Menantu Kecil Seperti Dewa

Menantu Kecil Seperti Dewa
Rencana Kakek


__ADS_3

Makan malam pun terjadi dengan baik, Bimo sebenarnya tidak tega membuat Alexa kecewa. Setelah ditelaah, harusnya ia bersikap lembut, namun bukan tanpa alasan kali ini Bimo memang harus memutuskan apa yang ia rasakan, sebab kesibukannya kali ini mengutamakan uang .. dan uang. Hasil dari dirinya yang sulit dan miskin, membuat orang berlaku semena mena padanya.


"Makanan ini enak sekali, kamu membuatnya sendiri Alexa?" tanya An.


"Iya kek, tapi tidak semua. Dibantu Nany tadi, sebab itu Alexa hanya menata yang kecil kecil saja."


"Wanita itu harus pandai masak, pandai merawat diri, itulah sebabnya aku di klinik membuat herbal agar kecantikan wanita alami itu mahal, sebab jika banyaknya suntikan efeknya kulit wanita akan terlihat jadi monster."


"Kenapa begitu memang kamu tahu, wanita itu sering suntik?" tanya Alexa nampak seperti biasa.


"Terlihat aneh, di setiap sudut wajah, tangan, kaki perbedaan jelas. Cairan pemutih atau sejenis untuk awet muda memang tidak masalah, namun kamu tahu Alexa. Itu akan membuat kamu kecanduan yang membuat manusia tidak pernah puas ingin lebih, maka setelahnya dosis berlebihan membuat mulut kerut, kendur dan membengkak jadi satu. Bukankah itu seperti monster?"


"Benar juga yang dikatakan Bimo, kalau begitu kamu harus perhatikan perawatan kamu lebih baik Alexa, cari yang alami. Kalau perlu sering sering ke klinik Bimo, untuk mendapat penanganan khusus." ujar An.


Eh!

__ADS_1


"Kek, aku ini dokter penyakit dan peracik herbal ajaib, bukan dokter kecantikan."


"Tidak apa, itu kan bisa jadi langkah kamu naik tingkat, bukankah nanti sumber daya hidupmu akan tambah banyak, 7 turunan bagi cicit kamu kelak tidak habis habis, bahkan kau di rumah saja uang yang bekerja untukmu." oceh An, membuat Bimo melirik, sebab kakek An, bicara seperti ini, pasti agar Alexa bisa dekat dekat seolah mengintil dimana keberadaan ia yang sedang bekerja.


Alexa pun senyum, ia tahu maksud kakek. Jadi kesimpulannya, merebut hati Bimo harus diperjuangkan, karena kakek An, sudah memberi lampu hijau.


Setelah malam makan bersama, hari itu nampak biasa saja, hanya saja Bimo seolah memberi jarak ketika Alexa menyiapkan pakaian untuk dinas besok, ia merapihkan kasur Bimo dan selimut tebal, saat Bimo terlihat akan masuk ke kamarnya berusaha menarik piyama dari almari. Bukan tanpa alasan, Bimo juga melihat Alexa yang senyum dan bicara lembut padanya.


"Kemeja, dan jas dokter. Jas biru untuk hari rabu esok, sudah aku sediakan. Jika ada lagi yang kamu inginkan mas Bimo, telepon saja."


Deg.


Alexa mengepal tangan, menoleh dan kembali senyum pada Bimo saat itu. Padahal jauh dari lubuk hatinya, ingin sekali ia meraup dan meremas bibir Bimo yang semakin kecut dan pedas padanya, sudah hampir satu tahun status pernikahan tapi Bimo masih saja hambar seolah sulit di raih.


"Tentu .. kalau begitu aku kembali, selamat malam mas Bimo." senyum Alexa yang dipaksakan.

__ADS_1


Sebab feeling Alexa adalah, ia sedang di uji. Atau Bimo sengaja melakukan ini semua untuk mengetes rasa cintanya pada Bimo sampai mana.


"Sabar Alexa, ketimbang Bimo menikahi putri salju, lebih baik aku harus merebut dan membuat ketulusan Bimo dahulu sikapnya yang lembut dahulu padaku, agar pernikahan di pengadilan tidak dibatalkan, bagaimanapun aku yang salah terlambat menyadari jika Bimo adalah pria yang tulus, dia hanya khilaf atau sedang menguji sikapku dahulu padanya seperti ini. Sabar ... sabar Alexa, kamu harus sabar sama seperti Bimo yang dahulu." lirihnya entah pada siapa Alexa bicara.


Sementara dikamar Ansara dari balik balkon, ia meminta asisten khususnya untuk membuat cucunya memikirkan percintaan, sebab ia tidak tahu umurnya sampai kapan, tidak ingin jika Ansara keburu mati, tapi Bimo belum punya anak dan istri yang tepat untuknya.


"Jadi saya harus melakukan ini tuan?"


"Benar .. pastikan Bimo dan Alexa tidak tahu, anggap saja pertemuan dadakan dengan nama An, mereka pasti datang. Begitu mereka di dalam, kunci dari luar!" titah Ansara, yang tertawa menoleh pada asisten pribadinya itu.


"Jika saya ketahuan oleh Tuan Muda Bimo bagaimana Tuan?"


"Dia tidak akan marah, aku akan membelamu. Jadi pergi, dan lakukan tugasmu untuk besok malam!"


"Baik Tuan." asisten pribadi itu pun pergi, sementara Ansara ia tertawa membayangkan hal ide yang ia rencanakan untuk cucu semata wayangnya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2