
Dira dan rombongan tiba di Kota Satria tepat waktu subuh. Terpaksa Dira mampir dulu di kos Sekar karena gerbang pesantren yang belum dibuka. Kos sekar jauh lebih mewah dibanding kos Eni yang hanya kos biasa.
Pagi harinya, Dira pulang dulu ke pesantren karena nanti siang akan ada kuliah. Tidak ada yang berbeda dari kamarnya, masih sama seperti pada saat Dira pergi ke Jakarta. Diingatnya obrolan Aydan yang membuat Dira menjadi lebih was-was dengan sekitar sekarang.
“Kemana Mba Putri?” sebenarnya Dira penasaran siapa yang menemui Aydan, karena dia yakin diantara Putri atau Amel. Dia juga penasaran siapa Amira yang katanya dalam lingkungan yang sama dengannya. Bukankah media sekarang jauh lebih pintar, aku akan mencoba mencari tahu nanti, batin Dira mantap.
Masih ada dua jam untuk Dira pergi ke kampus, untung sudah mandi dan sarapan di kos Sekar jadi tinggal siap-siap saja. Direbahkan tubuhnya yang terasa kaku, hingga suara panggilan membuat matanya yang baru terpejam langsung terbuka kembali.
“Eh Mba Amel, kapan kembali, Mba?” tanya Dira pada Amel yang tadi memanggilnya.
“Kemarin, Ra. Oh ya Ra terimakasih ya kemarin udah mau nolongin aku, walaupun aku suka jahatin kamu tapi kamu tetap baik sama aku. Aku juga minta maaf ya atas semua kesalahan aku sama kamu. Apa boleh kita berteman, Ra?” ucap Amel.
Dira justru merasa canggung dan aneh dengan sikap Amel yang seperti ini. Kalau soal memaafkan dia sudah memaafkan sebagai sesama manusia. Kalau soal pertemanan juga sebenarnya tidak masalah, cuma dia merasa sedikit aneh. Dira bersyukur jika teman-temannya sekarang berubah menjadi lebih baik, tapi ini terlalu mendadak.
Ah kenapa semua orang di kamar ini jadi aneh. Waktu itu Mba Putri, sekarang Mba Amel, lebih baik aku iyakan saja, pikir Dira kesal.
“Iya Mba Amel, aku juga minta maaf kalau ada salah sama, Mba. Kita semua teman, jadi ya pasti kita berteman,” jawab Dira. Tidak salah bukan jika Dira menjawab seperti itu karena memang mereka semua teman, tapi bukan berarti teman dekat.
Setelah banyak mengobrol sambil Dira bersiap-siap, Dira pun pamit untuk ke kampus. Amel sempat memberikannya oleh-oleh, namun karena waktu yang sudah mepet membuat Dira menyimpannya dulu di atas lemari plastik miliknya.
Dira sebenarnya merasa sungkan karena tadi ada Putri juga di kamar itu baru pulang, mungkin dari kampus. Namun, Amel hanya memberikannya pada dirinya saja. Oleh karena itu, sepulang kuliah nanti dia berniat akan membagi dua oleh-oleh Amel itu agar tidak terjadi kecemburuan.
......................
Demam Fahmi ternyata makin tinggi, hal itu membuat dirinya terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya yang drop membuat Fahmi harus dirawat beberapa hari ini.
__ADS_1
“Umi, Fahmi nggak apa-apa, Umi jangan khawatir ya,” lirih Fahmi pada Uminya yang terlihat cemas dengan keadaan putra sulungnya itu.
“Bagimana Umi nggak panik, tadi demam kamu tinggi banget loh Mi. Makanya kalau dibilangin Umi itu nurut, kan kan jadi gini. Kamu si pakai acara lembur terus di kantor. Belum lagi acara kampus, seminarlah inilah itulah. Jadinyakan kurang istirahat, makan juga nggak teratur gini,” keluh Umi Fahmi yang justru memarahi Fahmi seperti ibu pada umumnya.
Sebenarnya bukan marah tapi bentuk rasa sayang yang teramat besar kepada buah hatinya. Seorang ibu akan merasa lebih sakit jika melihat anaknya sakit. Betulkan?
