Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Kanan atau Kiri


__ADS_3

Sesampainnya di depan motor sport, orang itu melepas cengkraman tangannya dan membuka helmnya. Betapa terkejutnya Eni kala mengenal siapa seseorang yang menariknya itu.


“Kak Tufail” lirih Eni yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.


“Sorry gue tadi narik tangan lo dan buat lo ketakutan. Apa ada yang sakit?” Tufail meraih pergelangan tangan Eni kembali. Eni hanya diam saja.


“Sorry ya” Tufail merasa bersalah karena tangan Eni terlihat memerah. Eni yang kaget langsung menarik tanganya, dia antara masih takut, gelisah, senang juga deg-degan.


“Ya ngga papa Kak. Kenapa tadi narik tanganku?” ucap Eni berusaha tenang.


“Ngga papa. Gue harap lo lebih hati-hati, karena tadi gue lihat ada seseorang dengan tatapan lapar berusaha melecehkan lo.” Jelas Tufail yang memang benar ada seseorang yang mengikuti Eni dan hendak melecehkannya.


Beruntung Tufail melihatnya, karena dia sedang berhenti di pinggir taman menerima telepon. Dia yang sepertinya mengenal gadis itu, walaupun tidak tahu namanya namun beberapa kali dia melihatnya bersama Dira.


“Astaghfirullah”, Eni syok dan takut bersamaan. Tapi dia juga bersyukur ada Tufail yang menolongnya.


“Udah ngga usah difikirin, lebih baik sekarang lo pulang. Apa mau gue anterin?” Tufail menawarkan bantuan untuk mengantar Eni.


“Eh, ngga usah Kak. Aku bawa motor, lebih baik aku pulang sendiri.” Jawab Eni yang membuat Tufail mengehla nafas.


“Em, Kak. Terimakasih atas pertolongannya tadi ya” ucap Eni tulus sembari tersenyum menampilkan lesung pipinya. Tufail juga menarik senyumnya di balik helm, dia menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


Eni pamit untuk mengambil motornya, namun langkahnya ragu karena takut jika orang itu masih ada. Tufail yang memahami langsung menarik lembut tangan Eni dan mengantarnya sampai parkiran dimana Eni meletakan motornya. Eni membiarkannya, karena jujur saja dia sangat senang dengan keadaan ini.


“Biarkan saja aku menikmati moment ini. Karena belum tentu ini akan terulang kembali. Dia tak perlu tahu apa yang aku rasakan, cukup aku saja. Dan Allah yang menentukan” batin Eni.


Setelah sampai di depan motor Eni, Tufail melepaskan genggaman tangannya. Eni yang mengerti langsung mengambil kunci motor dalam tasnya. Eni mengucapkan terimakasih kembali dengan Tufail yang lagi-lagi hanya dibalas dengan anggukan kepala saja. Eni segera memakai helmnya dan menghidupkan motornya. Dia mengarahkan pandangnnya pada Tufail yang masih menunggunya, segera dia melajukan motornya.


Eni masih bisa memandangi Tufail dari kaca spionnya hingga Tufail beranjak dan segera pergi dengan motor sport milik Fahmi. Hari ini merupakan hari membahagiakan sekaligus menakautkan bagi Eni, bagaimana jika tidak ada Tufail. Berulangkali Eni menghela nafas lega . Dia juga tahu ternyata dibalik sikap dinginnya, Tufail memiliki kepedulian yang sangat baik.


Bolehkah dia berharap lebih? Namun segera dia menepiskan pikirannya. Ini hanyalah sebuah keberuntungan dan pasti Tufail akan melakukan hal yang sama pada orang lain, begitu pikirnya. Dia terus melajukan motornya sampai di kosnya.

__ADS_1


...----------------...


Di sisi lain, Dira dan Fahmi sama-sama terdiam. Dira lebih memilih memfoksukan pandangannya ke arah luar jendela, ini adalah pertama kalinyaDira menaiki mobil sebagus ini. Selain itu, ini juga pertama kalinya dia pergi bersama cowok dengan mengendarai mobil.


Sedangkan Fahmi memilih untuk fokus mengendarai mobil. Waktu terasa sangat lama, membuat Dira sedikit jenuh. Fahmi membelokan mobilnya memasuki parkiran mall.


Ya, Fahmi mengajak Dira ke mall. Entah apa tujuan Fahmi, Dira hanya mengikutinya. Sebelum keluar mobil, Fahmi mengucapkan sesuatu pada Dira.


“Ada apa Kak?” tanya Dira.


“Aku mengajakmu ke sini untuk meminta tolong membantuku memilihkan kado ulang tahun untuk Umiku. Apa tidak masalah?” ucap Fahmi yang membuat Dira terkekeh. Fahmi mengernyit heran, perasaan tidak ada yang lucu dengan ucapannya itu.


“Hehehe, kalau begitu ayo Kak” ajak Dira sembari melepas seat belt dan keluar mobil.


“Tadi aja pas diajak pergi ngga mau, giliran sudah sampai mall semangatnya tidak ketulungan. Apa setiap perempuan seperti ini? Ck” sewot Fahmi. Dia lantas menyusul Dira yang lebih dahulu keluar.


