Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Kecurigaan Umi


__ADS_3

“Emm dia seperti…” ucapan Adit berhenti karena dengan cepat Aydan mengambil ponselnya di tangan Adit.


“Seperti siapa?” tanya Aydan mengagetkan.


“Eh, njir! Kaya jailangkung aja lo, Dan!” gerutu Adit, beruntung dia tak punya riwayat jantung.


“Hehe, kaya pernah liat jailangkung aja Dit. Lagian mana ada jailangkung pakai sarung, alim bener” ucap Aydan sembari tertawa geli melihat raut wajah kaget Adit.


“Seperti siapa tadi?” sambung Aydan yang masih penasaran.


“Tahu ah, lupa gua tapi kaya pernah liat. Itu doi lo?” ucap Adit disambung dengan pertanyaan yang hanya diangguki oleh Aydan.


“Imut. Boleh juga selera lo” sambung Adit dengan senyum khas kadalnya.


“Jangan macam-macam Dit” Aydan lagsung saja memberikan peringatan untuk kawannya itu.


“Haha, santai Bro. Doi bukan tipe gue, gue suka cewek yang dewasa plus se xy Bro haha” Aydan hanya geleng-geleng kepala, sejak mengenal Adit dia cukup tahu sepak terjang petualangan cinta temannya itu.


“Lo santai aja, gue ngga suka nikung milik teman” ucap Adit sembari menepuk pundak Aydan dan berjalan keluar menghampiri teman-temannya lagi.


Aydan cukup lega mendengar itu, keputusan untuk selalu menjaga Dira dari public adalah hal terbaik. Dia juga selalu menolak jika teman-temannya meminta untuk membawa serta Dira untuk ikut berkumpul. Bukan karena malu, justru karena khawatir pesona Nadira dapat dilirik oleh teman-temannya. Begitu juga dengan Dira yang sama halnya dengan Aydan. Mereka benar-benar berusaha untuk menjaga privasi masing-masing. Komitmen yang sulit dijaman sekarang yang semua serba dipamerkan lewat sosial media.


Dilihatnya pesan masuk dari nomer yang ternyata dari Dira. Senyum walaupun samar tak pernah luntur dari Aydan hari ini.


Mine❤️: “Aku mau ngaji dulu, nanti jam 10 maleman baru selesai. Nanti aku telfon, boleh temanin bikin tugas?”


Aydan pun langsung membalasnya, “iya sayang”. Sambil berjalan ke luar berkumpul kembali dengan teman-temnnya.

__ADS_1


Benar saja, ketika jam 10 malam lebih, Dira kembali menghubunginya, mereka terus bercerita hingga larut malam. Tentulah Dira yang lebih banyak berbicara dan Aydan dengan senang hati mendengarkan dan sesekali menimpali cerita Dira. Hari ini cukup melelahkan bagi mereka namun juga sangat mengesankan. Hal sederhana yang mereka lakukan selalu memberikan kenangan yang berarti. Alamdulillah.


......................


Lain halnya dengan dua sejoli yang tengah melepas rindu, Fahmi justru sedang uring-uringan dengan berbagai hal yang dilalui hari ini. Mulai dari jadwal rapat yang dimajukan, Dira yang dipermalukan bahkan sampai selepas pertemuan tadi tidak ada kabar, masalah KKN dan masalah lain yang kali ini cukup serius.


Dengan lunglai dia berjalan menuju kamarnya. Rasanya hanya untuk sekedar membersihkan diri pun dia sudah tak sanggup lagi. Namun, tetap saja rasa tak nyaman mengharuskan dia untuk segera membersihkan diri. Selepas mandi dan berganti pakaian, dia berniat langsung tertidur. Akan tetapi, baru saja memejamkan mata, dirinya teringat pada satu hal yang hampir saja terlupakan olehnya.


“Astaghfirullah, ulang tahun Umi” gumamnya.


Baru saja hendak keluar, suara ketukan pintu terdengar pelan dari luar kamarnya. Segera dia membukakan pintu dan ternyata Abinyalah yang mengetuk pintu dengan sebelah tangan memegang kue ulang tahun untuk Umi.


“Jadi, Bi?” tanya Fahmi pada Abinya. Seharusnya tanpa bertanya pun Fahmi sudah tahu jika acara yang mereka berdua susun itu jadi.


Abi Fahmi tak menjawab, beliau hanya menatap putranya datar dan segera pergi dari depan kamar Fahmi. Melihat itu, Fahmi pun mengikutinya dan mengambil alih kue ulang tahun dari tangan Abinya. Sesampainnya di depan kamar Umi, Abi langsung membuka pintu dengan perlahan diikuti Fahmi dari belakang. Dilihatnya Umi yang masih tertidur nyeyak di kasurnya. Abi dengan lembut membangunkan istrinya hingga Umi mulai menggeliat dan perlahan membuka matanya.


