
Seminggu telah berlalu, takziran Dira pun sudah selesai. Selama seminggu itu pula, Dira sibuk menyiapkan diri untuk mengikuti tes debat nasional. Entah mengapa, Dira yang awalnya hanya ingin mencari kesibukan dan menambah teman dengan mengikuti organisasi, kini juga tertarik untuk mengikuti berbagai event perlombaan, apa salahnya mencoba bukan?.
Semenjak kejadian minggu lalu, Dira juga tidak bertemu kembali dengan Fahmi. Mungkin Fahmi sedang sibuk karena bulan ini, bagi mahasiswa semester 7 kampus U mulai mengurus program KKN, pikir Dira. Dirinya justru sering bertemu dengan Tufail yang memang sefakultas dengannya. Di setiap pertemuan, selalu ada perdebatan kecil diantara mereka.
Seperti saat ini, ketika Dira hendak keluar fakultas, dirinya berpapasan dengan Tufail yang ingin masuk fakultas.
“Lo lagi, lo lagi Cil. Lo ngikutin gue ya?” tuduh Tufail. Dira memutar bola matanya jengah. Dira yang memang buru-buru tidak ingin membalas ucapan Tufail itu, lalu segera pergi dari hadapannya. Namun sebelum itu, Tufail justru menarik ujung jilbab Dira, hingga pemiliknya mendengus kesal.
“Apa lagi si Kak? Hobi banget bikin ribut” ucap Dira kesal. Tufail yang melihat wajah cemberut Dira justru semakin semangat untuk menjahilinya. Entah kenapa, Tufail merasa Dira sangat lucu dengan wajah cemberutnya.
“Ngga apa-apa, suka aja ribut sama lo, Cil” jawab Tufail dengan diselingi tawa ringan. Tawa yang tidak semua orang dapat melihatnya. Dira yang juga baru melihat tawa Tufail pun cukup terkejut. “Eh, dia bisa ketawa juga ternyata”, batin Dira.
“Kamu ngga sakit kan Kak? Perasaan ngga ada yang lucu koh ketawa. Tapi bagus deh biar awet muda, ngga kaya petasan rombeng, kalau ketemu marah-marah mulu” kata Dira dengan entengnya. Tufail yang mendengar langsung menghentikan tawanya dan kembali ke mode semula, tanpa ekpresi.
“Ngomong apa barusan?!” tanya Tufail dengan nada yang sedikit ditinggikan. Bukannya takut, Dira malah terlihat biasa saja. Karena begitulah Tufail yang Dira kenal. Sementara itu, orang-orang yang melihatnya justru merasa sedikit terkejut karena Dira Nampak biasa saja. Sama seperti seseorang yang tengah melihat interaksi keduanya.
“Ngga ada pengulangan. Udah ah Kak, main ributnya besok lagi. Aku sibuk, Bye,” jawab Dira yang langsung pergi meninggalkan Tufail. Dira hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian, karena sebenarnya Dira menyadari bahwa dirinya tengah menjadi pusat perhatian.
Sedangkan Tufail justru semakin kesal dengan sikap dira. Dia yang biasanya akan melakukan berbagai cara agar yang berurusan dengannya tunduk padanya, namun tidak berlaku untuk Dira. Entah kenapa, setiap melihat anak itu, Tufail justru teringat dengan adik perempuannya yang sudah lama meninggal.
__ADS_1
Dirinya yang masih menjadi pusat perhatian selepas ditinggalkan Dira, justru acuh tak acuh dengan sekitar. Tufail lantas melangkahkan kakinya untuk segera mengurus keperluannya.
Berbeda dengan seseorang yang terus mengarahkan pandangnnya pada tufail.
“Kamu memang special Kak, tapi entah alasan apa yang membuat aku begitu mengagumimu Kak” lirih orang tersebut yang tidak lain adalah Eni, sahabat Dira.
Eni sudah mengagumi sosok Tufail semenjak kegiatan makrab. Wibawanya, kecerdasannya dan tingkahnya ketika menyampaikan materi membuat rasa kagum menyeruak begitu saja di diri Eni. Ditambah visul Tufail yang menawan dan diidam-idamkan oleh banyak perempuan. Namun dirinya sadar, bahwa untuk bersama Tufail adalah kemungkinan yang kecil, kecuali ada keberuntungan.
