
Sore harinya, Aydan kembali bersiap untuk bekerja. Dia memakai seragam pabriknya seperti biasa. Tampilan yang manis dengan wajah tampan, hidung macung dan warna kulit sawo matang membuat siapapun ingin mendekatinya. Namun bagi Aydan, hanya ada satu nama yang terus menjadi semangatnya, yakni Nadira Arsyakayla.
Setelah merenung dengan ucapan Aris siang tadi, Aydan bertekad akan memperjuangkan cintanya. Apapun resikonya nanti, Aydan menyerahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa. Cukup baginya untuk berjuang. Bukankan cinta butuh perjuangan?
“Bismillah, Tunggu aku Sya” ucap Aydan menyemangati dirinya.
...----------------...
Sedangkan di sebuah café, Fahmi dan teman-temannya akan mengadakan rapat BEM yang salah satunya akan membahas tentang persiapan event debat 2 minggu lagi. Sudah ada dua group masing-masing tiga nama yang akan mewakili kampus U untuk mengikuti event bergengsi tersebut. Satu peserta dari BEM Universitas dan dua lainnya dari berbagai delegasi UKM atau siswa berprestasi yang telah lolos seleksi.
Tanpa basa-basi, Fahmi langsung saja membuka rapat tersebut. Jiwa kepemimpinan, karisma dan wibawa Fahmi tentu sudah tidak diragukan lagi. Hingga tiba saat pengumuman peserta yang berhak mengikuti lomba debat nasional tersebut, sesuai hasil tes yang mereka lewati.
Netranya menangkap satu nama yang tidak asing baginya, siapa lagi kalau bukan Nadira Arsyakayla. “Pintar juga ini anak”, batin Fahmi. Senyum tipis menghiasi wajah Fahmi, karena saking tipisnya membuat hanya dirinya sendiri yang tahu. Untuk tim Nadira, dari UKM Sains sendiri ada Renata dan untuk BEM Universitas ada Zaid yang akan mengikuti.
Sedangkan tim yang satunya ada Sekar, Adam dan Agam yang akan mewakili. Sebagian nama-nama itu tentu sudah berulangkali menorehkan prestasi yang membanggakan bagi kampus U. Oleh sebab itu, mengingat event ini juga besar, maka harus dipersiapkan sebaik mungkin. Peserta sendiri diambil dari semester 3 sampai 5, sementara semester 7 sibuk dengan KKN yang akan diselenggarakan sebentar lagi.
“Besok kumpulkan semua peserta yang terpilih. Dan Fail, kamu yang akan membimbing mereka” perintah Fahmi dengan nada yang tegas. Tufail hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
“Rapat saya cukupkan. Buat yang masih mau disini silakan, saya harus pergi. Terimakasih dan Assalamu’alaikum” Fahmi menutup rapat tersebut, dirinya lantas pergi bersama dengan Tufail yang memang harus menyelesaikan beberapa tugas lainnya.
Fahmi dan Tufail adalah orang yang paling sibuk, namun mereka sangat menikmati setiap kesibukannya. Dengan mengendari mobil milik Tufail, mereka berdua sampai di sebuah gedung berlantai 3 yang tidak lain adalah FM Group. Sampai saat ini, hanya Tufail dan Fahri temannya yang mengetahui jika pemilik FM Group adalah Fahmi sendiri.
Fahmi sengaja menutupi itu semua dengan selalu bersikap biasa dan sederhana. Makanya, ketika ke kampus dia tidak pernah membawa mobilnya dan memilih untuk tinggal di kos-kosan dibanding apartemen. Lagi pula untuk apa dia memamerkan hartanya yang hanya akan mengundang para penjilat.
Sedangkan Tufail adalah sahabatnya semenjak SMP dan dialah yang menjadi tangan kanan dari seorang Fahmi. Bahkan banyak yang mengira jika FM Group adalah milik Tufail. Sebenarnya Tufail juga dari kalangan berada, Ayahnya memiliki usaha di bidang fashion. Namun dirinya justru lebih nyaman bekerja dengan Fahmi dibandingkan bersama Ayahnya.
__ADS_1
Mereka pun langsung menuju ruangannya dengan menggunakan lift khusus. Selain Tufail, Fahmi juga memiliki seorang kepercayaannya yang sudah dia anggap seperti Abangnya sendiri, yakni Bang Alvian. Sesampainya di ruangan, mereka lantas sibuk dengan pekerjaan yang cukup banyak hari ini.
...----------------...
Keesokan harinya, Dira yang tidak memegang smartphone belum mengetahui pemberitahuan bahwa dirinya lolos seleksi debat. Otomatis dia juga belum tahu bahwa hari ini akan diadakan pertemuan peserta lomba debat. Dia justru sedang sibuk memikirkan hari besok yang bertepatan dengan ulang tahun kekasih tanpa kejelasan statusnya.
