
Berkat transfusi darah dari Fahmi membuat operasi Aydan berjalan dengan lancar, kondisi Aydan juga semakin membaik dan sudah melewati masa kritisnya. Tus*kan itu dalam dan lebar, namun syukurlah tidak mengenai organ vitalnya.
Aydan langsung dipindahkan ke ruang rawat inap, beruntung Dira memiliki tabungan sehingga dapat menyelesaikan administrasi awal Aydan. Biar bagaimana pun, Aydan seperti ini karena menyelamatkannya.
Tinggallah Aydan, Dira dan Fahmi di ruangan itu. Sedangkan yang lainnya kembali ke hotel. Acara yang tadinya ingin dirayakan dengan bersenang-senang justru menjadi tragedi yang memilukan. Sebenarnya Dira menyuruh Fahmi untuk pulang dan beristirahat saja di hotel. Namun dengan tegas, Fahmi menolaknya dan memilih untuk menemani Dira. Tak rela mereka berduaan? Mungkin saja.
Dira hanya pasrah saja, rasanya percuma jika berdebat dengan laki-laki keras kepala. Renata dan Zaid akan kembali lagi nanti membawakan baju ganti Dira juga Fahmi.
Dipandanginya wajah tenang Aydan yang masih pucat. Sedih, cemas dan merasa bersalah datang menghampirinya. Sesekali Dira mengusap kepala Aydan membuat Fahmi gerah sendiri, ingin rasanya dia menarik tangan Dira. Namun, apalah daya karena nyatanya dia bukan siapa-siapa. Terkadang sadar diri itu penting.
Siapa sebenarnya Aydan? Apakah dengan ini berarti cintanya bertepuk sebelah tangan? Huh, secepatnya akan aku utarakan, pikir Fahmi.
“Kak Fahmi, terimakasih sudah membantu dan bersedia mendonorkan darahnya untuk Aydan,” ucap tulus Dira sambil memandang ke arah Fahmi.
“Ya, sama-sama. Tapi siapa dia? Sepertinya kamu begitu mengenalnya?” tanya Fahmi akhirnya mengungkapkan rasa penasarannya.
“Dia adalah seseorang yang spesial bagiku, Kak,” jawab Dira tegas. Dia bukan gadis polos yang tidak tahu perasaan Fahmi, maka dari itu, dengan pengakuannya ini setidaknya membuat Fahmi tidak merasa terlalu sakit nantinya.
Deg, terluka tapi tak berdarah, mungkin ini judul yang tepat. Apa ini? Apa artinya tidak ada ruang untukku? Batin Fahmi memanas. Ingin protes, tapi protes apa?
Tapi tunggu dulu bukankah laki-laki ini sudah memiliki kekasih anak ABG itu? Apa dia hanya memanfaatkan Dira saja? Aku harus bicara ini dengan Dira, pikirnya menggebu.
Belum sempat mengutarakan, suara pintu dibuka membuat Fahmi urung untuk mengatakannya. Datanglah laki-laki muda dengan tubuh jangkungnya.
“Nadira,” panggil laki-laki itu.
“Bang Aris,” jawab Dira.
“Bagaiman keadaan Aydan, Ra?” tanya Aris pada Dira.
“Seperti yang Abang lihat, Aydan belum sadar sampai sekarang,” jawab Dira dengan tatapan sendunya.
“Ya sudah, tidak apa-apa, sebantar lagi juga Aydan sadar,” ucap Aris menenangkan. Dia belum mengetahui jika ada orang lain diantara mereka bertiga.
“Jadi bagaimana kejadiannya, Ra? Setahu Abang, tadi pagi Aydan keluar untuk menemui seseorang yang katanya akan membicarakan hal penting menyangkut keselamatan kamu sebelum menemuimu,” ucap Aris enteng, padahal Aydan bilang jangan sampai ada yang tahu selain mereka berdua. Dasar Aris mulut ember bin lemes.
“Apa!” seru Dira dan seseorang yang duduk di pojok sana. Aris tentu terkejut dan pandangannya mengarah kepada Fahmi.
Seakan tahu apa yang difikirkan Aris, Dira pun mengenalkan Fahmi padanya.
“Oh iya, maaf Bang, ini Kak Fami, senior aku. Dan Kak Fahmi, ini Bang Aris teman kami,” ucap Dira menjelaskan. Digaris bawahi ya, hanya senior bukan lebih.
__ADS_1
“Ekhem, jadi apa maksud lo tentang keselamatan Nadira?” ucap Fahmi penuh selidik.
Hem, roman-romannya ada cinta segitiga ini, gumama Aris dalam hati.
“Untuk pastinya gue nggak tahu, kita tunggu Aydan sadar aja. Lagian gue juga cuma dikasih tahu gitu aja sama Aydan. Sebenarnya ini rahasia si, Cuma tadi gue keceplosan, hehe,” jelas Aris dengan tengilnya membuat mereka mendengus kesal.
Apa ini ada kaitannya dengan Ibu Aydan, batin Dira.
Itu artinya Nadira dalam bahaya?, pikir Fahmi.
Mereka larut dengan pemikirannya masing-masing, hingga suara ketukan pintu membuat mereka tersadar. Rupanya Zaid dan Renata yang datang membawa baju ganti Dira dan Fahmu serta makanan untuknya dan Fahmi. Namun karena ada urusan yang mendadak, akhirnya Fahmi mengikuti Renata dan Zaid untuk kembali ke hotel. Makanan yang tadi untuk Fahmi kini sedang dilahap habis oleh Aris, lumayan gratisan katanya.
......................
