
Tampak sekali Bimo tertegun, atas apa yang ia lihat malam ini. Bimo jadi ingat perkataan Brian, yang semakin kesini kakek memang membutuhkan seorang penerus yang mengisi mansion ini semakin ramai. Akan tetapi, jika dilihat lagi bukankah hubungannya dengan Alexa tidak berjalan dengan baik, untuk apa ia memikirkan ke arah serius.
Namun saat malam ia pulang ke mansion, bukan tanpa alasan Bimo jadi berfikir apakah Alexa sedang memberi jawaban.
"Kamu mau langsung ke kamar? mandi atau berganti baju, tidak mau makan dulu mas Bimo?"
Alexa nampak menahan Bimo yang akan melewati meja makan yang sudah dihias, bermaksud agar tidak sia sia, maka Alexa mencoba menarik Bimo untuk paham atas apa yang ia lakukan malam ini.
"Malam seperti ini ada apa? apa di mansion sedang mati listrik? kamu menyalakan lilin kenapa banyak sekali?" ujar Bimo, dimana ia mencoba berfikir baik.
Bimo nampak terhenti, saat bayangan wanita itu semakin maju, lampu ditangan Alexa, membuat Bimo sedikit naik kala di depannya sudah memakai gaun dengan belahan tinggi di samping kanan, bukan tanpa alasan warna maroon gaun, membuat kulit Alexa nampak cerah membuat Bimo menahan untuk pura pura tidak tahu.
"Apa kakek sudah tidur?" lirihnya, dimana Alexa sudah amat dekat pada tatapan wajah Bimo.
"Kakek sudah makan, dia sedang tidak ingin diganggu. Bahkan kakek kini di lantai paling atas, paling utama."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Bimo sudah tahu jika ini adalah ide kakek An, yang membuat Alexa berubah.
"Aku sudah buatkan makan malam terenak, kamu harus mencobanya. Apakah rasanya pas atau .. Hm, sedikit Asin ..."
"Baiklah, karena kamu sudah bekerja keras. Mari kita makan, ah! rasanya aneh, mansion ini aslinya banyak orang, tapi kenapa hanya kita saja yang makan?" lirih Bimo kesal.
"Karena aku ingin kita berdua saja, membicarakan status kita kedepannya. Apa aku salah dan lancang mas Bimo?"
Deg.
"Kamu keberatan mas Bimo?" tanya Alexa, yang sudah memotong steak, dan meletakkan di depan Bimo.
Bahkan sendok dan segala hal kecil untuk makan, Alexa semakin dekat bak merajakan suaminya dengan baik. Hal itu membuat Bimo senyum dan mengatakan sesuatu.
"Benar, kamu ingin hubungan kita seperti apa Alexa, maaf karena kesibukan aku melupakanmu, terimakasih sudah menjaga kakek selama ini dengan baik."
__ADS_1
"Aku hanya melakukan yang terbaik, sebagai seorang istri pada umumnya, meski aku tidak pandai. Mengingat hubungan kita renggang karena keadaan yang berbalik, dan sikap ku dahulu terlalu cuek tidak peduli padamu, maaf! tapi kali ini aku ingin kita perbaiki, atau sekedar kamu memberi kejelasan siapa aku. Bagaimana bisa kita tidur terpisah, dan ayo akhiri keputusan mu Mas Bimo ...?"
Bimo senyum, ia minum seteguk air setelah melap mulutnya dengan sapu tangan, dimana ia memegang tangan Alexa dan menghapus air mata kesedihannya kali ini.
"Apa yang ingin kamu inginkan Alexa, kamu tahu resiko jika kita kembali mengulangnya. Aku akan sangat sibuk, apa kamu sanggup dengan profesiku yang terjun langsung pada banyak perusahaan Ayahku, dan kakek ku untuk ku jalankan?"
"Aku tidak masalah, asalkan jangan mengabaikan aku mas Bimo, jujur aku semakin takut dan semakin resah, ketika banyak pasien dan kamu di dampingi suster wanita yang cantik, bahkan di kantor anak perusahaan lain, para pekerja wanita semakin modis dan elegant saja. Aku sudah pasti kalah cantik bukan?"
"Hahaha ... Bimo tertawa merasa lucu, karena ini pertamakali nya ada kata ( Cemburu ).
"Jangan lagi cemburu, profesiku begini karena aku terlalu tampan, perfect bukan. Jadi aku akan mengubah struktur kegiatan pekerja wanita tidak ada shift siang, dan pakai seragam mereka tidak memakai pakaian ketat dan rok pendek. Apakah kamu senang mendengarnya?"
Bimo melihat senyuman di wajah Alexa, dimana saat ini Bimo semakin erat mendekat pada pandangan empat mata yang saling melihat bertukar kerinduan.
"Mas Bimo .. kamu mau apa?" lirih Alexa, kala tangan kokoh Bimo sudah merangkul erat pinggangnya.
__ADS_1
TBC.