
Ponpes Nurul Huda
Sore hari setelah ashar, Dira pulang ke pondok dengan suasana hati yang gembira, seakan beban tugas kuliah, tugas pondok dan persiapan kompetisi terasa terangkat berkat kehadiran Aydan. Benar-benar mengalihkan duniannya. Lebay? Mungkin, tapi itulah kenyataannya. Sampai di kamar pun dia masih senyum-senyum sendiri, membayangkan betapa Aydannya masih sama perhatiannya.
“Sya jangan terlalu pedas, ingat asam lambung ya” nasihat Aydan ketika Nadira menuangkan bubuk cabe ke jajanan cilor miliknya.
Aydan juga memakaikan topi miliknya ketika melihat Dira kepanasan akibat mengantri pesanan cilornya, sebenarnya Aydan menawarkan diri untuk menggantikan Dira mengantri, tapi Dira yang justru menolaknya. Perhatian kecil inilah yang selalu membuat Dira gagal move on lebih tepatnya tidak ada niatan untuk move on.
Saking asiknya melamun, Dira tidak memperhatikan sekitar membuat seseorang yang sudah lama menunggunya jadi geram sendiri. Padahal niatnya membuat kejutan, malah yang dibuat kejutan tidak merespon sama sekali. Huh menyebalkan.
“Udah senyam-senyumnya, Neng?” tanya seseorang itu dengan senyum yang dibuat-buat.
Mendengar itu, Dira langsng tersadar dari lamunannya dan membalikan badan 180° menatap orang itu. Awalnya dia kaget karena mengira mungkin itu suara mahal Putri yang jarang terdengar karena biasanya memang hanya ada mereka berdua. Namun setelah melihat orangnya, ternyata orang itu adalah Nina.
“Loh, Kak Nina ngapa balik eh? (Kak Nina ngapain pulang?)." pertanyaan itu berhasil lolos dari mulut kecil Dira.
Duarrr, benar-benar tidak sesuai ekspektasi, batin Nina. Dia berharap bocah unyil ini terkejut dan bahagia, tapi apa ini? Sangat menyebalkan.
“Ngapa? Ora senang, nyong balik? Ya wis yuh, Ra balik posko maning (Kenapa? Ngga suka, aku pulang? Ya udah ayo Ra, pulang ke posko lagi)”, sungut Nina yang justru makin membuat tawa Dira dan Zahra makin pecah.
“Aduh-aduh, marah ini ceritanya? Hehe maaf ya Kak." Dira segera menghambur memeluk kedua Kakak kamarnya itu.
“Makin nyebelin ini bocil unyil”gemas Nina sembari membalas pelukan Dira ditambah dengan Zahra, jadilah mereka teletubies versi ukhti. Hihi.
Mereka sibuk bercerita hingga tiba waktu maghrib. Rupanya mereka berdua, Nina dan Zahra akan menginap di pondok sehari sebelum nanti kembali ke posko. Kedatangan mereka juga bukan cuma-cuma, melainkan untuk mengantar proposal ke berapa tempat yang sekiranya bisa membantu program KKN mereka.
Tidak ada ngaji selepas maghrib membuat kesempatan ini digunakan Nina dan Zahra untuk menembel kitab selama pergi, karena sebentar lagi akan diadakan UTS Madin yang mewajibkan semua kitab wajib dipeggoni sampai materi terakhir.
“Loh, Dek koh kamu juga banyak yang kosong gini?” tanya Zahra sembari membolak-balikan kitab Tanbiyhul Ghafilin milik Dira. Anak itu hanya cengengesan.
“Adek kita sepertinya terlalu sibuk Mba Zahra, sekarang seringnya tidur kalau lagi ngabsahin hehe”, sambung Lutfia yang ikut bergabung bersama mereka.
“Sibuk apa kamu Dek? Pacaran? Kamu tuh ya, anak kecil ngga boleh pacaran. DOSA!” ledek Nina yang berhasil membuat Dira diam seketika.
__ADS_1
“Kenapa diam? Jadi bener nih, Adek Kakak udah ada yang punya, hemh?" Tambah Zahra yang membuat Dira makin tersipu, sedangkan ketiga Kakaknya tertawa puas berhasil meledek.
“Aduh Kak Zahra, ada Bulur (Bu lurah) ini jangan keras-keras, nanti aku kena takzir lagi hehe”, balas Dira menyambung candaan mereka.
“Haha, jadi beneran ini Dek? Biar nanti nambah list hukuman” tambah Lutfia yang masih dibumbui dengan tawa mereka.
“Ah, mana ada Dira pacaran Kak. Doi jauh soalnya”, jawab Dira.
