
Di sinilah mereka, dapur kecil yang ada di kontrakan Aydan. Sepertinya tidak sopan jika ingin membicarakan hal peting di tempat jemuran. Setidaknya jika tidak romantis ya buat nyaman, begitu pikirnya.
“Maaf ya Sya, lagi-lagi bukan tempat romantis,” ucap Aydan beusaha membuat suasana tidak tegang, benar saja Nadira sedikit lebih tenang.
“Siapa Fahmi, Sya?” tanya Aydan langsung tanpa basa-basi. Dira memfokuskan pandangan menatap Aydan.
Benar kan tentang Fahmi, batin Dira. Dengan tenang Dira pun menjelaskan siapa Fahmi.
“Seperti yang tadi aku katakan Dan, Kak Fahmi adalah seniorku di kampus. Dia adalah Prsiden Mahasiswa di kampus U. Aku dengannya memang tidak ada hubungan apapun selain teman, seperti yang lainnya,” jawab Dira dan Aydan hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
“Huh, dia pasti kerenkan?” tiba-tiba Aydan menjadi insecure mengingat dirinya hanya tamatan STM sedangkan Dira calon sarjana.
“Hey, apakah Aydanku sedang cemburu?” ucap Dira sedikit menggodanya, Aydan hanya diam saja.
Sambil menarik nafas kasar, Dira melanjutkan ucapannya. Dia paham betul jika Aydan sedang marah, cemburu atau banyak pikiran maka akan memilih diam.
“Dia memang keren, prestasinya banyak, membanggakan, pokoknya luar biasa. Dia juga baik, karismatik, secara fisik tinggi tampan bahkan idola kampus. Dia juga…” ucapan Dira langsung dipotong oleh Aydan.
“Cukup, Sya! Kamu begitu memujinya,” ucap Aydan dengan nada datar bercampur kesal.
Lah kok ngambek, katanya tadi tanya keren apa nggak. Giliran dijawab malah gitu, lirih Dira bingung sendiri.
Namun beberapa detik kemudian, dia sadar akan kekeliruannya. Ya ampun, jelas Aydan marah ini, mana ada cowok nggak marah kalau ceweknya memuji cowok lain. Bisa-bisanya aku ini, batin Dira merutuki kesalahannya.
“Maaf, Dan. Jangan marah ya,” ucap Dira dengan tatapan memelasnya. Hal itu justru terlihat menggemaskan bagi Aydan. Damn.
“Huh," Helaan nafas Aydan.
“Aku tidak marah, Sya, hanya sedikit kesal. Tapi jika kenyataanya memang seperti itu aku jadi insecure. Kamu menerimaku apa adanya, tapi bagaimana dengan orang tuamu? Kamu calon sarjana sedangkan aku hanya kuli pabrik lulusan STM aja,” keluh Aydan.
Dira paham apa yang dirasakan oleh Aydan. Penilaian semacam ini sudah biasa di masyarakat sekarang. Sayangnya banyak yang berilmu tapi minim akhlak, itulah kenapa keduannya harus berdampingan. Lagian ilmu tidak hanya didapat di pendidikan formal saja.
Dengan cepat Dira pun mencoba untuk meyakinkan kepercayaan diri Aydan.
“Dan, kamu jangan khawatir masalah pendidikan. Insyaallah orang tuaku begitu juga aku tidak memandangmu dari sisi pendidikan. Toh nanti bisa jadi kamu lanjutin kuliah. Bagi orang tuaku adalah melihat anak-anaknya bahagia, dapat suami yang saleh dan bertanggungjawab, kalau tampan itu bonus katanya, hehe,” jelas Dira yang membuat Aydan sedikit tersenyum lega.
“Ngomong-ngomong kamu sama Kak Fahmi mirip loh, Dan. Tidak hanya itu, golongan darah kalian juga sama,” lanjut Dira yang merasa ada kemiripan antara Fahmi dan Aydan.
“Masa?” tanya Aydan singkat.
