
“Akhhh sakit, ampun. Akhh bos kami Tuan Martin, Akhhh,” jawab preman itu. Fahmi yang kesal dan emosi melampisakannya pada preman itu.
“Ah, ternyata benar dugaanku.” ucap Fahmi.
Dira yang melihat demikian segera menarik ujung jaket Fahmi menjauh dari preman tersebut, kalau tidak bisa mati preman itu. Hih Dira bergidik ngeri.
“Kak,” panggil Dira pada Fahmi. Fahmi yang masih emosi membuat Dira cukup takut untuk menatapnya.
Sadar akan keberadaan Dira membuat Fahmi perlahan menurunkan emosinya. Tanpa berkata, Fahmi menarik tangan Dira menjauh dari kumpulan preman yang terkapar tersebut. Dia menggambil kunci motor dan tasnya. Dira hanya mengikuti langkah Fahmi.
“Dimana motormu?” tanya Fahmi yang hanya di jawab dengan tunjukan tangan dimana letak motor Dira saja. Tanpa bertanya lagi, segera Fahmi meninggalkan motornya dan menuju motor Dira.
Sesampainnya di depan motor milik Dira, keduannya hanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Mereka sama-sama tidak sadar bahwa kedua tangannya masih saling bertautan. Dira yang sadar terlebih dahulu lantas melepaskan genggaman tangan Fahmi. Fahmi yang juga terkejut sedikit menjauh dari Dira.
“Kak, senang banget si main gandeng-gandeng aja. Terus nih ya, hobi banget dijahatin orang. Emang Kakak buat salah apa si sampai harus terlibat kaya gitu mulu?” sungut Dira yang hanya ditanggapi tatapan datar oleh Fahmi.
“Udah ngomelnya? Mana kunci motormu?” ucap Fahmi.
“Untuk apa?” bingung Dira yang tidak langsung memberikan kunci motornya.
“Tidak ada waktu untuk bertanya lebih Arsyakayla, aku harus pergi setelah ini. Sekarang mana kuncinya? Aku yang akan membawa motormu, karena motorku bannya bocor.” desak Fahmi pada Dira.
Fahmi kesal karena Dira yang justru diam saja, dia kemudian langsung membuka tas dira yang ada di jok motor. Setelah menemukan kuncinya, segera dia menaiki motor Dira.
“Apa kamu masih mau di sini? Ayo cepat naik, atau aku tinggal,” Dira yang mendengar ucapan Fahmi langsung tersadar dari lamunannya.
“Eh, tunggu dulu. Ini kan motorku, lagian aku belum memberikan izin. Kenapa Kakak lancang banget ngambil gitu aja di tasku.” protes Dira yang hanya ditanggapi tatapan datar Fahmi saja.
__ADS_1
Fahmi langsung menghidupkan motor Dira dan reflek Dira langsung naik di bagian belakang. Fahmi pun segera melajukan motor itu. Sebelumnya, dia telah mengirim pesan pada Adit temannya untuk mengambil motor miliknya.
Hanya angin jalan yang menjadi teman mereka, sedangkan mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dalam hatinya, Dira merutuki kebodohannya. Bagaimana nanti ada yang melihat Dira berboncengan dengan laki-laki, mereka pasti akan salah paham dan mengira mereka berpacaran.
“Oh ya ampun, bisa-bisa kena takzir ini.” lirih Dira yang tak di dengar oleh Fahmi.
Fahmi yang melihat ekspresi Dira dari spion justru menampilkan senyum tipis. Lihat, imut sekali anak ini, batinnya. Lama mereka terdiam, hingga Fahmi memarkirkan motor di sebuah kos yang Dira yakini tempat kos Fahmi.
“Kenapa ke sini?” tanya Dira heran. Jujur saja dia merasa canggung karena baru pertama kali datang ke kos laki-laki walaupun hanya di parkiran. Kecanggungan juga dirasakan oleh Fahmi, namun dia tetap berusaha tenang dan tidak peduli dengan sekitar.
“Menurutmu?” bukannya menjawab, Fahmi justru kembali bertanya. Dira hanya memutar bola matanya jengah.
“Ya sudah sinikan kunci motorku, aku harus pulang.” kesal Dira pada Fahmi. Fahmi pun memberikan kunci motor pada pemiliknya. Dira menerimanya dan segera menaiki motornya. Ketika hendak menyalakan motor, suara Fahmi menghentikan kegiatannya tersebut.
