
Saat ini Fahmi tengah mengikuti pertemuan dengan beberpa founder yang juga ingin mengajukan kerja sama dengan perusahaan besar yang cukup berpengaruh di dunia bisnis saat ini.
Siapa yang tidak kenal dengan Agro Company, sebuah perusahaan raksasa milik salah satu jajaran keluarga kaya di Asia. Fahmi sudah mulai melebarkan sayapnya untuk kemajuan perusahaannya dengan menjalin kerjasama dengan salah satu cabang perusahaan manufaktur milik Agro Company.
Hanya beberapa orang yang Fahmi kenal, seperti GM dari Arka Group beserta asisten pribadinya dan juga asisten pribadi CEO dari Govano Group. Pertemuan berjalan dengan lancar walaupun sering kali terjadi perdebatan negosiasi yang cukup alot dari berbagai pihak yang terlibat.
Dengan kepiawaiannya, Fahmi berhasil menarik perhatian dari pihak Agro Company hingga terjalin kerjasama yang saling menguntungkan. Namun dibalik itu, ada salah satu pihak yang merasa tidak terima atas kekalahannya.
“Apa-apaan ini?!” ucap seseorang dengan nada suara yang tinggi bercampur emosi di balik telfon asistennya.
“Maaf tuan, namun begitu hasilnya. Mereka kekeh tidak mau pembagian seperti yang kita rancang. Bahkan mereka lebih memilih perusahaan baru dari FM Group untuk bergabung.” Jelas asisten pada bosnya itu.
“Apa katamu? FM Group?!” teriaknya lagi. Lama-lama gendang telinga asistennya bermasalah kalau kaya gitu terus.
“FM Group bukannya milik anak ingusan itu, hemm menarik,” ucap tuan yang tidak lain adalah Tuan Martin Govano dalam hati disertai senyum penuh arti.
“Ya sudah. Kamu segera kembali ke kantor. Sekarang!” perintah Tuan Martin pada asistennya dan sambungan telfon berakhir.
“Untung Bos, kalau bukan karena butuh duit udah gue hajar ini, main teriak-teriak segala,” umpat Asisten pada bosnya. Dia pun kembali ke perusahan.
......................
Sedangkan Fahmi, dengan senyum leganya bersama Alvian memutuskan untuk mencari makan setelah keluar dari Agro Company. Pasalnya, dia dan Bang Alvian belum sempat sarapan tadi pagi karena waktu rapat yang dimajukan satu jam dari jadwal.
Dipilihnya rumah makan padang yang terletak tidak jauh dari Agro Company. Tanpa basa-basi, mereka pun masuk dan segera memesan menu kesukaan masing-masing. Sembari menunggu pesanan datang, Fahmi membuka ponsel pribadinya yang belum sempat dia buka karena harus fokus pada target ini.
Ada banyak pesan masuk baik dari uminya, group KKN, group Organisasi dan beberapa temannya serta dari Nadira. Di balesnya pesan dari uminya terlebih dahulu baru pesan lainnya termasuk pesan dari Dira.
“Baik, Kak, terimakasih banyak sebelumnya.”_Nadira.
Fahmi mengerutkan dahinya, “Hah cuma kaya gini doang? Engga tanya apa aku ada urusan apa. Huh, Fahmi-fahmi apa si yang lo harapin dari dia. Ck.” Monolog Fahmi dalam hati. Dibiarkannya pesan Dira tanpa membalasnya, anggap saja Fahmi sedikit jengkel dengan Dira.
Tak berapa lama, pesanan pun tiba. Dengan lahap, mereka menghabiskan makannnya dengan cepat karena masih ada satu agenda lagi yang harus mereka lakukan di kota ini.
__ADS_1
Selesai makan, Fahmi pamit pada Bang Alvian untuk ke toilet sebentar. Pada saat menuju toilet, netranya tidak sengaja melihat dua orang yang asik bercengkrama satu sama lain. Samar-samar Fahmi seperti mengenal cowok yang bersama dengan cewek berseragam Madrasah Aliyah itu.
Sembari jalan ke arah tolet, Fahmi terus saja memikirkan hingga dia menemukan jawabannya.
“Bukankah itu salah satu karyawan dari Arka Group yang dulu pernah aku tabrak pas bawa komponen? Tapi sedang apa? Bukankah ini hari kerja dan ceweknya juga kenapa harus bolos sekolah, mana masih pakai baju seragam lagi. Ck.” lirih Fahmi yang hanya di dengar sendiri. Mendadak Fahmi jadi cerewet dan emosian, mungkin imbas dari pesan Nadira juga.
Seolah tidak peduli, Fahmi memantapkan langkahnya menuju toilet. Tidak butuh waktu lama dia kembali ke meja Alvian. Tak ingin membuang-buang waktu, Dia dan Alvian kembali ke mobil. Sekali lagi dia melirik ke arah dua sejoli itu.
“Hadeh, pacaran kok sama ABG,” sewotnya lagi.
......................
Sementara itu, orang yang sedang dibicarakan oleh Fahmi sedang saling bercerita tentang kegiatan masing-masing.
“Jadi, bagaimana, Kak, cerita tentang perjodohan itu?” tanya Ainun penasaran.
Benar, dua sejoli yang dimaksud oleh Fahmi tadi adalah Aydan dan Ainun. Mereka memutuskan untuk makan di rumah makan padang yang sama dengan Fahmi.