__ADS_1
“Beneran, kalian tuh mirip kaya kakak adik gitu. Oh ya, Kak Fahmi juga yang udah donorin darah buat kamu. Untung ada Kak Fahmi, kalau enggak aku ngga tahu nasib kamu bagaimana Dan, karena golongan darah kalian itu golongan darah langka yang kemungkinan hanya 1-2 persen gologan darah orang Asia,” ungkap Dira sedih jika mengingat apa jadinya kalau tidak ada yang menolong Aydan.
Aydan yang tadi sempat cemburu dengan Fahmi seketika merasa bersalah. Dalam hatinya dia bersyukur ada orang baik yang bersedia mendonorkan darahnya itu.
“Aku harus berterimakasih langsung pada orang itu, Sya. Nanti tolong kirim nomor ponselnya dan jika memungkinkan aku ingin bertemu,” ucap Fahmi pada Dira dan Dira pun mengiyakan.
Aydan yang waktu itu belum sadar dari kritisnya jadi tidak tahu seperti apa wajah Fahmi. Jika melihatnya mungkin dia akan mengingat kala pertemuan pertama mereka di pabrik.
“Ada yang ingin aku sampaikan lagi sama kamu, Sya. Tapi sebelumnya aku minta kamu tetap tenang ya,” ucap Aydan lagi-lagi buat Dira penasaran.
“Iya, apa itu, Dan?” tanya Dira.
“Sebelum kejadian kemarin, aku bertemu dengan seseorang yang menyampaikan sesuatu terkait keselamatanmu,” ungkap Aydan.
Deg
Siapa? Dan apa maksudnya tentang keselamatanku?, tanya Dira dalam hati, dia ingin Aydan menyelesaikan ceritanya.
“Orang itu pula yang memberitahuku jika kamu dalam bahaya waktu itu. Karena itu, aku selalu meminta kamu buat jangan sampai pisah dari teman-temanmu sebelum aku datang,” jeda Aydan.
“Awalnya aku tidak percaya, tapi ketika dia menyebutkan tentang Amira, aku jadi percaya. Kamu ingatkan Amira yang ingin dijodohkan denganku?” tanya Aydan pada Dira.
“Ya, ini adalah rencananya, sayangnya aku tidak punya bukti untuk membuat dia jera," geram Aydan.
"Orang itu tak menyebutkan nama, dia hanya bilang kalau dia temanmu bahkan satu kamar di pondok pesantren yang sama denganmu,”Jelas Aydan lagi.
Deg
“Apa?! Di kamarku hanya ada aku, Kak Zahra, Kak Nina, Mba Putri dan Mba Amel. Kalau Kak Zahra dan Kak Nina tidak mungkin karena mereka saja sedang KKN. Kalau Mba Putri juga tidak mungkin, apa jangan-jangan Mba Amel? Dia juga tinggal di Jakarta, tapi entah kota mana dan saat ini sedang pulang. Iya jangan-jangan Mba Amel. Tapi apa dia tahu sesuatu tentang kita?” Dira jadi frustasi sendiri, mengapa ini jadi seperti misteri dan rumit, apalagi taruhannya nyawa.
“Bisa jadi, Sya. Tapi dia mengatakan jika kamu atau aku tidak perlu mencari tahu siapa dia”
“Bahkan Amira juga sudah sejak lama berada di dekat kamu, sayangnya aku juga tidak tahu wajah Amira seperti apa” geram Aydan yang juga sama frustasinya, itu artinya keselamatan Dira semakin terancam.
Dira semakin bingung dan was-was tapi dia harus tenang. Sekarang dia paham kenapa Aydan ingin segera menikahinya karena Aydan ingin melindunginya.
“Apa ini juga alasan kamu untuk segera menikahi aku, Dan?” taya Dira memastikan.
“Ya benar, Sya. Maafin aku jika aku egois dan membawamu pada situasi yag rumit ini” Aydan menunduk, entah apa tanggapan Dira tentang ini.
__ADS_1
Dira dengan lembut dan tersenyum kembali bicara, “Aydan jangan tundukan wajahmu. Apapun itu rintangannya, mari kita melangkah bersama,” Aydan langsung saja mendongak dan melihat Dira yang tengah tersenyum manis padanya, wajahnya begitu tenang tanpa ada rasa takut.