“Tunggu,” kata Fahmi.
“Hm. Siapa juga yang ingin terlibat kaya gitu lagi, kedepannya hati-hati Kak,” ucap Dira tulus walau masih dengan mode cemberut.
“Assalamu’alaikum.” pamit Dira.
“Ya, Wa’alaikumsalam.” jawab Fahmi yang kemungkinan tidak di dengar oleh Dira, karena gadis itu telah pergi.
“Aku harap kamu tidak terlibat dengan masalahku. Aku juga heran kenapa orang itu selalu ingin membunuhku, bukankah apa yang aku lakukan sudah benar. Huh sudahlah, lebih baik aku segera bersiap.” Ucapnya lagi.
Fahmi menghembuskan nafasnya kasar dengan segala beban pikiran yang dia bawa. Bergegas dia masuk ke dalam kos untuk mengambil berkas-berkas penting yang akan dia bawa. Mengingat waktu yang cukup singkat, setelah salat dhzuhur dia bergegas ke stasiun, karena jadwal keberangkatan ke Jakarta sebentar lagi.
...----------------...
__ADS_1
Dira sampai di parkiran pondok putri dengan wajah yang cukup lelah, ingin sekali segera bertemu dengan kasur tipos ternyamannya. Namun sayang, ketika ingin menuju ke dalam, langkahnya terhenti karena seseorang yang sengaja mengeraskan suara yang dia yakini bermaksud menyindirnya. Mengapa? Karena hanya ada mereka berdua di tempat itu.
“Anak yang katanya polos, ternyata pinter juga nyari cowok,” kata seseorang itu dengan pandangan sinis.
Deg
“Apa Mba Amel melihatnya tadi? Waduh gawat ini kalau sampai si mulut nyinyir ngadu ke keamanan,” ucap Dira dalam hati. Walaupun gelisah, namun Dira tetap bersikap santai tanpa berniat menjawabnya.
“Kalau diaduin ke keamanan enak kali ya, tontonan gratis. Hahaha.” ucapnya lagi sambil tertawa dan berlalu begitu saja di depan Dira.
Dira mengepalkan tangannya, ingin sekali dia menabok mulut Amel yang lemes itu. Astaghfirullah, Dira mengucap istighfar berkali-kali agar lebih tenang dan tidak terpengaruh godaan setan. Setelah dirasa tenang, Dira melanjutkan langkahnya ke kamar dan berharap Amel ada di kamar gengnya. Malas sekali rasanya bertemu dengan si mulut lemes. Benar saja, Amel tidak dikamarnya.
"Syukurlah, setidaknya aku dapat beristirahat dengan nyaman." monolog Dira sendiri.
...----------------...
Di tempat lain, seseorang tengah mengistirahatkan tubuhnya dengan layar ponsel yang terus ditatapnya. Lebih tepatnya, dia tengah memandangi foto seorang gadis mungil yang sudah setengah tahun dia hindari.
“Maafkan aku, Sya.” hanya kalimat itu yang sering dia ucapakan, namun tidak langsung pada orangnya.
Ya, dia adalah Aydan Putra Nugraha. Seseorang di masa lalu Nadira yang sampai saat ini masih melekat di hatinya. Aydan masih bekerja di salah satu perusahan otomotif yang terkenal di Indonesia. Diterimanya Aydan di perusahaan itu juga atas motivasi dan bantuan dari Dira. Diralah yang sibuk mengurusi administrasi Aydan, mengajari Aydan beberapa soal yang kemungkinan muncul pada saat tes serta selalu menemani Aydan dalam berbagai tahap penerimaan kerja, sampai akhirnya dia diterima bekerja di PT itu.
Namun sayangnya Aydan harus dihadapkan pada pilihan yang membuatnya harus terpisah dengan gadisnya. Sampai saat ini pun, Aydan terus diselimuti rasa bersalah yang begitu besar pada Dira, terlebih rindunya yang amat besar pada wanitanya itu.
“Jika Allah mengizinkan, do’aku dan do’amu akan bersatu di langit yang sama. Langit yang dimanapun kamu berada, akan tetap melihat langit yang sama, Nadira Arsyakayla.” lirih Aydan penuh harap, karena bagaimanapun Dira adalah gadis yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.
Karena rasa lelah di hati, pikiran dan fisiknya membuat dia tertidur. Dia harus segera mengistirahatkan tubuhnya sebelum nanti kembali kerja di malam hari karena pergantian shift.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...