Dira senang bukan karena belanja, tapi dia senang karena sangat jarang dirinya bisa main ke mall akhir-akhir ini. Cuci mata, katanya. Saking senangnya, Dira berjalan mendahului Fahmi. Beberapa menit kemudian, Dira ingat bahwa tadi Fahmi meminta tolong untuk membantu memilih kado ulang tahun untuk Uminya. Dia lantas berbalik dan melihat Fahmi yang menatapnya kesal.


“Hehehe maaf, Kak” ucapnya. Fahmi hanya melipat tangannya di dada.


“Oya Kak, Kakak mau ngasih kado apa?” tanya Dira pada Fahmi.


“Menurutmu?” jawab Fahmi yang justru balik bertanya.


Dira mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk sebelah kanan sembari berfikir. Beberapa detik kemudian, dia ingat jika dulu pernah memberikan baju gamis untuk Ibunya. Dia pun berniat untuk memberikan saran yang sama pada Fahmi.


“Maaf Kak, apa Ibu Kakak senang menggunakan hijab?” tanya Dira hati-hati agar tidak menyinggung Fahmi. Dia bertanya demikian agar tidak salah dalam merekomdasikannya.


“Ya. Beliau sama sepertimu” jawab Fahmi dan Dira hanya menganggukan jawabannya. Umi Fahmi memang sama seperti Dira, keseharianya memakai hijab.


“Kalau begitu, bagaimana kalau Gamis atau Abaya saja Kak?” usul Dira pada Fahmi. Tanpa menunggu lama, Fahmi pun menyetujuinnya.

__ADS_1


Dira juga senang karena sarannya diterima dengan baik. Mereka pun menuju galery baju muslim dengan brand yang terkenal.


Begitu masuk, mata Dira berbinar. Rasanya dira ingin membeli untuknya dan untuk mama serta adiknya. Namun dia sadar, karena harga baju muslim brand ini sangat menguras kantong. Dia berjanji, suatu saat nanti akan membelikan untuk mereka dan dirinya.


Fahmi mengikuti Dira dari belakang dan Dira sibuk mencari model sembari bertanya tentang warna kesukaan uminya Fahmi, ukuran tinggi dan lain sebagainnya. Fahmi juga menunjukan foto uminya yang terlihat masih muda dengan balutan gamis syar’i warna putih.


“Cantik”, batin Dira ketika melihat wajah Umi Fahmi.


Dira justru merasa insecure melihat Umi Fahmi yang masih muda di usiannya yang sekarang. Segera dia memilih Abaya yang sekiranya pas untuk Umi Fahmi.


Ada dua pilihan warna yang menarik perhatian Dira.


“Bagaiaman Kak, yang kanan atau kiri?” tanya Dira pada Fahmi dengan menunjukan Abaya pilihannya di kanan dan kiri.


“Emm keduannya sama-sama bagus dan elegan. Beli dua-duanya juga ngga masalah, kalau memilih mungkin yang sebelah kanan” Jawab Fahmi yang lebih memilih Abaya ditangan kanan Dira.


Mendengar itu, Dira langsung melihat kembali abaya yang dipegangnya. Ada satu hal yang belum Dira lihat, yakni harganya. Mengingat brand ini sangat terkenal dengan harganya yang mahal, Dira langsung saja melihat bandrol kedua abaya itu. Dirinya dibuat mlongo dengan harganya.


“Ya Allah 2 juta lebih. Mahal banget Gusti” cicitnya lirih yang masih didengar oleh Fahmi. Fahmi tersenyum tipis.


“Kak Fahmi, tapi harga abaya ini dua-duanya sangat mahal. Apa tidak masalah?” tanya Dira yang tidak enak karena memilihkan abaya yang sangat mahal baginya. Tidak masalah jika memang punya banyak uang, lagian untuk kado ulang tahun seorang Ibu memang harus istimewa.


Tapi bagaiman jika Fahmi tidak memilik uang yang cukup seperti dirinya. Karena Dira sampai saat ini belum mengetahui tentang Fahmi yang sesungguhnya. Dira benar-benar merasa bersalah dengan Fahmi. Fahmi yang melihat raut bingung Dira segera menjawabnya.


“Tidak usah khawatir masalah harga, bukannya aku yang meminta tolong kamu buat beli kado untuk Umiku. Maka pilihkanlah yang menurutmu bagus. Aku memakai uang tabunganku hadiah lomba dan honor seminar, jadi tenanglah”. Mendengar itu, Dira sedikit lega. Dia lantas memilih salah satu diantara keduannya.


“Kalau begitu, kita pilih satu aja ya, Kak. Sayang uangnya, lebih baik ditabung atau bisa dikasih mentahannya ke Uminya Kakak.” Jawabnya sembari meletakan Abaya yang ada di tangan kanananya kembali ke tempatnya. Dia lantas membawa Abaya ditangan kirinya menuju kasir.


Fahmi mengerutkan dahinya bingung. "Bukankan tadi dia meminta saranku dan aku memilih yang sebelah kanan? Tapi kenapa justru memilih yang sebelah kiri. Ck sama saja seperti Umi kalau minta saran, apa wanita selalu seperti itu?” Fahmi berdecak dalam hati sembari menggelangkan kepalanya. Dia lantas menyusul Dira yang pergi ke kasir terlebih dahulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2