“Kamu masih ingat apa yang kita bicarakan di taman? Tentang bunga Marigold yang memiliki arti keindahan, kehangatan, kekayaan bahkan kenyamanan” jeda Dira.
“Namun dibalik keindahannya, dia juga menyimpan makna yang menyakitkan tentang keputusasaan dan kekejaman. Mungkin ini yang akan kita lalui, tinggal pilih ujung kisah yang mana, menjadi pengecut atau sebaliknya,” jelas Dira pada Fahmi.
Hati Aydan begitu tersentil, dia yang pernah merasa menjadi pengecut begitu malu pada Dira yang dengan mudahnya mau memberikan kesempatan kedua. Oleh karena itu, dia tidak ingin menyia-nyaiakan kesempatan itu.
Dengan mantap, Aydan pun berucap, “Sya, Aku akan tetap memperjuangkanmu. Aku yang akan melindungimu dan aku minta tetaplah bersamaku,”
Dira menganggukan kepalanya dan tersenyum. Perasaannya bercampur aduk, tapi Dira harus tetap tenang dan sabar. Mereka telah memilih jalannya, entah bagaimana nanti akhirnya biar Allah yang menjawab.
Mereka pun kembali bergabung dengan teman-teman lainnya. Para cowok sibuk dengan gamenya sedangkan para cewek sibuk dengan akun belanjanya, kecuali Dira tentunya.
......................
Hari ini Fahmi terlihat begitu lelah. Hampir tiap malam dia dan orang-orang kepercayaannya harus lembur menyelesaikan project dengan Agro Company, Dia harus menyelesaikan sebelum kegiatan KKN dimulai. Biar bagaimanapun, Fahmi adalah seorang mahasiswa yang harus mematuhi peraturan kampus.
“Mi, mending lo balik deh istirahat. Lo bisa sakit kalau terus-terusan kaya gini,” ucap Alvian mengingatkan karena tidak tega melihat Fahmi yang begitu pucat hari ini.
“Nanti aja Bang, tanggung tinggal dikit lagi,” jawab Fahmi. Ck dasar bocah keras kepala, gerutu Alvin. Alvian tidak tinggal diam, dia langsung menghubungi Tufail untuk menjemput Fahmi di kantornya.
“Udah ini biar gue aja yang urus, lo mending pulang. Gue udah hubungin Tufail buat nganter lo dan dia udah nunggu di parkiran,” jelas Alvian yang sudah tidak sabar dengan sikap Fahmi yang keras kepala itu.
Akhirnya Fahmi pun menyetujuinya. Jujur saja dirinya merasa tidak enak badan bahkan demam. Setelah berpamitan dengan Alvian dia pun turun ke parkiran menuju mobil Tufail yang sudah menunggunya.
“Kusut banget, sakit lo, Mi?” tanya Tufail begitu melihat Fahmi masuk ke mobilnya.
“Nggak usah berisik Il, udah ayo jalan ke kosan gue aja,” jawab Fahmi yang langsung memejamkan mata.
Tufail tanpa bertanya lagi langsung melajukan mobilnya. Dia yang merasa Fahmi sedang tidak baik-baik saja maka tanpa sepengetahuan Fahmi membawanya pulang ke rumah orang tuannya. Sepertinya Fahmi juga sedang tertidur, begitu batinnya.
Setengah jam lebih baru Tufail sampai di rumah orang tua Fahmi. Dengan sedikit menggoyangkan punggung Fahmi, Tufail membangunkannya.
“Mi, bangun udah nyampai kita,” ucap Tufil. Wah demam ini anak, badannya panas, lirihnya dalam hati.
“Emmm,” tak berselang lama Fahmi pun membuka matanya. Dilihatnya sekitar ternyata ada dihalaman depan rumah orang tuanya. Sedikit kesal dengan Tufail, namun seakan tenaganya terkuras membuat dia tidak ingin beradu argument dengan Tufail.
Sekesal-kesalnya Fahmi tetap mengajak Tufail untuk mampir terlebih dahulu. Dengan senang hati, Tufail pun mengiyakan karena dia juga sebenarnya rindu untuk menjahili Reyhan adik Fahmi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...