Fahmi kembali dengan tergesa-gesa setelah mendapatkan pesan dari Alvian. Untungnya tadi Tufail meninggalkan mobilnya, jadi dia langsung pergi begitu saja tanpa memberitahu Dira alasannya.
Setibanya di hotel, Fahmi langsung menuju kamarnya dan langsung membuka laptop miliknya untuk mengecek sesuatu yang dikirim Alvian barusan.
“Lo udah liat yang dikirim Bang Vian, Mi?” tanya Tufail.
“Hem, sepertinya kita harus pulang malam ini,” jawab Fahmi tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
“Okey. Tapi bagaimana dengan yang lain?” tanya Tufail lagi.
“Lo beneran suka sama Dira, Mi? Tapi kayanya doi udah punya orang deh,” ledek Tufail yang langsung mendapatkan tatapan horor dari Fahmi.
Bukannya takut, Tufail justru makin meledeknya, “Dasar bucin lo. Tapi gue salut si sama lo, terus berjuang sebelum kata sah berkoar haha”.
“Brisik!” seru Fahmi yang langsung melempar bantal ke arah Tufail yang masih tergelak. Sepertinya meledek Fahmi adalah kegemarannya saat ini.
Sebelum malam semakin larut, mereka berdua segera chek out hotel dan pulang, tidak lupa memperpanjang sewa untuk yang lainnya dengan uang pribadinya. Kurang baik apa coba Fahmi? Sebelumnya Fahmi telah memberitahu Dira pulang terlebih dahulu karena ada yang harus diurus, begitu juga pada yang lainnya.
......................
Malam ini adalah malam jum’at membuat Dira teringat dengan kegiatan rutinitas di pondoknya yakni berzanji. Dengan suara yang lembut, Dira mulai melantunkan shalawat di depan Aydan yang masih senantiasa menutup mata.
Aris sudah pulang karena waktunya dia untuk bekerja sekalian meminta izin untuk Aydan, namun dia berjanji akan kembali lagi besok pagi. Karena kejadian ini pun membuat Dira lupa belum menghubungi orang tuannya. Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, jika telfon sekarang pasti akan mengganggu istirahat mereka, jadi dira memutuskan untuk menelfon besok pagi saja.
Sementara Ayah Aydan, Dira maupun Aris tidak memiliki nomornya, ketika membuka ponsel Aydan pun mereka tidak menemukannya. Jika menelfon Ibunya, Dira dan Aris khawatir akan timbul kekacauan lain.
Karena merasa lelah, Dira pun menidurkan kepalanya di samping tempat tidur Aydan. Matanya terpejam namun lantunan shalawat masih dibunyikannya. Sebuah tangan tiba-tiba mengelus kepalanya membuat Dira tersentak hingga hilang rasa ngantuknya.
__ADS_1
“Aydan,” ucap Dira yang melihat ke arah Aydan yang tersenyum menatapnya.
“Haus, Sya. Boleh minta minum?” pinta Aydan lirih. Dira pun mengambilkannya dan membantu Aydan untuk minum.
“Cukup, Sya. Terimakasih,” ucap Aydan sambil masih tersenyum.
“Maaf” katanya lagi membuat Dira terheran, harusnya dia yang minta maaf karena dia yang membuat Aydan terluka.
“Aku yang harusnya minta maaf, karena aku…” belum selesai ucapannya, Aydan menghentikannya dengan jari telunjuk yang dia letakan di bibir Dira.
“Husstt, Sya, kamu nggak salah. Sekarang kamu istirahat ya, pasti capek dari tadi nunggu aku kan?,” ucap Aydan lagi sembari mengusap tangan Dira sayang.
“Tapi..” sanggah Dira.
“Arsya,” ucap Aydan lembut namun tegas yang membuat Dira pasrah dan mengikutinya.
“Apa mau tidur diranjang ini biar kamu tidak pegal, Sya?” tawar Aydan yang tidak tega melihat Dira tidur dengan posisi duduk.
“Aydan, jangan khawatir, aku bisa kok tidur seperti ini. Lagian ini juga ada jaket kamu yang tadi aku minta dari Bang Aris. Dia bilang dia pake jaket kamu, ya aku minta hehe,” ucap Dira menenangkan.
“Giliran Aris aja kamu panggil abang, sama aku tetap aja panggil Aydan,” omel Aydan sedikit kesal.
“Terus mau aku panggil apa?” tanya Dira.
“Ya apa biar kaya orang-orang, mesra gitu. Mas, sayang, be, atau apa gitu,” sewot Aydan lagi yang membuat Dira justru terkekeh.
“Apa efek tertusuk membuat seseorang menjadi cerewet? Sejak kapan Aydan aku jadi cewet gini, hem?” ledek Dira gemas.
“Boleh aku panggil Mas atau yang lainnya, tapi nanti setelah nikah ya, hehe,” sambung Dira.
“Okey, setelah aku keluar rumah sakit kita nikah!” ucap Aydan tegas membuat Dira terkicep seketika.
“Jangan bercanda, Dan,” ucap Dira sembari menatap gemas Aydan.
“Aku lagi nggak bercanda, Sya. Aku serius,” jawab Aydan yang membuat Dira menatapnya serius.
“Okey, kita bicarakan besok ya. Sekarang kamu istirahat dulu ya,” kata Dira menenangkan, sejujurnya dia juga sedikit gugup dengan tatapan Aydan yang begitu, apalagi ucapannya.
“Tapi..”
“Aydan” ucap Dira lagi dengan nada yang sama seperti Aydan mengatakannya tadi. Entah kenapa, Aydan juga sama menurut saja membuat mereka terkekeh gemas sendiri.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun beristirahat. Tangan Aydan berada di atas kepala Dira sambil mengelusnya penuh kasih sayang membuat Dira merasa nyaman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...