Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Masa Lalu Ibu Rani


__ADS_3

Aydan saat ini tengah bersiap berangkat kerja karena kebagian shift malam. Sambil menunggu Aris yang juga tengah bersiap, Dia memilih untuk bermain handphone yang sejak terakhir Dira mengabari berangkat ke Jakarta belum dilihatnya lagi.


Aydan mengetikan sesuatu kepada Dira yang berisi dirinya pamit bekerja dan tak lupa untuk mengingatkannya agar tetap hati-hati. Baru saja mengirim pesan, muncul notifikasi pesan lain dari nomer yang tidak dia tahu. Awalnya ingin mengabaikan, namun setelah melihat isi pesannya membuat dia penasaran.


“Temui saya besok pagi di alamat yang saya kirimkan, sebelum terlambat!”_+6281572242333.


“Siapa ini? Dan apa maksudnya?” lirih Aydan setelah membaca pesan dari seseorang yang entah siapa itu. Aydan pun segera membalasnya.


“Siapa Anda?”_Aydan.


Pesan langsung dibaca oleh seseorang di sana. Tak berapa lama, balasan pesan pun masuk.


“Tak perlu tahu siapa aku. Aku tunggu kamu besok jika ingin Dira tidak celaka.”_+6281572242333.


“Sial, apa hubungannya dengan Arsya? Apa ini juga ada kaitannya dengan Ibu? Aku tidak boleh lengah.” umpat Aydan yang terbawa emosi karena ini menyangkut keselamatan Dira.


Aydan tak membalasnya lagi, dia justru mengirim pesan pada Dira, “Sya, tolong kamu jangan sampai pisah sama teman-teman kamu sebelum aku datang besok ya. Tetap jaga diri, istirahat yang cukup, jangan lupa salat dan shalawatnya. Sampai jumpa besok, sayang.” send to Mine❤️.


Masih dengan rasa kesal bercampur khawatir, Aris menghampirinya. Aydan berusaha untuk menstabilkan emosinya dengan mengucap istighfar berulang kali di dalam hatinya. Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Aydan dan Aris pun segera berangkat dengan perasaan Aydan yang campur aduk. Namun dia harus tenang mengingat pekerjaannya yang butuh ketelitian dan kosentrasi tinggi.


......................


Sementara itu, Dira yang masih dengan rasa malunya membuka pesan yang masuk ke ponselnya. Awalnya senyum manis terbit dari wajahnya, namun pada pesan yang terakhir dia merasa sedikit aneh hingga mengerutkan keningnya.


“Assalamu’alaikum Sya, udah sampai mana? Udah salat maghriba apa belum? Jangan sampai dilalaikan ya,”_My Aydan


“Aku berangkat kerja dulu ya. Alhamdulillah dapat shift malam jadi besok kita bisa bertemu. Hati-hati di jalan ya, Sya.”_My Aydan


“Sya, tolong kamu jangan sampai pisah sama teman-teman kamu sebelum aku datang besok ya. Tetap jaga diri, istirahat yang cukup, jangan lupa salat dan shalawatnya. Sampai jumpa besok sayang.”_My Aydan.


“Maksudnya Aydan apa ya? Ah, mungkin dia hanya khawatir, karena memang ini kali pertamanya aku pergi ke kota. Takut aku hilang atau nyasar kali ya? hehe,” monolog Dira sendiri.


“Wa’alaikumsalam Dan. Iya aku pasti hati-hati dan jaga diri dengan baik. Kamu juga hati-hati ya kerjanya, semangat kerja Aydan dan sampai jumpa besok juga ya” send to My Aydan.


Dira jadi senyum-senyum sendiri hingga tidak sadar jika dua lelaki tampan sudah kembali ke mobil.

__ADS_1


“Asik banget lo, Ra? Lagi ngehaluin gue ya?” celetuk Tufail dengan percaya dirinya.


“Ke-PD-an banget lo,” bukan Dira yang menjawab melainkan Fahmi.


“Mau cari makan dulu atau nanti aja, Sya?” tanya Fahmi pada Dira.


Dasar calon bucin, giliran sama Dira aja alus. Beh modus, sewot Tufail sembari menyalakan mesin mobil.


“Ngikut yang lain aja, Kak,” jawab Dira.


“Okey, kamu coba chat teman-temanmu mau pada makan di mana, nanti kumpul di sana,” ujar Fahmi dan Dira mengiyakan.


Ternyata teman-temannya sudah lebih jauh dari mobil Tufail, sehingga Fahmi memutuskan untuk makan bertiga saja. Bukan sekarang, tapi nanti sesuai dengan keinginan Tuan Putri Nadira Arsyakayla.


Berbeda dengan perjalanan awal yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, kali ini mereka saling mengobrol, terutama Dira yang memanfaatkan ini untuk bertanya lebih banyak terkait mosi debat besok. Jujur saja, dia sedikit khawatir untuk besok. Fahmi dengan semangat menjelaskan dan Tufail sesekali ikut menyambung. Dira sangat senang dan semakin yakin dapat memberikan yang terbaik.


Mobil berhenti di depan restoran sederhana yang buka sampai jam 12 malam. Mereka bertiga langsung masuk dan memilih menu yang diinginkan. Dira benar-benar merasa seperti adik kesayangan dua bujang yang saat ini bersamanya.