Jika diluaran sana pasti akan beranggapan Dira gadis yang bodoh karena mengharapkan sesuatu yang jelas sudah mengecewakannya. Tapi memang begitu kenyataanya, dia masih selalu menunggu kabarnya, hadirnya, senyumannya dan segala tentangnya. Bisa dibilang kalau sudah cinta, Dira jadi gobl"k.
Ditengah kesibukan pikirannya, gedoran pintu membuat lamunannya buyar. Ya, Dira saat ini sedang di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
“Dir, dari tadi ponselmu bunyi terus, barangkali penting” teriak Nina dari luar pintu.
“Iya Kak Nin, siapa yang telfon?” tanya Dira dengan suara yang tidak kalah kerasnya dari Nina.
“Dari Eni ini, kamu cepetan gih mandinya. Perasaan udah hampir setengah jam kamu di kamar mandi” ucap Nina lagi.
“Okey” jawab Nina yang kemudian pergi kembali ke kamar mereka.
Sudah hampir selesai, namun ketukan pintu kembali terdengar.
“Apalagi Kak Nin, angkat aja. Ini bentar lagi” teriak Dira yang sedikit kesal karena terus digedor pintunya. Dia pun segera keluar, namun setelah membuka pintu ternyata bukan Kak Nina yang menggedor pintu, melainkan Putri.
“Eh ternyata Mba Putri, maaf Mba aku kira tadi Kak Nina. Oya silakan Mba” ucap Dira sembari keluar kamar mandi dan mempersilakan Putri masuk. Putri hanya melihat wajah Dira sekilas dan langsung masuk tanpa menjawab ucapan Dira.
“Eh, makin aneh aja Mba Putri. Tapi ya sudahlah, memang pendiam banget kali ya” lirih Dira yang sedikit aneh dengan sikap Putri.
__ADS_1
Sejak kejadian beberapa minggu lalu, sikap putri makin aneh dan semakin diam. Ketika Dira, Nina dan Zahra hendak membahas masalah Putri, Putri justru mengunci mulutnya rapat. Dira dan Kakak-kakaknya menghormati Putri yang mungkin tidak ingin berbagi dengan mereka.
Sesampainya di kamar, Nina langsung memberikan ponsel Dira pada pemiliknya yang masih tersambung dengan panggilan Eni.
“Makasih Kak Nin” ucap Dira sambil menerima handphonenya dan Nina hanya menganggukan kepalanya.
“Assalamu’alaikum, En. Hallo” salam Dira pada Eni.
“Ya ampun, kemana aja si kamu Ra?” bukannya menjawab salam dan sapaan Dira, Eni justru langsung bertanya pada Dira dengan nada yang kesal. Bagaimana tidak, dia sudah 10 kali menelfonnya tapi tidak ada jawaban, sekali ada jawaban malah teman kamarnya yang menjawab.
“Jawab salam dulu En. Lagian tumben telfon En?". Ucap Dira.
“Ck. Wa’alaikumsalam. Udahku duga, kamu pasti belum tahu berita hari ini. Ck lagian kenapa kamu milih pesantren yang ngga memperbolehkan bawa smartphone si” sungut Eni pada Dira.
“Ck. Aku nyaman di sini, biar fokus ngaji juga. Lagian berita apa si? Sampai bikin kamu heboh gini?” tanya Dira penasaran.
“Oiya ampun, hampir lupa saking keselnya. Diraaaaa, selamat ya kamu lolos seleksi DeNas (Debat Nasional) dan nanti semua peserta akan mulai berkumpul” jawab Eni antusias karena merasa senang sahabatnya lolos seleksi.
Dira yang mendengar tentu terkejut, senang dan tidak menyangka sekaligus.
“Hah, yang benar kamau En? Kamu lagi ngga nge-prank aku kan? Aduh mana kameranya, mana mana? Ahh aku seneng banget En” jawab Dira yang belum percaya sepenuhnya sembari berjingkrak senang.
“Benar kali, ngga ada prank-prankaan. Udah, sekarang kamu ke kampus aja, kumpulnya nanti jam 10 di ruang BEM U, Ra” ucap Eni seraya memberikan informasi tambahan.
“Untung kamu punya teman sepertiku hahaha. Ya udah aku tunggu di tempat biasa ya nanti. Udah dulu, pulsaku mau abis, kan pakai telfon biasa biaya pulsanya mahal. Haha Assalamu’alaikum” sambung Eni lagi yang langsung mematikan sambungan telfonnya tanpa menunggu jawaban Dira.
__ADS_1
“Wa’alaikumslam. Dasar Eni, belum dijawab udah dimatiin aja. Tapi, apa tadi? aaaaa akhirnya aku lolos juga. Yes-yes yes” Dira berjingkrak gembira. Beruntung hanya ada dia di kamar ini. Setelah itu, Dira segera bersiap ke kampus dan akan menghubungi orang tuannya nanti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...