Fahmi tersenyum, Uminya memang begitu jika salah satu anaknya sakit. Tiba-tiba, Fahmi teringat dengan Dira yang terakhir kali bertemu juga di rumah sakit, namun di Jakarta. Bedanya saat ini dia yang sakit tapi Dira tak ada di dekatnya seperti yang Dira lakukan pada Aydan.
Walaupun tahu jika Dira telah memilih yang lain, namun hatinya tetap belum rela untuk berpindah ke lain hati.
Diraihnya ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur. Fahmi berharap jika Dira membalas pesannya kemarin, namun sampai saat ini hasilnya masih sama, belum ada jawaban. Apakah dia seorang sadboy sekarang? Entahlah.
“Arrrghh kenapa gue sampai berlebihan begini, bodoh. Wahai setan asmara, menjauhlah!” kesal Fahmi dalam hati.
Umi yang melihat wajah kesal putranya pun menghampirinya, “Kamu kenapa, Mi? Kok wajahnya kaya kesal gitu?” tanyanya.
......................
Berita sakitnya Fahmi pun sudah terdengar seantero kampus, sumbernya pun sangat terpercaya. Siapa lagi kalau bukan Umi Fahmi yang mengunggah foto Fahmi terbaring di rumah sakit dan storynya itu.
Dira dan kawan-kawan yang kemarin ikut kompetisi beserta Eni yang saat ini tengah berkumpul, juga sedang membicarakan Fahmi.
“Kasian Kak Fahmi,” ucap Eni.
“Iya nih, gimana kalau kita jenguk dia di RS?” usul Sekar.
__ADS_1
“Boleh juga, kalau jam tiga sorean gimana? Kalian udah pada kelar belum jam segitu?” tanya Renata memastikan.
Hampir semuanya menjawab free, hanya Agam saja yang masih ada kegiatan UKM. Maka diputuskanlah kalau mereka kecuali Agam akan menjenguk Fahmi sore nanti di rumah sakit.
Seperti rencana awal, mereka berenam pun langsung meluncur ke rumah sakit dengan kendaraan masing-masing. Sebelumnya, Sekar telah menghubungi Fahmi jika mereka akan menjenguknya. Awalnya Fahmi enggan untuk dijenguk, namun karena Dira ikut membuatnya merasa senang dan memperbolehkan. Dasar bucin.
“Assalamu’alaikum”, ucap mereka serempak ketika memasuki kamar VIP Fahmi.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Umi dan Fahmi. Umi masih senantiasa menunggu putra sulungnya itu, sementara Reyhan dia titipkan di rumah tantenya Fahmi.
“Eh, kalian sudah datang, ayo mari masuk,” ajak Umi Fahmi pada teman-temannya. Mereka pun masuk secara bersamaaan, untung ruang VIP jadi tidak dipermasalahkan.
“Terimakasih ya sudah mau menengok anak bandelnya Umi, hehe. Oh ya, ini namanya siapa aja? Jangan lupa follow Ins tagram Umi ya,” ucap Umi Fahmi yang membuat semua orang terkekeh lucu bercampur heran.
Mereka langsung memperkenalkan diri satu persatu, udah kaya anak SD lagi absen. Namun pada saat giliran Dira, Umi Fahmi merasa tidak asing dengannya. Seperti pernah melihat, tapi dimana ya? Pikir Umi Fahmi.
“Nak Dir, ayo duduk samping Umi” ucapan Umi Fahmi membuat yang ada di ruangan itu mengalihkan pandangannya pada mereka berdua. Dira yang sempat tertegun pun hanya mengikutinya.
Like mother, like son, batin mereka.
Dari atas tempat tidurnya, Fahmi terus memperhatikan Umi dan Dira yang sedang mengobrol. Sangat terlihat kecanggungan yang diperlihatkan Dira, namun lama kelaman semakin terlihat akrab.
Apa ini pertanda jika aku harus memperjuangkannya. Lihatlah Umi juga terlihat nyaman ngobrol dengannya? batin Dira sambil tersenyum.
“Nak Dira sudah punya pacar apa belum? atau sudah punya calon suami gitu?” tanya Umi Fahmi dengan keponya.
__ADS_1
Dira terdiam sebentar, lalu melihat ke arah Fahmi yang memalingkan wajahnya.
“Insyaallah sudah ada calon suami, Umi” jawab Dira tenang.