Menantu Kecil Seperti Dewa

Menantu Kecil Seperti Dewa
Sakit Tapi Kabur


__ADS_3

Alexa saat ini merasa terkejut, saat kini kembali ke kamar Bimo. Nampak sekali makanan tidak disentuh, hal itu membuat Alexa nampak sedih. Entah kenapa dirinya merasa gagal, padahal makanan terlihat enak setelah ia cicipi, bahkan hiasan di makanan tidak tersentuh.


'Astaga, kenapa aku ini. Hanya karena mas Bimo tidak memakan saja, membuatku gusar.' batin Alexa.


Alexa nampak sekali merapihkan meja makanan yang ia tata, hanya nampak minuman segelas yang habis. Saat Alexa ingin mengambil kantong plastik, berusaha ingin membuang makanan yang ia masak tadi, sebuah telepon membuat tatapannya membola.


Trdeeeth.


[ Ada hal yang membuat aku pergi, tolong makanan tadi disimpan, hangatkan ketika aku pulang saja. Maaf, aku sedang mengurus kakek yang akan pindah ke klinik, suster Shasa ada di klinik. Jadi jangan khawatir dengan keadaan kakek. Aku segera pulang dan makan masakan terenak mu istriku. ] Pesan Bimo.


Alexa mengigit bibir bawahnya, entah kenapa ia merasa kesal saat akan membuangnya. Tapi Bimo tepat mengirim pesan yang membuat hatinya bimbang. Setelah Alexa kembali baca pesan Bimo berulang ulang, nampak kesal ia membanting ponselnya.


'Astaga, kenapa aku cemburu dengan suster Shasa. Bagaimanapun aku tidak suka melihat suster bohay itu dekat dekat mas Bimo. Tapi tidak banyak yang tahu, kalau aku itu istrinya kan. Sebab beberapa orang yang bekerja di mansion, dan rumah sakit tidak tahu siapa aku.' batin Alexa.


Meski sedikit berbunga Bimo memberi kabar, hal itu membuat Alexa merasa dihargai akan masakan yang ia pikir Bimo tidak suka atau berselera, maka hal yang Alexa pikirkan adalah ke rumah sakit, tepatnya Klinik Keluarga Ansara. Ia segera memindahkan makanan ke dalam box makanan hangat setelah beberapa menit akan ia hangatkan di microwave, untuk ia bawa ke klinik mas Bimo yang baru.


'Aku akan bawakan makanan ini dokter.' lirihnya Alexa bicara sendiri.


***


Di beda tempat terlihat Emily yang sudah kesal, apalagi menantu sialannya itu yang selalu ia manja nampak menghilang saat ia di usir.


"Mah, kita udah berhenti di pos setiap jalan, perut Kyle juga lapar lagi."


"Sabar Kyle bertahanlah sedikit lagi!"


"Apa tidak sebaiknya kita ke tempat Bimo, minta maaf dan nurut aja mah. Sambil kita pikirkan siasat lainnya, buat ambil harta kakek. Bukannya mama juga berhak kan?"


"Diamlah Kyle! Lebih baik kamu hubungi suami mu itu, disaat seperti ini dia tidak berguna bukan. Katanya dia keluarga kaya, kenapa bisa dia pergi begitu saja. Sejak dua hari dia tidak nampak batang hidungnya."


"Udah aku hubungi mah, tapi benar benar dia ga bisa Kyle hubungi, apa dia marah pas Kyle rendahin dia. Kyle sempat kesal soalnya pas tahu Bimo pewaris kakek An."


Uhuuuk …


Uhuuuk …


Nampak sekali Emily terbatuk, hal itu membuat Kyle sedikit kesal dan melirik satu mobil mewah, yang mungkin bisa ia tarik untuk memberi tumpangan.

__ADS_1


"Kau mau apa Kyle?"


EMILY, melihat putrinya menurunkan baju setengah minim, seolah ingin berjualan saja, berdiri beberapa puluh menit mengacungkan jari untuk meminta tumpangan.


"Kyle ga bisa diem aja mah, siapa tau kita bisa tidur ditempat enak. Yang jelas kita ga bisa sewa hotel karena mama kosong rekening kan." cetusnya, hal itu membuat Emily sesak tingkah putrinya itu.


Sreeeth!!


