
Hari-hari berlalu, hingga kejadian Dira dan Tufail sudah berlalu sebulan yang lalu. Dira juga mulai disibukkan dengan tugas kampus, pondok dan organisasinya. Tidak ada hal yang mencurigakan seperti praduga Eni, Dira menikmati harinya tanpa gangguan dari Tufail atau yang lainnya.
Pada malam harinya, rutinitas di pondok masih sama. Malam ini adalah pelajaran Nahwu di kelas Dira dengan Ustadz Tama sebagai gurunya. Ustadz Tama atau Gus Tama merupakan ustadz muda tampan, cerdas dan ramah. Pembawaannya tenang, namun tegas membuat siapapun menganggap Ustadz Tama merupakan lelaki idaman untuk dijadikan suami.
Pelajaran Nahwu yang cukup rumit dan membuat pusing menjadi terasa sedikit mudah karena penjelasan sederhana dari sang ustadz. Atau mungkin mereka terutama santri putri yang sangat bersemangat karena ustadnya yang kelewat ganteng. Biasa, santri putri atau kaum hawa kalau liat yang modelan Ustadz Tama, ya gitu deh suka khilaf, minta dinikahin pula hehe.
Tepat jam 10 malam, pembelajaran selesai. Jika biasanya ada yang tertidur saat pelajaran, namun kali ini justru kebalikannya, semua mata seperti terang benderang. Bahkan Mba Asih yang biasanya tertidur saat pelajaran juga masih tetap cerah. Sungguh Gus Tama bagaikan air yang terus membasahi wajah mereka.
Dira, Zahra dan Nina kembali ke kamarnya, di kamar sudah ada Amel dan Putri. Setelah bersih-bersih, Dira tidak lantas tidur, dia harus menyelesaikan tugasnya. Sedangkan Amel justru keluar kamar entah kemana anak itu.
“Masih belum selesai Dir?” tanya Zahra ada Dira.
“Belum Kak, masih lumayan banyak. Kak Zahra kalau udah ngantuk tidur aja kak. Oiya, Mba Amel belum kembali ke kamar Kak?” Dira melihat sekeliling dan memang tempat tidur Amel yang masih kosong.
“Kakak belum begitu ngantuk. Kamu kaya ngga tahu Amel aja, paling dia lagi di kamar gengnya. Lagian kata kamu sama Nina lebih enak ngga ada Amel kan? Hehe.” Dira juga ikut tertawa dengan jawaban Zahra, biasanya Zahra paling sering menasehati dia dan Nina, namun kali ini juga sama menghibahnya. Astaghfirullah.
Tengah malam, Dira baru menyelesaikan tugasnya. “Alhamdulillah” lirihnya sembari membereskan buku tugas-tugasnya. Lelah setelah seharian penuh beraktifitas membuat Dira ingin segera merebahkan punggungnya. Ketika hendak tidur, ponsel genggam miliknya berbunyi pertanda ada pesan masuk.
Oiya, di pondok pesantren ini tidak diperbolehkan untuk membawa smartphone atau HP pintar ketika di lingkungan pondok. Para santri hanya diperbolehkan membawa HP genggam yang dipergunakan hanya untuk kirim SMS atau telepon seluler saja. Alasanya cukup simpel, yakni agar para santri lebih fokus pada ngajinya. Prinsip pondok ini adalah Ngaji nyambi kuliah, bukan kuliah nyambi ngaji.
Smartphonennya mereka titipkan pada orang lain, Dira sendiri dititipkan ke Salwa teman kelasnya. Dira tidak mengeluh dengan peraturan tersebut. Lagian, apa yang Dira harapkan, seseorang yang selalu ditunggu kabarnya hilang entah kemana. Handpone Mama di rumah juga handpone jadul, jadi lebih baik seperti ini.
__ADS_1
“Nomor Baru, kira-kira siapa ya?” gumam Dira dalam hati sambil membaca pesan yang masuk tersebut.
...“Assalamu’alaikum Nadira, selamat malam. Jangan begadang ya. Ingat! jaga kesehatan. Tidak ada bukan berarti tidak ada. Semangat kuliahnya Nadira Arsyakayla.”...
Begitulah isi pesan yang dikirim oleh nomor yang Dira tidak mengenalnya. Seingat Dira, nomornya jarang diketahui oleh banyak orang selain teman kampus dan teman kamarnya. Terus apa maksudnya Tidak Ada bukan berarti Tidak Ada. Aneh, pikirnya.