“Kenapa Bi?" Tanya Umi dengan suara khas bangun tidur.


Umi cukup terkejut dan terharu dibuatnya. Dilingarkannya tangan umi di leher abi seraya membalasnya tak kalah manis. “Masyaallah, Alhamdulillah terimakasih Habibi”ucapnya setelah mencium kedua pipi Abi.


Mereka bedua lupa jika di kamar itu masih ada orang lain yang seolah dilupakannya. Sembari cemberut, Fahmi mendekat ke arah mereka dan berdehem, “Ekhem, ingat Pak, Bu ada anak kecil di sini” ucapnya.


Sontak Umi melepaskan lingkaran tanggannya sedikit terkejut dan malu, pasalnya dia benar-benar tidak mengetahui jika ada Fahmi juga di kamar itu.


“Ck ganggu aja” decak Abi tanpa rasa bersalah.


“Barakallah fi umrik, Umi hebatku. Boleh Make a Wish dulu?” ucap Fahmi menghiraukan ucapan dan tatapan sebal Abinya serta menyodorkan kue ulang tahun untuk Uminya.

__ADS_1


“Terimaksih anak bujang solehnya Umi” Kata Umi setelah make wish dan meniup lilinya dilanjut dengan mencium sayang kening putra sulungnya itu.


Setelah itu, mereka memilih untuk keluar kamar dan berkumpul di ruang keluarga. Rayhan sengaja tidak dibangunkan karena anak itu biasanya akan rewel seharian jika tidurnya tidak nyenyak. Abi memberikan hadiah berupa kalung cantik yang menambah kesan elegan bagi Umi. Tidak mau ketinggalan, Fahmi bergegas ke kamar untuk mengambil kado yang dibelinya bersama Dira tempo lalu.


“Maaf Umi, hanya ini yang bisa Fahmi kasih, semoga Umi suka ya” Fahmi memberikan kadonya untuk Umi. Segera Umi mengambil kotak berwarna hijau itu dengan antusias dan langsung membukannya, tidak lupa memberikan ucapan terimakasih.


“Wah, Inikan Abaya keluaran baru dari brand yang terkenal itu, Bi ini yang kemarin Umi pengin tapi stoknya abis soalnya hanya produksi beberapa aja. Terimakaih anak Umi, sini peluk dulu sayang” Umi lalu memeluk sayang putranya itu.


“Umi coba dulu ya” Fahmi hanya mengangguk dan tersenyum. Beberapa menit kemudian, Umi kembali ke ruang kelarga dengan Abaya tadi.


“Wah Alhamdulillah pas, Nak. Umi suka banget, bahannya juga lembut gini, tumben banget kamu bisa milih pas kaya gini Mi?” Puji Umi yang membuat senyum Fahmi makin lebar. “Terimakasih, Sya” batinnya berbicara.


“Eh tunggu, kayanya ngga mungkin deh kamu milih sendiri Mi, orang dulu juga kalau beliin sesuatu buat jarang benernya. Hayoo ngaku, ini siapa yang milihin, hemh?” ledek Umi Fahmi padanya, sedangkan Abi hanya memperhatikan dengan tangan yang senantiasa mengelus pundak istrinya.


“Duh Umi paling ngga bisa dibohongin lagi” batin Fahmi.


“Eh itu Um, Fahmi dipilihin sama temen” jawab Fahmi sekenanya, memang benarkan dipilihin sama teman.


“Wah teman apa teman nih?” ledek Umi lagi.


“Oya, kemarin Umi kaya lihat kamu sama perempuan di mall loh Mi, jangan-jangan beneran itu kamu ya? Hayo siapa hemh? Anak Umi udah mulai nakal ya?”


“Eh, kapan Um? Umi salah lihat kali” jawab Fahmi dengan ekspresi biasa menyembunyikan kegugupannya. Bukan takut diomelin, tapi takutnya minta dikenalin sedangkan statusnya dengan Dira belum jelas. Tiba-tiba otak cerdasnya seperti tak berfungsi dengan benar.


Kedua orang tuannya saling pandang dan tersenyum penuh arti. “Oh, gitu toh. Okey deh mungkin Umi salah lihat, abisnya mirip banget si. Cewenya juga manis, Umi suka, keliatannya kalem gitu, cocok deh sama anak Umi ini” ucap Umi santai, padahal dia tau kalau Fahmi sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


“Kan, kan emak yang satu ini ngga mungkin percaya gitu aja” gerutu Fahmi dalam hati.

__ADS_1


Dari pada tambah kesana kemain yang akhirnya membuat dia terpojok, Fahmi memilih untuk kembali ke kamar dengan alasan ingin segera istirahat. Umi dan Abinyapun memersilakan, mereka berdua juga sama akan melanjutkan istirahatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2