Ketiganya kembali tertawa karena mengira doi yang dimaksud Dira adalah yang biasa dihaluinnya. Namun tidak bagi Dira, karena kenyataannya memang doi yang sesungguhnya yakni Aydan jauh di sana. Dia jadi kembali terbayang dengan kejadian siang bersama Aydan tadi.
......................
Kos Adit
Sementara, orang yang saat ini tengah dilamunin dan bahan pembicaraan oleh Dira baru kembali ke kos Adit karena tadi harus membeli beberapa keperluannya dan sedikit oleh-oleh untuk Ainun, Adiknya. Saat ini, kos Adit cukup ramai dengan kehadiran teman-teman Adit, tidak ada satu pun yang Aydan kenal selain Adit.
Walau sedikit canggung, namun Aydan tetap menyapa ramah teman-teman Adit, begitu juga dengan teman Adit yang juga ramah dengannya. Mereka saling berkenalan dan bercanda seolah sudah kenal sejak lama.
Ya begitulah laki-laki ketika bertemu dengan teman baru langsung akrab. Rangga, Abas, Slamet dan Hasan adalah nama-nama teman Adit yang saat ini tengah berbincang dengannya.
“Alhamdulillah, sesuai ekspektasi, Dit.” Jawab Aydan dengan senyum yang menghias manis di wajahnya.
“Wih, apaan neh Bro, misi dapet jande bang toyib apa gimane?” celetuk Slamet yang terkenal ceplas-ceplos, yang hanya ditanggepi senyum oleh Aydan.
“Ngawur, kowen Met!” cibir Hasan dengan logat Brebes sembari menonyor pelan bahu Slamet.
“Sakit woy, San. Jangan sakiti Adek tolong, Bang. Aw.” Ucap Slamet dengan gaya sok ngondek.
Gemblung
Anj ir
Og eb
__ADS_1
Itulah makian dari yang lain. Aydan lagi-lagi hanya tersenyum. Selain suasana hatinya yang sudah membaik, candaan Slemet juga mengingatkannya dengan Aris temannya yang sebelas dua belas mirip Slamet gayanya.
“Ah, aku harus berterimakasih juga sama Aris”, batin Aydan. Karena biar bagaiaman pun, Aris memiliki peran penting dalam hal ini.
Obrolan masih berlanjut hingga adzan isya’pun terdengar. Aydan pamit pada Adit dan teman-temannya untuk membersihkan badan terlebih dahulu dilanjut dengan salat isya.
“Rajin bener lo, Dan. Baru juga adzan.” Celetuk Rangga.
“Iya baru adzan, tapi ngga taukan kalau hembusan nafas ke depan lo masih hidup apa ngga.” Ucap Aydan sembari berjalan ke dalam. Savage!
“Ngeri, Bro!” Celetuk Slamet, sedangkan yang lainnya mengucap istighfar sambil mengelus dada.
Memang begitukan? Hidup itu ngga ada yang tahu ke depannya gimana, ghaib. Makanya aneh, banyak orang yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan ilmu ghaib, sedangkan tarikan nafas selanjutnya, kedipan mata selanjutnya dan berbagai hal lain juga ngga ada yang tahu. Ghaibkan?
Baru takbiratul ihram rakaat pertama, suara ponsel miliknya berdering tanda ada panggilan masuk. Adit yang mendengar bunyi ponsel berulang-ulang namun tak kunjung diterima oleh pemiliknya berinisiatif untuk mengambilnya dan menerimanya.
Dilihatnya ponsel yang berdering itu menunjukan nama ‘Mine ditambah emoticon love memanggil’. “Dasar bucin. Tapi apa ini? Panggilan seluler? Orang kaya pulsa bener nih” gerutu Adit yang langsung menekan tombol hijau.
“Hallo” begitu sapaanya.
Seseorang di sabrang sana cukup terkejut karena suaranya yang berbeda dengan pemilik aslinya.
“Aydan lagi salat, nanti telvon lagi aja” ucap Adit.
“Hem. Ya sama-sama. Wa’alaikumsalam” jawab Adit dan telfon pun berakhir dengan salam.
Belum Adit meletakan kembali telfonnya, bunyi notifikasi SMS dengan nama yang sama membuat Adit terkikik geli. “Jaman apa ini masih pakai SMS”, lirih Adit yang mungkin juga terdengar oleh Aydan, sedangkan teman-temannya ada di teras kos.
Layar yang masih menyala menampilkan wallpaper foto Aydan dan seorang gadis berjilbab yang Adit pikir mungkin ini adalah kekasih Aydan. Tapi tunggu dulu, wajahnya seperti tidak asing baginya.
“Kaya pernah liat, tapi dimana ya?”, pikir Adit sembari memegang dagunya.
“Emm dia seperti….”
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...