Nampak sebuah mobil berhenti tepat di samping Kyle, dimana dia senyum ke arah sang mama, dan berharap cowo tajir kaya yang terpikat olehnya, dan memberi tumpangan. Apalagi disaat seperti ini, Kyle khawatir pada sang mama yang saat ini terbatuk dan wajahnya pucat, kesehatan terganggu setelah jatuh miskin tak punya apa apa, di usir olep pewaris kakek yang ia benci saat ini.


"Dia pasti tajir mah, kalau dia tajir lebih dari Bimo kita bisa minta bantuannya!" Teriaknya membuat Emily menggeleng kepala, akan sikap putrinya itu.


Mobil berhenti, kaca mobil hitam pekat itu membuka dan nampak kaget saat itu juga.


"Kyle, aku cari kamu dan mama. Ayo masuklah!'


"Robi, aku pikir kamu… kau bisa bawa mobil mewah ini, kok bisa?"


"Masuklah, ayo bawa mama!" Teriak Robi, hal itu nampaklah mereka jadi tidak tidur dijalanan.


"Kau menantu gila, kami hampir jadi gelandangan. Kami pikir kau menantu tidak tahu diri Robi." Teriak Emily menoyor kepala Robi saat di dalam mobil.


Deg.


Emily nampak gusar, sebab awalnya ia tidak ingin berurusan dengan Bimo lagi, kini Robi menantunya punya rencana lain.


Uhuuuk ..


Uhuuuk ..


"Mama sakit Rob, cari klinik terdekat Rob!" Ujar Kyle.


"Baiklah kita bawa mama berobat dulu, kamu harus berbaik hati dan bersyukur. Karena aku tidak lupa kebaikan kamu dan mama sayang." Manis Roby, dengan tatapan penuh intrik.


Namun beberapa saat mereka nampak sekali berada di klinik, mata mereka tertuju saat Emily sudah turun dari mobil, terlihat suster juga mendekat membawa roda rumah sakit.


"Nyonya saya bantu!" Ujar suster.

__ADS_1


Mereka pun turut membawa Emily ke dalam rumah sakit, tanpa melihat Klinik yang akan ia datangi milik siapa.


"Bangunannya kaya baru, klinik baru ya sus?" Tanya Kyle.


"Benar Nyonya, hanya saja klinik kami dibantu dengan banyak obat obatan herbal, tenang saja pelayanan dan penolongan kami paling utama. Dokter kami handal dan bisa dibilang DOKTER AJAIB." jelas suster membuat mereka bertiga diam.


Namun saat mereka sudah masuk ke dalam klinik, Robi nampak ingin mendaftar. Tapi matanya membola akan nama dokter dan nama klinik tersebut di kertas nama suster ruang administrasi.


"Tunggu .. Klinik Keluarga Ansara ..?" Lirih Robi, membuat Kyle ikut bengong meraih kartu nama tersebut.


"Ada apa, memang kenapa kita tidak berobat saja disini, lagi pula sudah kepalang."


"Mama .. please!" ujar Kyle.


Namun tanpa sadar Bimo sudah melihat keluarganya itu terlihat diruang administrasi.


"Suster kita tidak jadi, ada yang tertinggal. Maafkan .. "


"Kalian ingin berobat, siapa yang sakit?" tanya Bimo, dengan setelan dokternya.


Hal itu membuat Kyle, dan Emily nampak syok. Hanya saja Roby berusaha mencari akal, sebab ia mencuri mobil dan beberapa uang berangkas kantor, tanpa sepengetahuan Bimo, jika Bimo melihatnya, ketakutan ingin kabur tipis.


"Aku yang tidak enak badan." ujar Emily.


"Baiklah disini kalian pasienku, jadi masuklah dulu. Saya akan ambil sesuatu, untuk mengecek kondisi Bibi. Suster tolong bantu pasien ini ke ruangan saya ya!"


"Baik dok."


Bimo bukan tanpa alasan, kali ini ia segera membawa beberapa herbal setelah dari ruangan kakek, namun setelah Bimo akan mengecek Sang Bibi. Ia nampak kaget karena mereka sudah tidak ada.


"Pasien kemana suster?"


"Dia pergi dokter, katanya .." terdiam suster Shasa.


"Baiklah, suster kerjakan tugas yang lain lagi saja!" ujar Bimo, melihat tingkah Emily, Roby dan Kyle yang aneh, seolah melihat harimau saja, padahal jika ia di Klinik, ia tidak akan mencampurkan masalah privasi dimansion.


'Padahal aku ingin mengobatinya, tapi dia malah kabur.' lirih Bimo yang berjalan.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2