
Hallo” ucapnya lagi.
Suara itu adalah suara yang Dira rindukan. “Aydan, ini Aydanku” lirih Dira dalam hati.
Air matanya mengalir dengan sendirinya. Rasa senang, kecewa dan marah menyelimuti hatinya. Senang akhirnya dapat hanya sekedar mendengar suaranya yang telah lama dia rindukan. Namun kecewa dan marah karena bagaimana mungkin dia yang berkali-kali menelfon tapi tidak diangkatnya sedangkan dengan nomor lain malah diangkatnya.
“Sebegitukah bencinya kamu Dan? Tapi apa salahku?” ucap Dira dalam hati. Lidahnya berasa kelu dan berat untuk menjawab sapaan dari seseorang di sabrang sana.
“Hallo”, ucapnya lagi. Dira yang mendengar tersentak kaget dan dengan cepat dia menghapus air matanya.
“Assalamu’alaikum” salam Dira sedikit terbata.
Tut
Panggilan langsung terputus dan itu Aydan yang memutuskannya. Hal tersebut membuat Dira semakin terisak. Lutfia yang melihatnya langsung merengkuh tubuh Dira, tangis Dira makin pecah dalam pelukan Lutfia.
Teman-teman lain yang tak sengaja lewat depan kamar Lutfia juga bertanya-tanya. Hanya dengan tatapan yang seolah bertanya “Kenapa?”, Lutfia menjawab hanya dengan menggelengkan kepala sebagai tanda tak tahu.
Lama Dira dalam posisi itu hingga dirinya tersadar dan segera melepas pelukan Lutfia.
“Maaf Mba Fia”, ucapnya sambil menghapus air matanya.
“Tidak apa-apa. Apa sekarang lebih tenang?” Tanya Lutfia yang hanya dibalas dengan anggukan kepala.
“Apa ingin bercerita?” tanyanya lagi.
Kali ini Dira menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dia tidak ingin menceritakan apapun tentang Aydan saat ini, cukup dirinya saja yang tahu. Lutfia pun tidak memaksa Dira, mungkin ini memang privasinya.
Sambil tersenyum lembut, Lutfia berkata “Jika memang berat, maka lepaskanlah. Jangan terpaku dengan satu ruang yang cahayamu pun tak sanggup meneranginya, karena masih ada ruang lain yang dapat dengan mudah menerima cahaya itu”.
Dira tertegun dengan kalimat yang diucapkan lurah pondoknya itu. Senyum tulus Lutfia membuat Dira juga ikut tersenyum tipis. Dia akan menenangkan diri terlebih dahulu, baru menentukan langkah apa yang akan dia ambil. Dia sadar, tidak baik bersikap berlebihan seperti ini. Namun, hatinya terlalu sakit hingga menangis adalah salah satu cara melepaskan bebannya.
__ADS_1
Setelah mengucapkan terimakasih, Dira kembali ke kamarnya. Sebelumnya, dia mengambil wudhu agar lebih segar dan tenang. Dia yang kacau tidak bisa berfikir jernih, sehingga memilih untuk tidur menenangkan diri dibandingkan belajar.
......................
Di tempat lain, Aydan yang tadi masih dijalan tidak mendengar bunyi ponselnya. Hingga ketika dia menepi di pom bensin untuk mengisi ulang sekaligus mengistirahatkan badannya sejenak, barulah dia mendengar jika ada panggilan masuk.
Awalnya dia mengabaikannya, karena nomor baru yang memanggilnya. Namun di panggilan kedua, dia yang penasaran akhirnya mengangkatnya.
“Hallo” begitulah sapanya pertama kali.
Lama tidak ada jawaban, hingga dia mengulanginya kembali. Terdengar suara salam yang membuat dirinya kaget dan tertegun. Suara yang mirip dengan orang yang saat ini menjadi tujuannya menemuinya.
“Arsya”, batinnya. Reflex dia justru memutus panggilan itu, karena saking gugupnya.
“Ah, sial. Kenapa malah aku matikan telfonnya. Dan Ya Allah banyak sekali panggilan masuk dari Sya. Aaah kacau, kenapa disaat seperti ini” frustasi Aydan.
Dia mencoba untuk menghubungi nomor telfon Dira, namun nomornya justru tidak aktif. Aydan semakin frustasi, rasanya dia ingin cepat sampai untuk menemui Dira.