“Apa? Jadi Abang menolaknya? Terus bagaimana dengan resikonya, Bang? Apa Abang sudah menceritakan ini sama Mba Nadira? Terus, bagimana tanggapannya?” tanya Ainun cemas.
Selain trauma, Ainun juga sangat mengkhawatirkan abangnya juga kekasih yang sejak dulu bersamanya, yang tidak lain adalah Nadira. Dia tidak ingin ada korban dari keegoisan ibunya itu.
“Dek, kalau tanya itu satu-satu ya, biar Abang tidak bingung harus jawab yang mana dulu.” Nashat Aydan pada adiknya yang hanya dibales dengan senyuman kuda, hehe.
“Maaf Abang, hehe. Jadi intinya bagamana, Bang?” tanya Ainun mengulangi.
“Intinya Abang menolak perjodohan itu. Abang juga sudah menjelaskan ke Arsya tentang semuanya tanpa kecuali. Abang tahu dia sangat kecewa dengan Abang yang bersikap pengecut. Namun akhirnya dia mau maafin Abang dan kita saling berjanji untuk bertahan. Insyaallah secepatnya Abang akan melamar Arsya, biar tidak timbul fitnah.” Begitu jawaban Aydan singkat namun jelas.
“Wah benarkah? Baik sekali Mba Nadira itu. Kalau aku jadi Mba Nadira udah engga akan mau balikan sama cowok pengecut kaya Abang. Hehe.” Ucap Ainun sembari meledek.
“Itu si kamu. Dia memang beda dari yang lain. Dia memang yang terbaik buat Kakak.” Ucap Aydan mantap.
Ainun yang melihat juga ikut merasakan bahagia, akhirnya Abangnya memilih keputusan yang tepat. “Semoga bahagia Kak. Mohon lindungi kami Ya Allah.” do’a Ainun dalam hati.
__ADS_1
“Iya deh yang bucin,” goda Ainun pada Abangnya.
“Ainun seneng deh, Kak, akhirnya Kakak bisa kembali lagi sama Mba Nadira. Oh ya, jadi kapan Kakak mau melamar Kak Nadira? Bukannya dia saat ini sedang kuliah Kak? apa tidak masalah?” Tanya Ainun beruntun lagi, untung Aydan cukup sabar menghadapinya.
“Itu yang sedang Kakak pikirkan, semoga Allah memudahkan. Aamiin. Lagian boleh-boleh sajakan, menikah di saat masih kuliah. Dan semoga saja, orang tua Arsya merestui.” Ucap Aydan penuh harap.
“Aamiin.” Jawab Ainun.
“Ya sudah, ayo kita kembali ke pondokmu. Biar nanti kamu tidak kena takziran, Dek.” Ajak Aydan dan Ainun hanya mengangguk.
Mereka pun kembali ke pondok pesantren tempat Anun menimba ilmu. Saat ini, Ainun duduk di bangku kelas 2 Madrasah Aliyah. Sesampainya di pondok, Aydan langsung sowan ke Ndalem dan kembali menitipkan Ainun pada pengurus.
“Kakak pulang dulu ya, Dek. Kamu jangan nakal di sini, ikuti perintah guru agar ilmumu berkah. Saat ini Kakak tidak bisa selalu mengawasi dirimu, pastikan kamu bisa menjaga diri sebaik-baiknya ya. Kalau kemana-mana ajak teman, jangan sendirian.” Nasihat Aydan pada Ainun.
“Iya Bang, siap. Terimakasih banyak, Abang.” Ucap Ainun lirih kembali memeluk Aydan.
“Oh ya, Dek. Ini ada tipan dari Arsya buat kamu, dia juga titip salam, Assalamu’alaikum.” Aydan mengeluarkan bingkisan Arsya dari dalam tasnya dan memberikannya pada Ainun.
“Wah, Wa’alaikumsalam. Terimakasih banyak, Bang” jawab Ainun antusias.
“Terimakasihnya ke Arsya dong bukan ke Abang.” Aydan gemas sendiri dengan tingkah adiknya ini.
“Ah, iya benar. Boleh video call dengan Mba Nadira buat bilang langsung, Bang?” pinta Ainun dengan ceria. Tanpa menajawab, Aydan langsung saja mengambil ponselnya.
“Sini Abang videoin aja, nanti Abang kirim ke Arsya. Arsya lagi sibuk kan masih jam kuliah.” Aydan mulai membuka kamera ponselnya. Walaupun sedikit cemberut, namun Ainun tetap senang dan segera mengucapkan terimakasih pada Dira lewat video. Aydan pun langsung mengirimnya pada Dira sekalian bilang kalau dia segera kembali ke Jakarta.
Karena waktu kunjungan sudah habis, Aydan pun pamit kembali ke Jakarta. Sebenarnya lelah, namun dia harus segera kembali ke Jakarta untuk bekerja.
Setelah mengucapkan salam, Aydan pun meluncur meninggalkan Ainun yang masih menunggu dengan tatapan yang berkaca-kaca.
“Tetaplah seperti ini Bang, walaupun nanti jalan yang kita lalui penuh dengan batu. Ainun yakin, Abang pasti bisa.” Lirih Ainun yang entah sejak kapan, air matanya sudah menetes kembali. Gadis itu pun lantas kembali ke pondok putri dengan perasaan yang campur aduk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1