
Pagi ini, Bimo sudah selesai sarapan, dimana hari kedua ia beristirahat di hotel berbintang. Namun bukan tanpa alasan, sistem meminta Bimo tidak keluar hari itu juga, sebab mata mata Zack, ia berada di luar ingin mencari momen dimana Bimo lengah, untuk di beri pelajaran karena telah mengalahkannya. Ketimbang Bimo melanggar, ia melakukan hal untuk mengecek penghuni ruko gamers, dimana ia memenangkan uang puluhan juta dalam semalam. Bahkan, Bimo mencari tahu siapa Zack, dan pengikutnya demi mencari kelemahan untuk Bimo kalahkan jika nanti kembali berhadapan.
"Bagaimana jika aku keluar saja?"
"Tuan, anda harus ikut klub penca silat. Semacam bela diri untuk melawannya, jika berminat akan saya tunjukan tempatnya, dan beri misi kedua ini untuk tuan, untuk berjaga jaga saja." ujar Sistem.
"Benarkah, apakah ada keuntungan nya?" tanya Bimo penasaran, dengan wajah penuh harap mendapat saldo tambahan.
"Keuntungannya, anda bisa melawan mereka. Membuat mereka diam, tak berani macam macam pada anda lagi. Untuk misi ini, hanya bintang tiga saya berikan penilaian." ujar Sistem, membuat Bimo diam lemas.
"Oke, baiklah. Demi keselamatan diriku, aku tidak mungkin membiarkan nyawa terancam, soal bertarung. Mana mungkin aku kalah karena tak punya bela diri. Kaya satu hari, untuk apa aku hidup, biar ku lawan mereka yang tidak menerima kekalahan." ujar Bimo, ia berjalan sambil membaca buku.
Dimana saat ini Bimo juga nampak terlihat duduk serius, membuka laptop mengamati beberapa foto Zack dan anak buahnya. Bahkan ruko yang pertama kali Bimo datangi, ia mencoba mencari tahu asal usulnya.
Dan selang beberapa menit, 'Ruko itu pernah ada seorang pria membawa anak kecil, di arak karena di tuduh menipu uang banyak peserta, lalu korban hanya sendiri saja, hingga saat ini keluarga korban tidak ketemu.' lirih Bimo penasaran.
"Oh tidak, bagaimana nasib pria itu. Dari alamat yang tertera, ada saksi di jalan drupada kian santang no 35, reporter yang telah hiatus dan hilang begitu saja." terkejut Bimo.
"Kau tahu, alamat ini adalah alamat paman, dimana ia adalah ayah angkat ku tinggal. Apa sebelumnya rumah tua itu ada penghuni pertama atau ayahku itu penghuni kedua membeli rumah pada reporter itu ..?" tanya Bimo.
"Untuk hal itu, anda bisa berjalan mencari informasi. Sebab itu juga bagian penting misi kedua selain tentang tuan Ansara, bukankah ada kaitannya kemungkinan .. ?" jelas Sistem.
"Yah, benar juga kau Sistem mata mata ku dan telingaku, kau terbaik. Pasti ada hubungannya dengan kakek An." senyum Bimo.
Dimana saat itu juga, Bimo menatap jam. Jika saat ini adalah jadwal mengecek kakek An, di mansion mewah yang mana Bimo ingin sekali Kakek An, segera sadar karena ada banyak pertanyaan di benak pikiran dan hatinya yang mengganjal.
Bimo pun bersiap dengan setelan perpaduan jaket tebal, topi, dan kacamata blue. Ia bahkan kali ini sudah memesan taksi menuju mansion. Dimana memutar mutar ponsel jadul siemens, dari bingkai kamar Tuan An.
'Aneh, ponsel ini tidak ada kartu. Tapi pesan misi selalu tampil mendadak, apakah ini ponsel mahluk halus?' batin Bimo, yang masih kebingungan dengan ponsel lama yang tak pernah tertinggal di saku jaketnya.
Seperti biasa, dalam puluhan menit tiba. Ia berpapasan dengan Alexa, yang nampak dari bekerja, penuh wajah capek serta lelah.