“Atau jangan-jangan…” anganannya tertuju pada seseorang yang masih selalu melekat pada ingatannya.
Dira berusaha menepis pemikirannya itu. Tidak mungkin jika dia adalah dianya yang dirindukan, dianya yang membawa luka, dianya yang bagai misteri kehidupannya. Lagipula jika dia memang Aydan pasti akan memanggilnya “Sya” bukan “Nadira”. Sebelum pemikirannya bertambah kacau, Dira memaksakan diri untuk memejamkan mata dan siap menyambut aktivitas esok.
......................
Keesokan paginya, seperti biasa setelah ngaji pagi, Dira bergegas membersihkan diri. Hari ini Dira tidak ada jadwal kuliah, sehingga lebih santai. Dira akan datang ke kos Eni, karena hanya itu satu-satunya tujuan Dira hari ini.
Selain camping, ada juga acara amal yang nantinya disumbangkan ke panti asuhan terdekat. Malam puncaknya nanti akan ada purna tugas dan peralihan tugas baru untuk susunan kepengurusan FOSEI yang baru. Dira berada di posisi sebagai kepala departemen edukasi dan Eni di posisi sekertaris.
Setelah megantongi izin dari Abuya (Romo Kyai) dan Ummah (Ibu Nyai), Dira segera menghubungi Eni untuk belanja kebutuhan makrab. Sebelumnya, Dira juga sudah menghubungi Bapak dan Ibu di rumah untuk meminta izin, dan merekapun mengizinkan dengan syarat tetap waspada dan hati-hati.
“Kemana kita hari ini Dir?” tanya Eni pada Dira yang masih males-malesan di tempat tidur Eni.
“Emmm.. bagaimana kalau kita ke mall En? Sekalian cuci mata gitu, hehe,” jawab Dira antusias.
__ADS_1
“Liat doang beli kagak. Ya ayuh deh, siapa tahu nyantol cowo ganteng, anak tunggal, tajir melintir hehe,” Eni menyetujui ajakan Dira sekaligus akan belanja beberapa kebutuhan yang akan di bawa untuk acara makrab.
“Kamu mah kalau urusan cowok cepet banget si. Tapi iya juga si, katanya memandang cowo tampan akan meningkatkan kecerdasan, ya siapa tahu kamu jadi makin cerdas, En,” kekeh Dira di akhir kalimatnya.
“Makanya, yuh Let’s Go. Cus capcus siap-siap dulu kita.”
Merekapun bersiap-siap untuk pergi ke mall. Benar seperti yang mereka katakan, setibanya di mall, mereka hanya melihat-lihat saja tanpa berniat untuk membeli.
“Ck. Sayang banget cuma bisa liat-liat ya Dir,” ucap Eni pada Dira.
“Heegh, setidaknya masih bisa kita liat. Tahun depan kita bisa beli apapun yang kita mau di mall ini. Makanya yuh semangat nabung En. Oya En, kalau kita buka tempat les, kamu setuju ngga?" Tiba-tiba terlintas ide cemerlang dari Dira.
“Wah boleh banget tuh Dir, sebenarnya sudah sejak lama aku ingin membuka tempat les privat gitu, cuma belum yakin saja. Tapi kalau kamu yang ngajak okeylah aku mau,” antusias Eni dengan rencana yang disampaikan Dira itu.
“Okey kalau gitu, setelah acara makrab kita bahas ini ya.” Dira juga tidak kalah antusias dengan Eni. Jika dihitung-hitung lumayan juga, mengingat uang beasiswa yang hanya pas untuk kebutuhan mereka. Mereka juga ingin ada tabungan dan mengurangi beban orang tua.
Setelah puas jalan-jalan atau yang mereka sebut cuci mata itu. Mereka melanjutkan untuk membeli beberapa barang atau cemilan yang dibutuhkan. Tentunya tidak beli di mall, melainkan di tempat lain.
Tidak banyak yang Dira dan Eni butuhkan, maklum anak rantau harus berhemat dan yang penting cukup. Berhubung uang beasiswa bulan ini baru turun, Eni dan Dira menyempatkan untuk makan bakso langganannya. Hanya lima belas ribu rupiah namun rasa bakso solo Bu Roro sangat enak.
Setelah selesai dengan urusan hari ini, Dira dan Eni pun memutuskan untuk pulang. Eni mengantar Dira terlebih dahulu, karena si bocah unyil ini tidak membawa kendaraannya sendiri. Sesampainnya di kamar, betapa terkejutnya Dira dengan keadaan saat ini.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...