Niat hati ingin beristirahat sejenak dia urungkan. Aydan memilih untuk melajukan kembali kendaraannya memecah malam yang walaupun sudah larut tetapi masih ramai. Hatinya berkecamuk, rasa marah, kesal dan bersalah menjadi satu.
......................
Pagi menyapa dengan indahnya, karena weekend membuat Fahmi lebih bersantai. Dia yang kembali ke rumah malam tadi, kini sedang menikmati pagi dengan melakukan olahraga di taman belakang rumahnya bersama Abinya. Dari arah dalam rumah, terdengar suara Umi Fahmi yang memanggil dia dan Abinya.
Ayah dan anak itu pun langsung masuk sesuai perintah sang ratu menuju meja makan. Setelah mencuci tangan, Fahmi langsung duduk di sebelah Rayhan, Adik Fahmi. Dia yang iseng sengaja mengambil ayam goreng milik Reyhan.
Reyhan menatapnya tajam, namun beberapa detik kemudian dia justru menangis. Sang Abang justru tertawa renyah karena berhasil menjahili adiknya.
“Abang, jangan jahil ah sama adiknya” ucap Umi. Beliau langsung menengkan putra bungsunya itu hingga tangisnya mereda.
“Dasar cengeng” bukanya menenangkan, Fahmi justru meledeknya lagi.
__ADS_1
Reyhan yang semula tenang kembali menangis. Abi hanya menggelengkan kepalanya melihat keributan keluarga kecilnya itu.
Sedangkan Fahmi malah melanjutkan sarapannya dengan tenang, walau sesekali kembali menjahili adiknya. Meski begitu, Fahmi sangat menyayangi adiknya. Tingkahnya yang lucu dan menggemaskan membuatnya selalu rindu, bila berjauhan. Begitulah keluarga ini, Fahmi menjadi sosok lain jika bersama keluarganya.
......................
Berbeda dengan Fahmi, Dira denga mata sembabnya mulai menjalani aktivitas seperti biasanya dengan malas.
Selepas ngaji pagi, dirinya langsung mencuci pakaian, mandi, sarapan, sedikit lalaran, mengerjakan tugas dan belajar materi lomba. Dirinya akan menyibukkan diri hari ini agar tidak larut dengan suasana semalam yang masih sangat jelas melekat dalam fikirannya. Dia juga sengaja mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggunya hari ini.
Itulah cara Dira menenangkan diri, mungkin sedikit aneh karena biasanya orang menenangkan diri dengan suasana yang tenang dan melepaskan beban pikirannya sejenak. Namun Dira justru meluapkannya dengan cara yang justru menguras pikiran.
......................
Aydan yang saat ini sudah sampai di Purwokerto dibuat frustasi dengan tidak aktifnya ponsel Dira. Beruntung Aydan memiliki salah satu teman yang ada di kota ini bernama Adit, sehingga dia dapat ikut menginap beberapa hari di kos Adit.
Dia ingat bahwa Dira pernah memberikan alamat pondok pesantrennya, segera dia bersiap dan hendak pergi ke dekat ponpes Nurul Huda.
Dia berniat untuk menunggu sampai Dira keluar pondok, karena sepengetahuannya, yang namanya pondok putri tidak sembarang orang bisa masuk, terlebih itu laki-laki yang bukan mahramnya.
Adit yang melihat Aydan tengah bersiap, kemudian menghampirinya.
“Lo yakin mau nemuin doi hari ini juga Dan?” tanyanya memastikan.
“Ya Dit. Memangnya kenapa?” balas Aydan yang juga bertanya balik.
“Ini kan weekend, anak-anak kampus juga libur. Terus kata lo doi di pondok, jelas susah ketemunya kalau di lingkungan pondok. Gue si cuma nyaranin besok aja Bro, ketemu di kampus. Lagian emang lo ngga capek gitu? Ya kali ketemu doi, muka kusut gitu hehe” saran Adit yang dibubui tawa di akhir kalimatnya.
“Tapi ya terserah lo aja si Bro” ucapnya lagi.
Aydan termenung, ada benarnya apa yang dikatakan oleh Adit. Dirinya juga tidak mau terlihat kacau bila bertemu dengan seseorang yang telah lama dirindukannya.
__ADS_1
Alhasil, Aydan menuruti nasihat Adit. Dia memutuskan untuk istirahat saja, tidak dipungkiri memang perjalan dari kota Jakarta ke kota ini dengan menggunakan motor memang sungguh melelahkan. Melihat itu, Adit pun tersenyum. Dia lantas pergi keluar membeli sarapan untuk dirinya dan untuk Aydan juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...