__ADS_1
"Eh dokter Beno, sudah lama?" tanya Alexa.
"Tidak baru saja."
"Kalau begitu langsung saja dok! saya juga akan keluar lagi, sebab ada obat yang harus saya beli resepnya di kamar kakek. Jika ada obat yang perlu saya beli, telepon saya ya dok!" senyum Alexa, memberikan kartu nama.
Bimo yang nampak gemas, ia sadarkan dengan sikap dingin menuju lantai satu. Di mana keberadaan kakek An berada. Dan sampailah ia berada di kamar kakek An.
Pertama kali, melirik pintu tertutup. Maka Bimo beraksi mengecek keadaan kakek An, dengan menyalakan senter medis ke arah mata, denyut kakek An pun stabil.
Loading ...
Proses ...
Kontak Mata Berhasil ...
10 % ...
40 % ...
60 % ...
77 % ...
Berhasil terdetek ...
Pasien : Ansara 72 tahun.
Sakit : Struk Langka.
Kondisi : 42 % membaik, denyut jantung dan organ lain stabil.
__ADS_1
"Bagus, kemarin 20 % kritis, setidaknya ada perubahan. Kakek, cepatlah siuman. Ada banyak yang ingin saya tanya, kelak jika kakek An sembuh!" ujar Bimo, setelah itu kembali merapihkan tas dokter untuk pulang.
Bahkan kali ini, Bimo juga mengganti infusan dan memberikan suntikan khusus. Dimana Bimo akan kembali ke hotel, tugas menjadi dokter telah berhasil ia lewati dalam sepekan, dimana Bimo hanya menjadi dokter khusus kakek An.
"Saatnya kembali, mari bersiap untuk malam bertarung!" senyum Bimo, melirik Sistem saat itu.
Namun bukan tanpa hal, saat Bimo turun anak tangga. Ia mendapati Alexa tengah beradu mulut dengan mamanya, yakni mantan mertua Bimo bernama nyonya Emily.
"Tetap aja ga bisa mah!"
"Alexa, kamu harus cari cara dong. Masa Robi, kakak ipar mu ga bisa kamu pilih dan tunjuk sebagai manager. Apa gunanya kamu di kantor hah?"
"Mom, aku udah masukin di daftar nama Roby, tapi wewenang pemilihan bukan dari aku. Paman Brian bilang harus persetujuan kakek dan kelompok anggota yang memilih. Dimana cap jempol juga tidak sah, maka kakek harus siuman dulu. Aku ga ngerti kenapa mom selalu paksa Alexa, aku capek mom!" teriak Alexa.
"Ingat Alexa, kerugian dua miliar. Jangan sampai mansion ini di sita, dan perusahaan di ambil alih oleh si Brian tua itu. Kamu harus cari cara, supaya Kyle dan ipar mu masuk ke kantor untuk memegang alih! semua agar aset kakek tetap pada kita." ujar Emily, membuat Alexa berkaca kaca sedih.
"Moms jahat, moms yang berhutang. Kenapa aku yang harus pikirkan semuanya?"
"Tunggu Alexa!!" teriak Emily tak terima, putrinya membantah.
Alexa yang kesal, ia segera pergi dan berlari ke kamarnya karena penat.
Sementara Bimo saat itu, ia sedikit mengintip dari balik tembok besar. Dimana ia melihat mantan mertuanya ini sedang terlilit hutang.
"Mereka punya hutang, dalam berapa pekan sudah fantastis, ah sudahlah! bukan urusanku juga." lirih Bimo, ia pergi lewat pintu belakang tanpa pamit atau sekedar menemui Alexa, soal kondisi kakek An.
Yang ada dipikiran Bimo, adalah kembali ke hotel berbintang untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal, sebab hanya dirinya yang bisa mengambil. Sistem, hanya sebagai mata dan telinga dirinya saja membantu.
Namun saat dalam perjalanan, seseorang menghadangnya dengan pakaian tak biasa, dan motor besar seolah menghalangi Bimo untuk melangkah.
"Siapa kau, kenapa halangi aku ingin lewat?" teriak Bimo, dan sedikit kaget.
__ADS_1
TBC.