Menantu Kecil Seperti Dewa

Menantu Kecil Seperti Dewa
Polisi Datang


__ADS_3

"Bos besar, anda pasti salah sangka pada saya! saya minta maaf atas semua ini, tapi saya hanya pesuruh yang saat itu hutang anak saya di rumah sakit dilunaskan, maka saya mampu melakukan apapun, demi saya bertahan hidup bekerja di sini, saya sudah puluhan tahun bos. Maafkan saya!" berlutut Micky.


Tidak mungkin jika Sistem salah memberi informasi, ah rasanya kesal ketika ada yang berlutut meminta maaf. Sebab Bimo selalu berbelas kasih, tapi tidak untuk saat ini. Raga dan Jiwa Bimo adalah yang baru, jika ia terus berbelas kasih, pasti akan ada Bimo yang lemah yang miskin seperti dahulu, hal ini membuat Bimo tidak mau mengulang.


"Jadi jangan berbelit, aku sudah menelpon polisi. Silahkan beri alamat anda agar saya tahu kebenaran keluarga anda, dan ingat! jika kesalahan sepadan atau tidak tergantung, katakan dimana Roby tinggal saat ini!"


"Saya akan katakan pak bos, dia saat ini ada di bali, dan kini mempunyai apartement Di Singapore untuk tinggal. Ada pria yang saya tidak tahu, sebab ada orang yang berkuasa yang melindungi dia, saya rasa ini adalah karena ingin menguasai pom yang anda miliki, dan pusat tambang ini secara perlahan, tapi saya tidak menuduhnya. Jadi maafkan saya, saya mohon bos! saya akan bantu anda, jika saya masuk bui, keluarga saya makan apa?" tangis pria tua itu, membuat Bimo kesal tidak ingin kasihan.


"Pak tua, berdirilah! kerjasama lah saat anda di jeruji besi, ikuti prosedur. Dan tunggu kabar saya untuk informasi selanjutnya, keluarga anda tidak akan kekurangan untuk makan, karena gaji anda saya akan tf tanpa anda bekerja di pabrik tambang ini, apalagi usia anda bekerja di bagian bawah tanah, dan tebus kesalahan anda. Meski yang saya tf haya cukup untuk makan bukan gaji full, tapi anggap saja bonus dari bertukar informasi, jeruji besi adalah tempat aman ketimbang nyawa anda terancam bukan?" jelas Bimo membuat Micky kebingungan dan pasrah.


"Huhuhu, saya minta maaf pak! izinkan saya menulis surat untuk istri saya, agar dia tidak khawatir. Guna ia menjaga putri saya selama saya tidak ada."

__ADS_1


Bimo pun meletakkan pena dan kertas kosong, dimana ia masih berfikir ketika pria tua itu menulis surat untuk seseorang dengan tangisan yang menyebalkan bagi Bimo. Namun ia semakin kuat menduga jika Brian si paman tua itu, dalang dari seseorang yang terselubung itu adalah dia, jadi Bimo senyum yakin jika paman Brian adalah otak dari sampah yang harus ia singkirkan.


'Tidak lama lagi aku pasti akan menangkap kebaikan paman yang seperti topeng bermuka dua.' batin Bimo ia menggoyangkan kursi putar.


Dalam beberapa saat pun, mobil polisi datang membuat keramaian kantor tambang syok. Saat kepala staff kepercayaan di borgol, hal itu membuat Bimo bertolak pinggang dan sedikit acuh untuk mencari tahu dalang sampah yang ingin menguasai kekayaan ayahnya ini.


Pak Micky .. dia korupsi? ujar beberapa karyawan bergunjing.


"Permisi pak Bimo, saya permisi dan akan memproses dengan cepat." ujar petugas polisi membuat Bimo mengangguk.


Hingga dimana, setelah mobil polisi pergi tak terlihat, karyawan menunduk hormat pada Bimo, sehingga Bimo yang masuk dihentikan oleh Brian.

__ADS_1


"Kau yakin pria itu bersekongkol dengan Roby?"


"Tidak lama lagi pasti menemukan otak dalangnya, jadi dengan bukti kuat yang aku berikan pada polisi. Mereka pasti akan mengusut dan kita lihat apa ada Roby .. Roby lain yang ada dibalik itu semua." senyum Bimo meraih jasnya.


"Paman aku akan landing ke ibu kota lebih cepat, ada hal yang harus Bimo lakukan. Jadi paman lakukan saja tugas paman seperti biasa, terima kasih sudah membantu dan membuat paman sibuk! tidak lama lagi aku akan mencekik Roby yang tidak tahu diri itu."


"Baiklah hati hatilah Bim." ujar Brian dengan tatapan tak biasa.


Bimo meraih tas dokternya, dimana ia meminta Asisten Shasa untuk menjemputnya di bandara, dimana saat ini Bimo menyalakan ponsel dan terkejut akan notif yang tidak disangka sangka.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2