Kali ini bukan Fahmi yang membayar, melainkan Tufail. Dira yang punya sifat tidak enakan tentu merasa canggung jika harus dibayarkan oleh Tufail, namun namanya rezeki tidak boleh ditolakkan? Baik untuk kali ini tidak masalah dan lain kali aku harus balik mentraktir mereka, batin Dira.


“Selamat Malam Nadira Arsyakayla.” ucap Fahmi dalam hati sembari memandangi Dira dari kaca spion depan dan tersenyum.


......................


Sementara itu, dua orang perempuan beda usia dan seorang laki-laki paruh baya tengah berkumpul di sebuah ruangan yang cukup mewah.


“Jadi bagaimana Rani, apa anak sambungmu telah membuat keputusan tentang perjodohan ini?” tanya lelaki itu pada seorang perempuan yang bernama Rani.


“Sudah, Mas Pram. Ta-tapi dia menolaknya,” jawab Rani lirih namun masih bisa didengar oleh dua orang lainnya.


“Huh, sudahku duga. Jadi bagaimana Mira, apa kamu masih mau dengan anak itu yang jelas-jelas sudah menolakmu?” tanya laki-laki yang diketahui bernama Pramudya pada Amira anaknya.


“Aku hanya ingin Aydan, Dad! Aku pasti bisa menyingkirkan gadis itu, lihat saja nanti!” jawab Amira penuh emosi yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua ke kamarnya.


Brakkk

__ADS_1


Suara pintu ditutup dengan kasar oleh Amira. Pramudya hanya menggelengkan kepalanya, anak perempuannya itu memang sangat manja dan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


“Kamu lihat sendiri Rani? Anak itu sangat keras kepala. Lagian apa bagusnya anak sambungmu itu? Padahal banyak kalangan sekelas denganku yang mau dengan dia,” ucap Pramudya heran diselingi sedikit kesombongan.


“Sudahlah, Mas, nanti aku akan mengurusnya lagi. Apa kamu ingin bersenang-senang denganku malam ini, Mas?” tanya Rani sedikit menggoda.


“Tentu saja, mari kita bersenang-senang, honey.” jawab Pramudya yang langsung menggandeng Rani keluar dari rumah mewah itu.


Perempuan yang benama Rani merupakan ibu sambung dari Aydan Putra Nugraha. Perjodohan yang Rani ajukan pada Aydan merupakan keinginan dari putri Pramudya yang juga merupakan ayah kandung dari Martin Govano. Amira sangat terobsesi dengan Aydan sejak pertama kali bertemu, 10 tahun yang lalu. Rani menyebut Amira sebagai keponakannya kepada Aydan agar tidak timbul kecurigaan.


Flashback On


Istri Pramudya telah meninggal dunia sejak Amira baru lahir, itulah kenapa Amira sangat dimanjakan baik oleh dadynya maupun kakaknya. Saat Martin berusia sembilan tahun, istri Pramudya yang tengah hamil Amira mendadak sakit-sakitan membuat Pramudya merasa tidak terpuaskan kebutuhan biologisnya. Hingga Pramudya mencari kepuasan dari wanita lain yang merupakan Karyawan di perusahan milik istrinya, yang tidak lain adalah Rani.


Sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga baunya. Begitu juga dengan Pramudya yang kepergok istrinya sedang bercumbu mesra dengan Rani di kantornya.


“MAS! Jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku hah! Tega kamu ya, Mas” teriak istri Pramudya penuh dengan emosi melihat suaminya sedang bercumbu dengan wanita lain.


Mereka bedua yang tengah bercumbu mesra kaget mendengar teriakan itu hingga saling melepas diri.


“Ika!” ucap Pramudya, dia lalu mendekati istrinya itu.


“Aku bisa jelasin, Ka,” ucapnya lagi yang langsung dibantah oleh istrinya.


“Cukup, Mas! Akkhhhh..” tiba-tiba Ika istri Pramudya memegang dadanya sembari merintih kesakitan. Pramudya juga semakin panik dan segera membawa istrinya ke rumah sakit.


Sejak saat itu, istrinya harus melakhirkan Amira dan koma hingga akhirnya meninggal dunia. Entah sebuah keberuntungan bagi Pramudya dan Rani atau apa, karena kejadian ini tak ada yang mengetahui selain mereka. Hingga Rani tetap bekerja seperti biasa, begitu juga dengan Pramudya.


Namun, setelah pembacaan surat wasiat oleh pengacara keluarga Govano, Pramudya menjadi uring-uringan. Sebab, semua warisan jatuh ke tangan Martin Govano dan Amira. Di dalam warisan itu juga disebutkan jika Pramudya menjalin hubungan dengan wanita lain, maka dia harus keluar dari keluarga Govano tanpa harta sedikit pun.


Akhirnya Pramudya dan Rani menyusun sebuah rencana agar tidak timbul kecurigaan oleh keluarga Govano. Entah keberuntungan apalagi, Rani justru bertemu dengan Ayah Aydan dan memutuskan untuk menikah namun tetap menjalin hubungan dengan Pramudya sampai sekarang.


Flashback Off


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2