantui rasa bersalah. Hingga Hanin istrinya itu meninggal dunia karena sakit, hingga meningglakan Aydan kecil dan dirinya.
Flashback Off
“Begitulah ceritanya Pak,” ucap Rozak mengakhiri cerita dengan isak tangis penyesalan yang teramat dalam. Dadanya terasa semakin sesak.
Umi sudah menangis tersedu sedan dipelukan Ibu Dira, sedangkan Abi hanya menatap penuh luka pada sosok Aydan yang kini bingung bagaimana harus mengekspresikan.
“Berarti dia adalah adikku?” tanya Fahmi yang sejak tadi diam hingga semua mata mengalihkan padangannya padanya. Rozak hanya menganggukan kepala sebagai tanda jawaban "iya".
Dengan tangan yang begitu bergetar, Rozak juga menunjukan foto bayi Aydan dengan selimut terakhir yang membalut tubuh mungilnya. Tangis Umi kembali pecah, begitupun dengan Abi yang meneteskan air matanya. Tanpa tes DNA pun beliau sudah sangat yakin jika Aydan adalah putranya yang hilang.
Abi bangkit dan langsung memeluk Aydan sembari berbisik lirih, “Ini Abi, Nak,”
Aydan pun tak kuasa menahan haru hingga air matapun lolos begitu saja. Dibalasnya pelukan sang Ayah Kandung yang baru beberapa menit dikenalinya. Hampir semua orang yang melihatnya penuh haru ke hadapan mereka.
Setelah mengakhiri pelukan dengan putra keduannya itu, Abi mengalihkan pandangannya ke arah Pak Rozak yang saat ini juga tengah menatapnya.
“Pak Rozak, jujur saja saya sangat marah dan kecewa dengan Anda. Namun disisi lain, Anda dan Istri Anda juga sudah merawat putra kami dengan baik. Setelah acara ini selesai, kita akan membicarakan hal ini lagi,” ucap Abi dengan penuh ketegasan.
Pak Rozak hanya diam pasrah dengan kemungkinan hukuman yang akan diberikan padanya. Aydan yang khawatir jika Ayahnya akan diproses hukum pun langsung berucap, “Mohon Maaf Pak..”
__ADS_1
“Abi. Panggil Abi” potong Abi Fatih itu.
“Baik. Maaf, A-bi, tolong jangan bawa Ayah Rozak ke proses hukum, biar bagaimana pun, dia adalah Ayah terbaik yang aku punya,” lanjut Aydan mengutarakan keinginnnya.
Ada sedikit rasa tak enak kala Aydan mengatakan Rozak adalah ayah terbaiknya, namun Abi berusaha memaklumi itu.
“Insyallah, Abi tidak akan melakukan itu. Kami hanya akan membicarakan yang lainnya, Nak. Dan karena ini adalah acaramu, maka izinkanlah Abi untuk memenuhi kewajiban Abi melamarkan Nak Nadira untuk menjadi istrimu.” Jawab Abi Fatih membuat Aydan tersenyum sekaligus lega.
Dengan anggukan pasti, Aydan pun mengizinkan Abinya untuk melamarkan Nadira untuk dirinya. Dan atas kesepakatan bersama maka malam ini juga, Aydan akan menikahi Dira secara agama terlebih dahulu.
“Bismillahirrahmanirrahim, Ya Aydan Putra Nugraha Bin Muhammad Fatih Aditama, engkau saya nikahkan dan kawinkan dengan anak perempuan saya, Nadira Arsyakayla Binti Akhmad Khadir dengan maskawin uang tunai dua juta rupiah dan cincin emas 2 gram dibayar tunai.” Ucap tegas Pak Khadir sebagai wali dari Dira.
“Saya terima nikah dan kawinnya Nadira Arsyakayla Binti Akhmad Khadir untuk diri saya dengan mas kawin tersebut dibayar, tunai.” Jawab Aydan dengan penuh keyakinan.
“Sah” ucap kedua saksi dari pihak Aydan dan Dira bersamaan.
“Alhamdulillah” lirih Aydan penuh syukur.
Nadira dibantu Ibu dan Umi duduk disamping Aydan dengan senyum yang menghiasi wajah ayunya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Dira mencium telapak tangan Aydan sedangkan Aydan menyentuh kepala Dira sembari mengucapkan Do’a. Tidak lupa setelahnya Aydan mengecup kuning Dira penuh kasih sayang.