Setelah Tufail tak kelihatan lagi, Eni lalu bangkit dari duduknya dan segera menuju kelas karena sebentar lagi, kelas akan mulai. Dia memang mengagumi Tufail, namun baginya, menyelesaikan pendidikan adalah hal yang utama. Dia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa apapun rintangannya, pendidikan harus diperjuangkan. Dia tidak ingin larut dalam perasaan suka yang mungkin tak terbalas. Lebih utama membanggakan orang tuanya terlebih dahulu dibandingkan dengan urusan cintanya.
.
Di kosnya, setelah membersihkan diri dan makan, Aydan lantas mengambil gitar yang dia beli beberapa bulan lalu. Bayangan wajah imut Dira terus terngiang hingga menerbitkan senyum sejuk diwajah manisnya. Aydan tidak begitu mahir memainkan gitar, bahkan dia bisa pun karena Dira yang mengajarinya. Anehkan, biasanya cowok yang mengajari ceweknya, namun mereka justru sebaliknya.
Tapi jangan salah, Aydan juga memiliki suara yang merdu. Hanya Dira dan adiknya yang mengetahuinya. Dulu dia pernah berangan, ketika melamar Nadiranya, dia akan membawakan lagu yang spesial untuknya. Niat itu masih ada, namun mewujudkannya adalah hal yang samar.
Jarinya mulai memetik dawai itu dan bibirnya mulai bersenandung lirih dengan lagu Aishiteru 3 milik Zivilia. Kalau boleh jujur, dirinya sangat merindukan sosok Nadiranya. Dua tahun menjalin kasih anak remaja membuat Aydan selalu jatuh pada segala tingkahnya.
“Lagi apa kamu ya Sya?” tanya Aydan yang hanya dibalas oleh hembusan angin.
__ADS_1
“Sebentar lagi Sya, semoga kamu belum berubah. Dan semoga kamu mau maafin aku yang jelas sudah menyakitimu” lirih Aydan lagi. Tidak berapa lama, suara ketukan pintu menyadarkan Aydan dan segera dia membuka pintunya.
“Kenapa lama banget si Dan?, b*ker ya lo?” sewot seseorang yang diketahui namanya adalah Aris.
Aris merupakan sahabat Aydan yang sekos dengannya. Mereka sudah bersahabat sejak di STM, hanya mereka berdualah yang sama-sama lolos seleksi di perusahaan ini. Aris tentu tahu betul segala perjalan cinta antara Aydan dan Dira, serta masalah rumit yang tengah dialami pasangan tersebut.
“Hah, lebay lo Ris”, Aydan pun lantas masuk ke dalam dan merebahkan kembali tubuhnya. Begitupun dengan Aris yang juga ikut masuk sembari menggerutu kesal. Pasalnya, dia sudah tidak tahan menahan kantung kemihnya yang sudah penuh, bisa-bisa dia ngompol di celana.
Selepas membuang hajatnya, Aris duduk di dekat Aydan yang terus sibuk dengan ponselnya. Jiwa keponya meronta ingin keluar, dia lalu ikut tiduran di sebelah Aydan dan mulai mengintip apa yang dilakukan Aydan pada ponselnya. Tenyata Aydan sedang mengscroll akun sosial media milik Dira.
“Emm pantesan. Kalau kangen, minimal chatlah Men, gengsi amat. Lihat tuh doi makin cantik, ya kali orang cantik ngga ada yang mau. Apalagi doi juga anaknya baik, ramah, mudah bergaul. Yakin dah gua, tuh anak banyak yang ngantri. Kalau ngga inget lo, gue juga mau tuh hehe” ucap Aris yang membuat Aydan tertegun, tersindir sekaligus kesal di akhirnya.
“Awas lo kalau macem-macem Ris”, ancam Aydan kesal dengan sahabat tegilnya itu.
“Hehe santai Men. Makanya nih ya, kalau ada masalah tuh selesaikan bukan menghindar. Gue sebagai sahabat lo, cuma bisa ngingetin dan mendukung kebahagiaan kalian. Jangan jadi baji**an yang berani nyakitin perempuan. Nakal boleh tapi brengs*k jangan!”ucap Aris bijak. Aydan mendengarkan setiap ucapannya.
“Dia layak diperjuangin Dan” tambahnya sembari duduk dan mengambil ponselnya di saku celananya.
“Dari pada menggalau, gimana kalau kita nonton film blue aja. Gua ada film terbaru yang lebih h*t Men, haha” Aydan hanya mendengus kasar sambil menggelangkan kepalanya, sahabatnya ini memang sedikit sengklek. Meski begitu, Aris adalah sahabat baiknya, walaupun nakal tapi masih dibatas wajar.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...