Momen itu tentu membuat siapapun yang melihat akan merasa baper sendiri. Dira jangan ditanya lagi, pipinya merasa panas semakin merona dibuatnya. Aydan begitu menikmati wajah Dira yang demikian dengan senyum manis yang jarang diperlihatkan banyak orang.
Sedangkan di sisi lain, Fahmi memandang dengan pandangan yang entah apa itu. Sakit tentu saja, biar bagaimanapun Dira merupakan wanita yang sudah memenuhi hatinya. Terlebih saat ini tanpa diduga justru lelaki yang mempersunting Dira adalah adik kandungnya sendiri, itu artinya Dira merupakan adik iparnya. Nasib-nasib, double sad. Sadboy yang sesungguhnya.
Abi yang juga mengetahui perasaaan anak sulungnya itu hanya menepuk punggungnya memberikan dukungan. Fahmi menghela nafas berat berusaha untuk tetap tegar. Toh pada kenyataanya, Aydan adiknya atau bukan, Dira tetap akan menjadi orang lain baginya.
Setelah ditutup dengan do’a, acarapun selesai hingga menyisikan keluarga inti saja. Ayah Rozak terpaksa harus pulang bersama rombongan mengingat kondisi kesehatannya yang kurang stabil. Ayadan meminta tolong pada Paman Didi untuk merawaat Ayahnya.
__ADS_1
“Nak, sekarang tanggungjawab Bapak pada Dira, Bapak serahkan kepadamu. Bapak mohon perlakukan Dira dengan baik, jangan sampai main tangan. Bimbing Dira menjadi istri yang baik, solehah dan mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik. Jika Nak Aydan sudah tidak menginginkan Dira, maka tolong kembalikan kepada kami dengan cara baik-baik.” Ucap Pak Khadir menyerahkan tanggungjawabnya pada Aydan.
“Aydan akan menjaga Dira sebaik yang Aydan bisa, Pak. Terimakasih atas kepercayaan Bapak pada Aydan. Semoga kami dapat membangun keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Aamiin”
Merka yang disana juga mengamiinkan kalimat Aydan. Setelah semua keluarga mengucupkan selamat dan sedikit petuah, kini giliran Fahmi yang mengucapkan itu pada Aydan dan juga Dira.
“Selamat, kamu adalah pemenangnya. Tolong jaga dia dan jangan pernah sakitin dia. Walaupun lo adik gue, kalau sampai ada apa-apa sama Sya, gue ngga akan segan buat ngrebut dia dari lo,” ucap Fahmi sedikit berbisik kepada Aydan.
“Dan hal itu tidak akan pernah terjadi.” Jawab Aydan tegas dengan raut wajah datarnya.
Kedua kakak beradik itu masih belum manampilkan kesan sebagai kakak dan adik. Mereka berdua sama-sama memiliki gengsi yang tinggi. Dan jangan lupakan sikap dingin keduannya, sepertinya putri elsa sangat betah bermain dengan mereka.
Walaupun lirih, ucapan keduannya masih terdengar jelas oleh Dira yang duduk berdampingan dengan Aydan. Dira hanya menggelengkan kepala melihat keduannya, ”Si kutub utara dan selatan ini mah,” batin Dira berdesis.
Malam kian larur membuat satu persatu anggota keluarga kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan keluarga Fahmi akan menginap di rumah Kakak Dira yang masih terdapat dua kamar kosong. Mereka berniat akan kembali ke kota besok pagi. Untuk pernikahan resmi dan resepsi akan mereka bicarakan kembali, dan kemungkinan bulan depan.
......................
Dira dan Aydan juga masuk kedalam kamar Dira yang sederhana. Pertama kali bagi keduanya dalam satu kamar yang sama membuat mereka canggung, terlebih Dira. Sedangkan Aydan terlihat nyaman-nyaman saja walau sedikit canggung.
“Sya,” Panggil Aydan pada Dira yang masih berdiri di dekat lemari.
“Iya?” jawabnya sedikit gugup. Aduh apakah semua orang ketika malam pertama akan segugup ini, batin Dira terus berkecamuk.
“Bolehkan?” tanya Aydan sembari bangkit fan melangkah mendeati Dira, membuat Dira bertambah gugup.
"Hah", jawba Dira kaget.
__ADS_1
Dan…
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...